Aku pulang ketika sudah larut. Seorang perempuan menyambutku dengan kutang hitam seperti gerwani. “Sepertinya di luar sana siang tidak pernah benar-benar datang,” berondongnya. Suara mikrofon itu berteriak seperti hendak merampas gendang telingaku dari tempatnya. Aku tak berminat menanggapi upacara penyambutannya yang sedikit ganjil. Kulongok lemari es yang sedang membuat gereja dengan butiran-butiran salju. Tak ada lagi tersimpan bir dalam perutnya. Masalah itu telah berpindah dari botol ke selangkangan. Ada sebotol madu kiriman teman teronggok di sana sebagai gantinya.
“Jauhkan gigimu dari pundakku, aku sedang tak ingin berkeringat di malam segerah ini,” kataku. Bantal itu mulai berasap, menawarkan diri seperti buraq kepada Muhamad untuk bertemu seseorang di dunia mimpi. Mandilah dulu agar seseorang yang akan kau temui tak hanya mencium bau keringat, handuk itu menghardik. Kusambar handuk merah 25 ribu yang lalu.
Di kamar mandi seekor angsa dari karet menyapaku, berusaha ramah. “Sejak kapan kamu mulai belajar jadi orang lain yang tak kau kenal?” Aku meneliti tubuhku yang terpantul dari kaca buram itu. Astaga, apa yang terjadi dengan tubuhku. Kulihat banyak pekerja sedang membangun sesuatu di tubuhku. Apa yang kau lakukan pada tubuhku? “Membangun saluran irigasi,” jawab mereka seperti menghardik. Suara mikrofon itu berteriak seperti hendak merampas gendang telingaku dari tempatnya. Aku penasaran. Seberapa kuat mereka menciptakan saluran irigasi yang menyerupai kabel hijau ini di pergelangan tanganku. “Maaaah.. Ambilkan silet di atas televisi itu!!”
Kemudian Diam. Kemudian menjerit.

Suara Umat