Permintaan Terakhir Sebelum Eksekusi

Oktober 2, 2009

Salah seorang dari mereka yang bertubuh gemuk dengan susah payah bangun dan mengatupkan kedua tangannya. Kelopak matanya yang sebelah kiri terkatup dan di sana sini tersembul darah kering. Dengan wajah bersungguh-sungguh ia menatap kedua kawannya, “Anakku, sebelum kalian meninggalkan dunia, apa yang kalian inginkan? Tuhan menyertai kalian……,” lalu ia merentangkan kedua tangannya di atas kepala kedua kawannya yang berusaha menahan senyum.

“Ya, Bapak….,” jawab si Kacamata dengan suara gemetar, “Apakah sebuah permintaan yang bersifat duniawi masih akan dikabulkan oleh-Nya?”

“Itu tergantung apakah wilayah permintaan itu sesuai dengan kebutuhanmu sebagai manusia, Anakku….,” jawab si Gendut dengan suara bariton.

“Kalau begitu ya Bapak…,” sambut si Kacamata sambil berlutut dan menengadah. Bibirnya menganga dan ujung-ujungnya tersembul air liur bercampur darah kering, “Karena jiwaku akan terbang ke samping-Nya besok pagi, sudikah kiranya aku diberi sesuatu yang dapat mengelus-eluskan ragaku…”

“Apa itu, Anakku?”

“Anu, Bapak … Ngng ….,” si Kacamata melirik pada si Kurus yang mencoba jangan sampai gelak tawanya muncrat keluar.

“My child… What do you want?” si Gendut mengelus kepala si Kacamata.

“Bapak…. Saya ingin merasakan orgasme…”

****
Dicuplik dari cerpen Malam Terakhir (1989), karya Leila S. Chudori.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: