Plato, seorang filsuf Yunani yang tumbuh paska era Sokrates, dikenal dengan pendapatnya bahwa dunia ini terbagi atas dua bagian, yakni dunia indrawi dan dunia idea. Dalam dunia indrawi inilah manusia mengenal doxa (pendapat), sedang pada dunia selainnya yang ia sebut sebagai dunia idea barulah manusia bersinggungan atau masuk ke dalam dunia ideal yang diantaranya mengenai episteme (pengetahuan). Dengan kata lain, kepastian dan kesahian sebuah kebenaran menurut pendapat Plato hanya dan ada lewat dunia idea ini, karena pada hakikatnya kebenaran hanya bersemayam di ranah ini. Dunia indrawi semata-mata hanyalah sekumpulan persepsi dan pendapat yang adakalanya saling menegasi satu sama lain, yang oleh karenanya bersifat kabur dan tidak tetap. Sedangkan, sebuah kebenaran tidaklah demikian. Ia berifat tetap dan absolute.
Dan karena dunia idea bersifat begitu istimewa, maka menurut Plato, tentu tak semua orang mampu memasuki dunia ini. Hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaanlah (para filsuf salah satunya) yang mampu memasuki ranah ini. Oleh karenanya, pada zaman itu, pendapat Plato mendorong manusia untuk berupaya memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan demi menemukan absolutsitas yang bertengger dalam dunia idea. Kebenaran yang terutama pengetahuan dan kebijaksanaan pun melalui Plato diseret menjadi sedemikian ekslusif. Ia bukan lagi sekedar kebenaran, tapi lebih mengarah kepada simbol-simbol. Pandangan inilah yang kemudian pada gilirannya memicu timbulnya pemikiran filsuf-filsuf sesudahnya dengan gagasan transcendentalnya yang bermuara pada pembentukan pandangan metafisika yang kemudian dibungkus dalam tradisi keagamaan dalam bentuk-bentuknya yang beragam. Lahirlah manusia-manusia dengan pola hidup zuhud yang tak lagi memikirkan kemajuan duniawi. Hidupnya hanya semata-mata untuk menyiapkan kehidupan sesudah mati. Hidup pun pada akhirnya menjadi berjalan sedemikian lamban.
Sikap-sikap masyarakat Eropa yang terkena waham Platonis (yang dinilainya begitu hipokrit) inilah yang kemudian mengilhami Nietzsche untuk berontak keluar mengobrak-abrik doktrin yang kian mapan itu melalui filsafat nihilismenya. Kehadiran filsafat nihilisme Nietzsche dalam dunia Barat membuat banyak kalangan tercengang. Ia datang sebagai penawar atas filsafat transcendental Barat yang telah berhasil mengalungkan “kuk” ke leher kebenaran hingga menjadikannya sedemikian ekslusif dan bersifat monolitik. Nietzsche mengobrak-abrik semua tatanan yang sudah sedemikian mapan ini dengan diredusir dan dipertanyakan kembali. Menurut Nietzsche, doktrin-doktrin kebenaran yang diadopsi dari faham Platonis yang hipokrit itu bukan saja melemahkan daya vital manusia tapi juga membuat manusia tunduk dan dibuat tidak berdaya dalam satu keyakinan absolut yang tanpa disadari justru mendistorsi manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak untuk berkuasa. Baca entri selengkapnya »

