Apa yang Harus Saya Jawab

Maret 21, 2009

Kemarin malam selepas Isya ketika saya sedang berjibaku di luar rumah, orang tua istri saya yang dalam hal ini adalah mertua saya, kedatangan tamu. sang tamu adalah seorang purnawirawan ABRI, mantan kades, bergelar haji. Beliau datang ke rumah dengan tongkrongan khas pria-pria padang pasir yaitu jubah putih, sorban, jenggot menjuntai, lengkap dengan mahkota kebesaran berupa topong haji bertengger seksi di kepalanya.

Mertua saya tidak ngeh dengan maksud kedatangan tamu terhormat ini sebelum akhirnya kemudian beliau menerangkan bahwa menantu tersayangnya yang dalam hal ini adalah saya yang punya usaha kecil-kecilan di samping masjid itu harus ikut sholat ketika waktu sholat tiba. Sampai di sini, oke lah.. Tapi kemudian, seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya, sang tamu mulai memberondongkan mantra-mantra sucinya seperti kalau sampai besok saya tidak juga sholat, maka usaha saya yang di samping masjid itu ada kemungkinan bakal bangkrut terkena sumpah masjid. Dan ini yang lebih serem, kalau masih juga tidak sholat, sebaiknya jangan buka usaha dekat masjid karena beliau tidak akan bertanggung jawab kalau di kemudian hari para santri akan mengusir saya secara paksa demi menegakan amal ma’ruf nahyi munkar.

Saya yang jam sepuluh malam baru sampai rumah dengan kepenatan menggelayut di batok kepala setelah berjam-jam nongkrong di pabrik nungguin duit gabah yang saya setor, tiba-tiba harus mendengar cerita tentang datangnya tamu itu, tentu saja saya meradang.

Bukan, saya meradang bukan karena di ajak sholat. Saya meradang karena kenapa dia harus ngomong ke mertua saya kalau sekedar ingin ngajakin saya sholat? Kenapa tidak langsung ke saya? toh meskipun saya sebenarnya agnostik, dan membaca syahadat hanya ketika menikahi istri saya, tetap saja agama di KTP saya tercantum titik dua Islam. Dan sesinting-sintingnya saya, nggak mungkin saya akan marah ketika ada orang yang ngajakin saya sholat. Dan yang paling saya sesalkan, kenapa beliau harus pake ngancam-ngancam sagala hanya sekedar ingin saya sholat.

Dan tadi, selepas Dzuhur saya mencegat pak haji tamu mertua saya tadi malam itu ketika beliau baru turun dari masjid.
“Kata mertua saya, semalam bapak kerumah, pak?” Saya bertanya.
“Iya, ki, karena bapak lihat tiap waktu sholat tiba dan kebetulan kamu sedang di kios, kamu tidak ikut sholat, tapi malah sibuk dengan buku dan kalkulator. Bapak datang ke mertua kamu dengan harapan siapa tahu kalau yang nyuruh sholat mertua kamu, kamu malu dan akhirnya mau ikut sholat bersama kami.” Jawabnya dengan nada sok bijak.
“Lha, kalo sekedar ngajak sholat kenapa bapak tidak langsung ngomong ke saya aja? Saya memang malu di suruh sholat sama mertua tapi itu tidak serta merta akan membuat saya sholat.”
“Kalau begitu saya ngomong langsung ke kamu sekarang. Mau nggak kamu sholat?”
“Maaf, pak, untuk sekarang saya belum bisa. Mungkin besok, minggu depan, atau tahun depan, atau mungkin tidak sama sekali.”
“Kenapa?”
“Ya, nggak kenapa -napa. Belum bisa aja..”
“Kamu ini muslim bukan sih?”

Sampai pada pertanyaan ini saya bingung mau jawab apa. Mau jawab saya udah keluar dari islam, wah bisa gawat, dalam hadist mereka orang yang murtad itu halal darahnya. Anak saya bisa jadi anak yatim. Mau jawab saya tidak beragama, itu pun setali tiga uang, dalam kitab suci mereka orang kafir boleh di bunuh. Bisa di cincang saya. Mau bilang saya muslim, pasti dia akan balik bertanya kenapa saya tidak mau sholat? Dan dalam hukum islam, muslim yang tidak sholat itu sama dengan munafik. Lha, orang munafik kan sami mawon hukumannya dengan orang kafir.

Sampai di pertanyaan ini, saya mengutuki diri sendiri kenapa saya tidak tinggal di Austria saja. Setidaknya di Austria orang boleh tidak beragama. Yang dibaptis sejak bayi boleh meninggalkan gereja dengan membuat deklarasi di sejenis kantor sipil. Di sana beragama tidak memberi banyak keuntungan. (di sini, beragama mungkin tak memberi banyak keuntungan, tapi tidak beragama jelas membawa kerugian sosial). Pada tahun 30-an Hitler membuat peraturan bahwa semua orang Katolik di Austria boleh tetap beragama asal membayar pajak beragama. Peraturan ini tetap berlaku hingga kini.

Tentu saja, saya ingin tinggal di Austria bukan lantaran pajak. Tapi, setidaknya sampai kejadian ini saya menganggap bahwa beragama lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat.

Di tengah kebingungan saya mencari jawaban yang pas dan aman, boss beras tempat di mana saya menyetor gabah datang. Kebetulan yang menyenangkan. Setidaknya sampai tulisan ini di ketik, saya aman dari pertanyaan nyinyir itu…

Tapi kalau kemudian besok saya ketemu lagi dengan ahli surga itu dan kembali menanyakan hal yang sama, apa yang mesti saya jawab?
Ada yang mau Bantu saya????

8 Tanggapan to “Apa yang Harus Saya Jawab”

  1. Ndre Says:

    Jah Rastaman Yes I am..

  2. Ndre Says:

    Lupa kan lo pasti ma gw????

  3. Emina Says:

    jawabannya itu sebenarnya ada di dalam hatimu.

  4. morishige Says:

    susah sih, zink..
    soalnya kita hidup di negara yang berazaskan pancasila..

    btw ‘Ndre’ itu si gimbal tuh…

  5. zal Says:

    ::aiih…cak mano nak menjawab, soalan maini.., soalnya biasanya meski yang ada suara pada dirinyapun akan bungkam untuk menjawab hal ini…, karena tidak pada kadarnya…, kalau kata Isa AS tidaklah aku diutus kecuali untuk bani israil(orang yg berjalan malam)… kalau dibongkar menjadi riya..saranku sembunyi…dengan mengikuti keadaan yang didatangkan padamu… eh ini termasuk sok bijak juga ya…🙂

  6. Mbelgedez™ Says:

    .
    Warung tempat situh mangkal di atas tanah masjid apa bukan ???

    Kalo bukan, situh bisa sante ajah. Tapi kalo di atas tanah masjid, sayah pikir ituh laen persoalan,,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: