The Prince; Buku Pegangan Para Gangster

Agustus 9, 2009

The Prince adalah sebuah karya filsafat politik yang ditulis antara musim semi sampai musim gugur di tahun 1513 oleh Machiavelli yang disebut-sebut sebagai salah satu traktat filsafat paling bengal yang pernah dihasilkan dunia. Maka sungguh tepat apa yang digambarkan oleh Betrand Russel mengenai the Prince ini yaitu sebagai buku pegangan para gangster, karena memang didalam buku yang ditulis Machiavelli (pada mulanya ditujukan untuk para pangeran) ini terdapat banyak sekali ajaran-ajaran yang kemudian banyak diselewengkan oleh para pebisnis keblinger untuk mempertahankan dan menjalankan roda imperium bisnis mereka maupun keluarga-keluarga mafia demi kelancaran urusan mereka.

Dalam The Prince ini Machiavelli mengkhususkan diri pada cara para pemimpin untuk menjalankan roda kepemimpinannya secara efisien. Dan memang, efesiensi merupakan ilmu politik dari Machiavelli. Filsuf ini mengerti betul bahwa ilmu politik bukanlah sesuatu yang bersifat etis atau yang penuh dengan rasa iba. Ilmu politik hanya mengenal dua hal : apakah ilmu itu bisa diterapkan atau tidak, terlepas dari apakah etis atau tidak, baik atau buruk.

Pada bab pertama dalam buku ini Machiavelli membandingkan dua pemerintahan pada zamannya yaitu Turki dan Perancis sebagai model. Menurut beliau, pemerintahan yang efektif dan efesien adalah pemerintahan Turki yang pada waktu itu dikepalai oleh Ottoman Turks karena yang benar-benar pemegang kekuasaan di negeri itu hanya satu orang dan yang lainnya berperan sebagai pelayan, maka dengan begitu jenis pemerintahan seperti ini akan sangat sulit ditaklukan meski jika berhasil ditaklukan akan sangat sulit direbut kembali. Berbeda dengan jenis pemerintahan ala Perancis yang meski secara administratif dikuasai oleh satu raja (kala itu Perancis masih menggunakan sistem monarki dan revolusi Perancis yang melahirkan sistem Republik belum lagi terjadi) tapi pada kenyataannya dikelilingi pula oleh banyak bangsawan yang masing-masing punya kewibawaan dan dicintai oleh rakyatnya. Pemerintahan jenis ini sangat rentan intrik karena pusat pemerintahan tak bisa dikontrol oleh satu orang mengingat banyaknya orang-orang kuat yang juga dicintai rakyatnya. Oleh karena itu terdapat banyak kepentingan didalamnya terutama dari para bangsawan yang masing-masing mempunyai dukungan kuat itu.

Kemudian pada bab berikutnya yang diberi judul “Bagi Mereka yang Merebut Kekuatan dengan Kejahatan” ―yang dari judulnya saja kita bisa langsung tahu bahwa bab ini berisikan petuah-petuah Machiavelli untuk berbuat bengis sekaligus cara melakukannya―dengan tanpa ragu-ragu Machiavelli banyak memaparkan keutamaan-keutamaan yang harus dimiliki oleh seorang pangeran dan keburukan-keburukan yang harus dihindari demi mempertahankan kedudukannya. Dan inilah sesungguhnya yang menjadi perhatian utama Machiavelli; Mempertahankan kedudukannya selama mungkin.

Ia harus memilih untuk tampil laksana rubah dan laksana singa. Masalahnya, singa tak melindungi dirinya sendiri dari jebakan; sedangkan rubah tidak melindungi dirinya dari srigala. Karena itu, pangeran harus seperti rubah dengan melindungi dirinya dari jebakan, dan seperti singa untuk melindungi dirinya dari serigala.

Atau yang ini :

Rakyat seharusnya diperlakukan dengan murah hati atau dihancurkan sama sekali, sebab mereka bisa melakukan tindakan balas dendam hanya karena penderitaan kecil saja. Tindakan penghancuran berupa penderitaan berat justru akan menghapuskan keinginan mereka untuk balas dendam.

dengan proposisi di atas kita mungkin lantas dengan lantang bertanya; “jadi pemimpin yang efektif itu lebih baik dicintai atau ditakuti?” dan inilah jawaban Machiavelli atas pertanyaan ini:

Yang terbaik bagi seorang pemimpin ialah bila ia bisa menciptakan rasa cinta sekaligus rasa takut. Tapi, karena sulitnya mempertahankan kedua hal tersebut pada saat yang sama, akan lebih aman kalau ia ditakuti, bila ia harus memilih diantara keduanya.

Meskipun begitu, jawaban ini sebenarnya bergantung pada sang pangeran itu sendiri. Menurut Machiavelli, cara sang pangeran berprilaku itulah yang mencerminkan kualitas dirinya. Dari sinilah kemudian muncul konsep virtú. Pemakaian kata ini oleh Machiavelli jangan lantas disama artikan dengan konsep yang mempunyai hubungan dengan gagasan kristiani mengenai iman dan kebaikan, karena konsep virtú yang dikemukakan oleh Machiavelli (atau yang dinasihatkan kepada para pangerannya) sama sekali tak mempunyai hubungan apapun dengan iman, harapan atau sikap dermawan.

Penggunaan kata virtú oleh Machiavelli ini harus dikembalikan pada akar katanya yaitu Vir (laki-laki) dan Vis (kekuatan), dengan konotasi kejantanan. Virtú adalah potensi, kekuatan, kekuasaan, dan lebih dekat dengan konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Kata ini mengekspresikan dinamisme dan kekuatan, suatu keberanian yang diperlukan untuk mengungkap setiap momentum yang memberikan kesempatan dan menjalaninya tanpa ragu. (Paul Strathern)

Jadi pada kenyataannya konsep virtú yang dikemukakan Machiavelli ini sebenarnya berkaitan erat dengan konsep utama lainnya yaitu fortuna (nasib, keberuntungan) dan occasione (kesempatan). Gagasan ini muncul karena Machiavelli meyakini bahwa kita memiliki 50 % kontrol terhadap nasib kita, dan 50 % yang lain berada pada tangan keberuntungan. Dan memang kita semua tahu bahwa dalam sejarah kita bisa melihat betapa banyak hal terjadi karena peran kebetulan atau keberuntungan ini. Kita hanya perlu membaca biografi para tokoh dunia macam Hitler, Napoleon, atau Stalin dan bahkan Soeharto untuk mengetahui betapa banyaknya keberuntungan berpihak pada mereka. Inilah sebenarnya yang hendak dikatakan Machiavelli bahwa sang pangeran atau sang penguasa harus pandai-pandai memanfaatkan keberuntungan (fortuna) yang diberikan oleh kesempatan (occasione) pada mereka, dan yang paling penting dari semuanya adalah sedapat mungkin meminimalisir lawan-lawannya untuk meraih kesempatan dan keberuntungan untuk menyerangnya. Atau dengan kata lain, sebelum lawan menghancurkannya sang pangeran dituntut untuk terlebih dahulu menghancurkannya.

Konsep inilah yang dipandang oleh banyak orang sebagai hal paling kelam dari ajaran Machiavelli. Tapi Machiavelli sendiri meyakini bahwa memerintah atau berkuasa bukanlah mengenai baik atau jahat, melainkan suatu ajang perjuangan yang berkesinambungan diantara virtú yang kuat dan uluran tangan fortuna.

Dan sejalan dengan pemikiran tradisional pada masa itu, Machiavelli menganggap bahwa virtú adalah sesuatu yang bersifat maskulin, sedangkan fortuna itu feminin.

Lebih baik untuk bersikap keras ketimbang hati-hati, sebab keberuntungan itu ibarat perempuan; kalau ingin mengendalikan perempuan, laki-laki harus mengekang dan memukulinya.

Kepekaan modern tentu akan tersengat dengan sikap neolitik macam ini. Tapi bila kemudian kita membaca pandangan Machiavelli yang begitu pesimistik terhadap kodrat manusia mungkin para feminisme akan memakluminya meski tak memaafkannya. Seperti kata Henry Kissinger berikut ini…

Machiavelli telah begitu lama digambarkan sebagai inkarnasi sinisme. Namun, ia menganggap dirinya sendiri sebagai moralis. Ia melukiskan dunia sesuai dengan apa yang didapatinya, bukan seperti yang diharapkannya. Sesungguhnya, ia yakin bahwa seorang penguasa yang memiliki keyakinan moral kuat sekaligus juga yang bisa melakukan manipulasilah yang dapat bertahan di belantara hidup yang keras ini.

terlepas dari justifikasi Kissinger ini, tetap saja kita tak bisa memungkiri kalau filsafat politik yang ditulis Machiavelli ini memang benar-benar amoral. Tak usah diragukan lagi bahwa karya ini memang dihasilkan oleh setan dan semua pihak (terutama gereja) pasti menyetujui pendapat ini. Bahkan dalam bahasa inggris ada istilah “Old Nick”, sebuah nama popular untuk setan; sebutan ini diambil langsung dari nama Niccolo Machiavelli. Serupa dengan itu nama keluarganya digunakan untuk segenap pelosok Eropa sebagai ejekan untuk tindakan kejahatan.

PS. Untuk bab terakhir dari The Prince yang berjudul Sebuah Nasihat untuk Menguasai Italia dan Membebaskannya dari Kaum Barbar, kalau sempat akan saya bahas di postingan berikutnya. Sekarang keburu capek….

.

.

-UP-

9 Tanggapan to “The Prince; Buku Pegangan Para Gangster”

  1. qzink666 Says:

    Bab “Bagi Mereka yang Merebut Kekuatan dengan Kejahatan” ini maksudnya adalah “Bagi Mereka yang Merebut Kekuasaan dengan Kejahatan”

    Maafkan atas kesalahan ketik ini…

  2. Singal Says:

    manusia begitu kali sifat dasarnya..


  3. nice info gan..salam kenal..hehehhe


  4. saya juga sempet denger soal buku inih. pengen baca keseluruhan deh..😀

  5. qzink666 Says:

    @Singal
    Begitu gimana, bro??

    @ jasa web design
    Terima kasih.. semoga bermanfaat.

    @Billy Koesoemadinata
    Cepetan cari, bro.. Seru nih buku..😀

  6. imron46 Says:

    Buku bukanlah sebuah kitab suci, jika membaca satu buku maka harus diperjelas dengan buku – buku yang lain, sehingga memperluas wawasan, memperkaya input memori di otak yang sewaktu – waktu siap di recall, semua buku bagus asalkan tidak mengajarkan sebuah bentuk pengingkaran terhadap adanya sang pencipta, atau mengajarkan pemujaan terhadap setan dll.

  7. infoGue Says:

    hai salam kenal artikelmu udah ada di

    http://buku.infogue.com/the_prince_buku_pegangan_para_gangster

    gabung yuk n promosikan artikelmu di infoGue.com. Salam.

  8. Ndre Says:

    Qzink.. gila, kemana aja lo bro.. gw pikir nie blog udah tutup buku.. eh iseng2 mampir ternyata masih updet.. *sumringah mode on* mudah2an lo inget gw yak..

    pemerintahan Turki yang pada waktu itu dikepalai oleh Ottoman Turks karena yang benar-benar pemegang kekuasaan di negeri itu hanya satu orang dan yang lainnya berperan sebagai pelayan

    Kalo dalam istilah orang Jawa “Tan Ana Baskara Kembar” — tidak boleh ada matahari kembar. Penguasa mutlak tunggal. Panembahan Senopati Mataram telah mengajarkan pada kita how to run a government.

    Saya setuju dgn model leadership dan pemerintahn ala Machiavelli. Brutal itu indah selagi untuk kemaslahatan rakyat. Baca kisah Vladimir Putin sewaktu jadi PM bro.. gmana dia mengembalikan kejayaan Rusia. He is damn great! Mirip2 Soeharto, tapi dia lebih elagan dan minus KORUPSI.

    btw.. salam ketemu lagi bro…
    oh ya blog ane sebnarnya udah pindah kesini: http://rockaveller.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: