Serat Kalathida: Eksistensialisme A la Jawa

April 12, 2008

ahyaning arda rubeda, Ki Pujangga amengerti, mesu cipta matiraga, mudhar waraning gaib, sasmitaning sakalir, ruweding sarwa pakewuh, wiwaling kang warana, dadi badaling Hyang Widdhi, amedharken paribawaning bawana.[1]

Syair tembang sinom diatas merupakan pembuka dari kitab sastra kuno Serat Kalathida karangan (R.Ng) Ranggawarsita (1728-1802 tj). Kalathida sendiri secara harfiah terdiri dari gabungan dua kata yaitu Kala yang artinya masa dan Tidha yang artinya samar, kabur atau tak menentu. Jadi bila dua kata itu di gabungkan maka Kalathida bermakna sebuah zaman yang samar, gagap, kabur, absurd dan tak menentu.

Ranggawarsita melalui karyanya inilah meramalkan bahwa akan datang satu periode masa yang jungkir balik dan tak menentu (dia menyebutnya sebagai “zaman edan atau zaman kalabendhu”) sebuah zaman dimana laki-laki akan seperti perempuan dan perempuan layaknya laki-laki, dimana sebuah janji dusta dimuntahkan, dan seribu topeng dikenakan, mayoritas manusia pun akan kehilangan eksistensialisme kemanusiaannya karena manusia lebih mementingkan untuk mengejar dimensi-dimensi keduniawian semata dan mengesampingkan dimensi spiritualitas kejiwaan. dan kita (kita?) seperti yang di ramalkan oleh serat itu

Amenangi zaman edan
Emoh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Ning yen tan melu
Boyan keduman melik
Kaliren wekasanipun
[2]

Dan kalau ditilik-tilik dari kekinian yang kita hadapi sekarang ini, apakah mungkin inilah zaman kalabendhu yang di ramalkan oleh Ki Ranggawarsita sebagai “bila tatanan berguncang, akan datang zaman kalabendhu” itu?

Terlepas dari benar tidaknya ramalan itu, menurut saya Serat Kalathida memiliki semacam semangat protes zaman, protes pada keadaan yang telah memporak-porandakan sendi kehidupan dan merampas kemanusiaan seorang manusia. Pada bagian ini Ki Ranggawarsita seperti sedang menguraikan sebuah absurditas kehidupan, ketak menentuan dan mengeksplorasi sisi eksistensialisme seorang manusia, sehingga dari sini manusia kemudian diharapkan menyadari bahwa dirinya adalah wakil jagat raya yang harus dan mau mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk teomorfis. Dengan begitu kemudian manusia-manusia itu pun menjelma sebagai manusia unggul. Manusia-manusia pilihan.
Dan ternyata, entah kebetulan atau memang kitab karangan ini beredar hingga ke Jerman dan Perancis, beberapa tahun kemudian pandangan Ki Ranggawarsita terntang humanisasi dan moralitas kehidupan ini diikuti pula oleh pemikir-pemikir modern di sana, sebut saja seperti Nietzche dengan uebermencsh dalam kotbah monumentalnya Zarathustra, atau Sartre lewat ensoi dan poursoi-nya, Camus lewat moralitas kehidupannya, bahkan Edmund Husserl dengan filsafat penomenologisnya dan banyak lagi.

Yang mungkin membedakan pandangan Ki Ranggawarsita dengan para filsuf Jerman dan Perancis di atas hanyalah terletak pada bagaimana cara penyelesaian mereka terhadap penomena yang mereka hadapi itu. jika Ranggawarsita (mungkin karena factor cultural) lebih menekankan pada sikap pasrah dan mendekatkan diri ke Tuhannya, maka berbeda jalan yang di tempuh oleh Nietzsche, Husserl, Camus dan Sartre (lagi-lagi mungkin karena factor cultural juga). Para filsuf itu lebih memilih bersikap memberontak pada tatanan yang membelenggu eksistensi kemanusiaan mereka.

“Eksistensialisme a la Ranggawarsita termanipestasi dalam penyerahan total dan mutlak pada eksistensi Tuhannya”, demikian kata Supaat I. Latief, “sehingga eksistensinya sendiri (eksistensi pribadi) kehilangan sebuah kemungkinan.” Dengan begitu, eksistensi seperti ini merupakan eksistensi kebebasan yang telah dicabut dari posibilitasnya untuk dapat mengubah tatanan. Sikap pasrah Ranggawarsita ini dapat kita saksikan lewat syair yang beliau tulis di salah satu bab serat Kalathida di bawah ini:

Sageda sabar santosa, mati sajeroning ngurip, kaling ing reh aruara, murka angkara sumingkir, tarlen meleng malatsih, sanityasa tyas mamasuh, badharing sapudhendha, antuk mayar sawatawis, borang angga suwarga mesi martaya.[3]

Meskipun begitu, sikap pasrah pada eksistensi Tuhan yang di ajarkan oleh syair di atas tentu saja tidak serta merta mengharuskan manusia dalam mencapai kesucian harus meninggalkan segala tetek bengek keduniawian mereka dan ngejogrog namru di tempat-tempat sunyi dan jauh dari orang-orang di sekitarnya seperti kain pel yang habis di pakai. Seorang manusia, boleh-boleh saja berada di tempat keramaian, selama ia tidak terganggu dan tetap punya kesempatan untuk merenung dan kontemplasi pada permasalahan eksistensialis. Sendiri dalam keramaian. Mati sajeroning ngurip. Iwak rak melu asin senajan urip ning segoro. Dengan demikian, pada akhirnya dari laku lampah yang ia jalani itu diharapkan sang manusia dapat memberi makna dan nilai terhadap kehidupan di sekitarnya, ditengah keong sak kenong matane, tikus-tikus pada ngidung lan kucing gering kang njagani.

Kalau sudah begitu, pada tingkat selanjutnya barulah sang manusia boleh meneruskan perjalanannya menuju dunia transenden untuk kemudian menjadi soko guru atau pandhito ratu yang mumpuni untuk memberikan contoh tauladan dan nasihat pada manusia-manusia disekitarnya..
.

.

.

.

04.54 subuh
warnet depan Rumah Sakit Sumber Waras, Cirebon.
untuk RELA BILLA BAGI yang tak sempat menikmati hangat mentari..
maafkan kami tak mampu menjagamu.
selamat jalan, nak…

12 Tanggapan to “Serat Kalathida: Eksistensialisme A la Jawa”

  1. qzink666 Says:

    Untuk entry kali ini saja, tolong jangan OOT yak..
    -terima kasih-

  2. edy Says:

    semakin bijak menghadapi kehidupan
    semua ada hikmahnya, bro🙂

  3. goop Says:

    mati sajeroning urip😀
    sebuah konsep yang, ah bagaimana ya… *speechless*
    oya, dan entah kenapa, barangkali karena kultur juga, apa yang dikatakan kalatidha lebih akrab, dekat, seperti karib. Bukan berarti nietchze, sartre dan yang lain omong kosong, tapi barangkali saya saja yang tidak sampai.
    Eksistensialisme manusia, bagaimana sih itu? mewujud? ada? atau yang lain kah?
    dan untuk ponakan dik doang, semoga bisa “lebih ceria” di sana
    dia bercengkerama, menari, dalam kelindan bunga-bunga surga, saya percaya
    -amien-

  4. Arwa Says:

    urusan ramal-meramal itu tidak selalu hak monopoli dukun dan paranormal aja toh.😆 . Menurutku sepertinya beda antara meramal dan menyaksikan, walaupun saya tidak bisa menjelaskan dimana letak perbedaannya. :D:

    Hmm.. *mikir rada serius*
    Kalau menurut saya proses pencarian jati diri memang sudah semestinya berawal dari pengenalan eksistensi diri. Dan hal ini sangat rumit lho broo …, kalau grasa-grusu dan ndak sabaran bisa terancam stress , sinting atau lebih mempercepat mangsup ke liang kubur😆

    Mangkanya jalan aksi jauh lebih realistis di banding dengan jalan pengetahuan.

    Kenapa…?

    Ya.. karena jalan aksi lebih membumi, simpel dan aplikatif jauh dari kesan delusif, terkecuali kalau benar-benar serius bertekad menjadi seorang pemikir (filosof) maka tempuhlah jalan pengetahuan, toh nanti pun pasti akan ketemu di titik yang sama.

    Sikap pasrah itu bagus tapi yang bagaimana dulu ..? jangan langsung meloncat ke arah “mati sajeroning urip” bisa salah kaprah bro… !

    Seseorang tidak akan mendapatkan kebebasan dengan menelantarkan pekerjaannya, juga seseorang tidak akan mendapatkan kesempurnaan dengan hanya berpasrah diri.

    konsep “mati sajeroning urip” adalah buah dari proses yang teramat panjang tapi bukan proses itu sendiri. Dan bisa jadi seseorang tidak bisa mencapai state seperti itu meskipun telah berusaha dengan cara ekstrim sekalipun.

    “mati sajeroning urip” VS “will to Power”…. pilih mana…. ? :mrgreen:

    Kalau saya dengan tegas memilih “will to Power”👿

    kenapa…. ?

    karena konsepnya jelas.
    menurut versiku sendiri “will to Power” lebih sederhananya adalah :

    ingin + tak ingin =WILL
    daya tahan + kekuatan = POWER

    sederhana kan.. ?

    to be continued ….. 😆

  5. Dimas Says:

    jadi pengen bisa nembang…

  6. Chiw Says:

    Zink… Tuhan atau siapapun yang kau percayai itu, sepertinya memang belum bisa mempercayaimu. Dan aku rasa, itulah yang terbaik.

    mohon maaf, bukan mau menambah kesedihanmu, ReLa BiLLa Bagi mungkin akan sangat bahagia di sana. aku yakin.

    yang penting sekarang, lanjutkan kehidupanmu yang sempat terhenti.
    masih banyak yang harus kau sesali kawan…

  7. azaxs Says:

    Postingan yang dalam dan menarik mas Qzink,

    Jika kita telisik, derab pemikiran filosofi jawa kuno yang mengakar di kehidupan kejawen ternyata tidak kalah seru dibandingkan pemikiran filsuf modern jerman ataupun prancis.

    Kita mengenal filsafat Idealisme di Perancis, Pragmatisme di amerika dsb mempunyai ciri khusus dan sedikit banyak dijumpai di tatanan masyarakat mereka..dan semuanya berawal dari faktor cultural. Saya setuju ketika anda mengatakan Nietzshe dan para filsuf modern lebih memilih bersikap memberontak pada tatanan yang membelenggu eksistensi kemanusiaan sedangkan pujangga jawa Ki Ranggawarsita lebih menekankan pada sikap pasrah dan mendekatkan diri ke Tuhan dimungkinkan karena factor cultural.

    Hal yang kadang saya pertanyakan sendiri, dalam konteks historis, sebenarnya apakah yang membuat dan membentuk pola berpikir bangsa kita ini, jika melihat realita jaman sekarang ko’ sepertinya terlalu lambat jika dibandingkan yang lain. Bukankah dulunya derab filosofi kita juga sangat maju?

    Yah, kadang orang mengatakan filsafat hanya akan membuat orang gila dan pesimis, tapi nyatanya filsafat pulalah yang mampu membentuk kepribadian suatu bangsa.

  8. stey Says:

    Aslinya saya mau baca postingan ini, cuma karena udah ditunggu jemputan, saya skip dulu ya mas..
    *kabur*

  9. gentole Says:

    @qzink

    Menarik.

    Bisa dijelaskan lagi mas, di mana letak eksistensialismenya? Apakah pada penemuan absurditas kehidupan dan lenyapnya tatanan moralitas, ataukah pada pemberontakan terhadap absurditas itu?

    Seperti apa konsep eksistensi manusia Ranggawarsito? Kalo pasrah pada Tuhan, apakah ada kesamaan dengan Kierkegaard atau Jasper?

    Gak ngerti boso jowo.😦

  10. Bagindo Says:

    penuaan itu alami, kok…
    karena manusia tidak akan pernah mampu menaklukkan waktu…

  11. esensi Says:

    Tapi kok saya melihatnya bukan sebagai representasi orang Jawa keseluruhan ya, Zink? Ada komentar?

  12. sitijenang Says:

    kayaknya pesannya supaya mencapai pencerahan rohani dulu, baru kemudian menjalani peran masing-masing dalam hidup. supaya gak nabrak-nabrak akibat ketidaktahuannya. kalo dalam spiritualisme jawa (setahu saya), ketika manusia menyadari tentang ketidakberkuasaannya (terhadap hukum alam/Tuhan) justru dianggap telah menguasai dirinya. dengan begitu diharapkan mampu membaca sinyal, arahan, atau tanda alam (/Tuhan) dan menyelaraskan diri dengannya. lebur dening pangastuti… *haiyah*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: