Mimpi-Mimpi Nietzsche

Juni 23, 2008

Postingan ini saya comot dari sini dengan tanpa izin. Bila yang bersangkutan merasa keberadaan, silahkan komplain. Saya akan dengan senang hati membatalkan dan menghapusnya kembali. Terimakasih.

Break

Manusia Adikuasa pada bulan Januari tahun 1883 terlahir di tepi sungai, di bawah tekanan cuaca dingin yang membekukan. Hujan deras turun sejak pagi, matahari tak sempat menampakkan diri karena awan hitam terus menyelubungi langit. Dalam cuaca dingin seperti itu, tak ada tempat yang paling menyenangkan selain kamar yang hangat, terlindung dari hujan dan dingin. Tetapi rumah yang ada di tepi sungai itu tak cukup untuk menghangatkan badan. Dia, meski kondisi tubuhnya sudah rapuh, tetap bertahan dalam cuaca dingin di dalam rumahnya. Kerapuhan tubuhnya telah mengakibatkan dirinya hilang ingatan, dan berkali-kali masuk rumah sakit. Setelah sembuh dia langsung menulis. Karena menulis baginya adalah terapi untuk penyembuhan jiwanya. Dan pada saat hujan menderas mengguyur bumi, dia mampu melahirkan Ubermensch. Sosok yang lahir dengan selamat dalam keadaan dirinya yang sedang sakit. Bahkan konon kabarnya karya Ubermensch-nyalah yang membuatnya bugar, memiliki keseimbangan, dan memberinya usia yang lebih panjang.

Prolog

Warna langit yang gelap, matahari dijerat oleh kemelut awan bergumpal-gumpal yang dibawa oleh angin dingin, membekukan seluruh lintasan yang dilaluinya dan bila manusia yang merasakannya badan yang dialiri darah itu terasa beku, dingin menyayat saraf. Kadang deru angin itu terdengar kencang, menyeret rerumputan kering, ranting-ranting pohon bahkan atap rumah ke angkasa, tanpa arah dan tanpa tujuan. Berputar di udara hingga angin mereda. Tungku perapian hampir tak bisa difungsikan. Angin terlalu kencang, menerobos celah-celah dalam rumah. Menebarkan gigil dingin ke sekujur badan.Suram dan gelap di ruangan itu. Seorang yang sakit tersandar di kursinya yang sudah tua dan rapuh. Menatap langit-langit ruangannya yang sempit. Tidak mempedulikan terpaan angin dingin yang menerobos celah-celah di atas jendela dan pintu rumahnya. Tangannya mengisap rokok buatan Gudang Garam dari Kediri. Sesekali tangannya menggapai-gapai, menghapus asap. Kemudian jatuh kembali ke sisi tubuhnya yang lunglai. Asap rokok itu mengepul ke udara, berwarna putih menyelubungi kegelapan yang pekat di ruang hampa yang dingin. Lampu minyak berkedip-kedip hendak padam, tapi tak juga padam. Sinarnya remang di sore hari yang masih jauh untuk disebut malam. Jam di tangannya menunjukkan angka tiga. Masih jauh dari senja tapi kegelapan sudah merambat ke seluruh ruangan itu.Helaan nafasnya terdengar seperti keluhan sorang yang sedang membawa beban yang sangat berat. Ia terus mengisap rokok Gudang Garamnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah meja tua dari kayu saman, di atasnya terserak lembaran-lembaran kertas yang tak selesai. Sebuah mesin ketik tua yang sudah rapuh dan bunyinya sangat keras bila sedang dipakai menunggunya untuk digunakan. Menyelesaikan sebuah cerita. Tetapi ia belum menemukan plot yang pantas untuk ceritanya itu. Ide sudah mendesaknya untuk menekan tuts mesin ketik itu. Masih ada yang belum lengkap, itulah yang membuatnya tetap berdiam diri di atas kursinya. Mengisap rokok sepuasnya. Ruangan yang gelap itu berubah warna dan aromanya. Asap putih terus mengepul dari bibirnya, membuat warna baru bagi ruangan itu dan bau tembakau terasa menyengat bagi yang tak terbiasa dengan asap rokok.

Jarum jam di tangannya sudah menunjuk angka lima. Dua jam berlalu, tanpa ada perubahan. Ia masih tetap menunggu. Rokoknya sudah habis. Puntung-puntung rokok tertumpuk dalam asbak gelas bekas kopi.
Dia akan segera lahir. Wajahnya berubah menegang, giginya terdengar gemeretak. Tangannya dikepalkan, kakinya ditendangkan ke depan. Tubuhnya meregang. Helaan nafas terdengar lebih keras dari yang pertama. Sesuatu sudah masuk dalam kepalanya. Ia berdiri. Esok semuanya harus sudah selesai. Dia harus sudah lahir dan menjadi hantu yang menakutkan yang terus gentayangan di muka bumi, tetapi dikenang sepanjang jaman. Bahkan setelah ia mati sekali pun. “Ubermensch”.

Kertas yang terserak di atas meja ia singkirkan semuanya. Tinggal geletak mesin ketik tuanya yang ada di atas meja. Lampu minyak sinarnya diperbesar. Bergoyang-goyang diterjang angin. Ia mengambil satu rim kuarto yang tertata di rak buku, tak jauh dari meja. Satu kertas dimasukkan kedalam as mesin ketik. “Pletak” bunyi itu terdengar sangat nyaring dalam cuaca dingin dengan deru angin yang kencang. Ia terus menekan tuts mesin ketiknya, bunyi “pletak-pletuk” berulang beberapa kali. Suara itu berhenti untuk waktu yang cukup lama, lima belas menit. Ia mendesah, matanya terpaku ke atas kertas yang sudah merangkai tiga kata, “Manusia Adikuasa Lahir”. Setelah lima belas menit berlalu. Suara mesin ketik tua itu mengalun lancar. Kata demi kata tercetak dengan rapi di atas kertas kuwarto putih. Kalimat-kalimat yang akan menjadi ispirasi di jaman yang ia sendiri mungkin sudah mati.
Sinar lampu minyak yang bergoyang diterpa angin tak membuatnya berhenti menekan tuts mesin ketiknya. Bahkan ia tak lagi melihat tuts mesin ketik maupun lembaran kertasnya. Hanya bla ia mendengar sebuah ketukan panjang dari mesin ketik itu, ia akan berhenti dan segera mengganti kertas. Terus bekerja tanpa peduli pada ruang dan waktu yang semakin lama semakin tidak bersahabat dengan tubuhnya yang sakit. Sesekali terdengar desahan nafasnya.

Di luar sudah gelap. Gelap yang sesungguhnya, malam merayap kekedalamannya yang paling gelap, sunyi mencekam dan menakutkan diiringi deru angin yang membawa gerimis dari ujung langit, menebarkan udara dingin yang membekukkan tubuh. Ia tetap menekan tuts mesin ketiknya. Tak boleh berhenti bahkan sampai pagi. Manusia Adikuasa akan lahir dan tidak boleh dibiarkan menggantung di rahim pikiran. Dia harus segera keluar ke atas kertas dan menjelma menjadi bayangan atau bahkan hantu bagi siapa pun yang membacanya. Ia tak memikirkan apapun selain keinginannya yang kuat untuk segera melahirkan “Ubermensch”.

Ia sakit, tapi ia tak ingin mengatakan kesakitannya dalam tulisannya itu. Ia ingin mengatakan bahwa ada Manusia Adikuasa yang mampu melakukan segalanya dan tidak pernah mati karena melakukan apapun. Memberikan penjelasan tentang hidup dan mati yang sering dihadapi oleh setiap manusia biasa. Mengatakan kepada seluruh umat manusia bahwa seluruh manusia yang lahir di muka bumi ini dapat menjadi manusia adikuasa yang tak mengenal mati dan tak mengenal derita dalam hidupnya. Mati dan derita yang biasa dialami oleh manusia biasa.
Drama keabadian dimulai dari sini. Di hadapan matahari dan bulan dan malam dan siang dan langit dan bumi dan KAU. Orang-orang tercinta yang hidup dan mati demi dan karena cinta.

5 Februari Tahun 1883

Untuk pertama kalinya Ubermensch tampil di hadapan publik, dia mendapat masalah. Semua orang menertawakan apa yang dia katakan pada mereka. Semua tidak percaya bahwa dia adalah manusia yang tanpa Tuhan yang mampu hidup lebih baik dari manusia-manusia bertuhan. Berbagai kecaman dia dengan santai sambil tetap bertahan pada pendiriannya sebagai Ubermensch yang menyebarkan keabadian. Meski dirinya tidak diterima oleh publik pertamanya, dia meyakini satu hal, dunia ini tak sesempit pandangan mata. Ada dunia lain yang sangat membutuhkan kehadirannya. Akhirnya dia mengungsikan diri di sebuah pulau dan menulis pesan-pesan keabadiannya.Buku yang ditulisnya langsung mendapatkan sambutan luas di dunia. Banyak yang mengaguminya dan lebih banyak lagi yang mengutuknya. Tulisan-tulisan Ubermensch dianggap berbahaya. Meski demikian dia tetap bertahan pada misinya menyebarkan keabadian bagi seluruh umat manusia untuk hidup tanpa derita.Para penguasa dari timur hingga ke barat menyepakati untuk menghukum dengan menghalalkan darahnya. Membunuhnya adalah pahala yang tak terhingga di hadapan tuhan. Mereka membuat saembara yang menghebohkan seluruh dunia. Darah Ubermensch halal. Orang yang berhasil membunuhnya akan mendapatkan penghargaan “Award of Theis” dan tiket ke surga Firdaus. Sebuah penghargaan yang diberikan oleh lembaga masyarakat pemimpin agama sedunia.

Ayatullah Khomaeni dari Republik Islam Iran menjanjikan pada orang yang berhasil membunuhnya sebuah istana megah di pusat kota Iran lengkap dengan isinya. Dari halaman yang luas dengan taman bunganya, ruang tamu dengan berbagai lukisan terkenal, kamar tidur bersama perempuan-perempuan cantiknya, calon istri bagi si pemenang. Hingga dapur yang sudah dilengkapi dengan para koki internasional. Syaratnya satu memusnahkan “Ubermensch”.

Paulus pemimpin agama Masehi sedunia pun mengutuk tulisan-tulisan Ubermensch yang dianggap sebagai penyebar bid’ah. Vatikan mengeluarkan keputusan untuk memberikan imbalan hidup makmur bagi siapapun yang berhasil membunuh “Ubermensch”. Demikian pula yang dilakukan oleh penguasa India. Hindu dan Budha menyetujui pembunuhan atas “Ubermensch” dan Ghandi akan menghadiahi orang yang berhasil membunuhnya dengan “Taj Mahal”, warisan budaya yang tersisa di India.

Tetapi di Indonesia, banyak orang yang mengagumi tulisan-tulisan Ubermensch. Dia menjadi idola seluruh anak muda. Meski hanya melalui buku-buku Ubermensch yang mereka baca dan melalui berita tentang Ubermensch, mereka yakin apa yang dicari selama ini. Orang yang dinantikan sudah lahir dan akan datang menolong mereka. Selama ini masyarakat Indonesia hanya mendapatkan derita. Pertikaian demi pertikaian tidak pernah usai, hidup diantara kumpulan para pemimpin yang serakah dan pongah. Keadilan sama sekali diabaikan. Rakyat semakin hari semakin kelaparan. Para pengemis berbaris di sepanjang jalan. Lampu merah menjadi tempat perkumpulan pengemis dan orang cacat.

Negara seperti tidak bertanggungjawab pada kenyataan kemiskinan yang melanda. Undang-undang tinggal undang-undang, orang cacat tidak dirawat, anak-anak terlantar di jalanan. Sementara para penguasa ribut memperebutkan kekuasaan dan membagi-bagi kue diantara teman dan sejawat. Rakyat tetap melarat. Negeri kaya yang membawa sengsara bagi rakyatnya.

Derita rakyat telah membuka mata generasi baru di Indonesia. Ketika mendengar berita tentang Ubermensch, mereka langsung memburu buku-buku yang ditulis oleh orang Jerman itu. Orang-orang yang dikutuk adalah pemimpin yang dinantikan yang akan menyelamatkan negeri ini. Doktrin itu sudah meresap dikalangan generasi baru Indonesia. Ubermensch dikutuk, Ubermensch dinantikan.

Generasi baru di negara kaya ini sangat mengagumi keberanian Ubermensch dalam mengambil sikap tegas perjuangannya, merubah kesadaran manusia biasa menjadi manusia luarbiasa. Banyak hal yang membuat mereka kagum peda Ubermensch. Selain itu mungkin sudah budaya dari negeri seribu pulau ini, segala sesuatu yang berabu asing dipuja dan dijunjung serta dijadikan pegangan dalam bertindak. Menjadi trend hidup.

Selama ini yang datang ke Indonesia hanya para artis dari Amerika atau negeri Barat yang lain yang melakukan tur, menjajakan kaset populer yang sangat digemari oleh hampir seluruh anak remaja di sini. Semuanya diterima dengan segala kemurahan hati orang-orang miskin. Hidup dalam hutang bukan menjadi penghalang untuk terus mendatangkan artis-artis dunia guna menghibur duka lara yang mendera. Biaya mahal tidak jadi soal. Duit habis bisa menghutang lagi. Toh negeri ini sangat kaya sumber daya alamnya. Budaya konsumtif yang menjerat generasi muda negeri ini ternyata tidak semuanya negatif. Mereka dapat memilih dan memilah yang mereka butuhkan. Saat mendengar berita Ubermensch, buku-buku yang ditulis oleh Ubermensch dalam pengasingannya dan yang ditulis oleh orang lain tentang tokoh yang satu ini laris manis di negeri ini. Mereka menantikan kedatangannya.
Indonesia negara berkembang yang tak pernah berhasil berbuah. Hanya berkembang, kemudian kembang itu berguguran ditangan manusia biasa. Bukan Ubermensch. Itulah sebabanya, orang Indonesia yang mengagumi Ubermensch menantikan kedatangan Ubermensch ke negeri ini. Ada harapan yang menggantung dalam angan setiap pengagum Ubermensch. Mereka berharap orang Jerman itu akan membuat Indonesia bukan hanya berkembang tetapi juga berbuah. Buah yang manis dan lezat yang dinikmati oleh anak bangsa yang terus berjuang menghidupkan arti cinta dan kedamaian dinegeri pertikaian api ini.

Kelompok pengagum Ubermensch ini kemudian mendirikan sebuah organisasi “New Age” yang mengakui kebenaran ajaran Ubermensch. Dipimpin oleh seorang yang mampu memadukan berbagai agama di dunia menjadi sebuah kesadaran utuh bagi para pengikutnya. Sebuah pernyataan resmi dibuat. Menolak tuntutan membunuh Ubermensch. Surat pernyataan itu dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.
Pemimpin organisasi ini memastikan surat pernyataan itu dikirim ke berbagai dunia melalui berbagai media. Siaran pers dilakukan secara tertutup, untuk hari pertama pernyataan membela Ubermensch. Surat-surat resmi dikirimkan ke berbagai negara. Dan surat elektrik pun menjadi sarana untuk menyampaikan berita spektakuler itu. Hari berikutnya pemimpin New Age melakukan siaran pers terbuka. Seluruh rakyat Indonesia mendengar pernyataannya yang dibacakan di depan puluhan kamera televisi baik milik swasta maupun milik pemerintah, yang laur maupun yang dalam. Wartawan CNN ikut hadir dalam siaran pers itu dan langsung merilay siaran tersebut di Amerika. Demikian pula dengan siaran-siaran televisi dunia yang lainnya.
Berita besar. Sekelompok masyarakat kecil berkumpul menentang kebijakan dunia. Menentang pembunuhan atas Ubermensch. Nama pemimpin New Age langsung melejit, dibicarakan oleh orang diseluruh dunia. Bahkan PBB melakukan pertemuan khusus guna membahas penentangan organisasi New Age atas kebijakan bersama, menghalalkan darah Ubermensch. Pemerintah Indonesia dikecam oleh PBB, agar segera menghentikan kekonyolan yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya New Age.
Dalam pertemuan tingkat dunia PBB mengambil keputusan untuk menekan Indonesia agar menghentikan kamapanye New Age dalam pembelaan atas Ubermensch. Ada tujuh alasan untuk menghentikan kampanye pembelaan Ubermensch.

Pertama, Ubermensch berbahaya karena mengancam Tuhan. Kedua, Ubermensch berbahaya karena merusak tata nilai yang sudah baku yang sifatnya universal. Ketiga, Ubermensch berbahaya karena akan merusak struktur pikiran masyarakat. Keempat, Ubermensch berbahaya karena mengakibatkan sikap nihilisme di kalangan masyarakat. Kelima, Ubermensch mengakibatkan pemberontakan rakyat jelata. Keenam Ubermensch menghancurkan kesadaran bertuhan, kesadaran akan kekuasaan. Ketujuh, Ubermensch mengakibatkan runtuhnya lembaga-lembaga keagamaan yang sudah baku. Mengancam Vatikan, Paulus, persatuan Gereja sedunia, persatuan Darma sedunia, persatuan masyarakat Islam sedunia dan persatuan-persatuan keagamaan yang lainnya.

Kecaman PBB serta negara-negara lain di dunia membuahkan hasil. Hubungan luar negeri Indonesia kacau. Pemerintah Gus Dur kewalahan mengatasi masalah ini. Dia harus melanglang buana untuk menyelesaikan masalah pernyataan terbuka organisasi New Age. Baru satu bulan diangkat menjadi Presiden, Gus Dur sudah mengelilingi lima negara yang paling berpengaruh di dunia. Amerika, negeri paman Sam. Inggris, negeri Elizabeth. China, negeri komik Chinmi. Rusia, negeri mantan rezim komunis. Dan terakhir mengunjungi Ayatullah Khumaeni di Iran. Kunjungan-kunjungan itu dilakukan dengan satu misi meredakan kesalah pahaman. Menepis issu bahwa Indonesia membangkang dunia berkaitan dengan penghalalan darah Ubermensch.

Kunjungan kenegaraan itu mendapat sorotan dari publik. Masyarakat pers dunia mempertanyakan kunjungan-kunjungan Gus Dur tersebut. Berbagai issu bermunculan seputar keliling dunia yang dilakukan oleh presiden yang baru satu bulan dilantik. Semua issu tersebut ditepis oleh presiden dengan satu jawaban “gitu aja kok repot”. Untuk apa merepotkan hal-hal kecil bila masih ada hal-hal besar yang bisa merepotkan. Bagi orang nomor satu di Indonesia ini, masalah pernyataan terbuka organisasi New Age adalah masalah besar yang sangat merepotkan dan harus segera diselesaikan. Bantuan luar negeri akan dihentikan bila masalah ini tidak selesai secepatnya. IMF mencabut perjanjian bantuannya karena tekanan Amerika. Indonesia akan mati. Gaji pegawai negeri bisa tak terbayar. Negera terancam kebangkrutan bila tidak segera menyelesaikan kesalahpahaman dunia terhadap pernyataan New Age.

Kunjungan Gus Dur keluar negeri adalah satu hal. Sedangkan masalah pernyataan terbuka organisasi New Age adalah lain hal. Gus Dur gagal menyelesaikan masalah masalah gugatan dunia terhadap ketidakkompakan Indonesia dalam menghadapi kasus Ubermensch. IMF benar-benar tidak mencairkan dananya untuk Indonesia. Negara terancam pailit. Gus Dur harus segera membuka matanya terhadap kemiskinan di negeri ini. Lapangan kerja sangat sulit. Anak-anak banyak yang putus sekolah. Yang melanjutkan sekolahpun gagal dalam setudi. Gus Dur bertanggungjawab atas kemiskinan di negeri yang baru saja dipimpinnya. Dan dia dibebani tugas oleh dunia, menghentikan kegiatan organisasi New Age.

Tetapi Gus Dur tahu, organisasi ini memiliki potensi untuk membuat Indonesia terkenal dan menjadi pembicaraan dunia. Satu hal yang harus dilakukan pemerintah dalam menyikapi masalah ini.
“Melindungi organisasi New Age.” Demikian pendapat salah seorang politikus. “Apabila Gus Dur membredel organisasi ini, maka Gus Dur akan kehilangan kredibilitasnya sebagai Presiden yang menjunjung demokrasi untuk negeri ini.”

Setelah pernyataan tokoh politik ini, surat dukungan atas sikap “New Age” bermunculan tanpa diduga sebelumnya.
Kuba negeri yang sangat jauh dari Indonesia, setelah mendengar pernyataan resmi organisasi New Age yang didukung oleh sekian banyak politisi terkemuka Indonesia. Secara resmi Kuba mendukung pernyataan itu dan dengan resmi pula mendukung sepenuhnya kegiatan Ubermensch. Bahkan mereka siap memberikan suaka politik bagi Ubermensch.

Fidel Castro dalam pidato resmi kenegaraannya pada saat upacara peringatan kemerdekaan Kuba yang ke seratus lima tahun, seratus tahun pemerintahan Castro menyatakan,
“Saudara-saudara sekalian diseluruh jagat raya. Sudah seratus tahun saya menjadi pemimpin negara, selama kurun waktu satu abad itu saya mendapatkan pengalaman yang tentu saja belum pernah di alami oleh presiden mana pun di dunia. Seandainya saya ini manusia yang bertuhan, niscaya saya akan mengatakan Tuhan itu adalah saya.
“Tetapi saya tidak menyukai tuhan dan tak ingin memiliki tuhan. Oleh karena itu saya ingin mengatakan hal lain yang tak ada hubungannya dengan tuhan. Yaitu bahwa seluruh pemimpin pemerintahan di dunia dari mulai pemerintahan Hollywood di Amerika hingga Bollywood di India, dari negeri Gajah di Asia hingga negeri Rudal di Irak, dari negeri kulit hitam di Afsel hingga negeri tak bertanah di Israel. Seluruhnya mengutuk kegiatan Ubermensch yang dianggap menyesatkan para pemeluk agama.

“Namun ada sekelompok kecil masyarakat di negeri yang sangat jauh dari sini. Dengan berani mengambil sikap berbeda dengan pandangan dunia. Indonesia negeri yang kaya, masyarakatnya berani bersikap. Sebagai dukungan moral sekaligus politik dengan resmi saya menyatakan, bahwa pemerintahan Kuba dalam peringatan kemerdekaannya ini menyatakan, bahwa kami mendukung pernyataan New Age. Kami menentang kebijakan dunia yang menghalalkan darah seorang pejuang macam Ubermensch. Dengan resmi kami menyatakan bahwa Ubermensch haram dibunuh. Ubermensch secara resmi pula mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Kuba.”
Pidato resmi Castro mengguncang seluruh dunia. Kegegeran terjadi di mana-mana. Indonesia, negeri latah ini, para pemuka agamanya berkumpul untuk membuat pernyataan resmi memboikot Kuba. Hal itu disambut baik oleh pemerintahan Gus Dur.

“Kedutaan Kuba di Indonesia ditutup dan duta besar Indonesia di Kuba akan segera dijemput untuk kembali ke Indonesia.” Demikian sekretaris negara menyampaikan pernyataan resmi pemerintah dalam jumpa pers di Jakarta.
Sementara itu kegiatan organisasi New Age tidak dapat dihentikan lagi, banyak generasi muda, para intelek, para cendikia terlibat dalam organisasi ini. Mereka semakin bersemangat dengat satu kalimat, perjuangan baru dimulai. Pemerintah tidak dapat berbuat banyak dalam mengontrol organisasi ini. Apalagi pada kenyataannya New Age malah memberikan nilai lebih bagi Indonesia. Bersikap tegas di hadapan tekanan dunia.

Setneg ketika ditanya oleh seorang wartawan berkaitan dengan keberadaan organisasi New Age, hanya dapat menggelengkan kepala.
Si wartawan itu mendesaknya untuk memberikan keterangan.
“Apakah itu, maksud saya geleng kepala anda, juga pernyataan presiden?”
“Ya. Saya sebagai Setneg hanya bisa mengikuti apa yang disampaikan presiden. Geleng kepala adalah jawaban presiden ketika saya menanyakan keberadaan orgnaisasi itu.” Jawab sang Setneg sambil menyisir rambutnya yang kriting dengan tangannya. Dia memang orang biasa yang selalu mengadakan show Obrolan Orang Biasa.
Kehebohan akibat pernyataan terbuka Castro juga mempengaruhi sikap keras Amerika terhadap Kuba. Sebelumnya Kuba dicap sebagai negara pembangkang oleh Amerika. Setelah kejadian itu Amerika meningkatkan tekanannya terhadap Kuba. Embargo ekonomi terhadap Kuba diperpanjang. Presiden Amerika bersumpah tidak akan mengunjungi Kuba dan apabila Castro meninggal dunia, dialah yang pertama kali bersujud syukur. Badan intelejen Amerika ditingkatkan pengawasannya. Rancangan siasat busuk untuk menyingkirkan Castro dari tampuk kekuasaan disusun dengan rapi. Berbagai issu dihembuskan untuk menyudutkan Kuba.

Kepongahan Amerika membuat beberapa negara kecil, yang merasakan kekejaman Amerika mencibirkan bibir dan memboikot keunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh aparat pemerintahan Amerika. Menlu Amerika dalam kunjungannya ke Vietnam disambut dengan demonstrasi oleh masyarakat anti kekerasan. Para veteran perang Vietnam berbaris di sepanjang jalan yang dilalui iring-iringan rombongan Menlu, mereka menuntut ganti rugi perang sambil meneriaki Amerika sebagai “musang berbulu ayam”.

Sikap pemerintah Amerika yang reaktif terhadap pidato Castro, memberi angin segar bagi rezim Sadam. Dari Baghdad di istana pemerintah Sadam Husein memberi dukungan moral untuk Castro. Siaran Pers dilakukan dalam menyambut peryataan Castro.
“Kami memang masyarakat bertuhan, tapi kami mendukung Kuba dengan pernyataan terbukanya itu. Bahwa adalah hak setiap manusia untuk mempersepsi Tuhan. Klaim kebenaran yang tunggal adalah sebuah penyesatan bagi manusia itu sendiri. Kehidupan sehari-hari telah mengajarkan kepada kita. Untuk mencapai sebuah tujuan ada banyak jalan ada banyak cara.
“Pernyataan Castro sebagai pernyataan resmi pemerintah dalam konteks ini tentu saja sah dan tidak bisa dihukum oleh siapa pun termasuk Amerika yang sok pahlawan. Embargo yang dijatuhkan oleh Amerika sama sekali tak berdasar. Dengan ini kami menyatakan bahwa Amerika benar-benar penjahat dunia yang selalu memberangus negara-negara kecil seperti Kuba. Juga kami. Dan kami mengecam segala tindakan anarkis di muka bumi termasuk sikap brengsek Amerika.”

10 Februari 1885

Setelah dua tahun berlalu sejak pertama kali kemunculannya di hadapan publik, Ubermensch baru mendapatkan tempat yang terhormat di hati rakyat di berbagai negara. Sebelumnya dia adalah yang dikutuk dan dicaci bahkan dihujat dan dihukum. Tetapi sinar kesejatian yang ia pancarkan melalui buku-buku yang ditulisnya telah menggugah nurani dan menyadarkan banyak pembacanya. Buku-buku itu ia tulis di tempat persembunyiannya di sebuah pulau. Dari tulisan-tulisannya masyarakat dunia mengenalnya. Setelah dua tahun berlalu, Ubermensch ingin menyampaikan idenya di hadapan publik. Dia merasa yakin publik mulai menyukainya. Segala hal sudah dipersiapkan olehnya. Dia akan meninggalkan pulau itu, tetapi sesuatu menghentikannya.
“Manusia biasa itu lahir dari rahim seorang ibu. Menggantung dalam rahim selama sembilan bulan. Ada yang kurang dari sembilan bulan itu dan ada pula yang lebih. Setelah lahir pun hanya satu yang bisa dilakukan oleh manusia biasa yaitu menangis. Setelah menggunakan tangisan untuk menjelaskan apapun yang terjadi pada dirinya. Manusia biasa mulai menggunakan kaki dan tangannya untuk belajar menjejak bumi dan matanya digunakan untuk melihat kemudian telinganya belajar mendengar. Dunia yang begitu luas, penuh simbol dan tanda diserap dalam jaring saraf dan jadilah manusia biasa yang mengenal sakit dan bahagia. Hal itu karena mereka melihat ada yang sakit dan bahagia, hal itu pula yang mereka dengar dan setelah besar atau dewasa, mereka merasakannya.
“Aku ingin manusia biasa mengenali manusia luarbiasa manusia adikuasa, Ubermensch. Manusia ini yang dibutuhkan oleh zaman ini, oleh detik ini. Karena manusia ini tak mengenal derita dan bahagia. Hanya satu yang dikenalnya, bahwa hidup ini adalah untuk memberi arti dan makna pada realitas.
“Aku akan berangkat menjelaskan hal ini pada khalayak. Tetapi khalayak itu siapa? Pertanyaan ini membuatku tak mampu melangkahkan kaki. Aku telah merasakan betapa manusia biasa sangat sulit mengerti yang luarbiasa. Para nabi menyampaikan ajaran mereka melalui mukjizat. Mereka mewakili sesuatu yang disebutnya Tuhan. Sementara aku tak mewakili siapapun. Aku bukan Hermes sang dukun ajaib dari legenda Yunani. Aku bukan kahin yang digunakan oleh Firaun memprediksi kelahiran Musa. Aku bukan pula Nostrodamus yang mengkhayalkan masa depan. Tak ada yang kuwakili, tak ada yang menyerupaiku. Aku hanya aku dan berdiri untuk aku. Aku yang tak mengenal yang lain yang sama denganku. Karena aku adalah satu yang terpecah dari aku yang utuh. Aku luarbiasa. Ubermensch.
“Mukjizatku hanya satu, aku Ubermensch. Aku hanya tahu satu kata lakukan apa yang ingin aku lakukan.”
Setelah merasa yakin atau sebenarnya dia memang sudah yakin. Hanya sebuah pertimbangan semu yang menyerupai pertimbangan manusia biasa Ubermensch berjalan menyusuri pantai. Dia mencari sampan yang dulu ditambatkan di tepi pantai dekat pohon ketapang.
Pantai itu sunyi hanya suara ombak yang mempermainkan otak, mengingat masa silam yang dialami diresepsi dari pantai dari anginnya yang menderu atau sepoinya yang sejuk. Juga dari badainya yang menenggelamkan perahu-perahu layar di laut. Ubermensch terus berjalan mencari pohon ketapang tempatnya menambatkan sampan dua tahun yang lalu.
Sampan yang terbuat dari sesuatu yang tak luput dari waktu. Kayu pohon yang tumbuh dalam lingkaran ruang dan waktu. Keterbatasan yang diciptakan untuk membuktikan ketidakberdayaan. Selingkar ruang dan selingkar waktu telah membuat pohon menjadi tua dan ditebang kemudian dijadikan kayu yang dioleh menjadi sampan. Apakah hal seperti itu dapat bertahan kuat dalam ruang dan waktu yang lain?
Ubermensch tak memikirkan hal itu. Dia tak berpikir bahwa sampannya telah rusak dimakan usia atau ombak yang selalu mengombang-ambingnya di tepi pantai. Atau mungkin saja badai memporak-porandakannya. Hanya satu keyakinannya, apa yang dia bayangkan itulah yang akan terjadi. Dia tak membayangkan sampannya termakan oleh waktu. Karena dia tahu sampannya meski terbuat dari kayu yang meruang dan mewaktu, sampan itu dapat beradaptasi dengan ruang dan waktu. Ia mengalir mengikuti, bukan terbawa, ruang dan waktu. Sampan yang kekal yang dia bayangkan.
Pohon ketapang yang dicarinya sudah terjungkal, tapi tali sampan yang ditambatkan di pohon itu masih utuh tak berubah, sama dengan ketika ia menambatkan tali itu di pohon tersebut dua tahun yang lalu. Sampannya masih ada di tepi pantai, diombang-ambingkan ombak. Tidak ada yang berubah.
“Apa yang aku pikirkan itulah yang terjadi. Itulah aku. Ubermensch. Saatnya aku katakan kepada manusia biasa yang akan dan mau menjadi manusia adikuasa. Mereka pasti sedang menantikan kedatanganku dan aku meyakini hal itu. Persia.”

15 Februari 1885

Ubermensch sedang berjalan di Teluk Persia, teluk yang selalu menjadi inspirasi setiap pertempuran di Timur Tengah.
Irak dan Iran berseteru dalam satu dasawarsa di teluk ini. Perseteruan berakhir berganti dengan ekspansi Sadam ke Kuwait. Sekutu Amerika yang mengaku sebagai “polisi” atau mungkin provokator dunia segera mendepak Irak dari Kuwait. Sederet ancaman yang kemudian menghancurkan seluruh (yang diketahui kebanykan orang) peradaban Irak yang konon Baghdad adalah kota dunia dalam cerita seribu satu malam. Jejak Harun el-Rashied yang pernah membangun Baghdad telah musnah dimakan lapar dan penyakit. Perang tahun 90-an menyisakan kepedihan yang mendalam di hati rakyat. Dendam pun ditanam dalam jiwa mereka. Keberanian sejati muncul dari jiwa-jiwa jelata. Sadam Husein yang sesungguhnya adalah rezim yang harus dimusahkan. Karena kecaman memusnahkan Sadam itu berasal dari Amerika, rakyat Irak malah mendukung kekuasaan Sadam dengan segala pengorbanan mereka. Masyarakat dunia yang menyadari pentingnya masa depan anak-anak di Irak berdatangan memberi bantuan. Bantuan yang tak cukup besar, tetapi publikasinya menggelegar ke seluruh dunia.
Dia berjalan, menysuri pantai. Sampannya sudah ia tambatkan di dermaga teluk, tempat kapal-kapal induk Amerika. Dia mengerti mengapa terjadi perang, tapi dia tak pernah merasakan perang dalam dirinya. Karena dia adalah utuh. Tak ada perlawanan dalam dirinya. Dia satu yang tak berkonflik dengan apapun. Diri yang dimilikinya menyatu bergerak atas kehendak yang dimilikinya, tanpa ada penentangan atas dasar baik maupun buruk. Tidak ada gambaran diferensial dalam dirinya. Jiwa dan raga adalah satu yang bekerja demi satu tujuan. Dan saat ini, di teluk Persia ini, dia memiliki satu tujuan.
Matanya menatap ke segala arah, merasakan kecemasan tanah yang dipijaknya, merasakan kecurigaan angin yang menghembus pelan, merasakan kekhawatiran matahari yang mengambang di langit. Pantai itu sunyi, menyimpan berbagai misteri, tetapi Ubermensch dengan seluruh daya kekuatannya yang sempurna dapat mengetahui segala rahasia yang disimpan oleh alam. Karena alam dengan bahasanya sendiri mengatakan segala rahasia kepadanya.
Angin yang berhembus pelan membelai tubuh Ubermensch yang tinggi besar itu mengantarkan bau amis peperangan yang belum usai. Matahari yang bersinar redup mengatakan padanya, bahwa dia bosan melihat desingan peluru atau peluncuran rudal atau deru pesawat tempur. Langit berwarna gelap mengatakan kepadanya bahwa setiap hari asap ledakan mengepul ke udara mengotori langit yang semula jernih menjadi kelam. Dan tanah yang dipijaknya mengatakan bahwa setiap saat ia terguncang oleh ledakan yang membunuh sekian manusia biasa yang tak berdosa. Perang selalu merugikan, tapi perang pula yang memberikan perubahan.
Dari kejauhan Ubermensch melihat seorang anak berjalan, usianya tak lebih dari sepuluh tahun, tetapi tatapan matanya terlihat sangat tajam penuh kewaspadaan. Langkahnya tegap meski tangan kanannya telah hilang. Anak itu melangkah dengan pasti mendekati Ubermensch.
“Maaf tuan,” sapa anak tak berlengan itu, menatap ke atas. Tubuh Ubermensch yang tinggi besar seakan tak terjangkau oleh mata anak itu. “Bisakah tuan memberi saya makanan.”
Ubermensch menatap ke bawah, memperhatikan tubuh kecil tak berlengan dengan pakaian compang-camping, bibirnya bergeletar karena lapar. “Aku tak membawa makanan.” Ubermensch heran, anak yang belum makan tetapi dia tak memperlihatkan kelaparannya dalam berjalan. Dia tetap bertahan dengan perut lapar, siap siaga menghadapi berbagai kemungkinan dalam situasi perang. “Apakah kau anak Irak?” tanyanya kemudian.
“Aku anak Sadam. Semua orang disini menyebut kami anak sadam.” Anak itu mengulurkan tangan kirinya yang masih utuh untuk menyalami Ubermensch.
“Kami?” Ubermensch bertanya heran.
“Ya, kami. Bukan hanya aku yang tangannya seperti ini. Masih banyak lagi anak-anak yang terluka. Ada yang kehilangan penglihatannya, ada yang kakinya putus, otaknya tak berfungsi dengan baik karena trauma. Dan yang paling banyak adalah kami yang tak memiliki orang tua lagi. Perang telah mengajari kami untuk menjadi orang cacat seumur hidup” Ujar anak itu sambil menarik tangannya dari genggaman Ubermensch. “Pemimpin kami ingin bertemu dengan tuan. Kami bangga dapat bertemu dengan Ubermensch si manusia adikuasa yang dinantikan oleh kami.”
“Dari mana kau tahu aku ini Ubermensch?”
“Dari pertanada yang diberikan oleh alam kepada saya. Bumi dan langit mengatakan bahwa hari ini pada jam sekian tuan akan berjalan di pantai ini. Bintang-bintang di langit mengatakan pada kami yang mampu membaca bahasa alam. Mengatakan dengan jelas kepada kami pada titik sekian tuan datang dan akan memberi perubahan pada kami.”
Anak ini benar-benar akan menjadi atau mungkin sudah menjadi manusia luarbiasa. Dapat mengenali Ubermensch adalah sesuatu yang sangat luarbiasa. Ubermensch dengan mudah akan dikenal oleh orang-orang yang terluka. Bukan bahagia. Peperangan telah membuat banyak orang terluka, mereka dengan mudah akan mengenali Ubermensch.
Dia mengikuti langkah anak itu. Sambil berjalan dia bertanya, “Apa hubungannya… em, maaf, kalian yang cacat dengan sebutan anak Sadam?”
“Oh itu, itu karena Sadam mengangkat kami sebagai anaknya. Anak seorang jagoan yang tak pernah mundur menghadapi koboi Amerika.” Mereka terus berjalan memasuki daerah perkampungan yang kumuh di tepi pantai.
Sebuah lapangan udara yang sedang dibangun tampak kacau. Batu-batu terserak bersama alat-alat berat. Tanah yang tak rata, penuh kerikil menghampar seluas mata memandang, ke timur dibatasi oleh laut dan ke barat dibatasi oleh lengkung langit yang kusam. Ubermensch tersenyum.
Si anak melihat senyuman itu, ia bertanya, “Mengapa tuan tersenyum. Apa yang membuat tuan tersenyum?”
Ubermensch menoleh ke anak itu dan tersenyum lagi. Tetapi ia tak menjawab pertanyaan anak itu.
Dua tenda besar berada di tengah-tengan lapangan berbatu itu. Keduanya diapit oleh dua kapal perang dan sebuah rudak scuad moncongnya menantang ke udara. Suasana perang sangat terasa di tempat ini.
“Ubermensch, selamat datang di kota perang.” Sambut seorang lelaki ketika Ubermansch memasuki tenda yang lebih besar bersama anak itu. “Kami sudah lama menunggu kedatangan anda. Ada banyak hal yang ingin kami dengar dari anda. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan perang.”
Orang itu kemudian mempersilahkan Ubermansch duduk di atas permadani buatan Turki yang empuk. Seorang gadis bercadar masuk membawa baki berisi teko dan cangkir.
“Ini teh buatan Sariwangi, dari Indonesia. Negeri yang tak mengenal panas seperti panas di sini dan tak mengenal dingin sedingin di sini. Negeri yang kaya akan rempah-rempah dan orang-orangnya sangat ramah, tetapi miskin-miskin. Demikian kabar yang kami terima dari koran dan tivi.” Orang itu menjelaskan sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh Ubermensch.
“Silahkan duduk dan minum teh bersama kami. Kami akan sangat senang bila dapat mengenalmu lebih jauh lagi.”
“Maaf, aku tak memerlukan perkenalan sebelumnya. Aku tak ingin mengenal namamu. Aku hanya ingin melihat bagaimana kau menghadapi seseorang yang tak kau kenal.” Ubermensch diam sesaat “Tetapi aku yakin kau adalah orang yang sangat percaya diri dan mengakui kemampuanku. Apa yang kau inginkan pasti aku berikan. Aku pasti menyampaikannya. Tetapi bukan di sini.”
“Apa pun yang anda minta, kami akan memberikannya. Anda memang bukan Sadam yang melindungi kami. Pahlawan kami. Tapi anda adalah inspirasi kami yang pernah mendengar namamu. Kami ingin mendengar wejanganmu. Kami siap menjadi muridmu.” Orang itu berkata dengan meyakinkan.
Ubermensch tersenyum dan tangannya diulurkan untuk menyalaminya. Orang itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ubermensch baru sadar bila orang itu sama sekali tak memiliki tangan. Anak-anak Sadam.
“Nanti malam kumpulkan orang-orang di sekitar tempat ini untuk mendapatkan arti perang dariku.” Ubermensch memecah kesunyian setelah lama mereka diam. “Sekarang aku ingin pergi dulu ke laut.”
Orang-orang terluka mudah mengenalnya. Itu sudah menjadi semacam kodrat, atau dengan bahasa lain, dia telah membawa bahasa buana pada setiap penderita yang sengsara dalam hidupnya. Dan bertemu dengan dirinya adalah sebuah peristiwa agung yang sangat dinantikan. Karena satu hal dia mampu memberikan sesuatu yang belum dan tidak akan pernah didapatkan dari siapa pun. Hanya manusia adikuasa yang dapat memberikan sebuah arti dari kesengsaraan.
Senja telah datang, matahari mulai menenggelamkan diri di pusara alam yang sunyi. Warna jingga di angkasa seakan mengatakan bahwa hari akan segera berganti malam. Sayup-sayup terdengar suara burung camar yang menyambar ikan-ikan kecil di pusaran buih ombak laut yang menderu. Geladak kapal induk yang sudah ditinggalkan terlihat angker di senja hari, menyimpan segala misteri tentang perang yang gagal. Bangkai perahu terdampar di tepi pantai. Banyak nelayan di sini, tetapi tidak sedang memancing ikan tongkol, tengiri ataupun ikan laut lainnya. Nelayan di sini pekerjaannya memancing emas hitam di tengah lautan atau di padang gurun. Emas yang sangat mahal yang diperebutkan oleh dunia lain yang tak memilikinya. Pada senja hari pun bahkan malam hari mereka tetap memancing dengan alat-alat canggih pertambangan. Asap tetap mengepul dari cerobong-cerobong eksplorasi minyak. Inilah teluk yang damai dalam jeda perang.
Malam menjelma dalam gelapnya yang senyap. Angin dari darat menyeret bau reruntuhan ke tengah samudera. Mengabarkan pada air laut bahwa di darat bukanlah harapan untuk penghuni laut untuk dapat hidup. Semua terjadi sesuai keinginan jiwa yang tumbuh di kedalaman pengalaman hidup. Bertumpuk dari bermacam derita dan bahagia. Orang yang tak berlengan sudah mengumpulkan seluruh warganya. Orang-orang cacat yang menamakan diri anak-anak Sadam. Ubermensch sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Dengan tubuh tinggi yang tak tampak wajahnya karena remang yang gelap. Tak ada sinar dinyalakan karena hal itu yang diinginkan oleh Ubermensch.
Kegelapan dan kesunyian akan membuat suara lebih jernih terrekam oleh batin pendengaran. Tidak akan ada satu kalimat pun yang terlupakan oleh para pendengarnya. Dan itu adalah janji dari kesunyian. Semacam pencucian kendang telinga dari berbagai suara. Suara yang biasa didengar oleh orang biasa. Dia tahu bahwa manusia biasa perlu ketenangan dalam mendengar, sehingga mereka dapat mematrikan, mengukuhkan kalimat-kalimat suci dari bibirnya. Kalimat-kalimat yang akan mengaktifkan bawah sadar mereka. Hal itu sangat penting bagi sebuah perubahan besar yang akan terjadi dalam hitungan detik. Manusia biasa bermetamorfosa dalam hitungan menjadi manusia adikuasa yang tak mengenal derita dan bahagia.
“Denting peluru yang menembus besi di depan rumahmu” Ubermensch memulai sabdanya “mengatakan kepadamu, bahwa perang sudah dimulai. Aku tidak akan menjelaskan arti perang kepada kalian. Karena kalian lebih tahu perang yang sesungguhnya. Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal tentang perang.
“Dunia dengan matahari yang selalu terbit di pagi hari dan bulan akan sempurna pada hitungan lima belas setiap bulannya. Tanah berdebu ketika kemarau dan berlumpur ketika musim hujan. Tentu saja ada salju bagi daerah yang bersalju. Itulah dunia. Dia indah karena ada pohon dan bunga. Dia dibanggakan karena ada kekayaan. Tetapi dia akan diasingkan dari mansuia bila dia hanya sebuah gurun sahara. Seluruh dunia tahu bahwa gurun di sini dapat berbicara kepada mansuia dengan kekayaannya yang amat sangat. Manusia berdatangan memperebutkan kekayaan yang ia kabarkan pada kalian. Peperangan dimulai dari satu kata. Harta.
“Manusia Adikuasa tak memerlukan harta. Tak ada yang ia perlukan. Hanya sebuah petualangan, itulah hidup yang sesungguhnya. Lembaran demi lembaran dari hari dengan matahari dan malamnya dengan bulan, disusun untuk membentuk sebuah hakikat hidup. Aku akan mengajarkan sesuatu pada kalian. Tentang mengapa perang?
“Manusia biasa butuh perang untuk menemukan hakikat hidup ini karena mereka masih membutuhkan kekayaan atau harta benda. Di ditempat kalian, terpendam kekayaan yang menggiurkan yang membuat iri siapa pun yang mengetahui betapa kaya tanah tak berrumput ini. Betapa kaya tanah yang sangat sulit air ini. Oase di tengah padang pasir mengatakannya kepada kalian dan kepada dunia. Maka mereka yang merasa kuat merasa berhak memiliki tanah tak bertuan ini. Kalian yang merasa lebih dahulu berada di sini, atas nama bapak moyang kalian, mempertahankan tanah ini dari keserakahan mereka yang memburu harta. Satu kata yang kalian emban bertahan demi kehormatan. Sikap itulah yang membuatku terseret ke daerah ini dan aku ingin melanjutkan pikiran kalian tentang kehormatan dan perang mempertahankan kehormatan. Kalian sedang menanjak menuju Manusia Adikuasa. Aku akan membantu kalian mencapainya dalam hitungan detik.
“Pernah seorang nabi berkata, perang sesungguhnya adalah berjuang untuk utuh. Tak terpengaruh oleh hawa nafsu. Dan kalian semua tahu hawa nafsu adalah keinginan untuk berlebih dan keserakahan yang melelahkan. Kalian memiliki agama. Aku tidak, dan kalian sudah memiliki jalan dalam agama itu. Sekarang ini, aku hanya akan menunjukkan bagaimana berperang yang sesungguhnya dalam agama kalian. Tapi tentu saja dengan caraku sendiri aku mengatakannya pada kalian.
“Perang yang bagaimana yang akan membawa kalian pada kesempurnaan. Bila kematian menjadi pilihan kalian, maka matilah dengan terhormat. Dan apabila kemenangan yang ingin kalian raih, maka menanglah dengan terhormat pula. Dalam perang tidak ada aturan, yang ada hanya simbol-simbol kekuasaan, kekuatan dan strategi. Tetapi kalian telah melihat dan merasakan bahwa kekuatan tak sepenuhnya membuat kemenangan. Kemenangan yang sesungguhnya bukan mengasingkan musuh atau menyingkirkannya dari hadapan kalian. Kemenangan yang sesungguhnya adalah menguasai musuh dan tetap memeliharanya sebagai musuh.
“Akhir sebuah perang yang seperti itulah yang akan membuat kalian lebih mengerti dan memahami hidup dan membuat kalian menjadi manusia yang Ubermensch. Manusia Adikuasa yang hidup tanpa duka. Hidup adalah petualangan untuk dinikmati bukan diperjuangkan, bukan pula dimaki ataupun diperangi. Hiduplah sebagai Ubermensch.”
Seorang lelaki dengan pakaian jubah maju ke depan dan berkata, “Hei Ubermensch, kau berkata demikian karena kau tak merasakan bagaimana sakitnya telinga ketika ada mesiu meledak di dekatmu. Kau berkata demikian karena tak merasakan bagaimana sakitnya tubuh ini bila terkena serpihan bom. Aku yakin kau tak merasakan itu semua. Kau orang Jerman yang mengobarkan keangkuhan diantara manusia dan memberi janji yang hampa dan tak pasti.”
Ubermensch menjawab.
“Sebuah pengalaman memang lebih penting dari sekedar melihat atau sekedar mendengar apalagi hanya sekedar membaca. Aku akan membawa kalian pada sebuah kenyataan yang berbeda dari yang kalian bayangakan. Tak ada syarat apapun untuk melakukannya, karena kalian adalah orang-orang yang sudah memenuhi syarat.
“Malam ini juga aku akan membuat kalian menjadi diriku, Ubermensch yang agung. Berkumpulah di sini dan tidak akan lama lagi kekuatan itu akan datang dan kalian akan merasakannya setelah itu kalian akan mengerti apa yang aku katakan. Yang terpenting adalah hentikan keinginan untuk hidup bila memang sudah tidak ada yang diharapkan lagi. Hentikan nafas kalian bila hanya akan menyesakkan perut bumi. Hentikan perjuangan bila hanya demi sebuah kata yang tak bermakna yang telah mentuli-butakan telinga dan mata.
Perjuangan yang kalian lakukan bukanlah perjuangan, itu hanya sebuah permainan konyol dari orang-orang yang kalian hormati dan kalian takuti. Berhentilah berpikir tentang kemenangan maka kalian akan menjadi pemenang. Hiduplah terus dengan satu tujuan, menikmati hidup ini sebagai sebuah petualangan. Bukan aturan, bukan kehendak yang lain. Apa lagi berpikir bahwa hidup ini adalah kehendak tuhan. Singkirkanlah segera pikiran itu, karena kalian akan terbunuh dalam pikiran kalian tanpa menikmati hidup ini. Tuhan kalian menciptakan kalian bukan untuk hidup menderita, Dia menciptakan kalian untuk bahagia. Bahagia banyak caranya.”
Seorang lelaki lain maju dengan kesal ia bertanya, “Tahu apa kau tentang Tuhan kami yang Maha Suci itu?”
Ubermensch menjawabnya.
“Aku tahu tuhan manapun. Aku tahu karena aku tahu aku istimewa dalam pengetahuanku akan segala hal, tetapi itu tak penting bagiku. Karena pengetahuan hanya akan membatasiku juga kalian dari ketidaktahuan. Jangan mencari pengetahuan tapi rasakanlah. Karena rasa ibarat racun yang menyebar keseluruh unsur-unsur air dan merembas ke segala penjuru bumi. Hingga seluruh tanah dan air adalah racun adanya. Begitulah hidup yang sesungguhnya. Dan dengan cara itu pula kalian akan merasakan sebuah perubahan yang sesungguhnya. Dari manusia biasa menjadi manusia luarbiasa, adikuasa, Ubermensch.
“Tidak ada duka. Yang ada hanya petualangan yang membuat kalian mencemooh kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia biasa. Dan tugas selanjutnya adalah membuat seluruh umat manusia menjadi manusia luarbiasa. Setelah itu berakhirlah derita dan duka sebagai manusia yang tertinggal hanya bahagia. Hidup saat ini hanya untuk hidup saat ini. Sekarang.”
Seluruh yang hadir diam, Ubermensch tak berpikir dan tak bertanya tentang apa yang dia katakan. Setelah merasa cukup mengatakan semua itu, dia memanggil angin mengundang rembulan, dan menyapa matahari untuk datang bersamaan di malam itu. Keremangan perlahan menjadi terang. Bulan yang bulat di langit dan juga matahari yang pucat memperlihatkan diri diiringi angin sepoi yang lembut membawa suara damai dari negeri jauh. Bau bunga padi menyebar ke seluruh penjuru. Orang-orang yang berkumpul itu merasakan sesuatu. Sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Matahari dan bulan menampakkan diri sekaligus di malam hari, warna yang selama ini mereka ketahui berubah seketika. Sebuah kebiasaan atau kepastian alam sudah dilanggar, menjadi tidak berarti lagi. Pembedaan itu tak bermakna lagi. Segalanya hanya satu utuh dalam sebuah kesadaran yang utuh.
Suara Ubermensch menggema dalam kesunyian.
“Hiduplah dengan keutuhan bukan dengan kebercabangan. Jadilah satu bukan berbagi. Maka dengan begitu sempurnalah kalian menjadi Ubermensch-ubermensch yang tangguh dan tak mengenal duka maupun bahagia. Tugasku sudah berakhir di sini. Kalian akan aku tinggalkan.” Kalimat itu berakhir bersama menghilangnya tubuh Ubermensch dari pandangan mata, terbawa angin menuju pantai tempatnya menambatkan sampan.

20 Februari 1885

Kuba tahun tak tertulis di batu nisan, seorang anak telah mati ditangan berandalan jalanan dengan bekas sodomi yang mengerikan. Dua orang lelaki berjalan buru-buru di dekat pantai. Seorang ibu sedang menyusi anaknya. Dan sekelompok anak muda sedang menari salsa dengan khusyuk. Sepasang kekasih berciuman di ujung dermaga. Kapal besar berlabuh. Tidak ada yang mengetahui, sebuah samapan kecil ditambatkan di dermaga itu.
Jalan ramai oleh kerumunan orang-orang. Para pengkhutbah berjalan di sepanjang pantai. Mengabarkan Tuhan yang menderita karena kesakitan telah menderanya. Melihat umatnya saling berperang dan saling bersaing dengan tidak sehat. Tuhan menangis dengan pilu karena anak-anak terlantar dan Tuhan berduka karena mereka tak mau mengerti apa yang diamui oleh Tuhan.
Seorang pengkhutbah berdiri di sebuah altar, memegang Injil di negeri komunis. Tuhan di sini dijajakan dengan murah meriah. Masuk sebuah agama akan mendapatkan jaminan hidup yang cukup. Tetapi tak bertuhan tetap lebih menarik di negeri ini. Castro menjamin mereka yang tak bertuhan akan tetap menjadi warganya yang terhormat. Sementara yang bertuhan akan menjadi hamba dari tuhan yang mereka pertuhan. Gereja akan memberi aturan bagi mereka yang masuk Kristen. Syari’ah akan mengatur jalan bagi mereka yang masuk Islam. Samsara menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang menjadi pengikut Budha. Dan masih banyak lagi yang menakutkan bagi manusia Kuba untuk memilih agama.
Tetapi si pendakwah yang jujur dan setia pada Tuhannya tetap berteriak dikerumunan orang dengan lantang.
“Tuhan menangis melihat kalian berpihak pada yang nyata. Padahal injil mengabarkan pada kalian yang mau mendengar kalimat suci ini ‘Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!’ maka kalian akan bahagia dalam hidup ini. Bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Neraka dan surga sudah diciptakan dalam enam hari penciptaan. Semua itu adalah untuk melayani kalian. Bila ingin berdosa, berbuatlah dosa sesuka hati kalian tetapi kalian akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan. Dan jika kalian berbuat baik, maka tidak ada yang disia-siakan. Kalian pasti dan jelas akan menerima balasan dari perbuatan kalian itu, apapun bentuknya. Baik ataupun buruk”
Seorang anak berhenti di hadapan pengkhutbah yang sendiri itu dan bertanya, “Untuk apa kau berbicara di sini, tak ada orang yang mendengarmu. Pergilah dan carilah seseorang yang kami anggap berhak untuk bicara. Bukan kau.”
“Hai nak, aku di sini hanya mejalankan tugas dari yang Maha Kuasa.”
“Seberapa besar kekuasaannya? Bukankah Castro lebih besar kekuasaannya? Bahkan Amerika negara yang paling ditakuti oleh seluruh negara di dunia, Castro tak memperlihatkan ketakutannya sedikitpun pada negara itu.”
“Tuhan telah menjanjikan kerajaan yang amat sangat megah untuk kalian yang beriman pada-Nya.”
“Janji?” potong anak itu dan tertawa sambil lalu.
Dilain tempat, seorang berjubah dengan Kuran ditangan mengabarkan berita kemenangan dari Timur Tengah. Sebuah agama yang lahir diantara serpihan-serpihan ketololan umat jahiliyah telah membawa dan membuktikan sebuah zaman yang tidak terlupakan sepanjang sejarah umat manusia. Sebuah imperium pernah lahir dan bertahan ratusan tahun memimpin umat manusia ke dunai yang sangat mempesona dengan berbagai sistem yang rapi dan terhormat. Seluruh dunia mengakui sejarah itu, tetapi sangat sedikit yang mengakuinya dengan tulus.
“Allah telah memberi kalian jalan yang lurus. Kalian tinggal menjalaninya saja sesuai aturan yang berlaku. Maka sebuah masyarakat yang diidamkan akan kalian dapatkan. Hidup yang damai seperti zaman Abbasiyah atau Umayyah akan kalian rasakan dan kalian nikmati. Satu syarat yang harus kalian penuhi, ikutilah agama ini. Allah telah menjanjikan kemenangan untuk kalian.
“Ini bukan agama impor, ini adalah agama seluruh umat manusia. Kalian harus memeluknya bila ingin selamat dari neraka.”
Tak jauh dari tempat orang itu seorang biksu sedang mempragakan meditasi. Orang-orang berkerumun ingin melihatnya. Yang mereka kagumi adalah pakaian biksu dan kepalanya yang gundul. Hanya itu.
Senja di pantai negeri Castro itu memang menyenangkan bila ditonton. Berbagai kejadian yang lucu sekaligus aneh akan terjadi secara bersamaan dengan teriakan permusuhan dengan Amerika. Tetapi satu hal yang dinantikan masyarakat Kuba. Ubermensch. Pantai itu sudah dikabarkan akan menjadi tempat berlabuhnya Ubermensch dari perjalanannya setelah mengunjungi teluk Persia. Sore itu orang-orang berkumpul di pantai, di alun-alun yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Ubermensch. Para pengkhutbah pun ingin mengetahui siapa sebenarnya Ubermensch. Mereka berdatangan sambil berkhutbah barangkali ada orang yang mau beragama.
Malam jatuh di laut. Gelap merayap ke darat. Malam telah genap, lembayung musnah ditelan kegelapan. Senyap. Riak gelombang terlihat lamat-lamat. Lampu-lampu segera dinyalakan. Panggung kehormatan sudah dirancang untuk menyambut kedatangan mansuia adikuasa. Seluruh pejabat distrik sudah berkumpul untuk menghadiri acara besar di tahun itu. Kunjungan Ubermensch yang pertama dan terakhir. Castro sudah mengirimkan pidato kehormatannya ke arena pertemuan itu.
Lelaki bertubuh tinggi besar memasuki arena pertemuan akbar itu. Pejabat pemerintah duduk anggun di bangku kehormatan. Sebuah bangku kosong disiapkan. Tetapi tak seorangpun tahu seperti apa Ubermensch itu. Lelaki bertubuh besar yang baru memasuki arena itu langsung menaiki panggung kehormatan dan duduk dikursi yang kosong.
Seorang lelaki tua dengan kaca mata tebal berdiri di atas mimbar. Mulai membacakan pidato tertulis Castro.
“Selamat datang Ubermensch di negeri kami yang tanpa Tuhan. Aku tak bisa menghadiri pidatomu, karena seorang anak kelahiran Kuba telah dicuri oleh tentara Amerika. Aku harus menyelesaikan masalah itu. Dia adalah putera Kuba haram menjadi orang Amerika. Dia adalah simbol kekuatanku. Aku akan membawanya kembali ke negeri ini. Berpidatolah sesuka hatimu. Aku mendukungmu sepenuhnya. Selamat. Negeri tak bertuhan. Castro.” Orang itu mengakhiri pembacaan pidato tertulis Castro.
Lautan manusia berjejal pada malam itu memenuhi alun-alun untuk melihat dan mendengar Ubermensch. Kabar angin telah membuat mereka tergoda untuk menghadiri pertemuan itu. Ubermensch begitu hebat ditelinga mereka. Tepuk tangan dan teriakan histeris menggema di cakrawala saat lelaki bertubuh besar berdiri dari kursi kehormatannya. Berjalan menuju mimbar.
“Terima kasih. Kegelapan telah datang menghantui bumi. Kalian berkumpul di sini dengan satu tujuan bertemu denganku. Kuba negeri tak bertuhan, sudah lama aku ingin mengunjunginya. Tetapi baru sekarang aku dapat bertemu dengan kalian. Ini bukan takdir, tapi kuasa Ubermensch. Segala sesuatu terjadi atas kehendak. Dan kehendak akan muncul karena sesuatu.
“Sesuatu yang membuat aku berkehendak mengunjungi negeri ini adalah karena kalian memiliki kesamaan naluri. Yaitu membungihanguskan berbagai bentuk kekuasaan tertinggi. Dalam diri manusia biasa ada sebuah kesadaran semu yang mengakui adanya sesuatu yang maha. Mereka mencari yang maha tersebut, hingga menemukan matahari yang memberi kehidupan, mereka kemudian menghambakan diri pada matahari. Menemukan air yang menyirami ladang mereka sehingga mereka menghambakan diri pada air. Ada pula diantara mereka yang tersesat jalan dan dituntun oleh seorang Nabi menuju jalan yang benar, merekapun patuh pada sang Nabi yang mengaku bahwa kemampuannya menuntun kalian adalah karena kehendak yang maha kuasa. Akhirnya kalian menghambakan diri pada tuhan sang Nabi tersebut. Demikianlah segala bentuk keyakinan terjelma dari rasa tidak berdaya sebagai manusia biasa. Tetapi di negeri ini, aku tahu bahwa kalian tidak mengakui kekuasaan tertinggi manapun. Hanya saja sangat disayangkan bahwa kalian masih mengakui sebuah kekuasaan material yang dibawa oleh rezim negeri ini. Memperbaiki paham kalian tentang tak bertuhan itulah yang membawaku ke negeri ini.
“Hasrat dan kehendak adalah hal yang berbeda. Hasrat kalian adalah memiliki kebebasan dalam bertindak dan melaklukan penyamarataan atas bentuk apapun yang kalian temukan dalam sistem sosial. Tetapi kehendak kalian memaksakan kalian untuk tetap pada satu sistem yang baku yang sesungguhnya bukan sistem yang dihasratkan, yaitu mengakui adanya penguasa. Kehendak untuk tetap mengakui adanya penguasa inilah kehendak yang harus kalian hancurkan. Biarkan hasrat yang berbicara pada hati kalian sehingga dunia ini tercipta dari hasrat-hasrat yang murni dari diri kalian. Karena kehendak pada dasarnya adalah keterbatasan, ketidak menyeluruhan, ketidakutuhan. Kehendak adalah bagian-bagian dari hasrat dan bentuk kehendak sifatnya sangat material.
“Apabila kalian benar-benar menggunakan hasrat kalian yang tidak ingin dikuasai oleh apapun, maka pada saat itulah kesadaran kalian muncul untuk menjadi diri yang utuh. Tanpa ada tekanan dari manapun. Dalam kesadaran yang utuh kalian akan menemukan ketidak berartian segala macam bentuk material yang selama ini diperjuangkan. Benar bahwa komunisme adalah tak bertuhan, tetapi tidak benar bahwa komunisme tidak mengakui kekuasaan. Inilah yang menjadi masalah komunisme. Padahal yang terpenting adalah bagaimana menciptakan kesadaran bahwa tidak ada kekuasaan dalam bentuk apapun selain diri kita sendiri sebagai manusia. Dalam tahap inilah kalian akan merasakan sebuah keajaiban bahwa kalian dapat melakukan apapun yang kalian inginkan. Karena bayang-bayang ketakuan akan sirna dari muka bumi ini.
“Kalian masyarakat tak bertuhan, tetapi kalian masih membayangkan sesuatu yang lebih berharga dari yang ada pada diri kalian, yaitu sebuah sistem nilai yang dibangun berdasarkan asas sama rata. Kesadaran akan adanya sesuatu yang lebih yang sedang kalian perjuangkan itu adalah sebuah kesalahan. Karena kesadaran itu akan membawa kalian pada perjuangan yang menyakitkan yang sifatnya sia-sia belaka.
“Kalian pada saat ini mengaku tak bertuhan tetapi bagiku kalian masih tetap bertuhan bahkan lebih bertuhan dari orang-orang bertuhan. Ini aku katakan karena aku tahu kalian selalu berjuang untuk sesuatu. Sesuatu yang sedang kalian perjuangkan itulah Tuhan kalian.
“Dalam perjuangan, kalian akan mengalami kesadaran bahwa diri kalian adalah lemah, perlu aturan, selalu cemas dan tercekam ketakutan. Dalam kondsi seperti ini kalian akan merindukan sesuatu yang lebih dari diri kalian.
“Dan Tuhan adalah kesadaran akan kelemahan. Tuhan adalah sistem aturan. Tuhan adalah keabadian yang kalian bayangkan. Dia hadir dalam ketakutan kalian, dia datang dalam kecemasan kalian. Dia tidak pernah muncul dalam kesadaran kalian yang sesungguhnya. Yaitu kesadaran akan sebuah keutuhan. Yang akan memunculkan keyakinan pada diri yang mampu melakukan apapun, karena sesungguhnya kalianlah Tuhan itu.
“Komunis puna adalah Tuhan yang kalian bangun secara sadar. Bahwa Tuhan tidak ada, pengakuan itu sudah mengukuhkan adanya Tuhan. Kesejatian tanpa Tuhan adalah kesejatian tanpa kata, tanpa pengakuan. Karena bahasa tetap memiliki makna ganda. Ibarat pedang bermata dua. Kalian menebas sekaligus tertebas. Bayangan yang menakutkan yang telah kalian bangun berdasarkan ketidakbertuhanan telah mengacaukan sebuah kesadaran lain yang telah kukuh dibangun para pendeta dan para nabi yang datang dan pergi disetiap zaman. Tuhan terus tumbuh dan tidak akan pernah mati. Tetapi Tuhan bukan untuk dikatakan, dibahasakan, diucapkan. Tuhan adalah sebuah kesadaran yang akan menyertai setiap tindakan apapun yang kita lakukan berdasarkan cinta bukan ketakutan yang konyol. Yang didasari hitungan-hitungan tolo. Surga dan neraka yang ditawarkan setiap senja di kota ini adalah sebuah kebohongan belaka.
“Kesejatian akan muncul. Tuhan akan lahir. Kalian akan damai. Bukan dengan ancaman atau janji kebahagiaan. Tetapi dengan tindakan dan makna perjalanan antara tidur dan jaga. Hidup adalah penggalan dari gelap dan terang dari siang dan malam. Hanya itu. Dan Tuhan telah menciptakan kalian dengan cintanya yang suci. Neraka dan surga diciptakan oleh kekhawatiran bukan oleh kesejatian iman. Ketakutan pada ketidak pastian itulah yang menyebabkan kalian berlindung dibawah bayang-bayang yang kalian anggap sebagai sebuah kepastian.
“Tidak ada hakikat yang dapat kalian raih dengan cara berpikir materialis. Tidak ada apapun yang kalian dapatakan dari hidup ini. Karena hidup memang demikian. Bukan untuk mendapatkan sesuatu. Hidup adalah untuk menjalin cerita yang sejuk dan damai penuh cinta dan pengorbanan. Sebuah tata nilai yang lahir dari perjuangan yang suci, tidak akan mengenal perhitungan. Tidak ada untung dan rugi tidak ada kalah dan menang. Itulah hidup yang sesungguhnya. Tanpa Tuhan.
“Sehingga kalian akan menyadari dengan kesungguhan kesadaran kalian bahwa hidup ini bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan. Tetapi hidup ini adalah sesuatu yang harus dijalani dengan cinta dan kasih sayang. Hanya dengan itu kalian akan menjadi manusia luar biasa yang lepas dari sengsara dan duka. Kalian akan mencapai kesadaran sosialis sejati. Tidak semu seperti kesadaran sosialis yang kalian bangun diatas aturan komunis yang katanya anti Tuhan itu. Padahal komunis sama sekali tidak anti Tuhan bahkan ia memberhalakan Tuhan yang paling tolol bila dibandingkan dengan Tuhan-tuhan mana pun di muka bumi ini. Tuhan harta.
“Aku yakin pernyatan Castro tentang dukungannya atas kegiatanku menyebarkan kuasa Ubermensch adalah hanya hiasan belaka dari bibir seorang yang sedang terlelap dalam tahta. Kerajaan sosialis dengan menjanjikan sama rata adalah janji yang paling tolol yang pernah disampaikan oleh seorang manusia. Ketidakadilan akan lahir akibat kecerobohan itu. Aku ingin kalian segera menyadari. Komunis bukanlah pilihan hidup demikian juga halnya dengan agama-agama yang ada di muka bumi ini. Selama kalian berpikir dengan cara pandang hasil. Maka kalian akan tetap menderita di mana pun kalian bernaung. Surga dan neraka tidak diciptakan. Ia ada karena kalian memebangunnya dari tingkah dan laku yang kalian susun dalam nafas yang kalian tarik ulur setiap detik itu.
“Janji apapun yang dibangun atas dasar kehendak berkuasa hanya akan berakhir dengan ketololan seorang penguasa.
“Akhirnya, aku tak menjanjikan apapun untuk kalian. Satu hal yang penting bagi kalian tebarkanlah maaf untuk sesama, jadilah sesuatu yang kalian inginkan jangan pernah berpikir bagaimana akibat dari setiap tindakan.”
Pidato Ubermensch diakhiri, seorang perempuan berteriak dari sudut mimbar.
“Ubermensch! apapun yang kau katakan malam ini adalah kebohongan belaka. Aku adalah seorang komunis dan aku merasakan bahwa komunisme adalah jalan hidup yang sebenarnya.” Ubermensch memandang perempuan itu dan berkata, “Jalan yang bernama pada suatu saat akan berganti nama. Kau mengakui nama komunisme sebagai jalanmu hari ini, entah esok hari. Kau bisa berubah. Dan perubahan itulah yang lebih penting dalam hidup ini.”
“Benar apa yang kau katakan hai Manusia Adikuasa” suara itu menggema entah dari mana datangnya, “Aku adalah keturunan para Nabi. Sebut saja nabi yang kalian kenal maka aku dapat menjelaskan bahwa aku adalah keturuan ke sekian dari nabi itu. Aku meyakini jalan hidupku tak bernama. Aku meyakini hal itu. Karena aku mengalami sendiri bagaimana jalan itu terus berubah namanya. Sementara tujuan yang ingin dicapai tetap satu. Bagiku tujuan hidup itu adalah bahagia. Dan aku ingin bertanya padamu Ubermensch. Apalagi yang lebih penting dari tujuan hidup selain bahagia?”
“Wahai suara yang asing yang tak berbentuk dalam pusaran manusia yang begitu banyak ini. Aku katakan padamu. Hari ini adalah hari yang tanpa tujuan demikian juga dengan hari-hari berikutnya setelah kehadiranku ini. Tidak ada tujuan itulah hidup. Hidup hanya menjalani apa yang terjadi dalam setiap pergantian waktu. Camkan itu.”
Suara-suara bermunculan menggema di udara, diseret oleh angin menuju suatu tempat yag jauh dan asing dari Kuba.

25 Februari 1885

Sekian miliar penduduk dunia akan musnah seketika, bila satu saja hulu ledak itu terlempar ke alam raya. Rusia telah menjadi teman bagi musuh-musuh Amerika. Dari zaman Soviet yang penuh dengan perseteruan dengan Amerika dan sekutunya hingga saat ini dibawah bendera kebersamaan persemakmuran eropa yang semu untuk menyelamatkan dunuia dari bahaya nuklir. Rusia tetaplah Rusia sebagaimana Amerika yang tetap saja Amerika. Angkuh dan usil.
Sebuah kapal induk meninggalkan teluk, berlayar menuju samudera tanpa batas. Sebuah sampan terdampar di tepi pantai. Seorang lelaki bertubuh besar mendarat di pulau yang tak dikenalnya. Malam yang sunyi dan kelam. Bulan pucat menggantung di langit beberapa bintang tak bosan berkedip. Kadang terdengar teriakan panjang dari lorong entah di mana menggemakan gaung mencekam. Kegelapan menenggelamkan Moskow. Ubermensch berjalan menyusuri kegelapan, menuju lapangan terbuka di alun-alun kota Moskow tempat upacara pembaptisan. Seorang lelaki dari gereja Simon mengakui kesalahannya di depan umum. Seorang gadis berkata jujur pada ibunya bahwa ia tak perawan lagi. Sebungkus kondom jatuh di trotoar. Rintihan kesakitan menggema di lorong-lorong rumah sakit. Dan sebuah letusan mengguncang di puncak menara. Seorang serdadu sedang mencumbu pelacur. Terdengar rintihan dan desahan yang menggairahkan dari bilik hotel berbintang. Hiruk pikuk orang berkerumun di diskotik murahan.
Alun-alun tetap gelap. Tak ada seorang pun di sana. Sebuah taman yang kosong. Bangku taman. Pot bunga. Sekuntum mawar mekar di malam hari. Sejumput rumput tercerabut dari tanah. Seekor lalat hinggap di hidung seorang gelandangan yang terkapar di pinggir jalan. Sunyi.
Ubermensch berkata,
“Aku tak ingin mengatakan apapun di kota ini. Mereka terlalu berani mengakui kesalahan dan terlalu berani mengakui kebenaran. Sungguh nekat yang dilakukan penduduk di sini.
“Lihatlah gadis itu telanjang di atas dipan kayu yang sebentar lagi berderik karena terguncang oleh birahi. Di sudut jalan ini ada orang yang terlelap tanpa peduli sekitar. Dan di sana di gedung parlemen, orang-orang berdasi sibuk rapat.
“Ladang nuklir harus ditutup. Ancaman terbesar dunia adalah perang nuklir. Dan bukan hanya itu, ketelanjangan ini membuat ancaman lain bagi dunia yang menyukai kesopanan. Satu hal yang aku inginkan dari penduduk kota ini. Kesunyiannya yang mencekam seperti ini.”
Dia terus berjalan. Sebuah bangku kosong. Duduk. Berhenti berpikir. Merasakan sesuatu. Teriakan itu terdengar lagi entah dari mana menggema di udara mengabarkan sebuah peristiwa.
“Aku tak bisa berlama-lama di sini. Tak ada orang yang bisa berubah di kota ini. Aku ingin kembali ke negeriku. Tetapi ada satu perjalanan lagi yang sangat penting bagiku dan tentu saja bagi mereka yang sedang menantiku di sana. Indonesia.”
Ubermensch beranjak dari bangku taman. Melangkah mundur menuju dermaga.
Sampannya tidak ia temukan di tempat semula.
“Aku tak bisa melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Ke mana lagi aku akan berkelana? Ah… ini pertanyaan yang paling tolol.”

26 Februari 1885

Swiss dikenal dalam setiap ceritanya sebagai tempat menyimpan uang selundupan hasil korupsi yang paling aman di dunia. Negeri yang sangat indah dengan berbagai fasilitasnya. Di negeri ini sebuah pulau yang indah dan nyaman dapat dibeli asal memiliki uang yang cukup.
Koruptor kelas kakap dari berbagai negara di dunia berdatangan ke negeri ini untuk membuka rekening mereka. Menumpuk kekayaan untuk masa yang tak terhitung di waktu yang akan datang adalah kebiasaan orang-orang super kaya di dunia. Berkumpul di kapal pesiar yang paling mahal, berjudi di Shanghai, main perempuan di Italia sudah menjadi gaya hidup mereka. Tetapi satu hal yang menyeret Ubermensch ke negeri ini. Kejenuhan.
Ubermensch sampai di Swiss bertepatan dengan issu disimpannya uang mantan Presiden Soeharto di bank Swiss. Muladi sebagai menteri kehakiman melawat ke kota Swiss untuk mengetahui kebenaran issu tersebut. Kebetulan, pada hari itu Ubermensch sedang duduk santai di ruang tunggu nasabah di sebuah bank yang diakui kerdibilitas keamannya di dunia. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh besar, tapi pendek bagi ukuran Ubermensch, duduk di sampingnya dan bertanya.
“Apakah anda juga hendak mengambil uang?”
“Mengambil uang?” Ubermensch balik bertanya.
“Kalau boleh tahu, sedang apa anda di sini?”
“Oh, saya. Duduk melihat.”
Lelaki itu diam, matanya menatap antrian panjang orang-orang yang sedang melakukan transaksi. “Saya diutus oleh Presiden saya untuk mengecek uang.” Ujar lelaki itu setelah mereka lama diam.
“Itu bukan urusan saya.” Kata Ubermensch acuh.
“Bukan, bukannya saya ingin melibatkan anda dalam urusan saya. Tetapi saya diminta menemui seseorang yang bernama Ubermensch di sini.”
“Oh…” Ubermensch tetap acuh.
“Menurut petunjuk Presiden, saya harus menemui orang yang bernama Ubermensch. Katanya dialah yang akan menolong saya mengungkapkan misteri penyelundupan uang.”
“Terus kenapa tidak mencarinya?” tanya Ubermensch.
“Dalam pertanda yang diberikan kepada saya, bahwa Ubermensch itu adalah anda orangnya.”
Mereka diam, Ubermensch tak segera berkata, demikian juga dengan lelaki yang baru datang itu.
Orang-orang di ruang tunggu bergantian datang dan pergi. Waktu terus bergulir menggelinding melibas segala kelambanan dan mengakibatkan penyesalan bagi pekerjaan yang belum selesai. Semua berjalan sesuai waktu yang ditentukan, ketika terjadi keterlambatan yang bertanggung jawab adalah si pembuat aturan itu sendiri.
“Saya yakin andalah orang yang harus saya temui, sesuai petunjuk Presiden saya.” Ubermensch tetap diam, “Baiklah, saya mengundang nada makan malam di istana negara Swiss dalam jamuan makan malam.” Setelah berkata demikian orang itu beranjak meninggalkan Ubermensch yang tetap diam.
Acara jamuan makan malam disiapkan dengan menu yang paling nikmat di dunia. Resep makanan terkenal dihidangkan di meja yang tertata rapi dan lux. Lelaki yang menemui Ubermensch pada siang hari di ruang tunggu bank sudah duduk di salah satu kursi tamu. Dan menteri luar negeri Swiss memulai acara jamuan makan malam. Sementara Ubermensch datang tepat pada waktunya. Yaitu setelah acara sambutan-sambutan kenegaraan. Dengan berani ia berdiri dan mulai berbicara.
“Kalian tahu kalian akan mati, karena kalian adalah manusia biasa yang menua dan lapuk kemudian menjadi tanah. Aku Ubermensch mengajak kalian untuk menjadi manusia abadi yang tak mengenal lapuk dan mati yang tak mengenal derita. Hanya ada satu bentuk hidup yang abadi dalam hidup ini. Sebuah tujuan yang tak terjangkau oleh pikiran manusia biasa. Sebuah kebenaran yang sejati yang hanya diajarkan oleh para pengembara dunia. Yaitu menikmati proses hidup itu sendiri.
“Kekayaan yang kalian banggakan. Anak cucu yang merepotkan. Rencana yang membingungkan. Ketidakpastian yang menjengkelkan. Kalian akan hancur bersama yang kalian miliki. Kehancuran yang paling menyedihkan.
“Meteor yang jatuh ke muka bumi bukan karena kehilangan daya evolusi terhadap matahari. Mereka jatuh karena mereka menginginkannya. Berbeda dengan kalian. Jatuh tanpa diinginkan. Ketidakinginan itu yang membuat derita kalian semakin pedih berbuntut pada kesedihan-kesedihan lain. Anak cucu yang dikutuk oleh zamannya karena dosa-dosa bapak moyang mereka.
“Jauh di Asia Tenggara, sebuah negeri yang kaya tetapi api terus menyala, membakar dan menghanguskan bangunannya. Ke sana aku akan pergi. Karena kalian tahu di sana adalah tempat yang paling menyenangkan untuk menghamburkan kekayaan. Sekaligus tempat yang paling mudah untuk mengumpulkan kekayaan.”
Ubermensch memberi jeda dalam pembicaraannya dengan mengambil minuman dan menguk beberapa tegukan, setelah itu ia kembali melanjutkan pidatonya.
“Kesadaran untuk menjadi sesuatu yang lebih baik memang sulit untuk muncul, akan tetapi kesadaran menginginkan kebaikan memang selalu ada dalam setiap diri manusia. Dalam jamuan makan malam ini, aku datang atas permintaan seorang lelaki. Aku tak berniat mengenal lelaki itu. Karena apalah artinya perkenalan bila hanya akan membawa petaka. Untuk memenuhi undangannya itu aku akan banyak bicara dalam jamuan makan malam ini. Apa yang ingin aku katakan sudah kukatakan dihadapan tuan-tuan semua. Hanya beberapa hal lagi yang akan aku katakan dan setelah itu terserah anda semua akan bertanya atau berkata apa lagi untukku.”
Ubermensch kembali meminum gelasnya yang mulai mengosong, selesai minum ia kembali berkata.
“Seorang pemimpin dibanggakan selama berkuasa dan disingkirkan setelah habis kekuasaannya. Benar-benar manusia biasa yang tak mengenal keabadian. Inilah akhir dari rencanaku dalam pembicaraanku malam ini sekarang terserah anda semua.”
Seorang kaya dari Arabia berdiri dan berkata.
“Untuk ini kau datang dalam jamuan makan malam ini. Kau benar-benar Ubermensch yang menjengkelkan diantara orang-orang kaya dan terhormat. Sungguh manusia adikuasa yang tolol. Berbicara tanpa tujuan dan tanpa makna. Apa lagi yang akan kau katakan selain menghujat kami yang kaya raya?”
“Kau benar tuan kaya. Aku bukan seperti yang kalian bayangkan selama ini. Karena yang dapat dibayangkan hanyalah bayangan. Kenyataan adalah tetap kenyataan yang tidak akan dapat dibayangkan betapapun sederhananya kenyataan itu dan betapapun hebatnya struktur otak kalian.
“Sama sekali aku tidak menghujat kalian. Kaya adalah hak hidup. Aku tak menginginkan apapun dari kalian. Bicara bagiku adalah hak hidupku yang abadi dan aku akan terus berbicara dengan caraku dan dengan bahasaku. Hari ini kalian tidak mengerti, tetapi pada zaman yang akan datang akan banyak orang yang berbicara tentang Ubermensch yang abadi dan tidak akan pernah mati yang tak mengenal derita dalam hidupnya.
“Kebodohan kalian, ketidakmengertian kalian adalah karena kalian telah mengganti Kuasa Tuhan dengan kuasa uang. Sesuatu Yang Maha Tinggi digantikan oleh sesuatu yang paling hina. Demikian yang kalian bayangkan selama ini. Aku bukan pengkhutbah tapi aku adalah pemberi cerita yang tidak akan terlupakan. Dengar dan rasakan. Aku datang dalam perjamuan ini karena aku tahu bukan hanya lelaki yang tadi siang menemuiku, tetapi kalian pun sedang menunggu kehadiranku…”
“Maaf, tuan Ubermensch. Mestinya anda menjaga sopan santun dalam ruangan ini.” Potong Perdana Mentri Swiss.
“Sopan santun?” Ubermensch tertawa lepas. Para tamu undangan dalam perjamuan makan malam itu bengong terhipnotis oleh tawa yang begitu nikmat dan menyenangkan. “Sopan santun macam apa yang berlaku di sini?” Tanya Ubermensch. Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut orang-orang yang ada di perjamuan itu.
“Kalian menghendaki sopan santun. Dan sopan santu itu kalian buat berdasarkan derajat kalian sebagai orang kaya. Padahal di muka bumi ini bukan hanya ada orang kaya tetapi juga orang miskin yang harus kalian akui keberadaannya. Karena tanpa mereka kalian tidak akan pernah ada. Dan aturan yang kalian buat sama sekali mengabaikan orang miskin. Sehingga kalian membuat aturan makan malam yang megah bagi kalian dengan tatak rama orang kaya. Kalian sangat egois. Dengan aturan itu kalian mendepak berbagai bentuk kemiskinan. Aku tahu dengan sesungguhnya bahwa kemiskinan yang sebenarnya itu ada pada diri kalian. Bukankah kalian tidak pernah puas?”
Lelaki yang tadi siang bertemu dengan Ubermensch berbicara.
“Tuan Ubermensch. Mohon anda tidak memojokkan kami. Saya ini orang Indonesia, saya tahu betul seperti apa orang miskin itu, karena penduduk kami yang terbesar adalah orang miskin. Oleh karena itu dari pada anda membicarakan kekayaan kami yang melimpah ini, kami lebih suka bila anda tak menyudutkan kami. Katakanlah kepada kami hal-hal baik tentang kekayaan dan kemiskinan. Jangan mencaci kami yang memang layak dicaci.”
Ubermensch belum sempat berkata ketika seorang pemuda berwajah cerdas berdiri dan berkata.
“Aku yakin ruangan ini memang perkumpulan orang-orang kaya yang menyembunyikan ketololannya dibalik jubah kekayaan. Aku percaya pada apa yang dikatakan Ubermensch. Dan aku juga menginginkan sesuatu dari orang yang mengaku abadi ini. Katakanlah padaku tentang generasi yang miskin.”
Ubermensch menatap kesekiling ruangan itu dan matanya jatuh pada lelaki yang tadi siang menemuinya.
“Engkau orang Indonesia yang ditugaskan menyelesaikan kasus korupsi. Negeri kaya. Benar-benar kaya. Sayang penduduknya bodoh dan mudah ditipu. Aku akan ke sana. Membuat orang-orang bodohnya menjadi cerdas dan mengerti arti kekayaan dan hidup mewah yang selama ini hanya dinikmati oleh kalangan pejabat. Sekalian saja aku minta tumpangan pada anda orang Indonesia untuk membawa serta saya dalam penerbangan pulang anda.
“Berbicara tentang kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari ketololan dan kecerdasan. Orang-orang cerdas, semiskin apapun mereka tetap dapat menikmati hidup dengan suka cita. Sementara orang bodoh, sekaya apapun mereka akan tetap menikmati hidup ini dengan sengsara. Indonesia menjadi contoh yang paling mudah. Seorang Presiden karena kebodohannya tetap bertahan sebagai Presiden hingga rakyat mengamuk dan Presiden itu jatuh ke lembah yang paling curam dan tak mungkin ditolong lagi. Kini dikejar-kejar oleh kekayaannya yang ia tumpuk selama menjadi penguasa.
“Dan untuk orang yang cerdas yang miskin dapat kalian lihat Israel. Negeri tak bertanah air itu tetap bertahan di muka bumi ini. Keberadaan mereka tetap diakui oleh dunia. Mereka dapat melakukan pesta-pesta yang menggiurkan. Tidak lain karena mereka cerdas.
“Generasi muda yang miskin bukanlah sebuah ancaman. Ancaman bagi generasi muda bukanlah kemiskinan, tetapi ketololan. Kepandiran dari cara memandang dunia. Itulah yang perlu diperbaiki oleh generasi miskin. Kemiskinan bukan penghalang untuk menjadi penikmat hidup yang megah. Miskin adalah bagian hidup yang paling menyenangkan. Satu hal yang perlu diperhatikan, ubahlah cara pandang hidup. Gunakan cara pandang-cara pandang yang selama ini diabaikan. Maka kalian generasi miskin akan sadar bahwa kemiskinan dapat juga dinikmati dan diubah menjadi kekayaan yang tak terhingga.”
Ubermensch mengakhiri jawabannya. Oarang-orang yang ada di hadapannya itu berubah menjadi gundukan-gundukan sampah.
“Seperti dugaanku, kalian memang sampah yang harus segera disingkirkan dari muka bumi ini.” Setelah mengatakan hal itu Ubermensch meninggalkan acara jamuan makan malam itu.

27 Maret 1885

Negeri pertikaian api, Indonesia menjadi tujuan terakhir Ubermensch dalam keliling dunianya. Dia datang ke Indonesia bersama rombongan Mentri Kehakiman. Kedatangannya di Indonesia disambut hangat oleh penduduk. Jakarta menjadi lautan manusia, orang-orang tumpah ruah di jalan raya. Seluruh kegiatan dihentikan. Kerja di perkantoran diliburkan. Mobil-mobil dikandangkan. Rumah-rumah dikunci. Semuanya ada di jalan, bak demonstrasi tahun 1998 yang menumbangkan seorang diktator berdarah dingin.
Pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Para pejabat disambut oleh anak istri mereka. Masing-masing memperebutkan isi koper yang penuh dengan oleh-oleh luar negeri. Sementara Ubermensch tak terhiraukan. Dia melangkah turun dari pesawat dengan tanpa emosi. Kosong menatap jauh ke depan. Sebuah taksi diparkir di depan tempat transit para penumpang pesawat.
“Ke stadion senayan mas,” ujar Ubermensch kepada sopir taksi.
“Tidak. Kami sedang mogok, tidak melayani penumpang,” jawab sopir taksi.
“Mogok?” gumam Ubermensch heran.
Matahari jatuh di sudut utara menara pengawas pesawat. Seorang lelaki berlari menuju ke arah Ubermensch dan langsung memeluknya.
“Terima kasih tuan dapat datang. Kami sudah lama menunggu.” Orang itu langsung menarik lengan Ubermensch.
Tak boleh bertanya dalam keadaan seperti ini. Naluri lebih penting dalam situasi yang kacau di negeri ini. Ilmu dan akal sudah tak berfungsi lagi di sini. Aku akan memfungsikannya dengan rasa.
Ubermensch berpikir menyasati keadaan yang baginya sangat aneh tapi menyenangkan. Orang-orang berkerumun menunggu sesuatu. Mereka hanya mendengar kabar burung. Kecuali beberapa orang yang mengerti apa yang akan terjadi di Jakarta setelah kedatangan Ubermensch. Dan lebih sedikit lagi yang mengetahui Ubermensch.
Bundaran Hotel Indonesia penuh dengan awrna merah, massa PDI Perjuangan memenuhi ruas jalan menebarkan warna merah menyala yang mengerikan. Ada instruksi dari pimpinan partai untuk menyambut kedatangan Sang Pembaharu Indonesia dari Jerman.
“Aku tidak mengerti mengapa orang asing yang akan mmenyelamatkan negeri ini?” kata seorang lelaki pada temanya. Mereka sedang mengaso di bawar tiang gantungan.
“Asing? Menurutku Ubermensch bukan orang asing.” Jawab temannya. “Gus Dur memang menentang kedatangannya, tetapi Bu Mega menginginkan kedatangannya,” lanjut orang itu.
“Bu Mega sekarang memiliki sikap yang cukup tegas.”
“Ya, beliau sekarang sudah melepaskan diri dari bayang-bayang Presiden.”
Di tempat lain di Istana negara Gus Dur gelisah menghadapi massa yang sudah melimpah ruah di sepanjang ruas jalan kota Jakarta. Bahkan menurut informasi dari setnegnya, luapan massa bukan hanya di Jakarta, tetapi di seluruh kota besar di Indonesia. Dan Istana hari ini terancam oleh kerumunan massa yang terus mendesak ke pagar Istana. Lautan manusia sangat mengerikan, tetapi Gus Dur menutup mata dari luapan massa itu. Kegelisahannya terobati oleh bisikan penasehatnya, bahwa luapan massa itu tak sebesar yang digembar-gemborkan.
Namun hari ini, dengan mata kepalanya sendiri Gus Dur merasakan ada sebuah gelombang besar yang akan menerjang kekuasaannya. Ia mencoba menghibur diri dengan melihat acara hiburan di televisi.
Seorang ajudan mendekat kepada Presiden yang sedang asik menonton televisi dan berkata, “Tuan Presiden ada telpon dari Panglima TNI.”
Tuan Presiden menerima telpon itu dan mulai berbicara, “Saya serahkan kepada anda.” Kalimat itu terujar dengan berat dari mulut sang Presiden.
Mereka tidak sedang menuntutku. Aku tidak terancam sama sekali, semuanya percaya bahwa aku masih layak memimpin negeri ini. Ubermensch brengsek. Hari ini seluruh Indonesia diguncang gelombang massa yang menyambut kedatangannya. Bagaimana dengan aku yang dengan tegas menolak kedatangannya?
“Panggilkan penasehat satu,” perintah sang Presiden.
Beberapa menit kemudian seorang lelaki bertubuh ramping masuk ke ruang santai kepresidenan. “Apa yang dapat saya bantu?” tanya orang itu.
“Bagaimana menurutmu, apakah aku perlu menyiapkan jamuan makan malam untuk Ubermensch sebagai ungkapan bahwa aku menyambut kedatangannya?” Presiden diam sejenak dan berkata lagi, “Apakah bu Mega sudah menyiapkan acara untuk Ubermensch?”
“Tuan, saya tidak tahu. Tetapi menurut bisikan yang saya terima, massa yang berkumpul di luar sana memang dikerahkan oleh ibu Mega untuk menyambut kedatangan tamu agung Ubermensch.”
“Bukan untuk menggulingkan aku, bukan?” potong sang Presiden.
“Bukan. Dalam jumpa pers, ibu Mega mengatakan akan memenuhi keinginan rakyat Indonesia, yaitu menyambut kedatangan Ubermensch di kantor wakil kepala negara.” Orang itu diam, “Emm….”
“Ada apa?” tanya Presiden.
“Seluruh rakyat di negara ini sudah patuh pada perintah seseorang.”
“Apa maksudmu?”
Orang itu tak segera menjawab pertanyan sang Presiden. “Ada apa sebenarnya ini?” sang Presiden sudah tak sabar.
“Anu, Ubermensch akan memberi keputusan untuk masa depan negara ini.”
“Hei, itu melanggar aturan namanya,” teriak Presiden. Sang penasehat diam. “Siapa yang membolehkannya?” tanya Presiden.
“Memorandum Rakyat Merdeka yang diprakarsai oleh organisasi New Age.”
“Silahkan pergi.”
New Age? Celaka, aku tidak membredel organisasi ini sejak awal. Mereka berani melakukan sesuatu diluar aturan.
Ajudan yang tadi memberitahu ada telpon datang lagi, kali ini menyampaikan berita rahasia, berbisik pada Presiden.
“Adakan pertemuan darurat, hari ini juga.” Perintah Presiden pada ajudannya itu.
Ruang pertemuan di Istana negara tetap kosong, hanya sang Presiden yang duduk di kursi kehormatannya, menunggu para pembantunya. Tetapi tak satu pun yang datang.
Apakah aku sudah ditinggalkan. Tidak. Bukankah bu Mega dan Akbar menjamin kekuasaanku. Tetapi mengapa para pembantuku tak seorang pun datang ke tempat ini.
Para pengawal Istana menatap Presiden dari kejauhan, mereka memandang kasihan pada sang Presiden yang sudah tak berakyat. Kegagalan apa lagi yang dialami oleh seorang Presiden selain tidak mampu mengumpulkan orang-orang yang dapat membantunya.
Hari sudah senja, konsentrasi massa di ruas-ruas jalan tidak berubah. Aparat keamanan tak seorang pun terlihat, semuanya terbaur dalam kerumunan massa. Mereka berkumpul menunggu ceramah Ubermensch. Televisi berukuran super besar di tempatkan di tengah-tengah jalan, bukan satu tetapi sekian banyak dengan jarak pandang setiap dua ratus meter. Dan bukan hanya di Jakarta, tivi-tivi raksasa itu juga di tempatkan di seluruh ploksok nusantara untuk menyiarkan acara akbar. Pidato terbuka Ubermensch dari lapangan Senayan.
Di layar tivi raksasa itu yang pertama tampak adalah kumpulan ribuan massa yang memenuhi Istora Senayan. Setelah menampilkan lautan manusia yang beraneka warna, merah, biru, hijau kuning dan berbagai macam bendera partai serta bendera merah putih raksasa berkibar-kibar di udara. Layar tivi menampilkan sosok wakil Presiden ibu Mega yang didampingi oleh seorang lelaki bertubuh besar di panggung kehormatan.
Terdengar suara pidato pembukaan yang disampaikan oleh seorang panglima TNI. “Salam untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh kepulauan nusantara. Hari ini di senja hari yang indah dengan langit berwarna cerah karena matahari masih menyinari bumi dengan cahaya emasnya yang sejuk. Saya membuka acara ini atas perintah wakil Presiden. Bahwa hari ini Ubermensch sudah berada di tengah-tengah kita, beliau akan menyampaikan pidato keabadiannya di hadapan kita yang sudah sejak lama menantikannya.
“Dalam tradisi kekuasaan di Jawa ada yang dinantikan oleh kita dalam keadaan krisis seperti sekarang ini. Yaitu seorang Satrio Piningit yang akan menyelamatkan negara ini dari kehancurannya. Dan seluruh rakyat di negeri ini, kecuali sang Presiden, percaya dan yakin bahwa Satrio Piningit itu hanya dapat diketahui oleh manusia abadi seperti Ubermensch. Untuk menyingkat waktu, saya persilahkan kepada Ibu Mega memberikan sambutannya sebagai wakil Presiden yang sudah tidak lagi mendukung Presidennya. Setelah sambutan beliau akan disusul oleh sambutan Ketua MPR dan Ketua DPR yang pada kesempatan ini hadir dalam pertemuan terbuka ini.”
Sang panglima turun dari mimbar. Giliran wakil Presiden yang naik panggung. Pidato yang disampaikannya cukup panjang dan berkobar-kobar memberi semangat persatuan dan kesatuan serta menghentikan pertikaian di seluruh nusantara. Beliau juga mengutarakan bahwa kematian rakyat Indonesia dalam setiap pertikaian bukanlah kematian yang sia-sia, mereka telah mati sebagai sahid. Dan yang masih hidup akan meneruskan amanat perjuangan mereka yang sudah meninggal, yaitu membangun negeri tercinta Indonesia dengan cinta.
Setelah pidato panjang wakil Presiden, berikutnya pidato Ketua MPR. Ketua MPR mengupas habis berbagai issu yang sedang berkembang seputar kemungkinan Sidang Istimewa untuk menggusur Prsiedan. Acara dilanjutkan dengan pidato Ketua DPR yang menyampaikan permaafannya kepada lawan-lawan politinya yang bersikap anarkis yang telah membakar habis fasilitas bangunan basis partainya. Pidato yang mengharukan dari seorang politisi yang dengan tulus memberi maaf pada mereka yang melakukan kekerasan pada partainya. Dan dengan terbuka siap melakukan berbagai perubahan untuk partainya itu.
Matahari sudah jatuh di laut bagian barat kepualauan nusantara. Lampu-lampu dinyalakan. Suasana di seluruh kepulauan nusantara ini sangat meriah. Helikopter berputar-putar di udara memantau seluruh kegiatan dari pulau Sumatra di ujung barat hingga Irian Jaya di ujung timur.
Ubermensch dipersilahkan menyampaikan pidatonya.
“Tuan-tuan Indonesia. Dunia menyaksikan anda semua. Bahwa hari ini pada senja yang mulai gelap. Di negeri kepulauan ini telah terjadi sebuah peristiwa yang maha akbar. Gerakan massa yang damai dari Sabang sampai Merauke. Gerakan massa yang damai. Aku bangga dengan rakyat Indonesia,” gemuruh tepuk tangan dan teriakan mengelu-elukan Ubermensch. “Meski hari ini Presiden kalian tidak hadir dalam pertemuan ini, aku yakin bahwa kalian tidak kecewa bahkan mungkin sangat senang dengan ketidakhadirannya. Tetapi bagiku, ketidakhadiran Presiden kalian sangat mengecewakan.
“Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih pada masyarakat New Age yang telah berani mengambil tindakan untuk mengumpulkan seluruh rakyat Indonesia di seluruh jalan raya di seluruh kepulauan nusantara ini untuk mendengarkan para pemimpin kalian berbicara. Dan aku sebagai tamu di sini diperkenankan untuk turut campur dalam membicarakan masa depan kalian.
“Hari ini aku bersumpah pada kalian Tuhan di negeri ini telah mati. Yang tertinggi di negeri ini telah mati, yaitu kekuasaan. Kalian dengan berani meninggalkan Presiden kalian. Apa yang kalian lakukan selama itu berdasarkan logika yang dapat diterima oleh akal pikiran dan perasaan maka aku dengan sepenuhnya mendukung segala tindakan kalian. Kekuasaan bukanlah hal yang terpenting dalam hidup ini. Tetapi bagaimana menjalankan kekuasan dengan baik itulah yang harus kalian pelajari.
“Tetapi aku di sini bukan untuk mengajari kalian tentang bagaimana menjalankan kekuasaan, karena hal itu sudah diajarkan oleh kehidupan pada kalian. Aku berdiri di hadapan jutaan bahkan ratusan juta rakyat Indonesia di seluruh Indonesia ini adalah untuk menyampaikan keputusan politis yang masih dapat dipertimbangkan oleh kalian, bahwa Presiden kalian hari ini sudah tidak layak lagi memimpin negeri ini. Tetapi siapa yang layak menjadi pemimpin negeri ini, aku hanya akan menyampaikan tanda-tanda. Dan tanda-tanda ini hanya dapat dibaca oleh para cerdik cendikia di nusantara ini yaitu anak-anak yang baru belajar berjalan, yang tatapan matanya jernih dan terasa sejuk di hati kita. Selain mereka, tanda-tanda ini juag dapat dibaca oleh mereka yang hidup papa di bawah tekanan kemiskinan yang biasa disebut oleh kalian dengan takdir Tuhan.
“Tanda-tanda tersebut antara lain, bahwa negeri ini membutuhkan seorang Ibu. Ibu yang tulus mencintai anak-anaknya dan dengan sepenuh hati menyayangi suaminya. Ibu yang memberi jalan lebih luas pada anak-anaknya untuk mengerti hidup dan mengalami berbagai peristiwa yang menyenangkan dalam hidup mereka. Ibu seperti ini sangat sulit ditemukan tetapi anak-anak dapat menemukannya dengan mudah.
“Apabila Ibu untuk negeri ini tidak dapat ditemukan, maka temukanlah seorang diktator yang cerdas yang berpikiran maju yang mengerti kebutuhan rakyat. Dia adalah seorang bertangan besi berdarah dingin tetapi memiliki cinta yang tinggi bagi negerinya ini. Dia sekarang sedang dalam proses kelahirannya di nusantara ini. Dia adalah Gajah Mada yang bangkit dari kuburnya. Yang dapat mengenali Gajah Mada ini adalah orang-orang yuang mengerti sejarah negeri ini.
“Selanjutnya adalah hak kalian untuk menentukan siapa yang akan menjadi penuntun jalan bagi kalian.” Pidato Ubermensch diakhiri dan angin yang damai menghapus gambar di layar tivi raksasa. Lampu-lampu yang semula menyala mati, gelap. Seluruh Indonesia gelap gulita.

Interlud

1885 pada bulan April lelaki sakit itu yang badannya kembali stabil setelah menulis Ubermensch pergi ke Venesia. Pengembaraan imajinya sangat melelahkan, mengelilingi berbagai belahan dunia dalam dua bulan. Kini ia kembali ke jerman. Bukan sebagai Ubermensch dalam ceritanya, tetapi sebagai manusia biasa. Nietzsche. Dia akan menyelesaikan kisah terakhir dari Zarathustra. Karena tidak tahan tiggal di Venesia yang kering ide, pada bulan Juni dia pergi ke Sils-Maria. Adik perempuannya Elizabeth dengan Forster menikah pada tanggal 22 Mei tepat pada hari ulangtahun almarhum Wagner. Dan pada bulan September, dia berangkat lagi ke Naumburg, setelah itu pergi lagi ke Nice pada bulan Nopember.
Dia membuka jendela kamarnya yang menghadap pada sebuah bukit yang tidak ia kenal. Dan lembah itu terlihat menakjubkan, kabut tipis menyelimuti pepohonan yang jarang dan beberapa makhluk asing melayang-layang di udara mencari mangsa. Seekor laba-laba jatuh dari talang jendela, menggelantung pada tali serat yang keluar dari pantatnya. Laba-laba itu benar-benar menggantung di depan matanya. Dia mengibaskan tangannya. Tali serat laba-laba itu putus, melayang di udara dan jatuh tak terlihat.
Dia memandang ke luar jendela mengamati kembali makhluk asing yang terbang di udara. Apakah ia seekor gagak? Tanyanya dalam hati. Bukan. Di negeri ini tidak ada jenis burung seperti itu. Matanya terus mengikuti si burung yang melayang-layang di udara. Kadang tiba-tiba ia meluncur ke bawah dan dalam kecepatan yang masih dapat dilihat oleh mata, burung itu berbalik naik ke atas. Sayapnya dilipat pada saat meluncur ke bawah. Dan apabila ia hendak terbang kembali ke atas sayap-sayapnya dikembangkan. Kembali mengepak dan berputar-putar di udara.
Terdengar desahan nafasnya.
“Apakah aku akan tetap seperti ini?” entah kepada siapa dia bertanya. “Hari terus berganti, sementara aku tak juga berubah. Kepalaku masih tetap pening dan pinggulku terasa pegal bila duduk terlalu lama. Aku tak mampu melakukannya saat ini.”
Sunyi. Dia masih tetap berdiri di depan jendela memandangi burung yang terus menggoda imajinasinya. Melayang-layang di udara. “Dia tak jatuh. Padahal seharusnya sudah terbanting karena keseimbangan tubuhnya dengan gravitasi sudah tidak sesuai. Tetapi dia tetap bertahan terbang. Menakjubkan.” Senyum mengembang dari bibirnya. “Bukankah Zarathustra juga demikian. Melambung tinggi ke angkasa pemikiran dan iamajiku sekaligus. Dan gravitasi di kepalaku sudah tak seimbang lagi. Tetapi dia tidak jatuh. Dia tetap terbang, melayang-layang dalam iamaji dan pikiranku.” Dia kembali mendesah.
“Elizabeth, beruntunglah engkau sudah menikah. Aku tak perlu lagi bertengkar denganmu. Dan aku tidak akan mengunjungimu lagi. Karena aku hanya akan menjadi beban bagimu dan suamimu, Forster.” Dia berbalik, burung yang ia pandangi itu sudah meluncur terbang jauh dari pandangannya. Menghilang diantara kabut dan pepohonan yang menghalangi pandangannya.
“Tetapi, apakah kepergianku dari mereka akan membangkitkan semangatku untuk hidup lebih lama lagi? Tak ada perempuan yang dapat kujadikan pelampiasan libido. Aku tak memiliki seorang kekasihpun. Mungkin inilah yang membuatku pandai menulis dan tidak pernah berhenti untuk menulis. Hanya saja aku benci pada penerbit itu. mereka memburu tulisanku dan menjualnya. Sementara sakitku tak pernah terobati. Uang? Rasanya sudah tak berarti lagi untuk hidupku.”
Dia duduk di kursi goyang, mencoba mengingat kembali apa yang ingin ia lakukan di tempat yang sunyi itu. Meja tak jauh dari hadapannya. Kosong. Sunyi tak berdenyut.
“Dimana sebenarnya Zarathustra lahir?” pertanyaan dengan tatapan kosong.
“Mungkin di Mesir yang mengenal peradaban Zoroaster. Tetapi itu adalah Tuhan. Jelas aku sudah muak dengan Tuhan. Gereja telah banyak merugikan masyarakat. Apakah itu yang disebut agama. Penyembah-penyembah berhala yang sudah tenggelam dari peradaban manusia kini muncul kembali di muka bumi dengan wajah yang lebih mengerikan lagi.
“Apapun yang dilakukan oleh manusia saat ini hanya sebuah kesia-siaan. Celaka mereka tidak menyadari hal itu. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan aturan, dengan jadwal, dengan kesibukan sehari-hari. Dalam tidurpun mereka membawa masalah hidupnya dalam mimpi-mimpi mereka. Masalah yang rendahan dan terlalu sepele untuk dipikirkan.
“Masihkah tersisa orang-orang yang memiliki pikiran besar yang mau berpikir tentang masadepan umat manusia. Masadepan yang sedang terancam oleh keangkuhan materialis. Sejarah umat manusia berngsek yang tidak berpikiran cerdas akan memenuhi bumi ini. Semuanya berakhir dengan konyol dan tolol.
“Zarathustra. Aku menginginkan Zarathustra.”

1 April 1885

Sebuah pasar. Kios berbaris mengikuti alur jalan yang berliku di tikungan yang tajam. Sepi, tidak ada penjual maupun pembeli. Malam semakin larut diburu angin dingin menggigit di musim panas. Bayangan-bayangan hitam berkelebat di udara, cicit suara makhluk malam menambah kengerian pasar. Sampah terserak di tempatanya yang tidak teratur tak jauh dari jalan raya. Sesekali mobil melintas dengan cepat tidak mempedulikan bahwa di sana ada pasar. Beberapa tubuh tergeletak berselimut koran di emeperan. Api menyala di sudut utara. Seseorang sedang duduk bertutup kain sarung yang sudah lusuh. Matanya tak terlihat, demikian pula dengan struktur tubuhnya. Benar-benar gelap. Lidah api yang menggapai-gapai di udara tak mampu memberi keterangan. Hanya rasa hangat yang memberi penjelasan bahwa orang itu sedang menjaga sesuatu.
Sebuah kios tak berisi. Kosong tak terpakai. Pasar yang sudah tua kiosnya banyak tak terpakai lagi karena rapur dan bocor. Dia yang duduk di depan nyala api tetap diam membeku kedinginan. Dan api itu memberinya kehangatan membuatnya tak hendak beranjak dari hangatnya api yang sangat ia butuhkan. Wajahnya.
Dia seorang penjaga keamanan pasar. Samar wajahnya mengatakan. Lekuka rahang yang kasar sorot mata yang dalam dan tangan yang kekar terbelit di dada. Dia sedang menjaga pasar. Dia penjaga pasar. Zarathustra menemui orang ini.
“Kau di hadapan api, seperti musa yang memburu api suci. Menerima sabda Tuhan. Mengutuk sebuah kekuasaan menyingkirkan hawa nafsu dan ammarah. Kau tidakkah ada yang menjagamu selain api ini. Aku tersesat di pasar ini. Kemana gelandangan-gelandangan itu?”
Orang itu tetap diam. Tidak ada gemingan yang berarti. Tangannya hanya membetulkan api yang hendak padam di hadapannya.
“Hai orang pasar.” Zarathustra berkata lagi “Aku datang dari negeri tak bernama, dunia tak berbentuk dan hidup tak bertujuan. Aku tersesat di sini. Apakah kau mau membantuku memberi tahu sesuatu?”
“Ehmmm.” Orang itu menggeram
“Suaramu agung, menyeret segala pendengaranku di malam ini. Kau akan menjadi petunjukku dalam melangkah untuk esok hari. Sekali lagi persis seperti Musa yang tersesat di lembah Tih, dia tak menemukan petunjuk untuk membawa anak-anak Israel hingga dia mati karena tidak ada lagi api yang menyala di sana. Baru kemudian generasi berikutnya menemukan api itu dan mereka berhasil keluar dari Tih. Dan aku, aku benar-benar seperti Musa. Tersesat di pasar dan tak menemukan api selain di sini di dekatmu. Kau akan memberi petunjuk padaku. Kemana aku akan melangkah pada saat matahari jatuh di pasar ini dan keramaian menjadi sebuah kegaduhan manusia yang bicara dan diam secara bersamaan. Sebuah kebiasaan yang menjengkelkan. Berkatalah padaku!”
Orang itu tetap diam.
“Oh, malam. Malam sangat menakutkan. Bulir-bulir embun berjatuhan di pangkuan rerumputan. Kegelapan menyergap seluruh kehidupan. Menyeretnya ke dalam mimpi para petani yang terkubur harapan panennya karena tikus-tikus liar di lahan mereka. Pada malam hari semuanya terjadi. Berbagai kekejaman, kemesuman terjadi pada malam hari dan rencana-rencana busuk di susun dan diuji pada malam hari. Maling-maling berkeliaran pada malam hari. Benar-benar hantu itu ada pada malam hari. Apakah kau mau membantuku?”
Lagi-lagi hanya suara geraman.
“Gelap. Gelap bagian lain dari terang. Aku ini pengembara yang tersesat di pasar. Aku ridak tahu lagi apa yang harus aku lakukan dengan malam yang dingin seperri ini. Apakah aku akan sepertimu duduk membeku di hadapan api dan tubuhku akan mencair bersama terbitnya matahari esok pagi? Tidak hei manusia diam. Aku tahu ada banyak rencana yang disusun malam ini. Ada banyak maling yang berkeliaran pada malam ini. Ada banyak kemesuman yang terjasdi pada malam ini. Dan sekian banyak lagi mimpi-mimpi yang menghibur atau mengutuk orangh-orang tidur oada malam ini. Aku harus memikirkannya pada malam ini. Aku harus merencanakan sesuatu untuk esok hari.”
Zarathustra diam. Gelap membeku bersama dingin menghitam di sudut jalan di hadapan api kecil yang menyala hendak padam. Orang itu tetap diam membelitkan tangan di dada, bersedakap seperti samadhi hendak mencapai nirwana di malam yang dingin di hadapan api yang terus menyala meski hendak padam. Tanpa dipersilahkan Zarathustra akhirnya duduk di samping si diam yang ia tanyai itu. Tangannya yang kuat menggapai-gapai jilatan api yang semakin lama semakin mengecil. Sementara kayu yang membuatnya bertahan semakin surut menjadi arang dan persediaan sudah tidak ada selain setumpuk sampah plastik yang ada tak jauh dari tempat itu.
“Apakah kau tak mendengar suaraku?” tanya Zarathustra di sela-sela suara angin lembut yang menyapu lorong-lorong dan menyeret sampah pelan-pelan.
“Senadainya kau tahu atau paling tidak mau mengetahui siapa diriku. Teranglah dunia ini dengan cahaya tanpa matahari. Tetapi aku sekarang tersesat. Kaulah yang akan menuntunku pada duniaku kembali. Kau hanya diam dan diam. Apakah aku akan berjalan tanpa rencana, tanpa petunjuk. Baiklah. Aku akan pergi dan aku benar-benar pergi kau akan menyesal tak mengenalku. Esok hari kau akan melihatku dan kau akan menyelsal untuk malam ini. Kau benar-benar bisu.”
Dia bangkit dari sisi orang diam itu. Berdiri menatap sesuatu di arah yang ia tidak mengerti hanya insting yang mengatakannya bahwa itu adalah timur tempat matahari terbit. Tetapi bukankah sudah saatnya matahari terbit dari barat. Menentang arus sudah menjadi sesuatu yang biasa. Dan alam pun dapat melakukannya. Apalagi Tuhan melalui Nabi-nabinya bicara tentang akhir dunia dengan tanda-tanda. Matahari tidak terbit dari timur lagi. Tidak juga dari barat. Matahari tidak terbit.
Lorong-lorong pasar masih tetap seperti semula. Sepi. Kios berbaris mengikuti alur jalan yang berliku di tikungan yang tajam. Tidak ada penjual maupun pembeli. Dia berjalan menuju sebuah tempat di kegelapannya sendiri yang hanya dia yang tahu. Gelap.
“Apakah Musa pada saat menemukan cahaya di bukit Tursina itu juga tak mendengar suara? Seperti aku yang tak mendengar suara apapun dari api yang menyala di pasar ini. Tetapi. Oh, bukankah diam itu memberi jawabannya sendiri padaku. Rencana apa yang akan aku lakukan pertanyaan yang sangat tolol. Mengapa aku tak lagi secerdas dulu?”
Zarathustra tertawa. Menggema di kesunyian yang senyap. Membangkitkan bulu kudung yang mendengarnya.
“Aku benar-benar seorang penyabda yang tidak mempunyai rencana. Berbicara dengan berbagai bahasa tanpa mengerti bahasa siapa yang aku pakai. Aku berbicara dengan bahasa para Nabi. Bahasa pakir miskin. Bahasa kaum borjuis. Bahasa para ningrat. Bahasa ilmuan bahkan bahasa gelandangan pun aku bicara. Aku benar-benar pintar bicara.” Tawa itu krmbasli menggema, lebih keras dan lebih menakutkan dari yang pertama.
Garis cerah membelah cakrawala. Angin semakin dingin api yang semula menyala yang dapat dilihat olehnya sudah padam tetapi orang itu tetap diam.
“Penjaga pasar. Biarkan saja dia terus diam dan terus menjaga pasar. Aku tak peduli pada orang itu.” Gumamnya pelan sangat pelan hampir tak terdengar. Suara itu benar-benar lembut diseret angin ke lubang telinga dan menggetarkan genderang telinga dengan lembut.

2 April 1885

“Aku akan menyampaikan tiga perubahan untuk sebuah negara.” Zarathustra bersabda di hadapan makhluk-makhluk pasar. “Kalian sudah mendengar ceramahku kemarin tentang kematian. Hari ini aku akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Tiga perubahan untuk sebuah negara.”
“Kami tidak memerlukan negara.” Teriak sebuah suara dari khalayak “Kami butuh makan dan minum, tempat tinggal dan sandang, kepuasan sex dan anak-anak. Bicaralah tentang hal itu orang asing.”
“Ya. Engkau benar wahai entah siapa. Baiklah sebelum aku membicarakan tiga perubahan untuk negara aku akan menyampaiakan apa yang ingin didengar oleh entah siapa tadi.
“Makan. Banyak jenis makanan yang dapat kalian makan. Tetapi karena kalian harus bekerja untuk mendapatkan makanan, maka makanan itu menjadi sulit dan kalian terus bekerja untuk mendapatkannya. Dengan makanan kalian dapat bertahan hidup sehingga kalian mempertaruhkan hidup demi makanan. Berjuang untuk makan itulah yang dilakukan oleh kalian di sini di pasar.
“Berteriak menawarkan barang dagangan atau ngotot meminta harga yang paling murah bagi seorang pembeli. Itulah maknan. Enak di bibir sama di perut dan keluar sama sekali tidak ada yang disukai. Menjijikan. Makan, makanlah sepuas hati kalian selama kalian menginginkannya. Karena sesungguhnya pada suatu saat nanti kalian tidak akan membutuhkan makan. Kalian hanya butuh waktu dan tepat pada saat itu makanan benar-benar akan dibenci dan dunia ini akan penuh dengan makanan. Pada hari itu kalian tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan makanan.
“Minum. Tidak berbeda dengan makan, demikian juga sandang, kepuasan dan sex. Sama. Selama kalian menginginkan itu semua maka kalian akan bekerja untuk mendapatkannya dan kalian akan mendapatkan derita dari apa yang kalian inginkan itu.
“Selama ini yang kalian inginkan hanya sebuah penderitaan dengan mengharapkan berbagai bentuk kepuasan dalam hidup yang kalian bayangkan. Kalian tidak pernah sungguh-sungguh ingin mendapatkan kebahagiaan. Tidak memiliki kehendak untuk berpikir tentang hal-hal yang lebih besar dan lebih sederhana. Itulah dunia manusia dan memang harus seperti itu bila masih megakui Tuhan. Kalian adalah hamba Tuhan yang tolol dan menjengkelkan. Tinggalkan makan dan minum. Jangan mencari kepuasan dan sex.
“Untuk anak. Aku ingin bicara tentang mereka secara khusus. Tentu saja tidak sekarang. Karena hari ini aku sudah mengatakan sesuatu yang perlu kalian renungkan dengan baik, yaitu berhentilah berpikir tentang makan dan minum. Jangan mengharapkan kepuasan sex yang menjijikan itu. kalian dapat membayangkan betapa sex, maksudku kenikmatan sex apapun bentuknya. Masturbasi, onani. Bersetubuh, berciuman. Segala bentuk sex itu sangat menjijikan.”
Pasar bubar, Zarathustra kembali menyendiri. Diam dalam sunyi.

5 April 1885

“Seperti telah aku janjikan dua hari yang lalu. Hari ini aku akan berbicara tentang anak-anak yang kalian cintai itu.” Zarathustra memulai pidatonya, orang ini benar-benar membuat banyak perasaan bermunculan dan bermacam tuduhan tajam dilemparkan ketelinganya dengan suara kejam.
“Anak lahir dari rahim seorang perempuan. Perempuan itu bisa mengandung karena persetubuhan. Karena penis dan sperma. Tetapi, hari ini tanpa penis, seorang perempuan bisa hamil. Dan inilah yang paling penting. Kalian akan mendengar apa yang akan aku katakan tentang anak.
“Sel telur mengeram dalam ovum, satu sel pejantan masuk dengan susah payah setelah mengalahkan ribuan lawan sejenisnya. Ribuan sel pejantan gugur demi menyelamatkan satu sel yang siap membuahi sel telur. Sebuah peristiwa alam terjadi dalam dunia rahim yang sempit. Erangan panjang terdengar ringkih dari mulut seorang perempuan yang sedang besetubuh dan lenguhan panjang seorang lelaki yang melepaskan hartanya yang paling berharga. Belahan dari seluruh energi tubuhnya.
“Perjalanan berlanjut dengan penantian panjang, metamorfosa dari satu bentuk ke bentuk lain terjadi dalam waktu enam bulan untuk menjadi sempurna. Ruang dan waktu penciptaan umat manusia yang terbatas, itu mengatakan bahwa hidup manusia pun terbatas. Tetapi ruh diciptakan tanpa definisi, oleh karenanya dia pun tak terdefinisikan. Manusia hanya dapat merasakan bahwa dirinya bernyawa dengan perasaannya yang terus mengalami perubahan.
“Seorang anak sesungguhnya hanya sebuah proses penitipan ruh pada dua sel yang berbeda jenis. Seorang ibu hanya sebagai pelengkap penderita dalam hidup sang anak. Sementara sang ayah adalah pelengkap sengsara bagi kehidupan anak. Dan anak itu sendiri dialah yang menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Disayangi dan dicintai serta di manjakan oleh kedua orang tuanya. Hingga datang masanya. Sebuah hukum karma sebagai umat manusia. Sang anak akan menjadi ayah dari anak-anaknya. Dan perannya berganti pula bukan sebagai penikmat tetapi menjadi pelengkap penderita atau pelengkap sengsara bagi anaknya.
“Oleh karena itu, seorang ayah atau seorang ibu yang mengerti perannya akan melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi hidupnya. Balas dendam dengan mengabaikan anak-anak mereka. Itu bukan dosa, tetapi kutukan yang dia buat untuk mengukuhkan sebuah keegoisan umat manusia. Bagiku orang tua macam ini cukup bijak tetapi tidak cukup baik untuk tetap manjadi mansusia. Karena mereka sesungguhnya bukan manusia. Karena manusia yang sesungguhnya akan berkorban untuk yang lain dengan tulus penuh cinta.
“Seorang anak yang dikandung selama sembilan bulan oleh seorang perempuan, kemudian anak itu lahir dan besar, setelah besar akan meninggalkan perempuan itu sendirian menantikan kematiannya. Itulah hidup. Karena anak yang lahir ibarat panah yang terlepas dari busurnya akan mencari dan menemuikan sendiri hidupnya. Yang tentu saja akan berbeda dengan peran-peran ayah dan ibunya,. Karena seorang anak hidup jauh di masa yang sangat berbeda dengan ayah dan ibunya.
“Dalam posisi seperti ini, seandainya tidak ada cinta dalam diri manusia, mana mungkin seorang manusia mau melakukan sebuah tindakan yang penuh dengan resiko tanpa mendapatkan balasan. Itulah sebabnya, Tuhan tercipta untuk merenggut kesadaran seorang manusia bahwa dirinya telah dirugikan oleh alam.
“Seorang anak yang lahir dengan kesadaran bahwa dirinya adalah mahluk yang paling disayangi oleh lingkungannya membuat mereka dapat bertahan dengan cinta. Tetapi akan lain halnya bila seorang anak manusia lahir dengan kesadaran bahwa mereka hidup dimuka bumi ini tanpa penyebab apapun baik secara fisik maupun non fisik. Yang akan terjadi adalah bahwa dirinya sosok makhluk yang berbeda yang mampu melakukan segalanya dengan akal dan pikirannya. Apapun yang ia pikirkan itulah yang akan terjadi pada dirinya.
“Hidup seorang anak seperti ini akan membawa mereka pada kehidupan yang sejatinya sebagai kehidupan manusia yang sesungguhnya. Karena mereka tidak akan merasa takut ataupun khawatir dengan hidupnya. Hidup ini diberikan dengan gratis oleh alam kepada dirinya. Dia akan melakukan apapun yang dipikirkannya. Dengan demikian anak manusia semacam ini akan menjadi penemu yang paling andal di muka bumi ini.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh mereka.”
Demikianlah Zarathustra telah berbicara tentang anak, tetapi tak seorang pun yang mendengarkannya. Dia pergi meninggalkan pasar.

15 April 1885

Matahari lekas-lekas sembunyi pada saat Zarathustra berjalan ke barat. Meninggalkan pasar dengan berbagai kesan. Tetapi satu kesan yang paling dalam menyentuh naluri Zarathustra. Manusia benar-benar tolol. Dan yang lebih tolol, barangkali Tuhan. Tetapi Zarathustra meyakini Tuhan tidak ada. Yang ada hanya ketololan itu sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin menciptakan makhluk yang sia-sia seperti manusia-manusia tolol itu. Dia berpikir, di dunia yang bukan pasar ada manusia yang bijak yang akan berbicara dengannya, bukan hanya bertanya. Karena para penanya yang bertemu dengannya sangat menjengkelkan. Sebuah tanya yang sia-sia. Sebesar apapun jawaban yang ia berikan, orang-orang yang bertanya itu hanya bertanya. Tidak menghiraukan jawaban. Mereka terlalu sibuk memikirkan pertanyaan, lupa untuk menyimak jawaban yang diberikannya. Benar-benar sia-sia.
Manusia sebanyak itu tak satu pun yang peduli dengan jawabanku. Aku benar-benar putus asa. Aku akan pergi ke tempat lain.
Perjalanan Zarathustra terhenti di sebuah masjid. Ia mendengar sesuatu. Terjadi pertentangan antara kelompok muslim. Perdebatan panjang tentang perlu tidaknya negara Islam. Zarathustra termenung.
“Sebuah kesadaran antara Islam dan non Islam terbangun dari adanya aturan keberagamaan. Peran Tuhan dikukuhkan dengan menciptakan perbedaan di muka bumi. Manusia akhirnya lupa, mereka enggan untuk bersatu menguasai bumi. Karena mereka merasa di bumi ini masih ada musuh yang lain yang harus segera di musnahkan. Yaitu mansusia yang lain yang harus segera disingkirkan untuk kemudian membangun dunia dalam sebuah kesadaran yang mereka miliki. Agama. Dalam posisi ini Tuhan sangat diuntungkan dan dunia tidak akan pernah menemukan kedamaiannya. Karena umat manusia akan terus bertikai. Memperebutkan bungkusan kosong yang bernama kekuasan. Dunia menjadi tempat pertentangan yang paling menyenangkan.
“Seorang manusia yang berpikiran maju menemukan pertanda bahwa dunia tidak akan selesai dari masalahnya selama manusia penghuni dunia ini masih merasa bahwa diantara mereka ada musuh ada kawan. Kesadaran ini dibangun dalam berbagai bentuk kesadaran parsial. Kesadaran agama, membuat umat manusia saling bertentangan antara satu agama dengan agama yang lain. Sehingga mereka lupa untuk mengisi dan membangun dunia ini bersama-sama dalam agama yang berbeda. Kesadaran bernegara membuat manusia merasa terancam antara yang satu oleh yang lainnya, sehingga melahirkan kecurigaan-kecurigaan antara satu negara dengan negara lain. Pada saat seperi ini, kesempatan untuk membangun dunia jadi terampas dari tangan-tangan kreatif anak zaman. Kesadaran kelas juga berakibat pada saling bertentangan yang menakutkan antara satu kelas dengan kelas lainnya.
“Demikianlah sebuah kekuasaan dikukuhkan. Seorang raja mengukuhkan kekuasaannya dengan menciptakan kelas-kelas sosial dalam masyarakatnya. Sebuah negara adikuasa mengukuhkan kekusaannya dengan menciptakan kecurigaan-kecurigaan antar negara. Dan Tuhan mengukuhkan keberadaannya dengan menciptakan konflik-konflik antar umat manusia dama keberagamaan mereka.
“Oleh akerna itu kesadaran yang seharusnya tumbuh dalam sosok manusia sejati adalah kesadaran bahwa musuh mereka yang sesungguhnya adalah yang unreal. Dengan kesadaran ini manusia di muka bumi ini akan bersatu melawan yang Unreal ini. Maka dunia ini akan kehilangan deritanya dari permusushan antar umat manusia. Yang ada hanya sebuah kebersamaan menciptakan dunia baru yang penuh dengan pesona tawa dan seyum serta harum bunga-bunga yang mekar di musim hujan.
“Contoh masyarakat idela atau masyarakat surga adalah para pendahulu umat manusia ini, yaitu masyarakat purba yang tidak mengenal Tuhan dalam bentuk imaji sekarang. Tuhan bagi mereka memang tidak ada. Mereka membentuk kesadaran tentang musuh-musuh yang sifatnya unreal. Musuh-musuh inilah yang menyatukan mereka untuk melakukan berbagai kerja yang bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagai masyarakat purba yang serba terbatas. Mereka tidak mengenal pertikaian sampai munculnya masyarakat lain yang menimbulkan kecurigaan.
“Kesadaran bahwa tidak ada musuh yang tampak di muka bumi ini itulah yang harus segera dikerjakan. Dengan kesadaran bahwa musuh umat manusia adalah sesuatu yang lain yang tidak real, yang abstrak dan tidak nyata. Dalam hal ini, musuh itu, aku mengatakannya, adalah Tuhan. Kesadaran bahwa Tuhan adalah musuh umat manusia yang sesungguhnya akan membangkitkan semangat kebersamaan untuk menghancurkan Tuhan. Umat manusia akan bersatu.
“Karena manusia pada dasarnya meyakini adanya Tuhan. Kesadaran bahwa mereka mengakui keberadaan Tuhan harus diperangi. Dengan demikian setiap manusia sudah memiliki musuhnya sendiri dan mereka dapat bersatu bersama manusia-manusia yang lain untuk memerangi musunhnya tersebut.
“Saat ini manusia modern sudah memiliki kesadaran yang sangat menarik. Yaitu bahwa musuh mereka pada hari ini adalah penyakit menular dan penindasan terhadap hak asasi manusia. Sosok musuh yang abstrak yang hanya dapat didefinisikan dan dirasakan. Akan tetapi musuh ini tetap saja sebagai musuh yang memiliki bentuk manusia yang lain. Kesadaran ini tetap merugikan umat manusia secara keseluruhan, karena mereka tidak dapat bersatu untuk menguasai dunia.
“Aku lebih cenderung dan merasa yakin bahwa musuh umat manusia yang sesungguhnya memang adalah Tuhan. Dan Tuhan adalah musuh yag paling bijak yang pernah aku jumpai. Rela berkorban untuk umat manusia yang telah Ia ciptakan. Tuhan bunuh diri untuk kita semua. Untuk umat manusia.
“Tuhan telah mati. Musuh satu-satunya umat manusia telah mati. Kini saatnya manusia merasakan kedamaian. Hidup tanpa musuh.

Epilog

Lihatlah dia sudah sangat kelelahan setelah menjalani kehidupannya yang penuh dengan penyakit dan penderitaan. Tetapi dia telah berhasil menciptakan satu monster menakutkan bagi dunia. Monster yang menghantui umat manusia di sepanjang zaman.
Nasib seorang pemikir besar tidak selalu menyenangkan. Seorang pejuang sejati selalu berakhir dengan tragis. Setiap perjuangan untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia selalu diakhiri dengan kenyataan pahit yang menyakitkan. 3 Januari 1889 Nietzsche ambruk di piazza Carlo Alberto Turin. Ketika ia sadar kembali, keadaannya sudah tidak waras lagi. Kondisinya yang mengkhawatirkan itu menyeretnya ke klinik Universitas di Besel pada tanggal 10 Januari tahun yang sama. Hasil diagnosis menunjukkan bahwa Nietzsche mengalami paralysis progressiva; kelumpuhan yang terus bertambah parah.
Seorang ibu yang sangat mencintai anaknya membawanya kembali pulang ke pangkuannya dalam keadaan sakit parah pada tahun 1990. Tetapi malang bagi Nietzsche tujuh tahun kemudian sang ibu meninggal pada bulan April 1897. Akhirnya tepat pergantian abad tahun 1900 dia meninggal di Weimar tanggal 25 Agustus.
Demikianlah dia telah banyak menggugah manusia, bahkan kadang menghantui manusia dengan kesadaran yang lebih besar dari hanya sekedar mencari musuh sesama manusia, yang hanya menghasilkan derita dalam sejarah umat manusia. Ide terbesarnya adalah menciptakan kesadaran seluruh umat manusia – dan demikianlah adanya setiap pemikir dunia – yaitu menciptakan kesadaran baru yang akan menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya.
Hanya sekelumit kebaikan yang dilakukan olehnya, yaitu ketika dia mengatakan bahwa Tuhan telah mati. Kalimat singkat ini mampu menyelamatkan umat manusia. Karena tugasnya adalah memberitakan tentang sosok musuh yang harus dihadapi bersama oleh seluruh umat manusia. Musuh itu adalah Tuhan dan Tuhan telah mati. Sepeninggal Tuhan, tugas manusia berikutnya adalah menciptakan kerajaan dunia yang tentram. Membangun dunia ini bersama-sama. Niscaya kedamaian akan tercipta dengan janji-janjinya yang tulus dan permusuhan berakhir.
Tetapi manusia saat ini tidak mengerti apa yang diinginkan oleh alam dengan bermacam misterinya itu. Manusia hanya mampu menyadari bahwa Tuhan adalah sesuatu yang harus dikukuhkan. Mungkin Nietzsche akan mengganti subyek tulisannya – seandainya dia masih hidup – bahwa manusia tidak memiliki musuh. Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah menyadari bahwa hidup ini berwarna dan bagaimana membuat warna itu menjadi indah. Berlomba mewarnai dunia ini akan menciptakan kesatuan antar umat mansuia dalam membangun dunia. Sehingga tidak perlu lagi permusuhan di muka bumi ini.
Biarlah neraka dan surga itulah musuh yang paling abadi dan tidak akan pernah menyentuh dunia ini. Hanya mimpi-mimpi yang tersisa dari sejarah konyol umat manusia.

Novel : Surgana
Sumber : Cybersastra

7 Tanggapan to “Mimpi-Mimpi Nietzsche”

  1. qzink666 Says:

    Hwakakakakakak… Lama gak posting, sekalinya posting, hasil pipes..😎

  2. Epat Says:

    hahaha nietzsche-ers😛 gpp kok turut mengabadikan, siapa tau cybersastra ntar kolaps😀
    salam kenal

  3. chiw Says:

    apa sih ini?

    dasar sinting!👿


  4. udah copy-paste, panjang lagi
    mana ukuran font-nya juga bikin mata puyeng
    edan!

  5. joyo Says:

    ya ya Tuhan telah mati, dan jika arwah Nya masih bergentayangan juga, kewajiban kita untuk membunuh juga arwah penasaran Tuhan tersebut!!!
    Bunuh Tuhan!!!

  6. bedh Says:

    horeeee aku dah baca postingan ini.
    baca judulnya dan baca sumbernya.
    huhuhuhuhu

  7. ardianzzz Says:

    kita telah membunuh-Nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: