Ryan; Sang Anak Panah Kapitalisme

Juni 2, 2009

Dulu saya selalu menentang adanya hukuman mati di Indonesia, karena saya pikir jika seseorang yang dalam hal ini adalah pesakitan di eksekusi mati, dan suatu saat ditemukan bukti baru yang menyatakan bahwa yang bersangkutan ternyata tidak bersalah maka hukum tidak bisa lagi di rekonstruksi ulang karena sang terhukum sudah kadung mati.

Tapi sejak si smilling bomb Amrozi Cs. menjadi pesakitan pendapat saya tentang hukuman mati tiba-tiba berubah. Waktu itu saya begitu kepingin Amrozi Cs. yang hobi cengangas-cengenges itu segera di hukum mati. Kenapa pendapat saya bisa tiba-tiba berubah? Karena saya pikir, orang ini jelas-jelas telah bukan saja menciderai kemanusiaan tapi juga menghianati kemanusiaan.

Kita ini manusia, dengan segala karakter dasarnya. Meskipun punya banyak perbedaan, tapi kita punya nilai-nilai kemanusiaan yang sama yang tak boleh dihianati oleh kemanusiaan itu sendiri. Di atas nilai-nilai itulah kita belajar mengerti eksistensi sesama. Belajar menyadari bahwa manusia lain pun punya hak hidup yang sama.

Menyadari bahwa manusia lain pun punya hak hidup yang sama itulah yang tidak dimiliki oleh Amrozi. Bukannya menyesali diri atas kelakuannya yang biadab itu, ia malah terus-terusan cengangas-cengenges tanpa penyesalan sedikitpun di wajahnya seolah-olah surga di atas sana telah menanti untuk menyambut dirinya sebagai pahlawan besar.

Dan sekarang, sejarah kembali terulang, meski dengan kadar dan kuantitas yang berbeda. Ferry Idham Heryansyah alias Ryan sang penjagal dari Jombang!! Seorang hombreng sakit jiwa yang kecanduan membunuh itu sepak terjangnya selama di penjara udah bikin saya pengen nyodomi dia aja..

Udah emang dasarnya manusia di negeri ini sakit jiwa kayaknya. Tahu Ryan adalah seorang penjagal yang sadis dan tak berperikemanusiaan, eh, semua orang malah nawarin banyak kerjaan padanya seolah-olah ia adalah seorang seniman besar atau apapun yang telah membuat sebuah karya hebat di dunianya. Mulai dari membuat buku, tawaran membuat album hingga model iklan. Maka keanehan berikutnya pun muncul, seorang pesakitan sadis hidup di penjara mampu menggaji menejer. Mungkin di Indonesia inilah satu-satunya tempat di dunia ada seorang pesakitan memiliki menejer.

Selamat datang di negeri kapitalis!! Begitu temanku bilang. Dan memang, Ryan adalah salah satu dari anak panah kapitalisme. Walaupun saya memang bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dan mengedintifikasikannya dengan dunia barat yang kafir dan materialistis itu, toh pengeksploitasian besar-besaran terhadap penjagal sadis membuat saya tidak nyaman kalau tidak dikatakan gerah. Bagaimana dengan keluarga para korban penjagalan sadis si sableng itu? mereka tentu akan sangat sakit hatinya melihat penjagal orang yang begitu mereka kasihi berakhir dengan kelimpahan harta dan dielu-elukan penggemar layaknya pahlawan besar.

Itulah kapitalisme. Sebuah sistem dimana publik diperhitungkan. Publik adalah pasar. Dan yang membuat saya bingung adalah kok bisa-bisanya orang Indonesia menyukai Ryan yang sadis itu. apakah itu salah satu bukti bahwa masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang sadis dan nyleneh seperti itu?

Dan jika sudah begitu, alangkah bijaksananya para petinggi negeri ini jika segera mengeksekusi Ryan sebelum keluarga para korbannya lebih dalam lagi tersakiti akibat sepak terjangnya. Sebelum lebih banyak lagi orang-orang (terutama ABG) yang mengidolakannya dan mengikuti jejak yang sama seperti yang dilakukan idolanya untuk menjadi terkenal.

Basi?? Ya, mungkin banyak dari para pembaca yang bergumam bahwa tulisan ini basi dan tak menjual. Tak apalah. Saya punya alasan kenapa saya baru publish tulisan ini sementara penomena Ryan mulai menyurut. Pertama tentu saja karena saya tak mau pembahasan Ryan ini dianggap sebagai sarana untuk mendongkrak traffic blog. Yang kedua karena artikel ini udah lama ngendon di draft blog saya tapi tak sempat saya posting karena kesibukan saya melacur di dunia nyata. Dan yang ketiga tentu saja saya yakin kalau orang Indonesia punya semacam insting bawah sadar untuk mengolah sesuatu yang basi menjadi makanan segar. Maka dari itu saya pun yakin bahwa komoditi sebasi apapun di Indonesia masih memiliki pasar yang cukup subur, karena masyarakat kita memang sudah terdidik untuk mengenyam makanan basi. Mereka bahkan memiliki daya sugesti untuk menganggap makanan basi sebagai makanan segar. Mereka adalah penganut filosofi Plato yang menyakini bahwa yang menjadi soal bukan apa yang kita makan, melainkan bagaimana cara kita memandang dan menyikapi makanan.

Maka dari itu pada postingan ke 100 blog ini saya sajikan makanan basi.. semoga anda mampu mensugesti diri untuk menganggapnya sebagai makanan segar hingga bisa anda telan dengan lahap….

2 Tanggapan to “Ryan; Sang Anak Panah Kapitalisme”

  1. morishige Says:

    isu-isu di negeri ini makin hari makin murahan saja…

  2. bangaip Says:

    Mengenai Amrozi cs;

    Suatu hari, atasan memanggil saya ke ruang kantornya. Beliau bilang begini, “I saw on news yesterday those bombers get executed”

    Saya hanya menatap dingin sambil berkata, “That can’t bring my friends back”

    (*hingga saat ini, istri saya bahkan masih trauma untuk kembali mengunjungi Bali*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: