Di Kepulauan Bahagia

Maret 19, 2009

Buah-buah ara berjatuhan dari pepohonan, mereka itu indah dan manis; dan selagi mereka itu jatuh kulit mereka yang merah itu pecah. Aku bagaikan angin utara bagi buah-buah ara yang masak itu.

Demikianlah, bagaikan buah-buah ara, ajaran-ajaranku ini jatuh pada kalian, sobat-sobatku: kini minumlah airnya dan dagingnya yang manis itu! Dimana-mana kini musim rontok dan langit cerah dan lepa tengah hari.

Lihatlah, kemakmuran di sekeliling kita! Dan nikmatnya memandang laut di kejauhan dari tengah-tengah segala kelimpahan ini.

Pernah kalian katakan “Tuhan” ketika kalian memandang laut-laut yang jauh itu; tapi kini aku telah ajari kalian mengatakan “Manusia Unggul”.

Tuhan adalah sebuah dugaan; tetapi aku ingin dugaan kalian tidak lebih kuat dari kehendak cipta kalian.

Bisakah kalian ciptakan Tuhan? Jadi jangan katakan apa-apa lagi tentang Tuhan-Tuhan! Tetapi sudah pasti kalian bisa ciptakan Manusia Unggul.

Barangkali bukan kalian sendiri, saudara-saudaraku! Tetapi kalian bisa mengubah diri kalian menjadi leluhur dan moyang Manusia Unggul: dan jadikan ini ciptaan kalian yang paling indah!

Tuhan adalah sebuah dugaan: tetapi aku ingin dugaan kalian dibatasi oleh kenalaran.

Bisakah kalian menalarkan Tuhan? Biarlah kehendak kepada kebenaran memberikan ini kepada kalian: bahwa segalanya akan diubah menjadi kenalaran-manusiawi, keterbuktian-manusiawi, kenyataan-manusiawi! Kalian harus mengikuti nalar-nalar kalian sendiri sampai saat terakhir!

Dan kalian sendiri harus menciptakan yang sampai saat ini kalian sebut Dunia: Dunia harus dibentuk dalam citra kalian oleh nalar kalian, kehendak kalian, dan cinta kalian! Dan sungguh, ini adalah demi kebahagiaan kalian, kalian manusia-manusia berbudi!

Dan bagaimana kalian bisa bertahan hidup tanpa harapan, kalian manusia-manusia berbudi? Sungguh kalian tidak akan puas berada dalam kebodohan dan khayalan.

Tetapi baiklah kubuka hatiku seluruhnya pada kalian, sobat-sobat: jika memang ada Tuhan-Tuhan itu, bagaimana aku bisa tahan untuk tidak menjadi Tuhan! Karena itu tidak ada Tuhan-Tuhan itu.

Memang aku yang menarik kesimpulan itu; tapi kini kesimpulan itu yang menarikku.

Tuhan adalah sebuah dugaan: tapi siapa yang bisa menenggak semua cekaman dugaan ini tanpa mati? Haruskah pencipta tidak boleh beriman dan elang tak boleh melayang ke langit lepas?

Tuhan adalah suatu khayalan yang membuat semua yang lurus jadi bengkok dan semua yang tegak jadi puyeng. Apa? Akankah waktu berlalu dan semua yang berlalu hanyalah tipuan?

Berpikir bahwa ini semua hanyalah kepuyengan dari kepentingan bagi tubuh manusia dan muntahan bagi perut: sungguh, aku sebut mabuk siapa pun yang berpikir seperti itu.

Aku sebut hal itu jahat dsn antimanusia, semua ajaran mengenai yang esa dan sempurna dan tak-berubah dan serba mencukupi dan kekal.

Segala yang kekal itu tak lain hanyalah khayalan! Dan para nabi itu terlalu banyak berdusta.

Tetapi khayalan-khayalan dan peribahasa-peribahasa yang paling baik haruslah menceritakan waktu dan kejadian: mereka harus merupakan pujian dan pembenaran atas semua ketidakkekalan.

Ciptaan–itulah penebusan besar dari penderitaan, dan keenakan hidup. Tetapi agar pencipta itu ada, itu sendiri memerlukan banyak penderitaan dan banyak perubahan.

Ya, harus ada sekian banyak mati menderita dalam kehidupan kalian, kalian para pencipta! Demikianlah kalian menjadi penganjur dan pembenar semua ketidakkekalan.

Agar pencipta itu sendiri menjadi anak yang baru lahir, dia juga harus bersedia menjadi ibu dan menanggung rasa sakit ibu.

Sungguh, aku telah menjalani kehidupanku melewati seratus jiwa dan melewati seratus buaian dan rasa sakit melahirkan. Aku telah mengalami banyak perpisahan, aku tahu rasanya saat-saat akhir yang menyedihkan.

Tapi itulah kemauan dari kehendak kreatifku, takdirku. Atau, kukatakan dengan lebih jujur: kehendakku justru menghendaki takdir yang seperti itu.

Semua perayaan memberati diriku dan berada dalam penjara: tetapi kehendakku selalu datang kepadaku sebagai pembebasku dan pembawa kegembiraanku.

Berkehendak itu memerdekakan: itulah doktrin sejati dari kehendak dan kebebasan.

Tidak lagi berkehendak dan tidak lagi mengevaluasi dan tidak lagi mencipta! Ah, hendaknya kemalasan besar ini terjauhkan selamanya dariku!

Juga dalam mengetahui dan memahami, aku merasakan kesenangan kehendakku dalam melahirkan dan menjadi; dan jika ada kepolosan dalam pengetahuanku itu adalah karena adanya kehendak untuk melahirkan di dalamnya.

Kehendak ini membujukku meninggalkan Tuhan dan Dewa-Dewi; karena apa yang mau dicipta bila Dewa-Dewi itu ada?

Tetapi lagi dan lagi kehendak kreatifku yang bersemangat itu mendorongku kepada manusia; demikianlah palu diarahkan kepada batu.

Ah, kalian para manusia, aku melihat satu gambaran terpampang dalam batu, gambaran dari visi-visiku! Ah, gambaran itu terpampang dalam batu yang paling keras, paling jelek!

Kini paluku berdentang keras memukul penjaranya. Pecahan beterbangan dari batu itu: apa gunanya bagiku?

Aku katakan: karena sebuah bayangan mendatangiku-suatu hal yang paling senyap, paling ringan mendatangiku!

Keindahan Manusia Unggul datang padaku bagaikan sebuah bayangan. Ah, saudara-saudaraku! Apa gunanya Dewa-Dewa itu bagiku kini!!
Demikianlah kata Zarathustra…

2 Tanggapan to “Di Kepulauan Bahagia”

  1. zal Says:

    ::bagaimana kamu memandang sebuah dugaan.., pasti dengan dugaan pula…, dugaan-dugaan ini akan merangkai sebuah dugaan lainnya…namun dapatkah digenggam sebuah dugaan sedangkan ianya tak memberi kesan…,
    seharusnya dugaan datang memberi kesan, dengannya memberimu suatu dugaan yang mengukuhkan, yang beringsut dari percaya menjadi yakin…
    harus ada satu tuhan padamu, yang dengannya kamu ada , dan denganmu dia ada…itulah yang menjadikanmu manusia unggul…unggul bukan meniadakan, meski mengadakanpun bukan unggul…, unggul adalah kesadaran…kesadaran akan jiwa menjiwai…itulah yg tertuliskan zal

  2. chiw Says:

    Zink… bangun Zink!

    gue dewi Aphrodite Zink!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: