Sebuah Pagi Dengan Kaos Kaki Terbakar

Mei 28, 2008

Lendi sedang mengaduk-aduk sereal sarapan paginya, berharap menemukan jempol tangan pelayan istana tertinggal di situ. Tidak ketemu. Belum. Ayah bersarung sambil nonton warta berita pagi dalam kotak ajaib bernama televisi. Semoga semalam MU menang lawan Chelsea.  Ah, betapa semuanya tentang politik dan negara. Betapa negara hanya sekumpulan dusta bersama. “Mama berangkat dulu, sayang,” pekik ibu dari depan garasi setengah jam yang lalu. “Mama pandai cari duit ya, pa. Teman mama semuanya om-om pake dasi. Mobilnya bagus-bagus.”

“Mama pulang telat, makan malam ada di kulkas. Nggak usah tunggu mama,” sebuah pesan tertempel di pintu kulkas. Entah pesan untuk siapa. Ada bau kaos kaki terbakar di dapur. Tidak, itu hanya bau  telur dadar gosong.  Bukan, itu bau kaos kaki. Siapa peduli. Kaos kaki hanya untuk yang bekerja. Ada perasaan kehilangan dari entah apa. Biarkan. Sandal rumah tak membutuhkan kaos kaki.

Tukang sayur lewat di pekarangan. Hentikan. Anak-anak butuh sayuran untuk makan siang. “Sayur, jeung?” Suara parau itu.

.

.

.

.

.

ps. Jangan pernah berharap saya nulis Nietzsche untuk sekarang-sekarang ini. Saya lagi malessss…:mrgreen:

12 Tanggapan to “Sebuah Pagi Dengan Kaos Kaki Terbakar”

  1. edy Says:

    ah ini pasti urusan rumah tangga😆

  2. Arwa Says:

    wu..hehhehhhe…. 😆
    ada rubrik keluarga rupanya, sayah suka banged.

    *siap2 mo konsultasi*:mrgreen:

  3. Arwa Says:

    wah senangnya jadi bapak rumahtanggga😆


  4. om Qzink, mama itu ratu merangkap pemimpin negara ya, kok sibuk amat???

  5. alex® Says:

    Kenapa rupanya ndak nulis Nietzsche, bro?😕

    *saya curiga tersangka lagi hanimun ini*:mrgreen:

  6. Ambrose Says:

    Mas yg nulis ini punya bakat jadi novelis atau cerpenis *serieus*:mrgreen: . Akan luar biasa jika di kembangkan terus😀

    Ini ide tulisannya dapet darimana mas..?

    BTw : memang kenapa bisa ampe males begitu..?
    sepertina dugaan Alex bisa betul. Hasratnya tersalurkan ke dalam bentuk yang tidak seperti biasanya…

    *salam kenal😆 *

  7. chiw Says:

    postingan gak jelas dan gak penting banget!!!👿

    awas! undangannya ngga gw bikinin loh!😈

    *siyul siyul*

  8. qzink666 Says:

    # edy
    bukaaaan..😆
    *ngeles.com*

    # Arwa
    diaaaaam!!!! 69X
    *bungkam Gun*

    # dana
    namanya juga tulisan kacau, bro..😀

    # joyo (msh males login)
    saya merangkap jadi guru ngaji juga, bang..😆
    kieu-kieu ge dah “ngazina mah” pinter..😀

    # alex®

    Kenapa rupanya ndak nulis Nietzsche, bro?😕

    gak tau nih, lagi males mikir yang berat-berat..😆

    # Ambrose
    baru kali ini tulisan saya ada yang muji, heheheh..

    Ini ide tulisannya dapet darimana mas..?

    dari ngayal kalo gw jadi pengangguran dan dihidupi istri, bro..😛

    # chiw
    *mendadak pengen kawin sama Siwi*

  9. goldfriend Says:

    Bahkan Nietzsche pun bisa menunggu giliran.🙂

    Kok nggak diterusin cerpennya ? Lumayan tuh, awalnya saja sudah “menggoda”. Bisa jadi endingnya lebih “menggairahkan”.🙄

    Atau ini kisah nyata ?

  10. azaxs Says:

    jauh banget.. emang tukang sayur itu jadi langganan Nietzsche tah?😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: