Pengacau atau Pejuang?

Februari 28, 2008

Seorang filosof tidak mampu membedakan antara “pejuang yang kepala batu dengan pengacau yang gigih” karena eksistensialis berpandangan bahwa pejuang adalah pengacau yang menang dan pengacau adalah pejuang yang kalah..

Ada yang pernah mendengar kalimat di atas??
Hwakakakak… Saya mendapat kalimat ini dari guru spiritual saya. Beliau menampar saya dengan kalimat ini tepat ketika saya sedang berusaha mati-matian mempertahankan harga diri bahwa bentuk terbaik manusia adalah berjuang..
Ya betul, tentu saja waktu itu konteks yang diangkat adalah tentang kekeras kepalaan saya atas perempuan sial dunia akherat itu..

Hwakakakak.. Anda setuju dengan kalimat di atas??
Jujur, saya pribadi baru bisa menerima kalimat itu setelah saya endapkan terlebih dahulu di tempurung kepala saya selama tiga hari. Pada mulanya egoisitas saya sebagai binatang yang berpikir ogah menerima kenyataan ini. Tapi ketika kemudian saya menempatkan kalimat diatas pada posisi binatang-tua-berakal-dan-selalu-berkaca-mata-rayben-sebagai-bapak-si-betina-laknat itu, ego saya tiba-tiba luruh..
Saya benar-benar terlihat sebagai pengacau yang mellow dan begitu mementingkan penyaluran libido gigih. Saya bisa merasakan bahwa betapa waktu itu saya begitu menyebalkan luar biasa.
Orang tua berkaca mata itu kok bisa yah nggak membunuh orang yang begitu menyebalkan macam saya?? Tiga tahun lho..

Tapi ya sudahlah, paling nggak sekarang saya tahu satu hal bahwa saya (harus) tidak mengakui adanya kebebasan mutlak dan hanya mengakui kebebasan relatif dalam artian kekuasaan (dan atau penguasaan) untuk berbuat sesuatu, sehingga tuntutan kebebasan sama artinya dengan tuntutan akan kekuasaan, baik yang telah dimiliki maupun yang akan diperjuangkan.

Bingung?? Sama..😛
gini lho.. Meski saya kemudian harus mengakui bahwa aktifitas saya ngejar-ngejar dan menyetubuhi anaknya itu ternyata memang menyebalkan, bukan serta merta saya lantas berbaik hati meminta maaf, kan?

Toh ini bukan dosa yang semata-mata kesalahan saya sepenuhnya. Lagi pula, sebagai seorang eksistensialis amatir, saya sudah menyelesaikan tugas saya bahwa saya telah berhasil menemukan kenyataan esensi dari peristiwa tersebut. Dan saya kira itu sudah lebih dari cukup..

Bukankah ketika kita mempertanyakan “apa itu?” hakikatnya sama dengan mempertanyakan kenyataan esensinya? Tapi akan lain soal, kalau kemudian setelah saya mengetahui ‘apa sesuatu itu’ saya masih juga bertanya ‘apakah sesuatu itu penting?’ Lha, ini kan sudah tidak ada kaitannya lagi dengan urusan saya tentang faktor esensi saya perihal peristiwa di atas.

Terus setelah mengetahui esensi dari semuanya, lantas langkah apa yang kemudian saya ambil?
Jawabannya adalah.. LARI!!!
Yupe, saya tak perlu minta maaf, tapi juga tak mungkin bertahan dalam situasi yang sama sekali tidak menguntungkan itu. Lha, inikan semacam krisis hidup. Dan eksistensi saya sebagai manusia pun menampakan dirinya begitu saya bersitatap dengan krisis hidup (sebesar atau sekecil apapun itu).

Menurut Kierkegaard, ada saat-saat tertentu eksistensi pun bisa berubah bentuk dan dapat mereduksi rasionalitas yang kita pegang kuat-kuat. Pendek kata, menurut Kierkegaard, eksistensi (pada kasus tertentu) bukanlah sesuatu yang rasional yang dapat dipikirkan oleh intelek rasio kita, tetapi sesuatu yang di alami atau di temui atau cara kita memberi arti kepada hidup ini. Dan pada saat berhadapan satu lawan satu dengan krisis hidup, bisa saja sang eksistensi tersebut menampakan diri sebagai substansi yang mengambil ruang, yang disebut dengan en-soi ataukah suatu substansi yang berkesadaran, yaitu pour-soi a la Sartre, sehingga akan menentukan eksistensi kesadaran pribadinya.
Pada saat mengalami peristiwa krisis manusia dapat lari, karena keterbatasan kemampuannya, ke dunia transendental sehingga kemudian bersifat religius seperti yang di ajarkan oleh Kierkegaard. Tapi karena saya penganut si atheist Nietzsche dan Sartre yang memandang hidup sebagai “the contingency, irrationality and superfluity of all particular existencies”, maka saya lebih suka lari ke dunia substansi yang mengambil ruang dalam segala bentuk dan substansinya..

Dan oleh karenanya, dengan berat hati saya harus mengakui kebenaran kata-kata ibu liberal ini bahwa cinta bukanlah produk dari logika..
Cinta (yang benar-benar cinta) tidak lahir dari rahim rasionalitas.. huh!!

Ps.
Kalo sedikit aneh dan ngawur, maklumin aja..
Ini postingan menjelang masturbasi subuh..😛

maka bagi yang tidak puas dengan pembelaan saya ini, silahkan cari kepuasan di tempat lain..😀
he??

31 Tanggapan to “Pengacau atau Pejuang?”

  1. qzink666 Says:

    Membela diri??
    Tentu saja..
    Inikan persoalan selangkangan kesadaran, heh…
    *celingukan gag jelas*

  2. qzink666 Says:

    Bagi yang percaya cinta itu produk dari rasionalitas, mau digampar, he??😀

  3. qzink666 Says:

    Dan karena hampir sangat sulit menemukan space untuk hetrik.. Bagaimana kalo saya hetrik di rumah sendiri, he??

  4. Arwa Says:

    Cinta…..Oh….Cinta…Wakakakkak……

  5. qzink666 Says:

    @Arwa
    tapi sekarang gak mellow lagi kan, bro..😀

  6. Arwa Says:

    nietzsche bisa bangkit dari kubur kalau ada umatnya yg melow bro…..Wakakakakkak

  7. qzink666 Says:

    Tzah..😀
    malah lebih bagus, kan..
    Kau bisa ketemu dengan nabi akhir zaman itu..:mrgreen:

  8. tukangkopi Says:

    owalaaahhh…anak orang kok dikejar-kejar. emang maling apa dia? maling hati? kikikikik…:mrgreen:
    gw juga sepertinya dah pernah bikin tulisan tersirat tentang cinta yang bukan produk logika.
    emang logika apa yang membuatmu merasa harus mendapatkan wanita itu, Zink?😆

  9. joyo Says:

    lha gak jadi bunuh2an to?! saya sudah ngasah pedang ni😀
    *malacur lagi*

  10. qzink666 Says:

    @tukangkopi
    pokoke cinta bukan produk logika..😀
    selebihnya; no coment..

    @joyo
    ini bukan tentang agama, jadi gak ada bunuh-bunuhan, bro..
    *ngintip joyo melacur*

  11. nne Says:

    yah,cinta emang bukan produk logika. liat aja orang yg lagi jatuh cinta,,mana ada yg pake logika.

  12. qzink666 Says:

    @nne
    benul..
    Meski sekarang saya tidak lagi jatoh cinta lho ya.. hikz..

  13. eMina Says:

    Sesungguhnya, energi cinta itu amat kuat bukan? Dia bisa berpengaruh pada pola pikir dan sikap seseorang.

    Karena cinta, kita bisa menjadi lebih baik atau bisa juga kehilangan akal sehat. Makanya, meskipun dikatakan bahwa cinta bukan produk rasionalitas, kita bisa menjadikannya tetap berpijak pada rasionalitas yang sehat dengan manajemen yang baik.

    Hm, klo udah jatuh cinta pada seseorang, saya malah bisa jatuh cinta pada orang paling aneh di dunia sekalipun, padahal menurut logika itu sebenarnya engga baik. Tapi menghapusnya tentu saja sulit. Tapi itu akan baik –baik aja dengan manajemen dan kualitas spiritual yang baik pula.

    Doh, mina jadi ingat lagi orang ituh…👿

  14. eMina Says:

    lapor.
    saya mau mengacau di sini !:mrgreen:

  15. qzink666 Says:

    @eMina
    aihh.. Pagi-pagi saya udah dapat komentar yang suejuk tenan..
    Tak percuma saya mengidolakan anda, hehehe…

    Silahkan mengacau.. Anggaplah ini bonus atas kebijaksanaan mbak Mina menulis komen sejuk diatas..😀

  16. eMina Says:

    termyata ada penunggunya😯

    tapi, anda perlu tau juga -terutama di postingan terbaru saya.
    saya ga patut di idolakan sebab komentar saya ternyata kadang menyebalkan orang lain.
    Makanya mina mohon maaf apabila di sini pun pernah tejadi hal seperti itu.. ^_^

  17. qzink666 Says:

    tzah.. Mbak kenapa?? Syndrome tanggal tua ataukah PMS??
    Nyante aja lagi, mbak.. Saya juga kan sering nyampah di blog mbak..

  18. tehaha Says:

    saya puas koq mas ma postingan ini…
    rasional, dan ulasannya tajam..😛

  19. qzink666 Says:

    Terimakasih.. Terimakasih..😀
    *tersandung*


  20. Om… Mau beli cinta kiloan ngga??? buat Camer Om tuh:mrgreen:
    Mentang2 masih februari.. ngomongnya cinta mulu….

    Nb: Butuh bantuan nyari istri barukah???😆

  21. fauzansigma Says:

    bertoeri tentang teori

  22. eMina Says:

    –qzink—
    Ahaha..terima kasih telah mengidolakan saya, walau tak pantas😀
    Jadi bisa dimulai membuat fans club? 8)

    *dilempar*:mrgreen:

    Ah iya, poin penting nya belum saya komentari.
    Mengenai apakah anda itu pengacau atau pejuang.
    Kalau bagi saya sih, kemenangan atau kekalahan tidak begitu penting dibandingkan perjuangan dan usahanya. Kalau tidak berusaha, itu berarti kita benar –benar kalah telak.

    Nah, tapi, usaha yang bagaimana? Jangan –jangan malah menyimpang menjadi kenekatan dan tidak menerima kenyataan sehingga perjuangannya terkesan dipaksakan. Itu karena kita terlalu banyak menuntut. Kita ingin dia begini, begitu. kenyataan yang dialami harus begini dan begitu, sesuai dengan keinginan kita. Dan kita tidak siap apabila menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

    Sebenarnya, apa sih cinta itu?
    Kekuatan untuk memberi, iya kan? Memberi dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan yang sama.
    Jika kita mencintai seseorang, lalu kita merasa bahwa kita telah memberikan semuanya demi dia dan kita berharap dia pun melakukan hal yang sama. Lalu, pada saat itu tak terjadi, kita menyalahkan dia dan mencacinya habis –habisan.

    Ah, apakah itu yang namanya mencintai? Apakah jika kita memberi, orang yang kita beri pun harus memberi juga pada kita? Berarti kita tidak tulus dong.

    Dalam konteks cinta, apapun namanya, jika cinta kita tak tersampaikan pada seseorang, memang sedih dan berat rasanya. Tapi, apalah lantas kita terus meratap dan menyalahkan karena kita merasa harus ada orang yang disalahkan?

    Tak apa –apa merasa hancur dan sedih. Tapi, jika anda seorang pejuang dan pecinta sejati, niscaya anda akan bisa bangkit dari keterpurukan itu dan menerima dengan lapang dada, bahwa itu lah yang terbaik, dan bahwa kita tak pernah rugi karena mencintai seseorang.

    Kita tak pernah rugi karena mencintai seseorang. Justru kita menjadi pemenang.

    Jadi, ada dimanakah anda sekarang? Pejuang atau pengacau? Saya percaya, anda tahu sendiri jawabannya.

    maap komen kepanjangan ^_^

  23. Ina Says:

    Berniat penjadi penjajah cinta???

    *ngeloyor pergi*

  24. indra1082 Says:

    Aku termasuk mana ya???
    Pengacau or Pejuang??
    Pejuang yang sering mengacau..hehehehe

  25. calonorangtenarsedunia Says:

    *kesummon*

    Akhirnya kau mengakuinyah!! Yes!!
    Aplaus buat saya!

    *tepok tangan sendiri*

    Lebih baik jadi pejuang yang menang kan, Bro?

  26. jumawa Says:

    gak ngerti bahasanya…

    sebagai sesama fans nietzsche…

    kata kata “selamat berjuang” udah telat belom kalo diucapin sekarang?

  27. Moerz Says:

    mau onani kok sempet2nya posting…

    ya ampun…


  28. tapi udah berhasilkan menyetubuhinya👿

  29. Pyrrho Says:

    Aha, kalau saya ambil contoh Che Guevara dan Simon Bolivar (dlm konteks Amerika Latin) memang dikotomi pejuang-pengacau itu jadi kenyataan.🙂

    Pada saat mengalami peristiwa krisis manusia dapat lari, karena keterbatasan kemampuannya, ke dunia transendental sehingga kemudian bersifat religius seperti yang di ajarkan oleh Kierkegaard. Tapi karena saya penganut si atheist Nietzsche dan Sartre yang memandang hidup sebagai “the contingency, irrationality and superfluity of all particular existencies”, maka saya lebih suka lari ke dunia substansi yang mengambil ruang dalam segala bentuk dan substansinya..

    Kamu masih mending bisa lari ke satu tujuan tertentu. Terkadang saya sendiri suka lari pada kenyataan yang lain, yang sering dibicarakan Jaspers. Tidak jelas lari kemana, tidak tahu berpijak dimana, tidak bisa menentukan dimana dia berada, dan apakah hidup yang berkesadaran dan bereksistensi pun tak tahu seperti apa.🙂

    Mungkin saya lagi krisis paruh baya. Atau jangan-jangan PMS.:mrgreen: Atau saya perlu melacur ?

    Wakakakakak….

    Cinta (yang benar-benar cinta) tidak lahir dari rahim rasionalitas.. huh!!

    Tul-betul. Cinta tidak beranak-beribu. Seperti yang saya pernah katakan pada teman saya : Kalau kamu mengatakan “gila” dan berempati pada pembantaian jutaan orang selama PD 2, apakah “gila” dan empati itu timbul dari logikamu yang sebelumnya kamu pikirkan terlebih dahulu ?

    Yang jelas, cinta mungkin punya rahim, dan beranak pinak seperti makhluk hidup lain. Tapi keturunannya tetap namanya cinta.🙂 Bapaknya cinta, ibunya cinta, anak cucunya cinta, tetangganya juga cinta.

    Rasionalitas ? Logika ?

    Mungkin di dunia paralel.:mrgreen:

    *makin ngelantur*

  30. qzink666 Says:

    @Pyrrho

    *paksa om Fertob ikutan melacur*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: