Doctor Faust; Hitam dan Putih

Mei 19, 2008

Maaf, mungkin saja tulisan ini akan terkesan basbang, terlebih bagi para pewaris iblis semisal orang ini , ini dan ini.
Terbukti dari hasil bergaul dengan mereka-mereka inilah yang kemudian membuat saya jadi segila ini..
Semoga Alloh berkenan menurunkan hidayahnya dan menuntun domba-domba tersesat ini kembali ke jalan yg lurus.. Ameen..

kita mulai saja..
Doctor Johan Faustus, atau yg lebih dikenal dgn sebutan Dr. Faust adalah tokoh (dan konon historis punya inti kenyataannya) dalam cerita rakyat abad-abad pertengahan di wilayah yg sekarang disebut Jerman.

Beliau digambarkan sebagai cendikiawan yg haus ilmu dan serba gelisah, selalu ingin membuat hal-hal yg menakjubkan. Bagi umat saleh, ia merupakan personifikasi manusia sombong congkak hati yg ingin membuat menara Babel setinggi langit untuk menyamai Tuhan. Ia adalah Adam yg berhasrat makan dari “pohon pengetahuan baik dan buruk”. Artinya, wewenang Tuhan untuk menentukan baik dan buruk ingin diraih sendiri oleh Adam alias Doctor Faust yg menginginkan segala kemampuan dan pengetahuan membuat karya-karya hebat dan tentu saja serba baru.

Akhirnya dia bergumam, rela dikutuk abadi di neraka asalkan bisa tahu dan berbuat segala-galanya seperti iblis. Kontan si iblis, Mefistofeles namanya dalam dongeng itu, berdiri di hadapannya dan menawarkan kontrak tertulis dan ditanda tangani dengan darah: Faust akan memperoleh segala perbendaharaan pengetahuan dan kekuasaan iblis (yg menurut kepercayaan rakyat sangatlah pandai dan cerdik) dan, sebagai imbalannya, Mefistofeles akan membawa Faust ke neraka pada saat Faust meninggal dunia.

Tapi kemudian diceritakan bahwa keadaan berbalik, sang Doctor memutuskan untuk bertoubat. dengan di bantu malaikat, ia akhirnya mampu mengecoh Mefistofeles dan selamat.

Eit, tunggu dulu.. cerita di atas adalah cerita abad pertengahan disaat umat manusia masih begitu alim dan polos. Karena bertahun-tahun kemudian Goethe pun menulis cerita legenda Doctor Faust itu, tapi tentu saja dengan versi-nya sendiri. Berbeda dengan cerita abad pertengahan yang menggambarkan Doctor Faust sebagai perpanjangan tangan setan yang cocok jadi penghuni abadi neraka, Goethe mengangkat si Faust sebagai pahlawan umat manusia yang posternya pantas di pajang di belakang pintu kamar. Di tangan Goethe sang tokoh di sulap menjadi sosok ilmuwan ambisius yang menelurkan berbagai karya yang berguna bagi hidup manusia. Dia (sang Doctor) rela bersekutu dengan Mefistofeles demi mendapatkan pohon pengetahuan yang kelak bisa sangat berguna bagi umat manusia. dan memang terbukti, setelah bersekutu dengan Mefistofeles, kemudian sang ilmuwan jenius ini menelurkan berbagai karya yang luar biasa.

Pada puncaknya, setelah bertahun-tahun mendapat fasilitas dari Mefistofeles, rekening itu pun datang. Mefistofeles menagih janji Doctor Faust untuk menyerahkan dirinya sesuai dengan perjanjian yang dulu mereka sepakati bersama.

Sang Doctor yang sadar nyawanya terancam, meminta waktu pada Mefistofeles untuk pamit pada orang-orang yang ia kasihi sebelum sang iblis benar-benar membawanya. Sang iblis setuju dan memberikan dispensasi waktu padanya. Waktu yang sebentar itu ia gunakan untuk minta tolong kepada Tuhan agar ia diselamatkan dari sergapan Mefistofeles. Mengingat jasa-jasa Faust bagi peradaban manusia, Tuhan akhirnya mengabulkan permohonan sang Doctor dengan mengutus malaikat untuk mempecundangi Mefistofeles. berhasil… Sang iblis berhasil di pecundangi dan Doctor Faust pun selamat.

Aneh memang, segala sesuatu selalu berubah berbalikan..  Standar manusia mengenai baik dan buruk jadi tidak statik. Contoh lain adalah mengenai Barat dan Timur. Dulu nyonya-nyonya Belanda di zaman kolonial semacam punya buku pegangan yang ditulis oleh dokter-dokter mereka, bahwa jangan pernah sekali-kali membiarkan anak-anak mereka tidur dengan babu. Kenapa? Karena konon babu-babu itu menidurkan anak-anak dengan cara-cara yang tidak bisa dipercaya  dan membuat anak-anak Belanda jadi kehilangan keinosensannya, karena sang anak jadi suka merangsang organ seksnya sendiri. Mereka percaya bahwa budaya masturbasi ditularkan oleh anak-anak pribumi yang mengenal seks terlalu dini. Atau dengan kata lain, masturbasi adalah budaya daerah tropis.

Ketelanjangan juga dulu di Timur di anggap sebagai hal yang lumrah. Lihatlah album photo yang di buat oleh orang Jerman mengenai Bali, The Last Paradise. Di album itu banyak gambar yang mempertontonkan tubuh perempuan telanjang yang sedang mandi di pancuran.

Lihat juga buku Serat Centhini, disitu disamping pelajaran mengenai hidup, juga terdapat pelajaran seks yang di tuturkan seorang babu bernama Centhini dari hasil menguping (atau melihat?)  majikannya.

Anehnya sekarang keadaan itu berbalik. Sekarang kitalah yang mengutuk Barat karena moral seksnya yang amburadul. Padahal dulu orang Baratlah yang menganggap bahwa orang timurlah yang mengajari mereka tentang seks. Ah, betapa mereka dan kita berubah secara berlawanan ya…

Saya jadi teringat dengan seorang anak muda yang jalan-jalan ke mall dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana boxer. Celana boxer bagi orang Barat (dari yang saya lihat di film-film)  merupakan celana dalam. Bukankah itu artinya, bagi orang Barat, Anak muda itu jalan-jalan ke mall dengan hanya mengenakan celana dalam?? Betapa pemberaninya anak muda kita kan???

ps: kalo ternyata banyak data yang salah, silahkan protes.. toh ini hanya postingan mendadak di warnet  pada jam 12 malam setelah di surung-surung teman buat apdet blog..😀

21 Tanggapan to “Doctor Faust; Hitam dan Putih”

  1. qzink666 Says:

    kalo gitu saya keduax deh..😥
    *pengen bunuh orang*


  2. ah, saya jadi membayangkan kalo Mefistofeles jadi dosen saya…
    rela memberikan pohon pengetahuan atau apapun itu dan memberi dispensasi segala.

    tapi kok iblis geblek? bukankah dia paling tau dan pintar? harusnya dia bisa memprediksi bakalan terjadi seperti itu kan? wah…iblisnya patut dipertanyakan inih! payah!

    sebenernya keadaan bisa jadi nggak berbalik, Zink. bukan berbalik, maksutnya.
    karena pada dasarnya manusia itu tak mau disalahkan dan enaknya menyalahkan, terutama untuk hal hal yang terasa kurang ‘asik’

    mungkin lebih tepatnya beda standarisasi dan budaya aja.

  3. esensi Says:

    Mengawang-awang kemana gitu saat mbaca paragraf2 awal, eh taunya endingnya ke situ…

    [untung blum prnah pake kaos oblong ke mall]

    *nggluyur*

  4. qzink666 Says:

    @pacarnya G

    mungkin lebih tepatnya beda standarisasi dan budaya aja.

    Iya kali ya.. menurut kamu standar kita yg ketinggalan atau mereka yg menurunkan standarnya??

    @esensi
    iya nih agak gak nyambung..😛

  5. alex® Says:

    Bicara dikotomi Barat dan Timur, saya sering bingung sendiri, Zink…

    Karena sisi manapun memiliki cacat dan celanya masing-masing.

    Mungkin benar Timur “mengajari” Barat utk bugil2an. Tapi Barat kemudian mengekspor lagi budaya bugil-bugilan itu yang diracik bumbu yang lebih parah. Slogan Free Seks yang masuk Indonesia pada era 60-an dibalut dengan budaya pop ala The Beatles, misalnya, itu juga mengimpor sekalian drugs sejenis LSD lho.

    Saya memilih yang terbaik saja deh dalam hal sejarah peradaban begini. Melihat secara hitam dan putih cuma akan membuat mata saya buta warna:mrgreen:

    *bakar rokok*

  6. Goop Says:

    bukan hanya arah mata angin, apalah barat? apalah timur?
    *tengak-tengok bingung*😛

  7. Sobat Iblis Says:

    Untuk tau apa itu baik dan buruk, benar atau salah memang harus blajar ama iblis bro…,


  8. Lho.. Nulisnya kok alloh sich


  9. Lho…? Nulisnya kok alloh sich…?Yg benul itu Awlloh. Dasar orang sesat luw…

  10. goldfriend Says:

    Heh..?? Kisah klasik Faust dan Mefistofeles. Sudah lama saya nggak mendengarnya lagi.🙂 Kalau baca kisah ini (versi Goethe), saya jadi ingat slogan lama tapi baru yg berbunyi, “for the greater good”. Demi kebaikan yang lebih besar, bahkan iblis pun bisa ditipu.🙂

    Kalau soal ketelanjangan, menurut saya itu ada di semua budaya. Tubuh dan personifikasi tubuh adalah wujud dari hasrat. Tanpa mengenal Barat-Timur, Laki-laki – Perempuan, atau apapun juga. Usaha-usaha untuk meniadakannya justru adalah sebuah sikap hipokrit, apalagi mengalihkan “kesalahan” itu pada pihak lain.

    Ukuran baik dan buruk memang dinamis. Tapi yang lebih dinamis adalah aplikasinya. Perubahan jaman membuat aplikasi sebuah doktrin baik buruk [apalagi benar-salah] tidaklah sama dengan 1500 tahun yang lalu di sebuah negeri tandus.🙂

  11. nindityo Says:

    kaos oblong juga kaos dalam kok mas.. itu lho yang agak ngapret dan ada logo playboynya.. saya sering bingung kalo liat orang pake baju itu.
    tapi emang bener mas.. sekarang dah kebalik-balik dan kita cenderung dangkal berpikirnya dikiranya semua yang jahat berasal dari barat😀

  12. alex® Says:

    @ nindityo

    Ya. Itu susahnya. Baik dan jahat itu ada dimana-mana. Dimanapun. Tak bisa untuk di-kambinghitam-kan hanya pada satu titik saja. 😆


  13. Kamu kok pinter ngeseks mengarang cerita.
    Ajarin saya dooong….

  14. daengfattah Says:

    Menariknya tidak ada agama di situ.
    Oh ya, saudara sudah membaca The Adventure of Huckleberry Finn? Di situ di gambarkan tentang para budak negro yang sangat percaya pada sihir dan sebagainya hingga bisa di kelabui dengan mudah oleh finn dan tom sawyer.


  15. berlaku juga buat kita, dulu aku lebih kafir darimu, sekrang kafirmu gak ketulungan :))

  16. qzink666 Says:

    # alex®
    satu lagi, bro.. BH diimport dari Barat, tapi ketika ada orang kita goler-goler dipantai tanpa BH knp dianggap tiru-tiru londo? padahal kan jelas, londolah yang sebenarnya tiru-tiru kita..😛

    # Goop
    yaa.. Apalah kita..😀

    # Sobat Iblis
    berarti saya mesti belajar dari ente dunks, bro??:mrgreen:

    #Arwa
    dasar orang aneh..👿

    # goldfriend

    Demi kebaikan yang lebih besar, bahkan iblis pun bisa ditipu.🙂

    setubuh, bang.. meski dianggap perpanjangan neraka sekalipun..😀
    Lantas ketelanjangan jadi senantiasa bermakna mesum dan kehilangan sifat kepolosannya gara-gara apa ya, bang?

    # nindityo
    ya.. Kita telah berubah secara berlawanan..

    # alex®
    *mengamini Alex..*

    # Victim Of Adam Air
    sini.. sini.. les ke saya.. murah kok, bro..:mrgreen:

    # daengfattah
    belom, saya baru baca Tom Sawyer Anak Amerika doang..😀

    # joyo (masih males login)
    pan abang yang ngajarin..😀

  17. calonorangtenarsedunia Says:

    Tak tinggal sekian lama kenapa kamu jadi begini, Q?

    Tapi bukannya benar-salah, baik-buruk, memang senantiasa berubah?


  18. emang bener mas, saya aja belajar baik dan buruk langsung sama Iblis, sekarang pacaran pula..hehhe..

  19. daeng fattah Says:

    Somehow, iblis membunuh lebih sedikit orang daripada tuhan.

  20. qzink666 Says:

    *melongok*
    @Hana, stey dan Daeng Fattah
    *siyul-siyul*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: