Archive for Maret 27th, 2008

Jihad; Manifestasi Dari Moral Budak

Maret 27, 2008

dalam agama, manusia sebagai mahluk agung dan indefinitif dibikin beku dan kerdil di hadapan Tuhan. dengan dalih dosa awal, manusia telah tersulap menjadi sekedar kawanan domba bermahkotakan moral budak, yang di dalamnya kemunafikan dan kepalsuan terayomi.

-Friedrich Nietzsche-

 

Ada begitu berjubel perilaku manusia-manusia di abad millennium ketiga ini yang membutuhkan banyaknya perenungan. Sebuah proyeksi masa depan di mana harapan dan ketidak pastian saling menelikung satu sama lain, tapi dilain saat kadang malah berjalan beriringan manusia global merumuskan moralitas baru demi dunia yang lebih layak untuk ditinggali, tapi di lain pihak, dekadensi moral dan agama semakin menampakkan wujudnya yang begitu mencekam. Bom bunuh diri yang tersaji di depan hidung, terorisme, dan pembunuhan masal atas nama agama dan Tuhan semakin hari semakin tak ternalar. Tuhan yang begitu kuat di kerdilkan oleh hambanya sendiri sebagai sesuatu yang patut di bela mati-matian. Saya melipir. Bahkan dalam konteks yang sederhana seperti poligami pun saya tidak pernah setuju, karena menurut saya lebih baik menyakiti Tuhan yang jelas-jelas maha kuat dengan melakukan perselingkuhan, melacur dan bahkan masturbasi, daripada harus berpoligami yang berarti menyakiti hati makhluk lemah yang dalam hal ini tentu saja sang istri. Selingkuh yang saya maksud disini tentu bukan perselingkuhan yang melibatkan hati, melainkan perselingkuhan yang Cuma memakai penis dan bukan perasaan. Sex after lunch. Tak ada yang tertunduk dan menunduk. Jadi, kalau untuk sekala kecil saja nalar dan moralitas saya sebagai manusia tak dapat menerimah, apatah lagi untuk skala besar yang melibatkan begitu banyak nyawa manusia.

Pendeknya, kenapa saya lebih banyak mengamini pemikiran Nietzsche yang ateis itu ketimbang agama adalah karena Nietzsche menawarkan suatu moralitas yang lebih. Memang, ada beberapa orang yang menarik kesimpulan dengan serampangan, bahwa kelakuan umat beragama yang suka menteror, bermain bom, menculik dan bersikap barbar itu tak berbeda dari kaum Nietzschean dengan will to powernya (kehendak untuk berkuasa). Pandangan ini jelas keliru dan menyesatkan. Sang berucap jelas tidak memahami konteks yang di hadapi. Jelas ada perbedaan antara kelakuan orang-orang beragama diatas dengan konsep yang disodorkan Nietzsche lewat will to powernya. Sang pembunuh Tuhan ini jelas-jelas mengangkat martabat manusia dengan menempatkan manusia sebagai titik tertinggi. Ada semacam pengagungan moralitas tuan dalam pandangan Nietzsche ini. Dalam Will to Power terkandung suatu ketegaran hati dan mengutuk kelemahan moralitas budak. Ini di tandaskan oleh Nietzsche sendiri lewat idiomnya bahwa hidup adalah perjuangan. Singkatnya, Will to Power adalah sebuah logika kekuasaan yang mendasarkan manusia sebagai titik berbangkit.

Sementara yang terjadi dengan para penjihad sendiri adalah bahwa kelakuan <si kucing garong> mereka semacam pengejewantahan dari kekerdilan hati dan moralitas budak Sebuah sublimasi dari dekadensi moral yang sekaligus juga menempatkan dirinya sebagai musuh kemanusiaan. Sekarang jernih kau lihat, pada tindak-tanduk siapa moral memihak.

Dan sebagai penutup, saya kutipkan quote dari Dr. Singkop Boas Boangmanalau, MA:

Dalam sejarahnya, agama membutuhkan tekanan agar senantiasa terjaga, dan terjebak dalam ignoransi penggembalaan. Apa yang enggan di sentuh agama di bongkar secara radikal. Banalisasi dunia transcendental yang menjadi kegemaran Nietzsche, tak urung membuat agama kaget dan dipaksa mawas diri..

 

 

ps:

artikel ini di post langsung dari microsoft word, jadi soir kalo kecik nian.

Iklan