Kisruh para Kurawa

November 5, 2009

Mendung kelam menggantung di langit Hastina, walau sebenarnya di hati para punggawanya sedang memendam bara melebihi teriknya kemarau. Adipati Karna yang kejibah mengurusi keamanan negri para Kurawa itu sedang pusing setengah mati. Institusinya sedang disorot kawula wayang seantero negri, karena ternyata si licik Sengkuni menyusup sekaligus menitis pada salah satu anak buahnya yang mengepalai bagian reskrim, Dursasana.

Dursasana, yang terkenal congkak dan suka memaki itu pernah dengan bangga menyebut lembaganya sebagai ‘buaya’ karena kebetulan sedang berusaha mengobrak-abrik lembaga lain yang ber-call sign ‘cicak’. Belakangan Adipati Karna sampai harus meminta maaf dan meminta media tidak lagi menggunakan istilah ini. Rupanya beliau punya rasa jengah juga. Baca entri selengkapnya »


Teori Seksual Anak-anak Karya Sigmund Freud

Oktober 22, 2009

Tulisan ini terilhami oleh perilaku anak saya yang kelihatan begitu senang bila sudah mengemut kain ketika menjelang tidur. Dan bila sudah melakukan ritual tersebut biasanya anak saya akan tertidur dengan sendirinya. Kebiasaan inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya dan sedikit khawatir takut kalau-kalau kebiasaan ini nantinya akan terbawa sampai ketika ia dewasa. Sebagai seorang laki-laki yang baru saja mempunyai anak tentu saja pengetahuan dan pengalaman saya tentang hal ini sangat minim, dan dari yang saya lihat pada anak-anak yang saya temui tak satu pun yang memiliki kebiasaan seperti yang dilakukan anak saya. Dari setiap bayi yang saya lihat sebagian besar adalah mengemut jempolnya sendiri dan tak satu pun yang mengemut kain seperti kebiasaan anak saya. Takut kalau-kalau kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang menyimpang membuat saya bertanya pada mbah google. Tapi entah karena keyword yang saya masukan kurang tepat atau apa saya tak menemukan jawaban setara yang membuat keingintahuan saya terpuaskan.

Pencarian ini kemudian saya lanjutkan ke kios buku bekas di Pasar Burung, Palembang tiga hari yang lalu dengan satu harapan besar bahwa disini saya akan menemukan jawaban yang saya cari. Tapi apa lacur, kios buku bekas merupakan belantara ilmu yang kelewat membingungkan untuk mencari sesuatu yang begitu spesifik macam ini. Tak ada satu pun buku yang berjudul Kebiasaan Bayi Mengemut Kain Menjelang Tidur di rak buku yang segitu padatnya itu yaiya lah, nyet.. disamping judul tersebut tidak menjuwal, tentu juga judul itu kelewat panjang. :D

Tapi tenang saja, keluar dari kios buku dengan tangan hampa bukan merupakan kebiasaan saya. Saya pulang dengan membawa serta empat buku sekaligus yaitu : Empat Sandiwara Orang Melayu (Wirsan Hadi), Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan (Y.B. Mangunwijaya), Titik Nadir Demokrasi (Emha Ainun Nadjib) dan Three Essay on Sexuality (Sigmund Freud). Lumayanlah, tiga buku untuk menemani saya selama di mobil yang mengantar saya pulang ke Cirebon nanti. Dan yang satunya yaitu buku yang berjudul Three Essay on Sexuality karya Sigmund Freud yang sedikit banyak berhubungan dengan kebiasaan anak saya akan saya coba review di postingan kali ini. Oh iya, gara-gara takut ketinggian yang akut saya bersikukuh untuk naik bis saja meski istri saya terus merengek untuk naik pesawat terbang dengan alasan biar lebih cepat sampai ke Cirebon. Tapi sudahlah, takut ya takut. Lagi pula saya terlalu takut jatuh dari ketinggian untuk jarak yang kelewat dekat. Baca entri selengkapnya »


Permintaan Terakhir Sebelum Eksekusi

Oktober 2, 2009

Salah seorang dari mereka yang bertubuh gemuk dengan susah payah bangun dan mengatupkan kedua tangannya. Kelopak matanya yang sebelah kiri terkatup dan di sana sini tersembul darah kering. Dengan wajah bersungguh-sungguh ia menatap kedua kawannya, “Anakku, sebelum kalian meninggalkan dunia, apa yang kalian inginkan? Tuhan menyertai kalian……,” lalu ia merentangkan kedua tangannya di atas kepala kedua kawannya yang berusaha menahan senyum.

“Ya, Bapak….,” jawab si Kacamata dengan suara gemetar, “Apakah sebuah permintaan yang bersifat duniawi masih akan dikabulkan oleh-Nya?”

“Itu tergantung apakah wilayah permintaan itu sesuai dengan kebutuhanmu sebagai manusia, Anakku….,” jawab si Gendut dengan suara bariton.

“Kalau begitu ya Bapak…,” sambut si Kacamata sambil berlutut dan menengadah. Bibirnya menganga dan ujung-ujungnya tersembul air liur bercampur darah kering, “Karena jiwaku akan terbang ke samping-Nya besok pagi, sudikah kiranya aku diberi sesuatu yang dapat mengelus-eluskan ragaku…”

“Apa itu, Anakku?”

“Anu, Bapak … Ngng ….,” si Kacamata melirik pada si Kurus yang mencoba jangan sampai gelak tawanya muncrat keluar.

“My child… What do you want?” si Gendut mengelus kepala si Kacamata.

“Bapak…. Saya ingin merasakan orgasme…”

****
Dicuplik dari cerpen Malam Terakhir (1989), karya Leila S. Chudori.