Tentang Selaput Dara

Juli 1, 2008

Tuhan silap tidak menciptakan selaput dara pada lelaki agar perempuan tidak merasa berkecil hati dan laki-laki tidak menang sendiri.. [Ayu Utami-Saman-]

Malam itu ketika sehabis bersenggama, sebagaimana umumnya laki-laki, saya dengan begitu saja meninggalkan lawan main yang telah membuat saya berkeringat pada jam dua pagi itu tergolek sendirian di ranjang.

Saya terduduk sendirian di kursi yang ada di kamar sambil berusaha menikmati sisa-sisa pertempuran yang menguras. Pada saat seperti inilah saya menyesal hidup sebagai seorang yang bukan perokok. Kalau saja saya perokok, batin saya waktu itu, saya pasti akan sangat terlihat eksotis seperti yang pernah digambarkan Motingo Busye dalam novelnya. Duduk sambil merokok dengan membelakangi seorang perempuan yang tertidur kelelahan sebagai latar.

Pelacur itu, entah sekarang ada di mana, masih berdikari atau tidak, yang bertahun lalu sering sekali menumpahkan unek-uneknya di sisa malam yang kami punya.

“Kamu tahu nggak, mas, sebenarnya saya bosan menjalani hidup seperti ini. Hidup dengan ritme yang tak wajar.” Desahnya di suatu pagi menjelang bedug subuh.

“Kalau bosan kenapa tidak berhenti saja?”

“Tak semudah itu, mas.. Dunia tak pernah mengizinkan seorang pelacur seperti kami untuk hidup wajar.”

“Kenapa?” Saya bertanya.

“Karena kami tak lagi memiliki selaput dara!!” Katanya lirih.

Saya diam saja. Toh, seperti juga kebanyakan laki-laki, sebrengsek apapun saya, tetap saja saya tidak bisa menyangkal kalau saya pun menginginkan perawan baik-baik sebagai istri, dan bukan pelacur seperti dia. Saya egois? Memang! Patriarki? Tentu saja!!

“Dulu.. Dulu sekali.. Saya pengen banget jadi bidan, guru atau buruh pabrik yang punya seragam. Saya pengen banget bisa pake seragam. Apapun seragamnya. Tapi yang jelas bukan seragam kupu-kupu seperti ini.”

Saya geli bercampur iba mendengar ceritanya. Ternyata dibalik kata-kata bersengat, caci maki cabul dan guyon murahan yang selama ini sering saya dengar, pagi itu saya melihat sorot mata sepi kanak-kanak.

***

Dan sekarang, bertahun kemudian, di kamar berbeda, orang berbeda dan bau udara yang berbeda, saya pun menghabiskan sisa malam dengan ngobrol.

“Mas, seks di mata kamu itu seperti apa sih?” Tanyanya.

“Seks adalah rekreasi.” Jawab saya sekenanya.

“Hwakakakak… Kamu benar-benar manusia yang telah berevolusi nyaris sempurna, mas..” Katanya. Saya nggak tahu dia sebenarnya sedang menyindir atau memuji jawaban asal saya barusan. Ah, saya jadi ingat blogger sinting yang sering sekali memperlakukan saya tanpa pernah saya tahu sebenarnya dia sedang membelai atau menampar. Dan dalam beberapa hal, dua iblis betina ini punya kemiripan satu sama lain.

“Maksudnya?”

“Kamu benar-benar berbeda dengan makhluk bersel satu mereproduksi diri yang pernah saya lihat di mikroskop waktu SMP dulu.”

“Bedanya saya dengan makhluk bersel satu itu apanya?” Saya penasaran.

“Bedanya, kamu bisa mencatat kenikmatan dan dorongan seks di buku harian, sementara mereka nggak punya buku harian. Kita jadi nggak tahu apakah para makhluk bersel satu itu merasa nikmat atau malu, puas atau kecewa.”

“Ah, nggak nyambung lo.. Lantas hubungannya dengan manusia yang berevolusi nyaris sempurna itu di mana?”

“Begini, mas.. Bukankah dorongan seks itu pada awalnya adalah insting untuk mempertahankan hidup? Dan inilah yang saya bayangkan tentang evolusi: bahwa evolusi juga terjadi di bidang psikis. Cinta, gairah seks, nafsu serakah, bukankah itu semua semula adalah fungsi-fungsi pertahanan hidup? Tapi bukankah pada perkembangannya naluri itu kemudian memisahkan diri dari fungsi awalnya, dan kemudian berdiri sendiri. Contoh lain adalah.. Bukankah kita pun seringkali makan bukan karena perut kita lapar, melainkan karena mata dan lidah kita menginginkannya? Kita kerap tak bisa membedakan apakah kita melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau memuaskan dorongan tubuh.”

Saya bertambah bingung dengan jawabannya, tapi demi menyamarkan kedodolan saya dalam menangkap makna jawabannya, saya pun balik bertanya, ” Lalu, kalau menurutmu seks itu apa?”

“Saya ini perempuan, mas.. Tidak seperti laki-laki yang antara kewajiban membelah diri dan rekreasi hampir tak bisa dibedakan. Di vagina saya ada beberapa organ yang fungsinya memang untuk eksresi atau membelah diri dan ada juga organ yang fungsinya memang khusus untuk pro/re-kreasi atau bersenang-senang seperti klitoris dan G-Spot.”

“Enak dong…” Kata saya menimpali, “Kamu bisa bersenang-senang sekaligus mereproduksi diri..”

“Sayangnya berbeda dari laki-laki, pada kelamin perempuan itu dilengkapi dengan selaput dara. Dan ini jadi kutukan!! Pada satu sisi, sebagai manusia dewasa, perempuan juga punya kebutuhan untuk bersenang-senang dengan tubuhnya. Tapi di sisi lain, kalau kita melakukannya sebelum nikah, maka artinya selaput dara kita akan rusak sebelum waktunya. Dan pada banyak kasus, sang suami akan mempermasalahkannya ketika tahu bahwa istrinya tak lagi memiliki selaput darah tanpa sekali pun perempuan boleh menggugat apakah suaminya juga belum pernah berhubungan seks sebelumnya. Satu lagi, rahim itu linglung dan hampir nggak bisa membedakan apakah kita sedang melakukan hubungan seks dengan tujuan untuk bersenang-senang, berniat mereproduksi diri atau sedang diperkosa. Bagi rahim, ketika sperma laki-laki masuk kesana, maka artinya harus segera di olah.”

“BTW, tadi kita sedang bersenang-senang atau membelah diri?”

“Huuuuu….” Katanya sambil menonjok perut saya.

“Hayo ngaku, tadi kita bersenang-senang atau membelah diri?”

“Dua-duanya…” Jawabnya malu-malu.

“”Enak gak?” Saya menggoda.

“Enak banget.. Makanya nanti kalau mas tidur, penisnya bakal saya potong dan saya goreng.”

“Jahh.. Buat apa?” Saya pura-pura cemberut.

“Abisnya penasaran sih, mentahnya aja enak banget, gimana matengnya, hahahaha…”

“Kurang ajaaaaaaaaarrr..” Teriak saya sambil menerkamnya.

Dan kami pun kembali bergumul…

.

.

.

.

.

ps: Postingan yang gak nyambung dan mirip stensilan ini dibuat asal-asalan sekedar untuk “memengen” seorang (malaikat?) laki-laki berumur 24 tahun tapi mengaku belum pernah ngerasain nikmatnya coitus.. Hwakakakakakaka..

*menyelamatkan diri*

16 Tanggapan to “Tentang Selaput Dara”

  1. qzink666 Says:

    Makin ngaco aja nih postingan gw belakangan ini…๐Ÿ˜†

  2. ichanniyah Says:

    dasar lacur

    *orgasme*

  3. edy Says:

    keren๐Ÿ˜€ ada sesi biologinya juga
    tapi, kenapa pas di sekolah ga pernah ada praktek reproduksi?? teori muluuu

  4. goop Says:

    koreksi, bukan 24 tapi 25, bro๐Ÿ˜ณ
    oiya, cariin dong bro!๐Ÿ˜€
    btw, selaput darah apa selaput dara, sih?

  5. tukangkopi Says:

    gendeng!๐Ÿ˜ฏ
    goop, gw nunggu undangan dulu ya, bukan pertanyaan dimana dokter aborsi..wakakakak..

    *ikutan gendeng*

  6. esensi Says:

    *kagak ngarti*
    suwer! beneran!

  7. jiki Says:

    Ah, saya jadi ingat blogger sinting yang sering sekali memperlakukan saya tanpa pernah saya tahu sebenarnya dia sedang membelai atau menampar.

    heh, ki.. aku udah berusaha menemukan which part of you yang bisa dipuji, tapi gak ada..so, yeah semuanya adalah tentang menampar

    -pulang-

    eh buat om goop… eh gak jadi ah๐Ÿ˜†


  8. kayaknya di pelajaran biologi ngga ada selaput darah deh…๐Ÿ™„

    zink…zink…
    bego dipupuk terus!!!
    :mrgreen:

    *puwas*๐Ÿ‘ฟ

  9. Nazieb Says:

    Selaput dara, Bung…:mrgreen:


  10. […] wanita, kenikmatan yang ada apakah hanya sebatas selaput dara? Setahu saya, tidak hanya itu. Rasa keibuan yang dimiliki, sifatnya yang lebih peka sekaligus […]

  11. mbelgedez Says:

    Jiamput…!!! ๐Ÿ˜ฏ

    Keren banget post nya, boss….

    Tunggu pembalasan sayah !!!

  12. eve Says:

    nice… i like your writing๐Ÿ™‚

  13. plain love Says:

    heh… blogg ini dibaca anak kecil juga tau…

    paman goop sih… pake nggak pernah ngerasain… makanya si qzink bikin macam ginian…

    doh…

  14. lovepassword Says:

    Yah kali-kali aja ada makhluk bersel satu yang nulis di buku harian. Hi Hi Hi. Jangan-jangan gua ini schizo ya? Hiks

  15. rianty Says:

    apakah seorang gadis yang sering melakuan onani akan kehilangan keperawanannya ato virginnyaq tolomg di bles ke email sya question saya thanx

  16. alonely Says:

    apakah kselaput dara bisa sobek, slain mlakukan hub intim misalnya, saat kita kecil, jatoh..atau over tingkah laku?/ ,bisa menyebabkan hilang nya selaput dara..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: