Pulang

Februari 17, 2008

Dalam temaram lampu bus malam yang saya tumpangi, saya duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Saya yakin, kalau dilihat dari parasnya, usia kami paling hanya terpaut sekitar dua tahun lebih.. Dia cantik dalam balutan jeans, sweater dan syal yang melilit lehernya. Aroma parfumnya yang lembut membuat saya merasa nyaman duduk disebelahnya.

“Boleh saya tahu siapa namamu?” Perempuan itu membuka percakapan. Saya tergagap karena sedari tadi sedang asyik menyusun puzzle yang berserakan memenuhi kepala. Bertanya dan mempertanyakan.
“Qiu Jiang.. Tapi keluargaku biasa memanggilku Kiki. Kau pun bisa memanggilku begitu.” Ucapku beberapa detik setelah mampu menguasai keadaan.
“Hmmm, oke. Kenalkan, saya Rina.” Katanya sambil menjulurkan tangan. Saya menyambut uluran tangannya. Kami berjabat.

“Kau tampak begitu berduka,” Katanya menebak sambil menatap mata saya. Segera saya buru-buru menoleh keluar lewat jendela bus.
Di sana rumah-rumah samar tertangkap, berkejaran dalam kegelapan malam yang diremangi kilatan-kilatan lampu. Bus memang sangat cepat melaju, sopir mengejar target.
“Maaf,”katanya seperti menyesal, “Kau barusan mengunjungi saudaramu?”
“Ya,” Jawabku sekenanya. “Saya baru mengunjungi seorang kawan. Kasihan sekali dia.”

“Kenapa?”
“Pacarnya,” Saya menarik nafas, “Dia baru sadar kalo selama 3 tahun kebelakang ternyata dia berpacaran dengan orang yang sama sekali tidak sebaik yang dia kira. Sekarang pacarnya menikah dengan orang lain. Dia shock. Dia merasa tolol karena tidak mendengarkan nasihat teman-teman dan orang tuanya.”
“Lho??”
“Ya, sebelum memutuskan untuk berpacaran dengan perempuan itu, orang tua dan kawan-kawannya menasehati dia kalau perempuan itu tidak sebaik yang dia kira. Tapi kawan saya itu tidak menggubris. Dia pikir orang tua dan teman-temannya sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya.”
“Dan sekarang kawanmu itu sadar kalo orang tua dan teman-temannya benar?”
“Begitulah. Tapi dia terlambat menyadarinya. Andai ia sadar itu sejak dulu.”
“Dan sekarang kawanmu menyesal?”
“Tidak. Kawan saya sama sekali tidak menyesal, malah merasa punya pengalaman baru, meski terasa begitu pahit.”
“Pengalaman??”
“Ya. Setidaknya pengalaman soal memilih. Sekarang dia sadar kalau ternyata perempuan sama saja.”
“Tidak. Tidak semua perempuan seperti itu. Diluar sana terlalu banyak perempuan setia yang mau menerima lelaki apa adanya.”

Saya tak menyangkal, tapi juga tak mengiyakan. Saya diam saja.
“Kamu lelaki kuat. Saya bangga berkenalan denganmu. Kau bisa bangkit secepat itu.” Ucapnya kemudian, sambil menepuk pundak saya, “Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Aku bersyukur meski agak terlambat, kau sekarang telah memahami siapa pacarmu itu.”
“Saya??”
“Ya.. Saya tahu tadi kau sedang membicarakan dirimu sendiri. Saya bisa merasakan perasaanmu.”

Saya kembali terdiam. Tak tahu mesti ngomong apa lagi..
“Kamu punya mimpi yang indah,” Ucapnya kemudian, ” yang berkilauan menerangi masa depanmu. Lupakan dia dan kejar mimpimu.”
“Terimakasih..”
“Sekarang apa rencanamu setelah ini??”
“Pulang ke Palembang. Saya ingin minta maaf pada ayah dan bunda, karena sudah tak mendengar nasihatnya..”

******

ps:

  • Tulisan ini hanya hasil imajinasi liar seorang lelaki kesepian yang gak merokok.
  • Tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi penulisnya.
  • Ditulis dalam perjalanan pulang dari […] menuju Cirebon, menggunakan opera mini hp jadul milik saya.
  • Kalau ada yang tetap ngotot menganggap ini sebagai kisah hidup saya, maka tak segan-segan akan saya bunuh.
  • Ini akan menjadi post terakhir saya tentang cinta yang termehe-mehe, tapi gak tau juga sih.. Jadi silahkan nikmati sepuas yang anda mampu.
  • Demikianlah

-up-
*pergi melacur*

19 Tanggapan to “Pulang”

  1. qzink666 Says:

    Masih ngomongin cinta, zink?? Kan plentin udah lewat..πŸ˜€

  2. qzink666 Says:

    @qzink666
    biariiin..
    Bosen tauk, ngomongin Tuhan terus..
    Lagian ini kan blog saya, bebas dunks saya mau nulis apa aja yang saya suka..πŸ˜€

  3. qzink666 Says:

    @qzink666
    dasar gemblung.. Komeng sendiri di jawab sendiri.. Bosen ya mas jadi orang waras??:mrgreen:

  4. regsa Says:

    dasar remaja yang diomongin cinta mlulu..

    *ngikut melacur *

  5. qzink666 Says:

    @regsa
    he?? Lelaki berumur mendekati angka 27 kau bilang remaja??

    @Andrew Andandhika Wijaya
    hush.. Itu bukan saya, tauk….

  6. danalingga Says:

    Katanya nggan ada hubungan dengan penulisnya, tapi kok mirip kisah penulisnya ya?πŸ˜†

  7. qzink666 Says:

    @danalingga
    *mencatat nama om Dana di buku kecil*
    *menunggu calon mayat berikutnya*

  8. bedh Says:

    makin jago ni bikin cerpenn ya
    salutt…..

    ditunggu cerpen2 berikutnyaπŸ˜€

    comment standar banget yah…………..
    huhuhuhuhuhu

  9. bsw Says:

    Begitu saya baca ttg duduk bersebelahan dengan wanita yang cantik yang kemudian memulai percakapan, saya langsung tahu ini pastilah cerita fiktif…….
    Wanita cantik duduk disebelah dan memulai percakapan duluan…. Ini kayanya cocok untuk prolog film Kuntilanak atau Sundel Bolong deh……πŸ™‚ Sorry (kebanyakan nonton Sponge Bob soalnya)

  10. eMina Says:

    selamat datang, Kiki ^_^

  11. tukangkopi Says:

    memangnya ada masalah kalo nulis soal cinta??πŸ™„

  12. celo =3 Says:

    iya kok percaya ini bukan kamu….πŸ™„

    *oohhh… kiki ya…???*

  13. joyo Says:

    ngarang abis!!!, mana ada ce di bis minta kenalan sama kamu bro, noleh pun engganπŸ˜€

    *ngacir…*

  14. Ina Says:

    untung aja bukan kenyataan,kl nga apes banget si cewek itu.
    kenalan ama bfh.. *dibekap*
    πŸ˜€

  15. maskulin Says:

    saya tau.. saya tau.. nama cewek itu adalah kiki
    nah yang cowok namanya budi *mekso*

    *kaburrrrr*

  16. tuanrumahygkatanyamellow Says:

    @semuanya

    SAYA BUKAN KIKI, TAUK…πŸ™„
    *mencatat nama orang2 yg menganggap ini cerita nyata*

  17. Andrew Anandhika Wijaya Says:

    saiyah nggak nganggep ini cerita nyta kok ki…πŸ™„ cuman nganggep kalo kiki itu nama yang menarik iya kan ki…???πŸ™„

  18. qzink666 Says:

    @atas saya
    saya pun bukan kiki..πŸ‘Ώ
    *cambuk celo 1000x*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: