Zarathustra di Tengah Pasar

Juli 21, 2009

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jika engkau seperti pohon kembali, pohon yang bercabang lebar yang kau cintai: dengan tenang dan sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Ketika Nietzsche menuliskan Also Sprach Zarathustra [1] di tahun 1883, kita tidak tahu persis apa pasar baginya, atau bagaimana ia membayangkannya. Tidakkah “pasar” adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir: kebersamaan yang semu, perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung di permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing pertama-tama hanya memikirkan bagaimana kebutuhan sendiri dipenuhi?

Model sebuah pasar adalah tempat di mana orang di dekat kita adalah pesaing kita. la mendesak kita untuk berpacu. Kita ingin mengalahkannya dan ia ingin mengalahkan kita. Di dalam pasar, rasa iri bukan hal yang salah, rakus bisa jadi bagus, dan keduanya dilembagakan dalam sebuah sistem. Zarathustra ingin agar dari sini orang pergi ke kesendirian.

Tapi bukankah kesunyian satu hal, dan kesendirian adalah hal lain?
Barangkali kita memang harus, mula-mula, berbicara tentang pasar dan kesendirian, atau sebaliknya: pasar dan kebersamaan. Barangkali kita memang harus menilik, apakah kebersamaan di tengah para “aktor besar” yang gaduh itu, di tengah berisik “lalat-lalat yang beracun” itu bisa jadi kiasan untuk apa yang kita alami sekarang. Kita berada di akhir abad ke-20. Kapitalisme sedang menang. Sosialisme, dengan pelbagai macam variasinya, gempa. Dan seperti yang terjadi di dalam sejarah—dan ini terjadi di mana-mana ketika ekonomi pasar berkuasa—apa yang didefinisikan sebagai “kepentingan publik” pun jadi kurang mendapatkan tempat. Kepentingan, interest, akhirnya jadi suatu ringkasan dari kata “kepentingan diri”, yang bukan saja dianggap sebagai hal yang lumrah, tapi juga dirayakan sebagai sesuatu yang tidak memalukan lagi. Manusia telah bergerak dari posisinya sebagai warga suatu komunitas menjadi seorang penjual dan/atau seorang pembeli.

Nietzsche, melalui Zarathustra, agaknya tidak hendak berbicara tentang “pasar” dalam kaitannya dengan gambaran yang saya baru sebutkan. Ia berbicara tentang “orang-orang kecil dan orang-orang yang patut dikasihani”, yang jumlahnya banyak ibarat lalat penyengat racun. Ia berbicara tentang pasar sebagai tempat “badut-badut yang khidmat”, di mana hadir sang aktor, sang penyaji yang senantiasa dikelilingi orang banyak, tokoh dengan keyakinan yang selalu berganti baru, “orang besar” yang menganggap nihil kata-kata yang lirih: Kebenaran yang hanya menyusup ke kuping yang peka ia sebut dusta dan sesuatu yang bukan apa-apa. Sesunggguhnyalah, ia hanya percaya kepada dewa-dewa yang berkoar di dunia!

Dengan kata lain, “pasar” adalah kegaduhan dan orang banyak, arena di mana orang yang pandai berseni peran—sang “aktor”—menjadi amat penting. Di tempat ramai ini individu pun terancam kelimun, “orang-orang kecil” jadi pencemburu, tetangga kita menggerogoti kemandirian kita, dan dengan antusias mereka menyibukkan kemegahan. Di sini, “kebenaran” adalah soal singkat dan sederhana, soal ya dan tidak, pro atau anti, dan di sekeliling kita orang-orang yang tak fleksibel, tegar, pun menekan.

Agaknya itulah gambaran Nietzsche tentang sebuah dunia tempat pikiran serba sempit dan serba praktis, tetapi pongah, di mana kemandirian, kreatifitas, penemuan nilai-nilai baru, terdesak dan tergusur. Pasar, atau lebih tepat: lapangan pasar, telah jadi sebuah metafora tentang kelimun yang menyesakkan. Tapi pada akhirnya, saya kira, ia juga bisa melukiskan satu episode dalam proses embourgeoisement (atau, jika kita bersedia meng-indonesia-kannya secara riskan, “pemborjuisan”) dunia yang kini sedang terjadi. Dalam proses itu, kita menemukan bagaimana tenaga agresif ke dunia, yang mengalahkan, membangun, menghancurkan, bertaut dengan konformisme, sifat dari moralitas “kawanan” yang disebut Nietzsche, yang tumbuh dari rasa cemas untuk memperoleh, yang tekun berencana, yang menghitung, mengendalikan, dikendalikan, mencari kepastian.

Kita saksikan apa yang terjadi di sekitar kita. Komunitas yang beragam, yang bersifat lokal serta “intim”, telah atau tengah retak. Kebersamaan manusia berubah, jadi massa. Kemudian ia jadi kerumunan di mana segala macam jual beli berlangsung. Itulah garis besar yang kita alami di Indonesia: suatu masyarakat tradisional yang bergerak ke sesuatu yang “modern”. Kita jadi sebuah bangsa, bersamaan dengan proses pembentukan negara dan bergaungnya gerakan nasionalisme. Kemudian kita pun jadi sebuah arena perdagangan yang seru, suatu “masyarakat ekonomi”. Dengan kata lain: akhirnya juga sebuah pasar.

Pasar pada dasarnya adalah pusat di mana benda-benda disajikan, ditawarkan. Pasar: pusat hal ihwal jadi komoditi, artinya jadi hadir untuk dipertukarkan. Cabe kriting, tahu Sumedang, sepeda mini, mobil BMW, buku komik, paket umrah, baju desain Donna Karan, ceramah manajemen, dan entah apa lagi tersaji, masing-masing sebagai titik dari baris skala yang sama, dan sebab itu boleh dibilang bisa saling bertukar dengan yang lain. “Komoditi”, kata Marx, “memandang setiap komoditi lain hanya sebagai bentuk penampilan dari nilainya sendiri”.
Analisa Marx di sini penting untuk ditengok. Banyak argumen yang kemudian bertolak dari uraiannya—baik sebagai kritik ataupun bukan—untuk menjelaskan apa yang kita alami kini, yakni pasar, juga untuk menjelaskan apa yang hendak dikemukakan Nietzsche sendiri. Saya di sini memang mengamini Terry Eagleton [2]: tidak sulit untuk menjejaki kesejajaran umum tertentu antara paham materialisme historis dan pikiran sang penulis Zarathustra. Khususnya, dalam hubungannya dengan segi yang saya ingin kemukakan di sini, yakni sebuah usaha untuk menjelaskan ketidakbebasan manusia dan seruan untuk emansipasinya.

Lahirnya komoditi adalah lahirnya apa yang disebut oleh Marx sebagai “nilai tukar”. Dari sini mulainya runtuh beberapa jenis tambatan, dan boleh dibilang juga dari sini pula bergeraknya peradaban. Tapi berubahnya pelbagai hal (misalnya menikmati seks atau memanfaatkan kekuatan santet) dari sesuatu yang tak diperjual-belikan jadi komoditi—proses yang sering disebut sebagai “komodifikasi” itu—pada gilirannya meletakkan manusia dalam pasar yang gemuruh, yang menyediakan belenggu baru dan keterasingan.

Sejak awal, cerita komoditi mengandung sesuatu yang saling bertentangan. Dalam dirinya, yang kongkrit pun nongol, tetapi juga yang abstrak muncul. Seperti diuraikan Marx dalam Kapital, seonggok kayu yang diubah jadi sebuah meja pada dasarnya tetap kayu juga, namun ketika ia berubah jadi sebuah komoditi, “ia berubah jadi sesuatu yang transenden”. Ia mendadak punya “sifat mistis”. Ia seakan-akan mempunyai hidup yang lain, dan itu tak ada hubungannya dengan bagaimana ia berguna bagi kebutuhan kita, bukan lantaran “nilai guna”-nya. Agaknya inilah yang terjadi: sebuah komoditi tampil dengan bentuk, warna, aroma, tekstur yang menggugah, merangsang indera, atau menggetarkan imajinasi, tetapi pada saat yang sama ada momen penting ketika ia jadi abstrak— momen yang menyebabkan dirinya bukan lagi sesuatu yang khas dan tertentu, yang praktis tak dapat diulang-tiru, yang hubungannya dengan kita bersifat sepenuhnya kualitatif, majemuk dan berbeda-beda. Itulah momen ketika ia tidak dihadirkan, tidak diperbincangkan, dan tidak dimanfaatkan dalam keunikan gunanya, yang masing-masing bisa bermacam ragam, melainkan suatu momen abstraksi ketika ia telah direduksikan jadi sederet ekuivalen.
Dalam proses itu, arti sebuah komoditi yang khusus bagi seseorang tertentu di suatu saat (arti kemeja batik bagi X pada hari A, misalnya, yang berbeda mungkin dengan arti kemeja batik bagi X pada hari B, atau arti kemeja batik bagi Y yang berbeda dengan arti sebotol parfum bagi W maupun Z) pun raib. Semuanya telah ditinjau, diidentifikasikan—sebagaimana lazimnya setiap proses abstraksi— dalam satu aspek mereka yang sama. Di momen itu “nilai tukar” pun lahir, demikian juga apa yang ke¬mudian disehut sebagai harga. Lebih tajam lagi: di pasar yang berperan adalah suatu “ekuivalen yang umum” yang diterima secara sosial, yakni uang.

Tentu, ada yang didapat tapi ada yang hilang pula di sana. Sebab dengan gemuruhnya komodifikasi, seakan-akan lenyap dan tak jadi kongkrit lagi hubungan sosial antara pelbagai produsen: di pasar kita tidak berpikir tentang hubungan antara si produsen sepeda mini dan si penyanyi danngdut yang musiknya dikasetkan dan dijual di sudut itu. Di pasar, seakan-akan yang berhubungan adalah antar komoditi itu sendiri. Sesuatu yang memang bisa disebut sebagai “fetisisme” pun tumbuh dan berkembang. Di pasar, sesuatu yang diciptakan manusia akhirnya jadi sesuatu yang seakan-akan herada di luar, bahkan menguasai, manusia. Komoditi, kata Marx, memang “sesuatu yang misterius”.
Pasifkah manusia (saya, anda, kita) di sana? Ataukah aktif?

Pasifnya manusia di pasar, tenggelamnya ia ke dalam kancah yang tidak menyebabkannya menentukan dirinya sendiri, telah jadi sumber telaah yang panjang setelah Nietszsche dan Marx. Pokok ini penting juga kita tinjau, di zaman kita ini, tatkala kita dikerumuni benda-benda dan begitu banyak tempat bercermin.

Salah satu kritik yang dilontarkan ke arah pemikiran Marx ialah bahwa ia begitu banyak bicara tentang sang produsen (pemilik modal, buruh) dan terlampau sedikit bicara tentang sang konsumen. Barangkali karena Marx menuliskan ide-idenya 125 tahun yang lalu, sebelum apa yang disebut sebagai “masyarakat konsumsi” hadir seraya mengambil bagian terbesar perhatian kita di pelbagai sudut: di pertemuan keluarga, di tempat kerja, di resepsi, di layar televisi, di radio, di pagina koran, di dinding bis, di etalase, bahkan di kakus. Kini tendensi yang disebut oleh Veblen sebagai ciri leisure class (bisa diterjemahkan sebagai “kelas yang asyik”, barangkali: lapisan masyarakat yang punya banyak uang dan waktu luang dan menikmati keduanya dengan layak), berkecamuk meluas: tendensi berbelanja pelbagai hal dan barang dan lambang status secara mencolok. Kini bahkan di Indonesia kita bisa berbicara tentang maraknya dua hal yang oleh Daniel Bell disebut sebagai “dua penemuan manusia yang paling menakutkan sejak ditemukannya mesiu”: iklan dan cara beli barang tanpa bayar kontan. Yang pertama tak putus-putusnya menggoda dan kemudian mengubah, di kepala kita, keinginan jadi keperluan. Yang kedua memungkinkan orang banyak memperoleh benda-benda yang tak terjangkau dengan gampang, dengan mencicil dan mengangsur, dengan kartu kredit atau ilusi “mudah-dapat” yang lain.

Bell, dalam analisa yang terbit di tahun 1960 itu, berbicara tentang konsumen di Amerika. Kini tentu saja pernyataannya bisa berlaku bagi pasar yang lain, untuk menunjukkan bagaimana pasifnya manusia di kancah benda-benda itu. “Tidak ada makhluk dalam sejarah yang lebih seperti kerbau dicocok hidungnya ketimbang konsumen Amerika, dan sifat penurut ini mendorongnya untuk membeli.” [3]

Kurang-lebih satu dasawarsa kemudian datang Baudrillard: juga satu suara yang menegaskan, dalam jaman konsumsi kini, bahwa manusia—atau lebih baik subyek —telah direduksikan jadi kebutuhan yang secara sosial terbentuk. Ia menjelaskan perilaku konsumsi di masyarakat bukan dengan membahas “nilai guna” ataupun “nilai tukar”, seperti yang diajukan oleh para Marxis, melainkan dengan berbicara tentang “nilai tanda”. Bagi Baudrillard (kita berbicara terutama tentang kumpulan tulisannya Pour une critique de l’ëconomie politique de signe, yang terbit di tahun 1972) [4], yang merupakan dorongan konsumsi bukanlah terutama kenikmatan atau kegunaan, melainkan keinginan untuk mengambil dan memamerkan “nilai tanda”. Nilai tanda terbit melalui penataan secara hierarkis pelbagai komoditi: merk atau bentuk mobil tertentu, label atau wanginya parfum tertentu, memperoleh martabat yang berbeda melalui penandaan derajat, kedudukan dan status sosial dari para pemilik atau para konsumennya. Dengan kata nilai tanda itu tumbuh dari perbedaan dan tingkat-tingkatan, dan dilahirkan oleh sejenis “adat” yang mengatur belanja dan prestise sosial kita. Komoditi, menurut Baudrillard, terutama bukanlah tempat pemuasan kebutuhan, sebagai yang dinyatakan oleh ekonomi politik yang klasik, melainkan “menyatakan makna dan prestise sosial”. Kapitalisme menegakkan dominasi sosial dengan menjejalkan suatu sistem nilai tanda, dan dengan itulah orang seorang diletakkan dalam masyarakat konsumsi dan di sana menyerah kepada dominasinya: ia menyerah dengan melakukan apa yang diharapkan dari dirinya, yakni mengkonsumsi.

Pasar, di sini, adalah sebuah penaklukan. Maka barangkali bisa dimengerti bahwa di balik kegaduhan tempat itu, yang tampil—seperti dikatakan Zarathustra—adalah “orang-orang kecil” yang “patut dikasihani”, di mana hanya aktor yang disambut: sang aktor yang “esok akan punya sebuah keyakinan baru dan lusanya sebuah keyakinan yang lebih baru lagi”.

Tapi benarkah, di pasar, manusia jadi begitu rendah, hanya subyek yang begitu lembek, yang dipermainkan oleh pemujaan kepada “yang baru”, (karena usaha tak boleh stagnan, dan bisnis, dalam siklusnya, harus tidak boleh dibiarkan terjerumus turun, dan sebab itu terus menerus sang pedagang pun melancarkan inovasi), atau oleh fetisisme komoditi pada umumnya? Dengan kata lain: subyek yang tak bisa membebaskan diri? Dalam kenyataan, memang kapitalisme menjinakkan. Abad ke-20 adalah abad yang semula menyaksikan kemenangan gerakan Leninis di pelbagai tempat tetapi yang akhirnya menunjukkan bagaimana ekonomi pasar berhasil terus menerus mempermajal ketajaman perlawanan terhadap dirinya. Betapapun juga, Baudrillard cenderung berlebih-lebihan jika ia memaparkan subyek hanya sebagai sesuatu yang dibentuk oleh struktur (dari segi ini, Marx juga berlebih-lebihan) yang kukuh mengungkung. Justru kekuatan pasar terletak dalam sifatnya yang tidak seperti perangkap yang pejal, ibarat granit. Pasar adalah sesuatu yang cair, arus yang tak tentu bentuk, luwes, dan di kancahnya ternyata tidak semua manusia hanya jadi pak turut jadi komoditi, ia juga mengendalikannya, atau bisa melawan dan mencari alternatif. Atau ia sebenarnya, sebagai konsumen, ibarat sphinx, (untuk meminjam dari Michel de Certeau): sesuatu yang nampaknya pasif namun menampilkan teka-teki. Antara lain justru karena itu pasar senantiasa dirundung ketidakpastian.

Di dalam ketidakpastian itu memang sering berkecamuk rasa cemas borjuis: rasa cemas Droogstoppel, “Si Kersang Hati” dalam Max Havelaar; makelar kopi yang benci imajinasi bila imajinasi menghasilkan cerita yang bukan-bukan, saudagar yang takut kepada segala hal yang tidak lazim, apalagi yang bisa dianggap cabul dan berlebihan, seorang hemat yang menjelaskan bahwa seorang makelar kopi jadi kaya karena “hati-hati dalam perdagangan”. Weber akan menyebut Droogstoppel sebagai contoh “etika Protestan”, tetapi mungkin sebenarnya ia hanya seonggok rasa cemas untuk mendapat, rasa cemas kehilangan, rasa cemas untuk mampu mengontrol, rasa cemas untuk dapat memperhitungkan.

Ia memang menang di zaman ini, dengan segala manifestasinya. Pertanyaannya kemudian, adakah subyek bisa bebas dan manusia bisa utuh sebagai manusia. Marx jelas mengatakan tidak: bukan buruh saja yang jadi rudin ketika kapitalisme merajai hidup, tetapi juga sang pemodal sendiri kehilangan kesadaran akan tubuh, bahkan dirinya, karena semuanya praktis telah digantikan dengan kesadaran ala Droogstoppel, di mana “punya” lebih penting ketimbang “hidup”. Akhirnya juga sang pemodal seperti surut, dan modallah yang berjalan, bekerja, menentukan—satu hal yang kita kenal sebagai ciri dari alienasi. Bagi Marx, pembebasan manusia hanya bisa terjadi jika—dengan gerak bersama secara global—milik pribadi dilenyapkan dan produksi cara sosialis dibangun, dengan hasil yang lebih berlimpah, hingga manusia pun dapat mengembangkan seluruh dirinya, termasuk tubuh dan jiwanya, dalam kerja dan konsumsi yang merdeka, tak terikat oleh kapital. Utopia Marx tidak kunjung kita lihat, kecuali mungkin secara terbatas, di sebuah komune seperti kibbutz di Israel. Di luar itu, produksi dan konsumsi agaknya terus bisa bergerak maju, dan bertambah maju, dalam kaitannya dengan hak milik pribadi—termasuk dengan kerakusan dan penderitaan. Maka di manakah pembebasan itu?

Barangkali tiba saatnya kita dengarkan Nietzsche. Gilles Deleuze, dalam suatu esei yang agak terlalu bersemangat, membedakan Nietzsche dengan Marxisme dan Freudianisme. “Marxisme dan psikoanalisis dalam arti tertentu membentuk birokrasi fundamental—yang satu bersifat publik, yang lain bersifat privat—yang bertujuan merekodifikasi, dengan satu dan lain cara, apa yang secara tak henti¬hentinya menjadi terlepas dari kode di cakrawala kebudayaan kita. Sebaliknya, apa yang jadi perhatian Nietzsche sama sekali bukan itu. Tugasnya terletak di tempat lain: mengatasi semua kode masa lalu, masa kini dan masa depan, untuk mentransmisikan sesuatu yang tidak dan tidak akan membiarkan dirinya dikodifikasikan”.

Bagi Deleuze, kodifikasi itu merentang ke segala penjuru kehidupan, dalam bentuk hukum, kontrak, institusi. Ia tentu saja berbicara tentang masyarakat Eropa. “Berhadapan dengan cara bagaimana masyarakat kita secara berangsur-angsur mengalami dekodifikasi dan lepas dari regulasi dan kode-kode kita pun berantakan di tiap sudut, hanya Nietzsche pemikir yang tak mencoba untuk ke arah rekodifikasi”, tulisnya. Nietzsche sebagai suara pembebasan—bahkan sebagai suara yang menerima khaos bagian penting dari hidup—memang nampaknya merupakan tema penafsiran tentang penulis Zarathustra ini semenjak dua dasawarsa yang lalu. Bukannya sesuatu yang tanpa sejarah. Pada dasarnya yang menyebabkan Nietzsche begitu menggebrak dan menghentak ialah manusia yang sosoknya adalah, untuk memakai kata-kata Maurice Blanchot, “borjuis di akhir abad ke-19”: manusia dengan “tujuan kecil, kepastian kecil, keji dan tak memadai”. Agaknya itulah yang digambarkan Zarathustra di pasar: “orang-orang kecil”, “lalat-lalat beracun”.

Eagleton, seorang Marxis, mencoba menjelaskan lebih jauh apa sebenarnya yang disaksikan Nietzsche dengan panjang yang merendahkan itu (suatu hal yang saya kira akan dibaca di Indonesia seakan-akan dengan melihat ke cermin). Yang disaksikan Nietzsche adalah kelas menengah Jerman yang tak bergerak, kelas menengah yang umumnya puas untuk mendapatkan pengaruh dalam rezim otokratis Bismarck dan tak ingin menampilkan suatu tantangan politik yang berarti. Inilah borjuasi yang melepaskan “peran revolusionernya dalam sejarah”, kata Eagleton, kelas yang kuat tapi memilih jinak untuk meneruskan keuntungan kapitalisme yang dipasang dari atas oleh negara proteksionistis ala Bismarck. Negara ini pula yang menyediakan perlindungan terhadap apa yang kemudian secara cepat jadi partai sosialis terbesar di dunia.

Di bawah masyarakat ekonomi pasar yang lebih lanjut, Bismarck dan struktur pemerintahannya memang tidak ada lagi. Kaum modal dan wiraswasta telah menghadirkan kota-kota besar, prestasi teknologi yang gemilang, kekayaan dan daya produksi yang ampuh, yang bahkan mengesankan para penyusun Manifesto Komunis. Namun nampaknya tak banyak yang berubah dalam tema “kami-tak-betah” di dalam masyarakat yang ditata dan diarahkan menurut pengharapan borjuis. Memang hidup (dan nafkah) stabil dan pada umumnya mencukupi. Tetapi manusia—dan terutama manusia yang mengharap bukan saja harkat tapi juga berkat, sosok yang menginginkan pastinya kebahagiaan dunia dan keselamatan di akhirat—telah jadi konformis yang hidup di tiap sudut. Persaingan memang dipacu, tapi di lain sisi seluruh energi digiring ke satu fokus: akumulasi hasil. Kesatu-fokusan itu akhirnya dirasakan hanya menghadirkan serumpun “kawanan”, sehimpun eksemplar manusia yang datar. Pribadi-pribadi yang kuat—para entrepreneur, para usahawan dan pemimpin politik—akhirnya lebih mirip pemburu yang berani mempertaruhkan risiko dalam sebuah rimba yang telah jadi kebun binatang.

Dalam arti tertentu, gairah hidup dan kemerdekaan pudar. “Orang yang telah jadi merdeka…tak akan sudi menerima jenis, kesejahteraan yang nista yang dimimpikan oleh para pemilik toko, orang Nasrani, sapi-sapi, perempuan, bangsa Inggris dan demokrat-demokrat yang lain”, tulis Nitezsche dalam Gotzen-Dammerung di tahun 1889. Gemanya masih hingga kini, sementara berkecamuk rasa kecewa terhadap alternatif yang ditawarkan oleh Marxisme. Sebab sosialisme, di bawah penerapan Lenin, telah membangun institusi—partai dan negara—dan itu artinya sebuah kodifikasi lagi, dalam bentuk yang oleh Deleuze disebut sebagai “birokrasi fundamental” yang “publik”.
Maka Nietzsche pun seakan-akan dilahirkan kembali. Sebuah antologi yang diberi judul The New Nietzsche[5] dan nampaknya berpengaruh (cetakan keenamnya terbit di tahun 1994) menampilkan sejumlah tulisan yang pada umumnya menokohkan sang pemikir sebagai suatu suara antitesis dan alternatif terhadap sebuah kehidupan yang hanya bergerak antara keadaan menguasai dan dikuasai kini—kehidupan yang hanya berdimik-dimik dengan kategori, konsep, angka, perhitungan guna, rencana untuk lebih efisien dan efektif dan sejenisnya itu. Untuk meminjam kata-kata Deleuze lagi, semenjak 20 tahun yang lalu, Nietzsche telah menjadi suara dari counterculture.

Tapi apa yang ditawarkannya? Dalam Zur Genealogie der Moral (terbit 1887), ia menyebut akan datangnya “manusia masa depan”, yang akan “menebus kita dari ideal yang berkuasa sampai sekarang” (ideal, dalam arti asas, konsepsi atau tujuan tentang apa yang sempurna dan layak untuk diudi), yakni ideal yang pada dasarnya memandang hidup, kenikmatan, khaos, keragaman dan avonturnya, sebagai sesuatu yang harus dijauhi, bahkan ditampik, karena layak dicurigai sebagai sesuatu yang menyesatkan. Bagi ideal ini, semua yang ada di dalam hidup itu—semuanya yang fana—tak bisa dijadikan pegangan. Maka ideal “asketik” atau “zahid” ini pun mengutamakan sikap menahan diri dari gairah hidup, seperti yang kita dapatkan terutama dalam tema Budhisme, dalam ajaran para padri dan rohaniawan. Bagi ideal ini, hidup tak punya harga dalam dirinya sendiri. Tapi tidak berarti manusia harus jatuh ke dalam “nihilisme yang bunuh diri”. Sebab, sabda para padri, nun di balik sana dari dunia yang sekarang—jika kita bisa menahan diri dengan sempurna—kelak akan ada nirwana atau surga. Hidup punya arti, lantaran ada sebuah “kelak” yang seperti itu.

Tapi bagi Nietzsche, ideal “asketik” hanya mengandung dendam, mungkin benci. Sebab itu “manusia masa depan”-nya akan menebus kita dari ressentiment itu: ia akan datang ibarat “dentingan genta yang menandai siang dan keputusan besar yang akan membebaskan kehendak kembali, memulihkan tujuannya ke bumi dan mengembalikan harapan dirinya kepada manusia”. Nietzsche menyebut “manusia masa depan” itu sekaligus “antikristus” dan “antinihilis”, “pemenang atas Tuhan dan atas ketiadaan”. Sebab seraya ia melawan nihilisme dengan mengukuhkan kata “ya” kepada hidup, ia—berbeda dengan para rohaniawan yang mencurigai hidup duniawi —membuktikan bahwa ada satu nilai di dalamnya. Bukan nihil.

Saya melihat bahwa sang “manusia masa depan” bukan saja merupakan penebus bagi ideal “asketik”. Ia juga akan merupakan penggugat seorang Droogstoppel. Sebab ideal “asketik” dan pandangan dunia ala Droogstoppel punya “eskatologi”-nya yang mirip: keduanya menjauhi segala yang bergairah dan “berlebihan”, dan keduanya berhati-hati dalam hidup sekarang untuk memperoleh sesuatu yang lebih di masa depan. Keduanya semacam menabung dan melakukan investasi, dan memandang perilaku kini sebagai sesuatu yang bisa dipertukarkan dengan pahala masa nanti. Di hadapan keduanya, berdiri Zarathustra.
Nietzsche menghadirkan Zarathustra sebagai sebuah ideal tandingan. Zarathustra mengajarkan Ubermensch. Seperti dikatakannya, “Aku ajarkan Manusia Utama kepadamu”.

Apakah dan siapakah gerangan Manusia Utama itu? St. Sunardi, dalam telaah pengantar yang berhasil dengan terang menggambarkan pikiran Nietzsche [6], lebih suka tetap menggunakan kata asli Jerman, Ubermensch, untuk pengertian itu. Saya menggunakan kata “utama” hanya sekedar untuk mengenakkan lafal. Baiklah kita ikuti tafsir Sunardi: Ubermensch bagi Nietzsche bukanlah “transendensi baru”, melainkan berdasarkan potensi dan kemungkinan yang dimiliki setiap orang; ia “begitu dekat dengan manusia dan setiap saat dapat direalisasikan”; ia bukan pula merupakan suatu tingkat perkembangan yang “berada jauh di depan yang hanya ditentukan secara rasional”, melainkan makna dari dunia ini.
Nietzsche sendiri tidak begitu persis mengungkapkannya. Zarathustra pernah sekali bicara tentang perlunya “menghancurkan, menurut citra sang Manusia Utama, semua citramu tentang manusia” suatu sikap penolakan. Ia juga mengatakan, dalam prolog, “Sesunguhnyalah, manusia itu sebatang sungai yang tercemar”, dan “orang harus jadi sehamparan laut, untuk menerima sebatang sungai yang tercemar tanpa ia sendiri jadi najis”. Dan sang Ubermensch itulah laut yang seperti itu.

Tidakkah di sini “ajaran” tentang Ubermensch justru menunjukkan pola yang sama dengan pandangan hidup zahid: bahwa hidup di dunia kini hanya berarti karena jadi perantara ke arah sesuatu yang lain yang justru menafikannya? Dan tidakkah Zarathustra masih belum sepenuhnya bebas dari hasrat “pembalasan dendam” kepada hidup, dan itu adalah sebuah gejala kronofobia, penampikan kepada waktu? Atau, untuk memakai kata-kata Heidegger, belum sanggup berkata “ya” kepada segala yang tidak kekal dan tidak mutlak?

Barangkali tidak sepenuhnya demikian. Ubermensch, kata Nietzsche, adalah “suatu ikhtiar ke sesuatu yang tidak lagi manusia”. Suatu “ikhtiar”: yang inti di sini adalah adanya proses. Sunardi menunjukkan itu: “Manusia adalah makhluk yang tak henti-hentinya menyeberang: dari binatang menuju Ubermensch” [7]. Dalam Also Sprach Zarathustra juga dikatakan: “Manusia itu seutas tali, yang ditambatkan antara hewan dan manusia utama—seutas tali di atas jurang”. Zarathustra juga menambahkan: “Apa yang besar pada diri manusia ialah bahwa ia sebatang titian, dan bukan suatu tujuan; apa yang bisa dicintai dalam diri manusia ialah bahwa ia jalan melintas dan jalan menurun”.

Manusia, dengan demikian, sebagai Obergang dan Ontergang, memang bukan sesuatu yang final; filsafat Jawa mempunyai kata yang cukup kena untuk menggambarkan itu: manusia, makhluk, sebagai dumadi (ada sisipan “um” dalam kata “dadi”: ada sesuatu yang “bergerak” dalam kata yang berarti “jadi”). Dalam proses dan perubahan itu, dalam ketidak-kekalan itu, hidup diterima dengan segala kegairahan dan kepedihannya. Nietzsche menyerukan amor fati. Ideal Ubermensch dalam hal itu bisa dilihat bukan sebagai negasi kepada hidup. Ia suar di kaki langit. Manusia menuju ke sana. Mungkin tak kunjung tiba, tapi perjalanan itu sendiri memberikan arti.

Dengan itu ia akan bersedia masuk ke dalam hidup dan perulangannya yang kekal. Jika pada suatu malam ada jin yang datang ke dalam kesunyian kita yang paling hening dan berkata, bahwa hidup kita sebagaimana yang kita jalani ini akan berulang berkali-kali tak putus-putusnya, kekal, kita pun akan menerima berita itu sebagai sesuatu yang penuh berkah. Kita bisa saja tetap menginginkan agar hal-hal yang merusak hidup tak ikut berulang kelak, tapi bukan itu inti soalnya. Inti soalnya ialah bersyukur, untuk bisa berada di sebuah momen “rasa bahagia seorang Tuhan”, sebuah momen yang penuh “kuasa dan kasih”. Di situlah kita mendapatkan diri kita ada bersama di dalam, (dan jadi bagian dari), semesta sejarah yang maha panjang, kemanusiaan yang tak bertepi:

Ia, yang tahu bagaimana memandang sejarah manusia dalam keseluruhannya sebagai sejarahnya sendiri, merasakan, melalui pemikiran yang merangkum luas, seluruh duka si cacat yang berpikir tentang sehat tubuh, si tua yang berpikir tentang impian masa muda, si pencinta yang direnggutkan dari kekasih, si martin yang cita-citanya hancur, si pahlawan di malam menjelang perang yang tak pasti bagaimana akan berakhir—perang yang telah melukainya dan membunuh sahabatnya. Tapi untuk menanggungkan segala duka besar ini, untuk mampu menanggungkannya, dan tetap menjadi sang pahlawan yang, pada awal peperangan di hari kedua, menyambut fajar dan rasa bahagia sebagai seseorang yang mengeram cakrawala dari abad-abad sebelum dan sesudah dirinya, sebagai pewaris dari semesta kebangsawanan, semesta kecerdasan… untuk mengemban semua itu di dalam sukmanya, yang paling purba, yang paling baru, kekalahan, harapan, penaklukan dan kemenangan umat manusia: untuk menyimpan ini semua akhimya dalam satu sukma, dan meringkasnya dalam satu rasa—ini niscaya akan membubuhkan satu rasa bahagia yang selama ini tak dikenal manusia—rasa bahagia seorang Tuhan, penuh dengan kuasa dan kasih, penuh dengan tangis dan tawa, satu rasa bahagia yang, bagaikan matahari menjelang malam, terus-menerus memberikan kekayaannya yang tak tepermanai seraya mengosongkan diri ke dalam laut dan seperti sang matahari pula, merasa dirinya tiba di puncak paling kaya bila si nelayan yang paling miskin pun nampak mengayuh jukung dengan dayung keemasan!

.

.

.

.

Kepanjangan..Bersambung, bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: