Posts Tagged ‘Zarathustra’

Zarathustra di Tengah Pasar

Juli 21, 2009

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jika engkau seperti pohon kembali, pohon yang bercabang lebar yang kau cintai: dengan tenang dan sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Ketika Nietzsche menuliskan Also Sprach Zarathustra [1] di tahun 1883, kita tidak tahu persis apa pasar baginya, atau bagaimana ia membayangkannya. Tidakkah “pasar” adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir: kebersamaan yang semu, perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung di permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing pertama-tama hanya memikirkan bagaimana kebutuhan sendiri dipenuhi?

Model sebuah pasar adalah tempat di mana orang di dekat kita adalah pesaing kita. la mendesak kita untuk berpacu. Kita ingin mengalahkannya dan ia ingin mengalahkan kita. Di dalam pasar, rasa iri bukan hal yang salah, rakus bisa jadi bagus, dan keduanya dilembagakan dalam sebuah sistem. Zarathustra ingin agar dari sini orang pergi ke kesendirian.

Tapi bukankah kesunyian satu hal, dan kesendirian adalah hal lain?
Barangkali kita memang harus, mula-mula, berbicara tentang pasar dan kesendirian, atau sebaliknya: pasar dan kebersamaan. Barangkali kita memang harus menilik, apakah kebersamaan di tengah para “aktor besar” yang gaduh itu, di tengah berisik “lalat-lalat yang beracun” itu bisa jadi kiasan untuk apa yang kita alami sekarang. Kita berada di akhir abad ke-20. Kapitalisme sedang menang. Sosialisme, dengan pelbagai macam variasinya, gempa. Dan seperti yang terjadi di dalam sejarah—dan ini terjadi di mana-mana ketika ekonomi pasar berkuasa—apa yang didefinisikan sebagai “kepentingan publik” pun jadi kurang mendapatkan tempat. Kepentingan, interest, akhirnya jadi suatu ringkasan dari kata “kepentingan diri”, yang bukan saja dianggap sebagai hal yang lumrah, tapi juga dirayakan sebagai sesuatu yang tidak memalukan lagi. Manusia telah bergerak dari posisinya sebagai warga suatu komunitas menjadi seorang penjual dan/atau seorang pembeli.

Nietzsche, melalui Zarathustra, agaknya tidak hendak berbicara tentang “pasar” dalam kaitannya dengan gambaran yang saya baru sebutkan. Ia berbicara tentang “orang-orang kecil dan orang-orang yang patut dikasihani”, yang jumlahnya banyak ibarat lalat penyengat racun. Ia berbicara tentang pasar sebagai tempat “badut-badut yang khidmat”, di mana hadir sang aktor, sang penyaji yang senantiasa dikelilingi orang banyak, tokoh dengan keyakinan yang selalu berganti baru, “orang besar” yang menganggap nihil kata-kata yang lirih: Kebenaran yang hanya menyusup ke kuping yang peka ia sebut dusta dan sesuatu yang bukan apa-apa. Sesunggguhnyalah, ia hanya percaya kepada dewa-dewa yang berkoar di dunia! Baca entri selengkapnya »

Iklan

Kotbah dari Sang Pembunuh Tuhan

Juli 18, 2009

Sebenarnya postingan kali ini adalah untuk menepati janji saya di tulisan sebelumnya, bahwa saya akan menyalinkan karya Nietzsche tentang khotbah orang gila pada sebuah pagi di pasar tepat sehari setelah postingan saya yang kemaren, tapi karena kesibukan saya dengan facebook dan ragamnya akhir-akhir ini ya cukup padat maka janji itu baru bisa saya penuhi sekarang..

Oh yah, sebelum masuk pada aforisme orang gila a la Nietzsche saya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa terhadap para korban bom di hotel JW. Marriot dan Ritz tadi pagi (17/07/2009). Ini sinting, entah atas nama apa dan apa yang ada di kepala para pelaku bom bunuh diri itu (saya melihatnya dari rekaman cctv hotel JW. Marriot yang diputar di RCTI hingga berani memastikan bahwa ini aksi bom bunuh diri) hingga bisa melakukan perilaku seterkutuk itu. Dan meski belum ada keterangan resmi tentang siapa dalang dari aksi ini, tapi saya menduga kemungkinan besar pelakunya adalah orang-orang dari organisasi suatu agama tertentu. Dan jika dugaan saya benar maka teori-teori mengenai agama yang sering didengungkan Nietzsche menemui pembuktiannya bahwa kepercayaan pada Tuhan saja tak cukup untuk membuat manusia bermoral tinggi.

Dan sekarang monggo disimak karya Nietzsche yang saya janjikan kemarin itu…
Yu mariiiiii…

Si gila. Belum dengarkah kau si gila itu yang menyalakan lentera di pagi cerah, berlarian ke pasar sambil berteriak-teriak tiada henti: “Kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” –Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan datang mengerumuninya, orang gila itu menjadi tertawaan. “Apakah dia ini orang yang hilang?” kata seseorang. “Adakah ia tersesat seperti anak-anak?” kata yang lain. “Ataukah ia sembunyi? Apakah ia ketakutan kepada kami? Adakah ia baru saja mengadakan pelayaran? Atau bermigrasi?” Demikian mereka berteriak dan tertawa. Si gila melompat kearah mereka lantas menatap tajam wajah mereka. “Kemana Tuhan pergi?” teriaknya. “Aku mau katakan pada kalian. Kita sudah bunuh dia–kau dan aku. Kita semua pembunuhnya. Tapi bagaimana kita lakukan ini? Bagaimana bisa kita tenggak lautan? Siapa memberi kita busa untuk menghapus seluruh cakrawala? Apa yang kita lakukan ketika kita lepaskan ikatan bumi ini dari matahari? Kemana bumi ini akan bergerak? Jauh dari semua mentari? Tidakkah kita berhumbalang selama-lamanya? Ke belakang, ke samping, ke depan, ke semua penjuru? Adakah atas dan bawah yang tersisa? Tidakkah kita berkeliaran seakan melewati ketiadaan tanpa batas? Tak kita rasakankah dengus nafas ruang kosong? Belum sudahkah ia mendingin? Bukankah malam terus menerus semakin meliputi kita? Tak haruskah lentera dinyalakan di pagi hari? Belum dengarkah kita kabar dar para penggali lahat yang sedang menguburkan Tuhan? Belum terbauikah oleh kita membusuknya tubuh Tuhan? Baca entri selengkapnya »

Terapeutik Nietzsche

Juli 12, 2009

Karena satu dan lain hal sejak beberapa bulan yang lalu hasrat saya untuk kembali aktif menulis tak lagi menjadi kebutuhan. Saya sudah beberapa kali mencoba untuk membangkitkan kembali hasrat itu tapi selalu gagal. Adakalanya hasrat itu begitu menggebu-gebu, tapi ketika muka sudah saling bertatap dengan monitor, jari saling bersentuhan dengan tuts keyboard, hasrat itu tiba-tiba saja padam tak berbekas dan ide-ide yang semula terkumpul ditempurung kepala pun dengan begitu saja menguap hingga hanya menyisakan layar kosong. Ereksi yang menggebu itu ejakulasi dan kemudian layu kembali sebelum sempat tersalurkan.

Keadaan itu diperparah lagi dengan susah setengah matinya dapat izin dari istri untuk pergi ke warnet sehabis pulang dari kerjaan mulai keranjingannya saya dengan ajang pertemanan basa-basi dan platonis yang berjudul fesbuk, maka hasrat yang sekarat itu pun kemudian mati dengan sukses.

Tapi seperti halnya Rene Descartes yang merasa ada karena berfikir, maka sebagai blogger pun saya mesti merasa saya ada karena saya ngeblog. Dan postingan kali ini adalah salah satu terapeutik demi menumbuhkan kembali hasrat saya untuk kembali menulis.

Dan karena satu-satunya hal yang membuat saya bergairah adalah Nietzsche maka momentum kali ini pun akan saya pakai untuk membahas kembali aporisme orang gila a la Nietzsche. Kenapa harus Nietzsche? Ada apa dengan Nietzsche?

Sebenarnya postingan kali ini yang sangat mungkin akan saya buat berseri saking panjangnya bahasan yang ingin saya kemukakan ini terinspirasi penuh atas dunia sekaligus orang-orang di sekeliling saya terutama orang-orang yang mengaku begitu religius yang semakin hari semakin menyebalkan saja tingkah lakunya.

Dewasa ini di dunia sekeliling saya para pemuka yang mengaku beraklakul karomah itu semakin hari semakin membuat gerah saja. Kekerasan atas nama Tuhan ditoleransi, Ustadz-ustadz yang semakin getol membual tentang nikmatnya surga beserta isinya yang tentu saja bidadari bervagina basah yang selalu perawan itu sebagai salah satu nikmat tak terperi yang disediakan bagi para penjilatNya, puas terhadap penderitaan orang diluar golongannya, dekadensi moral, humanisme terdistorsi, dan sebagainya membuat mereka semakin terpuruk kepada kebancian; sujud kepada nasib, submisif, dan apologetic terhadap kelemahan dan kepengecutan yang didalamnya kemunafikan dan kepalsuan terayomi. Baca entri selengkapnya »