Cemas

Juli 19, 2010

Jika kau cemas
tidurlah sebagai jeda untuk kecemasan berikutnya.

Iklan

Antara Rokok, Bir dan KUHP

Februari 12, 2010

Malam tadi, ketika saya punya kesempatan pulang pagi lagi… (ah, setelah sekian lama) saya mengulang kebiasaan ketika muda dulu *uhukk.. uhukk..* yaitu memperhatikan aktifitas para pekerja malam di pinggir-pinggir jalan yang saya lewati dengan kepala memberat karena perut terlalu penuh dengan minuman temuan manusia paling revolusioner; Bir. Pemandangan yang saya temui malam tadi masih tak berubah dan persis seperti dulu. Wanita penjual lendir, waria yang menawarkan jasa sedot, tukang becak yang bergelung macam kucing, pemilik warteg yang terkantuk-kantuk, kuli pocok di depan pasar dan sebagainya. Dan ini dia, kecuali mereka yang tidur dan terkantuk-kantuk, sebagian besar orang-orang yang saya temui itu mengapit sebatang rokok menyala di sela jari-jarinya. Yupe.. mereka semua adalah perokok!!

Dulu biasanya dari sederet pelakon kehidupan malam pinggir jalan yang saya temui, hal yang paling membuat saya suka adalah para waria berdandan menor yang sedang merokok. Selain suka dengan gaya mereka ketika memasukkan rokok ke bibirnya dengan gerakan slow motion dan sesekali berteriak seksi ke pengguna jalan yang melambat; “Ayo mas mampir. Garansi, kena gigi uang kembali,” tapi juga dengan melihat para waria merokok itu, saya jadi punya senjata pamungkas ketika ada kawan yang mengolok-olok saya sebagai banci karena tetap bertahan dengan style saya yang tak juga mau merokok.

Tapi tadi malam, entah kerasukan tuhan mana, tiba-tiba saya merasa senasib dengan para perokok itu. senasib karena sama-sama merasa jadi korban kebiadaban pembunuhan massal terselebung yang dilakukan oleh para pemilik pabrik penyumbang pajak terbesar di negeri ini. Pabrik rokok dan pabrik minuman keras. Ah, konsfirasi pembunuhan massal itu kurang tepat kiranya. Ah, iya.. tepatnya sebuah konsfirasi legal untuk membantu orang lain yang ingin mengakhiri hidupnya. Bunuh diri. Dianggap legal oleh pemerintah karena tindakan-tindakan atau upaya bunuh diri yang kami lakukan adalah dalam jangka waktu yang lebih lama, meski pada akhirnya memberikan hasil yang sama: MATI!!! Baca entri selengkapnya »


Neraka Itu Bernama Pasar Bebas

Januari 17, 2010

Jadi pelaku usaha kecil di Indonesia memang siyal luar biasa. Bulan Januari yang sejatinya jadi bulan awal pengharapan baru kini berubah menjadi bulan yang bikin tensi darah saya meningkat dan jantung saya sering dagdigdug tak terkendali. Ada apa gerangan? Apa lagi kalau bukan makin membanjirnya barang-barang impor dari China di pasaran. Sebagai pelaku usaha kecil yang stok barangnya mengandalkan buatan dalam negeri seperti baju hamil, peralatan bayi, baju anak-anak dan sebagainya kini mau tak mau harus bersaing dengan barang-barang dari China yang jelas lebih murah.

Mau ikut-ikutan latah jual barang dari China? Itu dia masalahnya. Persetan dengan nasionalisme yang sering digadang-gadangkan pejabat yang konon harus menjual produk dalam negeri. Saya pun sebenarnya sangat-sangat tertarik (ngebet malah) untuk ikut juga menjual produk yang lebih murah itu. Tapi masalahnya, berbeda dengan produk dalam negeri yang biasa pake sistem titip jual alias laku baru bayar, barang-barang dari nenek moyang saya itu hampir semuanya mesti bayar kontan. Tak ada itu sistem bayar separoh atau sejenisnya.

Solusinya agar tak gulung tikar? Saya mondar-mandir cari hutang. Bertumpuk-tumpuk proposal saya sebar. Semuanya dengan satu tujuan pasti, demi juga ikut euphoria menjual barang murah meriah itu. Hasilnya? Tak satu pun dari proposal yang saya kirim menghasilkan tambahan modal yang saya butuhkan. Kecewa? Oh tentu tidak. Silahkan anda-anda menganggapnya sebagai denial. Tapi saya memang tidak kecewa kok. Mungkin ini yang disebut adaptasi. Ketika kita tak mampu mendikte instansi-instansi pemerintah yang ogah mengucurkan dananya maka mau tak mau, yang harus saya lakukan adalah bertahan dengan segala yang saya punya. Maka dari itu ketika seorang kawan bertanya apakah saya kecewa karenanya, saya menjawab, “Saya ini sesombong dirimu. Emang kalo tak hidup di ketiak negara lantas mereka pikir saya akan mati karenanya. Persetan dengan UMKM sialan itu. Mungkin saya mau ngelamar kerja aja. Jadi gigolo kalo perlu.”

Lantas karena orang bijak sering ngomong bahwa dibalik segala kejadian selalu terselip hikmah. Saya pun mencari-cari hikmah yang mungkin saya dapat. Dan, eureka…. bingo.. memang benar ada hikmahnya. Hikmahnya adalah saya bisa update blog ini. Tak kurang dan tak lebih!