Critique of Pure Reason

Februari 13, 2008

Bagi yang sempat mengikuti postingan saya yang berjudul Percaya, pasti tahu ke arah mana simpulan ini akan saya bawa. Yup, postingan kemarin memang terinspirasi dari karya Emanuel Kant yang berjudul ‘Critique of Pure Reason’ ini.
Dan sekarang akan saya coba urai garis besar dari buku yang tebalnya mencapai 800 halaman lebih ini..

Kalau anda punya kesibukan yang begitu menyita waktu, saya sarankan untuk tidak menyentuh buku ini. Disamping karena halamannya yang terlalu tebal (800 halaman lebih, bo..) disamping itu buku ini isinya terlalu membosankan dan rumit…
Namun demikian, saya tidak dapat memungkiri kalau karya Kant yang ini sangatlah luar biasa. Sepertinya dalam karyanya ini Kant ingin memulihkan metafisika. Ia setuju dengan Hume dan para empiris lain tentang tidak adanya gagasan-gagasan yang sudah ada dari sononya, tetapi ia menolak pernyataan bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman. Kaum empiris berpendapat bahwa semua pengetahuan harus bersesuaian dengan pengalaman, dan dengan cemerlang Kant membalikkan pernyataan ini dengan menyatakan bahwa “semua pengalaman harus bersesuaian dengan pengetahuan”.
Menurut Kant, ruang dan waktu merupakan sesuatu yang subjektif. Ruang dan waktu itu seumpama kacamata yang tak bisa dipindah-pindahkan. Tanpa ruang dan waktu, kita tidak bisa membuat pengalaman kita menjadi masuk akal. Tetapi unsur-unsur subjektif yang membantu kita memahami pengalaman bukan hanya ruang dan waktu belaka. Kant menjelaskan adanya berbagai ‘kategori’ yang kita mengerti melalui pemahaman kita tanpa tergantung pada pengalaman. Kategori-kategori ini mencakup berbagai hal seperti kualitas, kuantitas, dan hubungan. Semua ini juga adalah kacamata yang tidak bisa dipindah-pindahkan. Kita tidak dapat memandang dunia dengan cara lain selain menggunakan kategori kualitas, kuantitas, tersebut. Meskipun begitu, melalui kacamata yang tak bisa digerakkan ini, kita hanya bisa menyaksikan fenomena dunia; kita sama sekali tidak akan mampu mempersepsikan noumena, yakni sesuatu yang merupakan realitas sebenarnya yang mendukung atau membuat munculnya fenomena.

Bagaimana mungkin kita dapat mempercayai orang yang tidak pernah sekalipun melihat gunung, dan dengan begitu yakin dapat menyatakan bahwa ruang (space) itu tidak pernah ada di luar kita, ruang itu adalah pelengkap dari persepsi kita; sebuah pendapat yang tampaknya bisa diterima akal sehat. Namun demikian, keberatan ad hominem (ad hominem: lebih pada prasangka dan emosi ketimbang nalar) yang canggung ini tak ada hubungannya dengan filsafat.

Ruang dan waktu, beserta kategori-kategori (yg mencakup gagasan-gagasan seperti pluralitas, hubungan sebab-akibat, dan keberadaan atau eksistensi), hanya dapat diterapkan pada fenomena pengalaman kita. Apabila kita menerapkannya untuk hal-hal yang tidak kita alami, maka kita hanya akan mendapatkan ‘antinomi-antinomi’, yakni pernyataan-pernyataan yang saling bertolak belakang, yang keduanya tampak dapat dibuktikan dengan argumen-argumen intelektual. Dengan cara ini Kant justru menghancurkan semua argumen yang berkaitan dengan ada atau tidak adanya Tuhan. Jadi, masalah yang sesungguhnya adalah bahwa kita tidak dapat menerapkan kategori semacam eksistensi itu ke dalam suatu entitas yang tidak empiris.

Seperti yang saya tangkap, Kant tidaklah bermaksud untuk sepenuhnya kembali ke metafisika dalam karyanya ini. Istilah “penalaran sejati” (pure reason) yang dimaksudkan oleh Kant dalam hal ini berarti penalaran yang bersifat apriori, sesuatu yang bisa diketahui ‘sebelumnya’ atau ‘mendahului’ (prior) pengalaman. Hume telah melakukan penolakan terhadap entitas-entitas transendental macam ini (hal-hal yg mentransendensikan pengalaman). Sedangkan Kant begitu yakin bahwa dia telah memulihkan unsur transendental/metafisika itu ke dalam filsafat dalam bentuk “kategori-kategori penalaran sejati”-nya. Pandangan skeptis Hume tampaknya terlalu menyederhanakan, dan tentu saja tak dapat diterapkan kalau kita berharap untuk dapat hidup di dunia nyata. (penyangkalannya atas hubungan sebab-akibat mereduksi keseluruhan ilmu pengetahuan ke dalam status metafisika)

Sementara itu, pendapat Kant justru adalah kebalikannya; sebuah pendapat yang sangat cerdik dan canggih (menurut saya lho), walau tetap belum mampu mengatasi gagasan Hume bila ditinjau dari sudut pandang filosofis. Mungkin saja kita tidak mampu untuk mengalami dunia di sekitar kita bila kita tidak menggunakan kacamata ruang, kuantitas, dan sebagainya. Namun, bukankah ruang, kuantitas, dan semua yang dikatakan Kant sebagai kategori itu merupakan bagian integral dari apa yang kita alami? Juga sulit untuk mengetahui bagaimana semua kategori itu bisa hadir tanpa pengalaman kita, atau mendahului pengalaman kita.
Di pihak lain, argumen Kant bahwa kita sama sekali tak akan pernah mengetahui dunia nyata di sekitar kita juga melahirkan sejumlah tanda tanya besar. Semua hal yang kita sadari hanyalah fenomena. Sesuatu-dalam-dirinya (thing-in-itself atau noumena) yang mendukung atau melahirkan fenomena ini adalah sesuatu yang selamanya tetap tak akan dapat diketahui. Karena itu, tak ada dalih mengapa fenomena ini harus bersesuaian dengan persepsi kita. Semua fenomena ini dimengerti melalui kategori-kategori kita, dan hal ini tak ada hubungannya dengan sesuatu-dalam-dirinya. Noumena tetap berada di luar jangkauan kualitas, kuantitas, dan sebagainya..

19 Tanggapan to “Critique of Pure Reason”

  1. qzink666 Says:

    Silahken berbingung-bingung di postingan kali ini, hehehe..

  2. edy Says:

    saya makin yakin kalo saya bingung…๐Ÿ™„

  3. qzink666 Says:

    Apalagi saya yang mesti meringkas isi dari 800 halaman itu menjadi postingan pendek, bro..๐Ÿ™„
    *siapa suruh ya??*

  4. joyo Says:

    saya bingung karna itu saya ada
    *hiks masih utang komen di ruang sebelah๐Ÿ˜ฆ *

  5. qzink666 Says:

    Pilih komen atau saya pecat jadi abang..:mrgreen:
    *merajuk mode: ON*

  6. jiki is back Says:

    Ruang dan waktu, beserta kategori-kategori (yg mencakup gagasan-gagasan seperti pluralitas, hubungan sebab-akibat, dan keberadaan atau eksistensi), hanya dapat diterapkan pada fenomena pengalaman kita. Apabila kita menerapkannya untuk hal-hal yang tidak kita alami, maka kita hanya akan mendapatkan โ€˜antinomi-antinomiโ€™, yakni pernyataan-pernyataan yang saling bertolak belakang, yang keduanya tampak dapat dibuktikan dengan argumen-argumen intelektual

    setuju banget ma yang ni… btw bole pinjem bukunya???
    jadi tertarik sangatlah
    *mode belajar on*

  7. goop Says:

    aih…
    jadi inget…
    titik membentuk garis, yang berkumpul menjadi garis, kemudian bertaut menjadi bidang, dan lama kelamaan terbentuklah ruang…
    dimanakah waktu??
    btw, adakah relevansinya??

  8. soktaud3hih, Says:

    horeee………
    nggak ngerti.

    untung saya nggak percaya ma kant itu, jadi tidak perlu harus hidup di langit dan menggunakan bahasa langit seperti ini ๐Ÿ˜€

    bagi saya setiap perbuatan hendaklah didasarkan pengetahuan akan apa yang akan diperbuat. pengetahuan yang di dapat dari nalar dan iformasi yang diterima oleh otak. pengetahuan itu yang akan di terapkan ke dalam pengamalan (perbuatan) yang nantinya akan memberikan pengalaman untuk mendapatkan keyakinan

    nggak nyambung kan?
    horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

    teruslah berpusing-pusing mengurai kata tanpa mau mencari apa yang dikata,

  9. soktaud3hih, Says:

    maap mungkin kalimat terakhir itu patut di hapus.
    karna sebenernya maksud saya adalah dari pada mengurai kembali kata-kata kant itu menjadi kata-kata baru lebih baik menceritakan kepada saya sebagai salah seorang pembaca tentang apa yang mau diceritakan sebenernya oleh kant itu dengan menggunakan bahasa bumi agar pembaca bodoh seperti saya dapat lebih mengetahui lebih jelas.๐Ÿ˜€

  10. joyo Says:

    jadi apa dasarnya keimanan dan kayakinan?!!:mrgreen:


  11. satu pertanyaan yang saya kagumi dari emmanual kant tentang eksistensi manusia adalah “apakah yang bisa kuharapkan?”
    Oleh Kant, pertanyaan itu dijawab oleh Kant sendiri, yakni akal budi. Akal budilah yang akan membawa manusia pada kehidupan yang lebih eksistensial dalam mencapai entitas kemanusiaannya. wah, apakah tesis kant semacam itu tercantum juga di buku kant yang ini, mas qzink. hiks, jujur saja, saya belum menyentuh buku tebal itu. *ih, jadi malu*

  12. Pyrrho Says:

    Hehehehe…akhirnya ada yg bahas Kant juga. Kant memang salah satu “raksasa” filsafat (selain Plato dan Marx). Idenya memang sangat sulit dipahami apalagi bahasanya lumayan rumit.

    Pure Reason yg kupunya perasaan nggak nyampe 800 halaman deh,,,,๐Ÿ˜‰ Dan juga ada lanjutannya (Practical Reason dan Judgement).

    FIlsafat Kant itu seperti “mendamaikan” pertarungan pemikiran yang terjadi sejak ribuan tahun pasca Socrates. Terutama pandangan Hume dan pendukung empiricism. Salah satu quote dari Kant yg sering dikutip oleh orang lain, khususnya menyangkut iman dan agama :

    Agama dalam batas Iman

    ๐Ÿ˜†

    Satu lagi, saya juga asik baca pemikiran Kant karena dia seperti punya “sambungan” kalau kemudian dilanjutkan dengan Hegel dan Husserl. Disitu tesis Kant soal pengalaman, kesadaran, subyektivitas ruang-waktu, dll mendapat tantangan baru.

  13. steelheart Says:

    nietzsche, emanuel kant…wah, bacaan lo sampe segitunya zink… hehe,,,, gw baru tau ternyata lo idealis ya๐Ÿ™‚

    *gw mo berangkat deh*

  14. qzink666 Says:

    @jiki is back
    pinjem??
    datanglah ke perpus, hehehe..

    @goop
    waktu ada di dinding, bro..๐Ÿ˜†
    eh, itu jam yak??:mrgreen:

    @soktaud3hih
    jahh.. saya juga gak beriman sama Kant kok sis/bro..๐Ÿ˜€
    ini masih bahasa langit yak?? Duh, berarti saya gagal lagi.. gagal lagi, son..๐Ÿ˜ฆ

    @joyo
    lha, mbok ya jangan tanya saya toh.. Saya kan bukan orang beriman.. Tanya ke kaum salafy gih..๐Ÿ˜€

    @Sawali Tuhusetya
    karena Kant begitu intens untuk mengenali dirinya sendiri, maka saya rasa sesuatu yang wajar kalo beliau pernah melontarkan pertanyaan itu ya..๐Ÿ˜€
    bahkan dalam salah satu karyanya Kant pernah mengeluh, “aku belum mengenal diriku sendiri”.

    @Pyrrho
    bener, bang.. bahasanya agak susah di cerna, euy..
    Kalimat yg ini saja gak terlalu saya pahami benar nih:
    “The apodictical proposition cogitates the assertorical as determined by these very laws of the understanding, consequently affirming as a priori, and in this manner it express..”
    *bagaimana yg versi Jermannya yak??*

    Pure Reason yg kupunya perasaan nggak nyampe 800 halaman deh,,,๐Ÿ˜‰ Dan juga ada lanjutannya
    (Pratical Reason dan Judgement).

    mungkin punya abang udah hasil perasan lagi, karena versi terjemahan dalam bahasa linggis yang asli memang setebal itu (tepatnya 854 halaman). Dan saya kebetulan belum pernah baca yg Critique of Pratical Reason itu. Konon banyak menyoal Tuhan yg pada karya sebelumnya tak bisa dibicarakan karena tidak tergolong dalam kategori-kategori. Oh iya, kabarnya lagi Pratical Reason baru terbit 7 tahun kemudian setelah Pure Reason..๐Ÿ˜€

    @steelheart
    mo berangkat kemana, bro??

  15. tukangkopi Says:

    waduh, gw belum bisa nangkep intisarinya. ntar baca lagi deh. sekarang gawe dulu..๐Ÿ˜€

  16. stey Says:

    saya asli bingung, sumpah saya bingung..bingung saya yakin..saya beneran bingung..huhuhu..

  17. pink Says:

    sebenernya sih aku nggak tau ke arah mana isi dari postingannya karena mungkin aku baru mengikuti, tapi salam kenal aja deh… keep writing ya.

  18. qzink666 Says:

    @ tukangkopi | stey | pink

    wong saya yang nulisnya aja bingung kok, apalagi sampeyan yang mboco, hehehe..

  19. .Do&Di. Says:

    btw,
    ni info penting AJAH buat saya haha
    thanks yaa..
    hehee
    ga bingung kok,malah ngerti
    GBU
    =)

    .Do&Di.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: