Kotbah dari Sang Pembunuh Tuhan

Juli 18, 2009

Sebenarnya postingan kali ini adalah untuk menepati janji saya di tulisan sebelumnya, bahwa saya akan menyalinkan karya Nietzsche tentang khotbah orang gila pada sebuah pagi di pasar tepat sehari setelah postingan saya yang kemaren, tapi karena kesibukan saya dengan facebook dan ragamnya akhir-akhir ini ya cukup padat maka janji itu baru bisa saya penuhi sekarang..

Oh yah, sebelum masuk pada aforisme orang gila a la Nietzsche saya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa terhadap para korban bom di hotel JW. Marriot dan Ritz tadi pagi (17/07/2009). Ini sinting, entah atas nama apa dan apa yang ada di kepala para pelaku bom bunuh diri itu (saya melihatnya dari rekaman cctv hotel JW. Marriot yang diputar di RCTI hingga berani memastikan bahwa ini aksi bom bunuh diri) hingga bisa melakukan perilaku seterkutuk itu. Dan meski belum ada keterangan resmi tentang siapa dalang dari aksi ini, tapi saya menduga kemungkinan besar pelakunya adalah orang-orang dari organisasi suatu agama tertentu. Dan jika dugaan saya benar maka teori-teori mengenai agama yang sering didengungkan Nietzsche menemui pembuktiannya bahwa kepercayaan pada Tuhan saja tak cukup untuk membuat manusia bermoral tinggi.

Dan sekarang monggo disimak karya Nietzsche yang saya janjikan kemarin itu…
Yu mariiiiii…

Si gila. Belum dengarkah kau si gila itu yang menyalakan lentera di pagi cerah, berlarian ke pasar sambil berteriak-teriak tiada henti: “Kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” –Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan datang mengerumuninya, orang gila itu menjadi tertawaan. “Apakah dia ini orang yang hilang?” kata seseorang. “Adakah ia tersesat seperti anak-anak?” kata yang lain. “Ataukah ia sembunyi? Apakah ia ketakutan kepada kami? Adakah ia baru saja mengadakan pelayaran? Atau bermigrasi?” Demikian mereka berteriak dan tertawa. Si gila melompat kearah mereka lantas menatap tajam wajah mereka. “Kemana Tuhan pergi?” teriaknya. “Aku mau katakan pada kalian. Kita sudah bunuh dia–kau dan aku. Kita semua pembunuhnya. Tapi bagaimana kita lakukan ini? Bagaimana bisa kita tenggak lautan? Siapa memberi kita busa untuk menghapus seluruh cakrawala? Apa yang kita lakukan ketika kita lepaskan ikatan bumi ini dari matahari? Kemana bumi ini akan bergerak? Jauh dari semua mentari? Tidakkah kita berhumbalang selama-lamanya? Ke belakang, ke samping, ke depan, ke semua penjuru? Adakah atas dan bawah yang tersisa? Tidakkah kita berkeliaran seakan melewati ketiadaan tanpa batas? Tak kita rasakankah dengus nafas ruang kosong? Belum sudahkah ia mendingin? Bukankah malam terus menerus semakin meliputi kita? Tak haruskah lentera dinyalakan di pagi hari? Belum dengarkah kita kabar dar para penggali lahat yang sedang menguburkan Tuhan? Belum terbauikah oleh kita membusuknya tubuh Tuhan? Dewa-dewa pun membusuk. Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimana kita, pembunuh segala pembunuhan, menenangkan diri kita? Ia yang paling suci dan paling berkuasa dari semua yang ada di bumi telah tumpah darahnya sampai mati oleh pisau kita–siapa hendak menghapus darah ini dari kita? Dengan air apa bisa kita basuh noda kita? Upacara pertobatan apa, permainan sakral apa yang perlu kita ciptakan? Tidakkah kedashyatan perbuatan ini terlampau besar bagi kita? Tidak haruskah diri kita sendiri menjadi dewa-dewa sekedar agar tampak pantas melakukannya? Tak pernah ada perbuatan yang lebih besar–dan barang siapa dilahirkan setelah kita, lantaran perbuatan ini ia akan menjadi bagian dari sejarah yang lebih tinggi dari seluruh sejarah yang sudah ada.”

Demikianlah
-up-

2 Tanggapan to “Kotbah dari Sang Pembunuh Tuhan”

  1. qzink666 Says:

    Saya barusan nonton rekaman cctv hotel itu lagi di youtube pake hp. Yang pake hp alamatnya di sini


  2. […] postingan ini sendiri berkait erat dengan postingan saya sebelumnya yang berjudul Khotbah dari Sang Pembunuh Tuhan yang dalam hal ini adalah tentang bagaimana Nietzsche menggambarkan dalam sabdanya tersebut melalui […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: