Kritik Nietzsche Atas Postulat Plato

Januari 26, 2011

Plato, seorang filsuf Yunani yang tumbuh paska era Sokrates, dikenal dengan pendapatnya bahwa dunia ini terbagi atas dua bagian, yakni dunia indrawi dan dunia idea. Dalam dunia indrawi inilah manusia mengenal doxa (pendapat), sedang pada dunia selainnya yang ia sebut sebagai dunia idea barulah manusia bersinggungan atau masuk ke dalam dunia ideal yang diantaranya mengenai episteme (pengetahuan). Dengan kata lain, kepastian dan kesahian sebuah kebenaran menurut pendapat Plato hanya dan ada lewat dunia idea ini, karena pada hakikatnya kebenaran hanya bersemayam di ranah ini. Dunia indrawi semata-mata hanyalah sekumpulan persepsi dan pendapat yang adakalanya saling menegasi satu sama lain, yang oleh karenanya bersifat kabur dan tidak tetap. Sedangkan, sebuah kebenaran tidaklah demikian. Ia berifat tetap dan absolute.

Dan karena dunia idea bersifat begitu istimewa, maka menurut Plato, tentu tak semua orang mampu memasuki dunia ini. Hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaanlah (para filsuf salah satunya) yang mampu memasuki ranah ini. Oleh karenanya, pada zaman itu, pendapat Plato mendorong manusia untuk berupaya memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan demi menemukan absolutsitas yang bertengger dalam dunia idea. Kebenaran yang terutama pengetahuan dan kebijaksanaan pun melalui Plato diseret menjadi sedemikian ekslusif. Ia bukan lagi sekedar kebenaran, tapi lebih mengarah kepada simbol-simbol. Pandangan inilah yang kemudian pada gilirannya memicu timbulnya pemikiran filsuf-filsuf sesudahnya dengan gagasan transcendentalnya yang bermuara pada pembentukan pandangan metafisika yang kemudian dibungkus dalam tradisi keagamaan dalam bentuk-bentuknya yang beragam. Lahirlah manusia-manusia dengan pola hidup zuhud yang tak lagi memikirkan kemajuan duniawi. Hidupnya hanya semata-mata untuk menyiapkan kehidupan sesudah mati. Hidup pun pada akhirnya menjadi berjalan sedemikian lamban.

Sikap-sikap masyarakat Eropa yang terkena waham Platonis (yang dinilainya begitu hipokrit) inilah yang kemudian mengilhami Nietzsche untuk berontak keluar mengobrak-abrik doktrin yang kian mapan itu melalui filsafat nihilismenya. Kehadiran filsafat nihilisme Nietzsche dalam dunia Barat membuat banyak kalangan tercengang. Ia datang sebagai penawar atas filsafat transcendental Barat yang telah berhasil mengalungkan “kuk” ke leher kebenaran hingga menjadikannya sedemikian ekslusif dan bersifat monolitik. Nietzsche mengobrak-abrik semua tatanan yang sudah sedemikian mapan ini dengan diredusir dan dipertanyakan kembali. Menurut Nietzsche, doktrin-doktrin kebenaran yang diadopsi dari faham Platonis yang hipokrit itu bukan saja melemahkan daya vital manusia tapi juga membuat manusia tunduk dan dibuat tidak berdaya dalam satu keyakinan absolut yang tanpa disadari justru mendistorsi manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak untuk berkuasa.

Nietzsche dengan filsafatnya mengajak manusia untuk kembali ke keadaan fitrahnya sebagai manusia, yakni manusia yang memiliki vitalitas untuk berkuasa. Ia begitu yakin, bahwa agama-agama yang ada dan berkembang pada saat itu mengadopsi doktrin Plato yang oleh karenanya membuat para pemeluknya menjadi sedemikian lemah dan hipokrit. Kenapa? Karena menurut Nietzsche, gagasan Plato yang bersemayam dalam doktrin-doktrin agama tersebut mengajarkan pola-pola hidup yang sangat bertentangan dengan kodrat manusia, yakni bahwa hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah ilusi, sedang kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai ketika manusia memasuki dunia atas (baca: surga). Maka tak heran, dalam cara pandang seperti ini, orang-orang beragama memilih hidup pasrah pada apapun ketentuan Tuhan yang diguratkan oleh kitab suci. Bagi Nietzsche hal tersebut adalah ketololan besar: manusia telah ditipu daya melalui bahasa-bahasa dogmatis agar menggaransikan hidupnya hanya pada kekuatan absolute, padahal menurutnya, agama tidak lain adalah sebuah strategi untuk menghilangkan sengat manusia, sehingga melaluinya manusia digiring untuk menegasi realitas inderawi.

Untuk itu, Nietzsche dengan nihilismenya ingin melepaskan manusia dari belenggu agama tersebut, karena baginya agama merupakan kendala terbesar umat manusia untuk membermaknai hakikat dirinya. Nietzsche yakin benar bahwa kehidupan yang penuh gairah adalah ketika manusia hidup tanpa nilai atau nir makna. Oleh karenanya, untuk kembali merebut keadaan itu tentu manusia wajib merenggutnya dari satu entitas yang selama ini diyakini sebagai pemilik tunggal nilai-nilai. Tuhan. Hanya melalu ketiadaan sang pemilik tunggal nilai-nilai itulah, manusia akan benar-benar memahami eksistensi diri sebagai manusia unggul, tapi sebaliknya, jika manusia tetap memelihara Tuhan dalam dirinya selaku pemilik tunggal enigma kebenaran dari nilai-nilai absolute, maka sama artinya dengan membiarkan eksistensi atau kemampuan adi-kodrati kita selaku manusia dilucuti tanpa syarat yang pada akhirnya memposisikan manusia itu sendiri sebagai tawanan nilai-nilai tanpa bisa berbuat apa-apa. Makanya, Nietzsche pun mewartakan pwsan tunggal pada manusia: membunuh Tuhan, dan jadilah manusia unggul!

Kuajarkan Manusia-Unggul kepadamu. Manusia adalah sesuatu yang harus diatasi.
Manusia-Unggul adalah makna bumi. Biarkan kehendakmu berkata: Manusia-Unggul seharusnya menjadi makna bumi.
Semua tuhan sudah mati; kini kita mau Manusia-Unggul hidup-biarkan ini menjadi kehendak terakhir kita satu hari kelak ketika pasang tengah hari besar!
” Demikian sabda Zarathustra, pesannya untuk umat manusia.

.

.

.

.

03.02 subuh.
Ditulis dengan kepala memberat.

11 Tanggapan to “Kritik Nietzsche Atas Postulat Plato”

  1. morishige Says:

    long time no see, zink.πŸ˜€

    menarik nih gagasannya soal kebenaran. mirip sama yang dijelasin tan malaka di Madilog.πŸ˜€

    kalo filsuf2 yunani aja udah mengakui kalo kebenaran cuma ada di kumpulan sel abu-abu di kepala ini, kenapa kita harus marah ketika koruptor kelas kakap cuma dihukum beberapa tahun? bukankah pengadilan dibikin bukan untuk menegakkan kebenaran, cuma buat menciptakan keteraturan?

  2. Alex Keren Says:

    yang mesti dikritik itu kau benarnya. sudah sekian lama meninggalkan blog ini. kemana saja kau?!!!😈

  3. Gilbert Says:

    “Plato itu membosankan”


  4. saya tidak setuju dengan gagasan dan pemikiran plato.

  5. morishige Says:

    clingak-clinguk.. qzink ke mana ya? bisa lah itu dibahas “der wil zur macht”-nya Nietzche..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: