Antara Rokok, Bir dan KUHP

Februari 12, 2010

Malam tadi, ketika saya punya kesempatan pulang pagi lagi… (ah, setelah sekian lama) saya mengulang kebiasaan ketika muda dulu *uhukk.. uhukk..* yaitu memperhatikan aktifitas para pekerja malam di pinggir-pinggir jalan yang saya lewati dengan kepala memberat karena perut terlalu penuh dengan minuman temuan manusia paling revolusioner; Bir. Pemandangan yang saya temui malam tadi masih tak berubah dan persis seperti dulu. Wanita penjual lendir, waria yang menawarkan jasa sedot, tukang becak yang bergelung macam kucing, pemilik warteg yang terkantuk-kantuk, kuli pocok di depan pasar dan sebagainya. Dan ini dia, kecuali mereka yang tidur dan terkantuk-kantuk, sebagian besar orang-orang yang saya temui itu mengapit sebatang rokok menyala di sela jari-jarinya. Yupe.. mereka semua adalah perokok!!

Dulu biasanya dari sederet pelakon kehidupan malam pinggir jalan yang saya temui, hal yang paling membuat saya suka adalah para waria berdandan menor yang sedang merokok. Selain suka dengan gaya mereka ketika memasukkan rokok ke bibirnya dengan gerakan slow motion dan sesekali berteriak seksi ke pengguna jalan yang melambat; “Ayo mas mampir. Garansi, kena gigi uang kembali,” tapi juga dengan melihat para waria merokok itu, saya jadi punya senjata pamungkas ketika ada kawan yang mengolok-olok saya sebagai banci karena tetap bertahan dengan style saya yang tak juga mau merokok.

Tapi tadi malam, entah kerasukan tuhan mana, tiba-tiba saya merasa senasib dengan para perokok itu. senasib karena sama-sama merasa jadi korban kebiadaban pembunuhan massal terselebung yang dilakukan oleh para pemilik pabrik penyumbang pajak terbesar di negeri ini. Pabrik rokok dan pabrik minuman keras. Ah, konsfirasi pembunuhan massal itu kurang tepat kiranya. Ah, iya.. tepatnya sebuah konsfirasi legal untuk membantu orang lain yang ingin mengakhiri hidupnya. Bunuh diri. Dianggap legal oleh pemerintah karena tindakan-tindakan atau upaya bunuh diri yang kami lakukan adalah dalam jangka waktu yang lebih lama, meski pada akhirnya memberikan hasil yang sama: MATI!!!

Entah tersebab apa, pemerintah sampai tulisan ini diketik masih tetap memberikan izin beroperasi pada kedua jenis pabrik itu, padahal dampak yang ditimbulkan dari mengkonsumsi hasil produk mereka jelas; nyicil nyawa. Namanya rokok dan bir kan bukan jenis barang yang bisa disalah gunakan. Kedua produk itu tujuannya pasti. Karena sependek yang saya tahu, yang disebut penyalahgunaan adalah ketika konsumen mengkonsumsi sebuah produk untuk tujuan lain semisal menenggak racun tikus yang jelas-jelas untuk memberantas tikus.

Nah, karena saya haqul yakin bahwa baik pabrik rokok maupun pabrik bir adalah pelaku yang membantu seseorang untuk mengakhiri hidupnya, maka saya pun kemudian mencari tahu adakah perbuatan membantu orang lain untuk bunuh diri itu sebagai sesuatu yang melanggar hukum? Dan, eureka… ketemu!! Saya menemukan pasal berikut di lembaran Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kita yang berbunyi seperti ini:

Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri. (Pasal 345 KUHP Bab XIX tentang Kejahatan Terhadap Nyawa)

Pertanyaannya kemudian adalah, kalau UU ITE bisa dijadikan pasal karet maka bisakah pasal di atas digunakan untuk menjerat para pemilik pabrik, pemegang saham, para karyawan dan penjual dari kedua jenis produk tersebut?

Lagi pula, kalau cuma melarang kami selaku pecandu, meski dengan segudang argumen horror macam perokok tak boleh mendapat fasilitas GASKIN, minuman itu haram, tak bagus buat jantung, denda 50 juta dan sebagainya, tak akan mempan. Toh, kami sadar kami sedang bunuh diri. Kami sadar kami sedang merusak kesehatan diri sendiri, dan itu hak kami. Tubuh-tubuh kami, nyawa-nyawa kami, duit-duit kami dan sebagainya (dikecualikan untuk para perokok yang suka klepas-klepus di sembarang tempat, dan pemabuk yang mengganggu ketentraman umum). Dan untuk itu kami yakin bahwa merusak kesehatan diri sendiri maupun bunuh diri adalah hak asasi manusia yang tak layak dihalang-halangi.

Saya pribadi, meski sudah serenta ini masih tetap minum meski banyak teman-teman sudah berhenti tersebab ketakberesan jantungnya, karena kini mereka kalau tetap memaksa menenggak segelas bir maka harus juga memesan satu ambulans sekaligus pada waktu yang bersamaan. Dan jelas itu harga sangat mahal untuk segelas bir. Saya tetap minum karena saya ingin ketika mati nanti asuransi saya tetap bisa dinikmati keluarga, sementara hidup susah begini. Jadi pendeknya, karena hidup begini susah maka apalah gunanya hidup? Tapi jika saya memilih bunuh diri dengan senapan, disamping sakit dan tingkat keberhasilannya belum pasti, tentu keluarga saya akan kehilangan manfaat asuransi. Tapi jika saya melakukannya dengan mabuk, disamping nikmat, keluarga saya tentu akan tetap mendapatkan asuransinya.

Maka sebagai penutup, benarlah kiranya apa yang dikatakan Tuhannya Neale Donald Walsch dalam Conversations with God, bahwa jika seorang dokter membantumu bunuh diri, ini disebut pembunuhan yang tidak direncanakan, sementara jika pabrik rokok yang membantu, ini disebut perdagangan.

*ditulis dalam keadaan yang agak kacau karena keracunan etil*

18 Tanggapan to “Antara Rokok, Bir dan KUHP”

  1. G3mbel Says:

    Maka sebagai penutup, benarlah kiranya apa yang dikatakan Tuhannya Neale Donald Walsch dalam Conversations with God, bahwa jika seorang dokter membantumu bunuh diri, ini disebut pembunuhan yang tidak direncanakan, sementara jika pabrik rokok yang membantu, ini disebut perdagangan.

    .
    ahh gak selamanya demikian buktinya aku yang kadang bisa ngabisin 2 bungkus roko ( 2 x 20 batang) sehari masih sehat walafiat:mrgreen:
    .
    kalo udah waktunya mati ya mati saja jangan cari2 alasan karena itu ini๐Ÿ˜†

  2. goop Says:

    Saya membaca tulisan ini pun sambil menghabiskan sebatang rokok๐Ÿ™‚

  3. qzink666 Says:

    @g3mbel
    Bener bgt. Minum racun tikus pun kalo Tuhan belum pengen kita mati ya nggak mati ya?:mrgreen:

    @goop
    Sukurlah.. Masih Lucky Strike kan, om?๐Ÿ˜€

  4. sayur asem Says:

    kekacauan yang indah…
    *my life my adventure*

  5. eMina Says:

    mas qzink ga ngerokok?๐Ÿ˜ฏ

    wow *angkat topi*

  6. morishige Says:

    saya ngudut kangbro. ketenye sih makruh dalam agama ane, sama hukumnya kayak makan jengkol. wah, as you know lah.:mrgreen:

    tapi, mengenai pemerintah nggak ngapa2in produsen rokok, saya juga heran. sebab jauh sebelum saya dilahirkan pabrik rokok sudah pada berjalan dan tetap masih aman-aman. terbuktilah frase “peraturan dibuat untuk dilanggar” karena ternyata nyata-nyata di KUHP ada pasal tentang “kejahatan terhadap nyawa”.

    hmm… rasanya, kalau sekarang dipaksakan untuk mengharamkan rokok, baik secara hukum atau secara hukum agama, sudah terlalu terlambat. para pemilik perusahaan rokok sudah pada menjadi jutawan dan karyawannya juga jutaan. belum lagi ribuan orang yang nasibnya juga tergantung pada industri rokok. bisa-bisa pada nggak makan semua ntar… … …

  7. nana Says:

    ini om qizinklaziva yg dulu itu kan?

  8. Ben Says:

    Kl saya ngisep permen kojek dan minum air putih dan susu cokelat. Gak keren ya..? Gak laki bgt gt. Tp yowes lah, tar kl ngerokok apa bedanya saya dg banci-banci..?

  9. bob Says:

    JIKA ROKOK DILARANG,,, selain jutaan karyawan yg mungkin nyawanya akan lebih cepat dibanding para perokok, apakah jg sdh ada yg memikirkan utk melarang jg para pemilik kendaraan atw bahkan pabriknya,, terkait jg para pengebor minyak bumi yg semuanya memiliki tingkat bahaya yg jauh dari sekedar ROKOK…
    mikir panjangan dikit napa…????

    • qzink666 Says:

      Sepertinya Anda kurang paham dengan apa yg saya omongin๐Ÿ™‚

      Soal karyawan pabrik rokok sebagai alasan pentingnya rokok itu pembenaran dari tahun kapan. Ada pabrik ada buruh kali jeung. Emang kau pikir sebelum pabrik rokok itu ada para buruh nggak kerja dan prei makan? Terus soal mobil, migas dan rokok itu berbeda. Orang mati gara2 tabrakan mobil disebut kecelakaan atau keteledoran. Sengaja bunuh diri pake mobil itu penyalah gunaan. Pun begitu dengan tambang migas. Sedang rokok? Apa pula itu namanya kalo bukan menyediakan alat untuk bunuh diri?

  10. Critikalus Says:

    Yang mau dimatikan bukan manusia. Namun aturan yang dibuat manusia “pangkat tinggi”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: