Terapeutik Nietzsche

Juli 12, 2009

Karena satu dan lain hal sejak beberapa bulan yang lalu hasrat saya untuk kembali aktif menulis tak lagi menjadi kebutuhan. Saya sudah beberapa kali mencoba untuk membangkitkan kembali hasrat itu tapi selalu gagal. Adakalanya hasrat itu begitu menggebu-gebu, tapi ketika muka sudah saling bertatap dengan monitor, jari saling bersentuhan dengan tuts keyboard, hasrat itu tiba-tiba saja padam tak berbekas dan ide-ide yang semula terkumpul ditempurung kepala pun dengan begitu saja menguap hingga hanya menyisakan layar kosong. Ereksi yang menggebu itu ejakulasi dan kemudian layu kembali sebelum sempat tersalurkan.

Keadaan itu diperparah lagi dengan susah setengah matinya dapat izin dari istri untuk pergi ke warnet sehabis pulang dari kerjaan mulai keranjingannya saya dengan ajang pertemanan basa-basi dan platonis yang berjudul fesbuk, maka hasrat yang sekarat itu pun kemudian mati dengan sukses.

Tapi seperti halnya Rene Descartes yang merasa ada karena berfikir, maka sebagai blogger pun saya mesti merasa saya ada karena saya ngeblog. Dan postingan kali ini adalah salah satu terapeutik demi menumbuhkan kembali hasrat saya untuk kembali menulis.

Dan karena satu-satunya hal yang membuat saya bergairah adalah Nietzsche maka momentum kali ini pun akan saya pakai untuk membahas kembali aporisme orang gila a la Nietzsche. Kenapa harus Nietzsche? Ada apa dengan Nietzsche?

Sebenarnya postingan kali ini yang sangat mungkin akan saya buat berseri saking panjangnya bahasan yang ingin saya kemukakan ini terinspirasi penuh atas dunia sekaligus orang-orang di sekeliling saya terutama orang-orang yang mengaku begitu religius yang semakin hari semakin menyebalkan saja tingkah lakunya.

Dewasa ini di dunia sekeliling saya para pemuka yang mengaku beraklakul karomah itu semakin hari semakin membuat gerah saja. Kekerasan atas nama Tuhan ditoleransi, Ustadz-ustadz yang semakin getol membual tentang nikmatnya surga beserta isinya yang tentu saja bidadari bervagina basah yang selalu perawan itu sebagai salah satu nikmat tak terperi yang disediakan bagi para penjilatNya, puas terhadap penderitaan orang diluar golongannya, dekadensi moral, humanisme terdistorsi, dan sebagainya membuat mereka semakin terpuruk kepada kebancian; sujud kepada nasib, submisif, dan apologetic terhadap kelemahan dan kepengecutan yang didalamnya kemunafikan dan kepalsuan terayomi.

Sedangkan menurut Nietzsche asal mula lahirnya Tuhan adalah karena manusia memiliki pemikiran purba seperti “keinginan akan hukuman” dan “kedambaan akan perlindungan”. Maka yang terjadi dengan Tuhan dalam pengalaman religius seperti ini adalah bukan saja Tuhan yang menyayangi dan melindungi tapi juga punya sisi lain berupa sifat yang mengadili dan menghukum, yang marah dan cemburu.

Karena Tuhan dengan sifat yang begitu manusiawi inilah kemudian lahir manusia-manusia yang membuta dan hanya takut pada Tuhannya. Lahirlah akhlak yang pada gilirannya mematikan sifat moralitas alami (humanisme) dari manusia itu sendiri. Perlu digaris bawahi ada kalanya akhlak adalah standar kelakuan yang langsung dari Tuhan sebagai tolak ukurnya. Maka karena tolak ukur yang dipakai adalah langsung dari Tuhan maka standar moral seperti ini bersifat statis dan tak bisa diamandemen, berbeda dengan moral humanisme yang standar moral yang dipakainya berdasarkan perkembangan manusia dan zaman, maka humanisme ini bisa kapan saja ditinggalkan bila tak lagi cocok dengan standar zaman dan kemudian digantikan dengan standar yang lebih baru menurut perkembangan zaman.

Satu contoh kecil dari akhlak yang tak bisa diamandemen adalah poligami, perbudakan, jihad dan lain sebagainya yang tak peduli berapapun jumlah perempuan yang tak sudi dimadu, atau berapapun korban jiwa yang tercabut tak akan dipedulikannya selama Tuhan mengizinkan itu. Padahal dari tiga contoh ini saja jelas bahwa perbuatan macam ini tidak saja mencederai kemanusiaan tapi juga tak lagi relevan diterapkan di dunia yang taraf berfikir manusianya sudah sedemikian maju.

Dengan keadaan seperti ini Nietzsche menawarkan sebuah formula yang begitu orisinil yaitu bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan peradaban di masa depan manusia harus membunuh Tuhannya yang dalam hal ini digambarkan oleh Nietzsche melalui peran orang gila dalam lakon Zarathustra. Sebagai penganjur “pembunuhan Tuhan” Nietzsche menganggap bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah ilusi. Ilusi ini lalu dibongkar. Manusia dikembalikn pada habitus, keautentikan, dan keagungannya, sebagai mkhluk yang dituntut untuk melakukan aktualisasi prinsip “kehendak untuk berkuasa”.

Aporisme orang gila adalah sebuah lentera masa depan yang berfungsi sebagai platform untuk menstimulasi vitalitas dan segenap kemungkinan manusia untuk berkembang. Namun pada umumnya, nurbuat dan ajaran Nietzsche didaulat sebagai bid’ah dan dilaknat.akan tetapi, lepas dari pandangan tersebut, aporisme orang gila mengusung makna equivokal. Gagasan yang diusungnya segar, orisinil, sarat akan makna apokaliptik, penuh hasrat dan tentu saja menggelitik untuk diakses. Namun apa pun alasannya, karya monumental ini, secara tak terbantahkan, tetap actual untuk dicermati. (Dr. Singkop B. Boangmanalau, MA)

Maka tak terelakan lagi, kidung orang gila yang didengungkan oleh Nietzsche yang didalamnya terdapat semangat juang bangsa Dyanosiak dan perjuangan kaum stoik adalah bagian integral dari kehendak untuk berkuasa yang dijadikan pegangan untuk mengarungi lautan kehidupan ini merupakan formula yang tepat untuk menjawab dekadensi moral yang akut yang selama ini melanda dunia.

Tak jemu-jemunya Nietzsche memerangi kepengecutan, kemalasan, dan kemunafikan yang dianggap Nietzsche sebagai penyebab dari dekadensi moral dan marjinalitas ini menurut saya layak untuk dijadikan formula yang tepat sebagai pegangan kita semua.

Dan dalam pada itu, krisis iman dan kepercayaan, masa anomali, dan kekisruhan kehidupan agamis yang semakin akut, maka kritik Nietzsche ini cukup kiranya untuk membuat kita tak mengulang sejarah yang dilakukan oleh bangsa Eropa Barat pada abad pertengahan.

*capek*
*lirik jam*

.

.

.

.

.

Disambung dikala sempat………….

NB. Bagi yang belum baca tentang kabar matinya Tuhan yang dibawa si Orang Gila, kalau sempat besok akan saya posting di blog ini..

6 Tanggapan to “Terapeutik Nietzsche”

  1. morishige Says:

    Lahirlah akhlak yang pada gilirannya mematikan sifat moralitas alami (humanisme) dari manusia itu sendiri.

    saya heran sama orang-orang yang rajin ke masjid, tapi ke masjidnya cuma untuk diri sendiri. benci sama orang yang memahami agama secara dangkal… benca sama penjilat yang melaksanakan ibadah hanya untuk mengharap sejumlah pahala.

  2. qzink666 Says:

    @Morishige
    Setubuh, bro..
    Kenapa para pemuka agama itu slalu saja lebih mentingin sejumlah pahala diatas segala-galanya, dan tak peduli meski harus menciderai kemanusiaan ya? Mungkin karena surga terlampau memukau hingga membuatnya mabuk…

  3. Nagario Says:

    Sesungguhnya orang waras itu disebut “gila” sama orang-orang yang sebenarnya “gila” namun berasa waras… 😀

  4. wildan Says:

    makannya ibadah ada 3 jenis

    1. Ibadah layaknya bekerja ( hanya paksaan dan kewajiban )

    2. Ibadah layaknya berdagang ( mengharapkan balasan )

    3. Ibadah layaknya jatuh cinta ( tak mengharapkan apa-apa, hanya keikhlasan )

  5. Gema Says:

    Kalau belum memahami suatu ajaran agama lebih baik jangan mengkritik ajaran tersebut, kan kelihatannya jadi seperti anak kecil tolol yang mengkritik karya Nietszche haha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: