Jadi pelaku usaha kecil di Indonesia memang siyal luar biasa. Bulan Januari yang sejatinya jadi bulan awal pengharapan baru kini berubah menjadi bulan yang bikin tensi darah saya meningkat dan jantung saya sering dagdigdug tak terkendali. Ada apa gerangan? Apa lagi kalau bukan makin membanjirnya barang-barang impor dari China di pasaran. Sebagai pelaku usaha kecil yang stok barangnya mengandalkan buatan dalam negeri seperti baju hamil, peralatan bayi, baju anak-anak dan sebagainya kini mau tak mau harus bersaing dengan barang-barang dari China yang jelas lebih murah.
Mau ikut-ikutan latah jual barang dari China? Itu dia masalahnya. Persetan dengan nasionalisme yang sering digadang-gadangkan pejabat yang konon harus menjual produk dalam negeri. Saya pun sebenarnya sangat-sangat tertarik (ngebet malah) untuk ikut juga menjual produk yang lebih murah itu. Tapi masalahnya, berbeda dengan produk dalam negeri yang biasa pake sistem titip jual alias laku baru bayar, barang-barang dari nenek moyang saya itu hampir semuanya mesti bayar kontan. Tak ada itu sistem bayar separoh atau sejenisnya.
Solusinya agar tak gulung tikar? Saya mondar-mandir cari hutang. Bertumpuk-tumpuk proposal saya sebar. Semuanya dengan satu tujuan pasti, demi juga ikut euphoria menjual barang murah meriah itu. Hasilnya? Tak satu pun dari proposal yang saya kirim menghasilkan tambahan modal yang saya butuhkan. Kecewa? Oh tentu tidak. Silahkan anda-anda menganggapnya sebagai denial. Tapi saya memang tidak kecewa kok. Mungkin ini yang disebut adaptasi. Ketika kita tak mampu mendikte instansi-instansi pemerintah yang ogah mengucurkan dananya maka mau tak mau, yang harus saya lakukan adalah bertahan dengan segala yang saya punya. Maka dari itu ketika seorang kawan bertanya apakah saya kecewa karenanya, saya menjawab, “Saya ini sesombong dirimu. Emang kalo tak hidup di ketiak negara lantas mereka pikir saya akan mati karenanya. Persetan dengan UMKM sialan itu. Mungkin saya mau ngelamar kerja aja. Jadi gigolo kalo perlu.”
Lantas karena orang bijak sering ngomong bahwa dibalik segala kejadian selalu terselip hikmah. Saya pun mencari-cari hikmah yang mungkin saya dapat. Dan, eureka…. bingo.. memang benar ada hikmahnya. Hikmahnya adalah saya bisa update blog ini. Tak kurang dan tak lebih!

