Neraka Itu Bernama Pasar Bebas

Januari 17, 2010

Jadi pelaku usaha kecil di Indonesia memang siyal luar biasa. Bulan Januari yang sejatinya jadi bulan awal pengharapan baru kini berubah menjadi bulan yang bikin tensi darah saya meningkat dan jantung saya sering dagdigdug tak terkendali. Ada apa gerangan? Apa lagi kalau bukan makin membanjirnya barang-barang impor dari China di pasaran. Sebagai pelaku usaha kecil yang stok barangnya mengandalkan buatan dalam negeri seperti baju hamil, peralatan bayi, baju anak-anak dan sebagainya kini mau tak mau harus bersaing dengan barang-barang dari China yang jelas lebih murah.

Mau ikut-ikutan latah jual barang dari China? Itu dia masalahnya. Persetan dengan nasionalisme yang sering digadang-gadangkan pejabat yang konon harus menjual produk dalam negeri. Saya pun sebenarnya sangat-sangat tertarik (ngebet malah) untuk ikut juga menjual produk yang lebih murah itu. Tapi masalahnya, berbeda dengan produk dalam negeri yang biasa pake sistem titip jual alias laku baru bayar, barang-barang dari nenek moyang saya itu hampir semuanya mesti bayar kontan. Tak ada itu sistem bayar separoh atau sejenisnya.

Solusinya agar tak gulung tikar? Saya mondar-mandir cari hutang. Bertumpuk-tumpuk proposal saya sebar. Semuanya dengan satu tujuan pasti, demi juga ikut euphoria menjual barang murah meriah itu. Hasilnya? Tak satu pun dari proposal yang saya kirim menghasilkan tambahan modal yang saya butuhkan. Kecewa? Oh tentu tidak. Silahkan anda-anda menganggapnya sebagai denial. Tapi saya memang tidak kecewa kok. Mungkin ini yang disebut adaptasi. Ketika kita tak mampu mendikte instansi-instansi pemerintah yang ogah mengucurkan dananya maka mau tak mau, yang harus saya lakukan adalah bertahan dengan segala yang saya punya. Maka dari itu ketika seorang kawan bertanya apakah saya kecewa karenanya, saya menjawab, “Saya ini sesombong dirimu. Emang kalo tak hidup di ketiak negara lantas mereka pikir saya akan mati karenanya. Persetan dengan UMKM sialan itu. Mungkin saya mau ngelamar kerja aja. Jadi gigolo kalo perlu.”

Lantas karena orang bijak sering ngomong bahwa dibalik segala kejadian selalu terselip hikmah. Saya pun mencari-cari hikmah yang mungkin saya dapat. Dan, eureka…. bingo.. memang benar ada hikmahnya. Hikmahnya adalah saya bisa update blog ini. Tak kurang dan tak lebih!


Selamat Tahun Baru a la F.W Nietzsche

Januari 1, 2010

Untuk tahun baru. Aku masih hidup. Aku masih berpikir: Aku harus terus hidup karena aku harus terus berpikir. Sum, ergo cogito: cogito, ergo sum. Hari ini setiap orang diizinkan untuk mengekspresikan hasrat dan pikiran paling intimnya: maka aku pun hendak katakan apa yang telah kuhasratkan dari diriku hari ini dan pikiran apa yang melintas di hatiku tahun ini- pikiran yang akan menjadi basis, menjamin dan memaniskan seluruh kehidupanku di masa datang!

Aku ingin belajar lagi dan lagi untuk melihat apa yang diperlukan dalam benda-benda, umpamanya keindahan yang terdapat padanya- maka aku akan menjadi salah satu orang yang menjadikan benda-benda cantik. Amor fati: semoga itu menjadi cintaku sejak sekarang!

Aku tidak ingin memerangi yang buruk. Aku tak ingin mendakwa, aku bahkan tak ingin mendakwa para pendakwa. Semoga berpaling menjadi satu-satunya bentuk penolakanku! Dan, walhasil: Aku ingin selamanya menjadi sekedar pengamin, affirmer (ein Ja-sagender)!

::The Gay Science, 276::


Kisruh para Kurawa

November 5, 2009

Mendung kelam menggantung di langit Hastina, walau sebenarnya di hati para punggawanya sedang memendam bara melebihi teriknya kemarau. Adipati Karna yang kejibah mengurusi keamanan negri para Kurawa itu sedang pusing setengah mati. Institusinya sedang disorot kawula wayang seantero negri, karena ternyata si licik Sengkuni menyusup sekaligus menitis pada salah satu anak buahnya yang mengepalai bagian reskrim, Dursasana.

Dursasana, yang terkenal congkak dan suka memaki itu pernah dengan bangga menyebut lembaganya sebagai ‘buaya’ karena kebetulan sedang berusaha mengobrak-abrik lembaga lain yang ber-call sign ‘cicak’. Belakangan Adipati Karna sampai harus meminta maaf dan meminta media tidak lagi menggunakan istilah ini. Rupanya beliau punya rasa jengah juga. Baca entri selengkapnya »