Percaya

Februari 12, 2008
    Bagaimana kau yakin bahwa bom atom pernah benar-benar meledak di Jepang? Apa yang terjadi padamu jika ternyata, belakangan kau ketahui bahwa peristiwa itu sebenarnya hanya sebuah cerita fiktif yang di produksi Twentieth Century Fox? Dan Hirosima dan Nagasaki adalah sebuah kota yang sama fiktifnya dengan Gotham dalam cerita Batman?

Dari sinilah segalanya bermula..
Kenapa kita selalu di paksa untuk mempercayai segala yang terjadi di masa lalu hanya karena segala sesuatu itu menyodorkan bukti-bukti yang melimpah? Padahal kita sama sekali tidak pernah mengalami peristiwa itu sendiri.
Tidak mengalami tapi percaya..

Dan, sekarang kita tengok fakta berikutnya..

    Teori evolusi Darwin:
    Bahwa jenis-jenis organisme bukannya tak berubah, melainkan sebaliknya senantiasa berada dalam proses perubahan. Namun perubahan-perubahan itu bukannya tak teratur, melainkan dari jenis-jenis yang lebih sederhana ke jenis-jenis yang lebih canggih karena lebih sesuai dengan lingkungannya. Bisa jadi bahwa dua jenis organisme yang pada saat sekarang sudah tidak bisa kawin satu sama lain, merupakan keturunan dari satu jenis nenek moyang. Yang melahirkan desakan adalah diversifikasi jenis-jenis organisme. Setiap perubahan kecil merubah juga tantangan lingkungan yang perlu ditanggulanginya. Kalau garis ini ditarik ke belakang, maka gerak perkembangan adalah dari jumlah jenis lebih sedikit ke jumlah jenis yang semakin banyak. Ternyatalah, dan inilah inti teori evolusi Darwin, keanekaan jenis organisme hewani dan nabati sekarang merupakan hasil sebuah perkembangan atau evolusi dari jenis-jenis lebih sedikit yang lebih sederhana, proses mana berlangsung selama berjuta-juta tahun. Begitulah menurut teori evolusi Darwin, semua organisme di muka bumi sekarang akhirnya berasal dari satu organisme saja yang hidup jutaan tahun lalu. Dalam sejarah evolusi, segala makhluk hidup yang terdapat sekarang berkembang dari organisme purba ini..

Dan seperti juga halnya fakta di atas, teori ini pun memiliki bukti masuk akal yang begitu melimpah.
Tapi, anehnya terjadi paradox di sini. Banyak dari kita yang ogah mengakui dan cenderung menentang teori ini..

Satu fakta berikutnya:

    Kita percaya dengan adanya Tuhan, malaikat dan setan. Begitu pun kita juga percaya bahwa adanya surga-neraka, bahwa nabi-nabi macam Musa, Isa, Muhammad, Ibrahim, Nuh dan lain sebagainya benar-benar pernah dilahirkan lengkap dengan mukzizat mereka masing-masing.

Kita semua tahu, teori ini (maaf saya tidak menemukan kata yang pas) tidak cukup memiliki bukti empiris (atau mungkin saya-nya aja yang belum berhasil menemukan??) selain dari bacaan di kitab suci.
Tapi, anehnya, dalam kasus ini kita percaya dan hanya percaya..

Apakah ini semacam bukti kalau kodrati manusia (pada kasus-kasus tertentu) cenderung lebih menggunakan instingnya dan menafikan akal sehat? Atau dengan kata lain, manusia hanya mau percaya pada apa yang ingin dia percaya tanpa harus repot-repot menggunakan nalarnya??

Mungkin ada dari anda yang sudi mengurai fenomenon ini??
Saya tunggu..
*berkemas, siap-siap berangkat piknik*

47 Tanggapan to “Percaya”

  1. qzink666 Says:

    gyahahahaha..πŸ˜›


  2. kotanya batman bukan godam tapi gotham….

    wah nggak palid nih… wah gimana ya… ada yang bilang agama itu dslam hati dan ilmu itu pada otak… jadi kepercayaan terhadap dua kategori itu mungkin bisa dalam waktu bersamaan oleh dua organ berbeda…

  3. qzink666 Says:

    Udah di benerin tuh..

    dengan kata lain, orang yang beragama itu cenderung tidak memakai ot..
    *dibekap*

  4. goop Says:

    wah mau piknik…
    ikutttt….
    *maaf no comment utk percaya dsb itu… ilmunya belum nyampe eh…*


  5. bukan begonnoh… maksud saya… karena ada dua organ yang berbeda… seharusnya mereka bisa percaya dua hal dalam satu kesempatan…

    bukan berarti pergunakan akal bunuh hati dan kebalikannya… tapi IMO, brubung ada akal dan hati, kenapa nggak digunakan dengan adil aja gituu….

  6. edy Says:

    saya nunggu penciptaan mesin waktu aja
    sapa tau nanti bisa ktemu dinosaurus

  7. tukangkopi Says:

    kalo kasus pertama gw akan percaya kalo bukti-bukti empiris yang disodorkan kuat. ada bukti maka gw percaya.

    kalo kasus kedua gw meng-iman-i. keimanan gak butuh bukti. dan karena gw muslim, gw iman kepada Allah, malaikat, dan rasul-Nya.

    sorry, ilmu gw cetek banget. jadi jangan hujat gw ya..:mrgreen:

    piknik kemana? kenapa semua orang mengambil liburan??? aaarrgghhhh….

    *stress pengen liburan*πŸ‘Ώ

  8. bedh Says:

    huhuhu
    mo liburan kemana bro
    mo mateee lagi?
    masa setiap bertanya tentang Tuhan bunuh diri sih?
    huhuhuhuh

  9. bedh Says:

    ohhh saya tau kamu mau mencari diri seperti tag tulisan mu itu.
    huhuhuhuhu

    teruslah cari tanya terus gali terus sampai tak mampu lai tuk berpikir. jangan kalah sama doktrin2.
    kupas terus ampe mampus. kalo perlu buat otakmu takmampu lagi bertanya.

    saya tak yakin Tuhan berlari menjauh ketika makhluknya berlari mencari-Nya.

  10. soktaud3hih, Says:

    bagi saya soal keyakinan adalah soal rasa,
    informasi di terima oleh telinga dan di nalar oleh otak. otak yang kemudian membenarkan atau menyalahkan informasi tsb.
    tapi,
    keyakinan hanya didapat ketika kebenaran yang dirasakan itu dilaksanakan dan dilakukan sehingga memiliki memiliki bekas yang dinamakan pengalaman. karna pengalaman diperoleh dari pengamalan.

    begitulah menurut saya.πŸ˜€

  11. sigid Says:

    Eh ada lagi, percaya ndak kalau manusia pernah mendarat di bulan?
    Hal itu kan jadi kontroversi juga to mas.

    Fenomena seperti itu gimana yah, bingung juga.
    Apakah orang hanya mempercayai apa yang ingin mereka percaya, terlepas dari bukti yang adaπŸ˜•

  12. danalingga Says:

    Yah, karena darwin tidak bergelar nabi, dan tidak membuat agama bro. Coba sebaliknya, niscaya akan ada umat-umat yang asal percaya aja.πŸ˜›

  13. Goenawan Lee Says:

    Idem sama komen no 3…

    Eh, ga…bukan begitu. Sabda mas Guh: Ga semua tengkorak itu isinya otak.😎

    *dibakar massa*

    Kadang rasa percaya itu tumbuh karena sudah didoktrin sedari kecil. Desho? Desho?

  14. zal Says:

    ::peee… kata bos charlie’s angels…pada end film “kepercayaan untuk kepercayaan..”, kalau kau tak punya rasa percaya, mampir dihadapanmu…dan saling tatap pun apa yg kau pastikan…
    Teori Darwin benar, namun kalau dibilang begitu, kita jadi melihat bentuk, lebih jauh lagi memandang character…padahal….πŸ˜† bah..!!! kau bilang aku binatang ya…

  15. Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ Says:

    katanya gak mau bunuh diri…

  16. Ina Says:

    Ehmmm…postingan ini serius yach?? *oon*

    ikutan piknik dong. *mengalihkan comment*
    :mrgreen:

  17. Arwa Says:

    * percaya karena percaya = oon bin tolol bin goblok bin kutu kupret bin bego bin sonto loyo bin culun bin ahh tape deh gw…

    * yakin karena percaya = oon bin tolol bin goblok bin kutu kupret bin bego bin sonto loyo bin culun bin…

    * yakin karena yakin = oon bin tolol bin goblok bin kutu kupret

    * yakin karena yakin karena fakta = belum cukup bro….!

    * yakin karena yakin karena fakta karena benar = nah ini baru boleh lah bro…

    sebatas percaya….? *tendang aja ke laudh..!*

    *sinting lagee aahh*

  18. qzink666 Says:

    @goop
    berangkatnya baru nanti tgl 14, bro..
    Upaya melarikan diri dari orang-orang kasmaran..:mrgreen:

    @Andrew Anandhika Wijaya
    ah, hampir-hampir utopi itu, bro..
    Nyingkronin hati sama akal, yang keluar biasanya ego..

    @edy
    buat sementara, saya pinjemin yang punya doraemon aja, mau??

    @tukangkopi
    kasus pertama dan kedua jatahnya akal, dan yang ketiga, kaplingan hati ya, bro??

    @bedh
    yang jelas gak bakal ke Bandung apalagi Pekan Baru..πŸ˜›
    gw kan ogah ketemu lo, weee..πŸ™„

    @soktaud3hih
    tapi kalo menurut Emanuel Kant, pengalaman diperoleh dari pengetahuan lho, bro..

    @sigid
    nah, itu dia, bro..
    Insting primitif manusia kali ya, cuma mau percaya pada apa yang ingin dia percayai..πŸ˜€

    @danalingga
    oh, Darwin bukan nabi ya, bro??
    *angkat Darwin jadi nabi ke 26*

    @Goenawan Lee
    doktrin yang kejam kalok begetoo..πŸ˜›
    btw, quote-nya keren tuh..
    Gak semua tengkorak itu isinya otak.

    @zal
    ada apa dengan binatang??
    *segera di bioskop kesayangan anda*

    @Moerz
    siapa yang bunuh diri??

    @Ina
    halah..πŸ˜€

    @Arwa
    kalo yakin, tanpa fakta tapi benar, gimana, bro??
    Khan vox dei vox populi..

  19. joyo Says:

    yah telat…
    *bsk aja komennyaπŸ˜€ *
    jadi liburan kemana?

  20. Pyrrho Says:

    dan saya menjadikan Qzink sebagai pengikut setia saya : agnostic empiricism…:mrgreen:

    *tp seringkali dibilang naif lho…*

  21. tukangkopi Says:

    @qzink
    eh iya, gw kelewat yg kasus bom hiroshima itu. ya maksud gw kurang lebih kek gitu deh bro…


  22. Kenapa engkau masih mempersoalkan apa-apa yang tidak engkau percayai?

    kenapa nggak berani bilang terus terang, bahwa teori natural (evolusi ) lebih meyakinkan untuk dipercaya ketimbang teori supranatural mana pun–ketika kita mencoba melacak jejak sejarah nenek moyang kita yang paling awal ?

    Ini satu pertanyaan standar anak usia 3 tahun :

    kalau blogmu ada di dalam WordPress, kemudian WordPress di dalam semesta internet, kemudian semesta internet ada di dalam bumi, lantas bumi ada di dalam alam semesta, kemudian ada di dalam apakah alam semesta (dan seterusnya tanya sendiri & jawab sendiri) ?

    Selamat berpikir M E R D E K A


  23. Oh ya, sorry nih, lupa ngajak kenalan dan sekalian ngasih tau
    di blogku ada artikel mengenai :

    Wabah Stockholm Syndrom yang kini menjangkiti jutaan orang di Indonesia.Ini penyakit mental yang membuat penderitanya kehilangan akal sehat, mengalami dislokasi dan disorientasi.Mau tau gejalanya ?

    silakan baca di http://ayomerdeka.wordpress.com/

    Terima kasih!

  24. mbelgedez Says:

    Doooohh, enaknya nyang isa liburan….

    (komen OOT disambit buku Nietsche…)

  25. bimaconcept Says:

    teori Darwin?………..hmmmmmmmmm…

    ah itu bukan teori yang bener tuh. Gw dulu pernah baca (lupa bukunya apa), banyak pakar setelah zamannya darwin yang mematahkan teori evolusinya Darwin. Malah ada yang bilang Darwin buat teori tanpa riset.

    Lagian kalo kita lihat dari sisi agama juga teori itu ga masuk akal. kalo lo pribadi gimana bos?

  26. qzink666 Says:

    @joyo
    tunggu aja tilpun dari saya..πŸ˜›
    *menunggu komentar joyo*

    @Pyrrho
    agnostic empiricism??
    Bang Fertob nabi-nya dan saya wali-nya kalo gitu..:mrgreen:
    *menyodorkan otak untuk di cuci ulang*

    @tukangkopi
    wokke.. I see, kok..

    @Robot Manurung
    ini tak-tik, bro..
    Dengan metode tanya, paling gak kita gak mesti repot-repot melindungi jidat kita dari kaum yang hobinya nempelin cap sesat..πŸ˜›
    *larut dalam kontemplasi*

    @mbelgedez
    hayu ikut saya atuh, mbah..πŸ˜€

    @bimaconcept
    secara pribadi saya mengakui kebenaran teori evolusi ini..
    Maaf, buku yang anda baca itu karya Harun Yahya bukan??
    Kalo iya, silahkan klik disini, dan tolong di baca juga kolom komentarnya..πŸ˜›

  27. Andrew Anandhika Wijaya Says:

    ah iya… dapet dari temen…. meskipun bukti empirisnya kuat, tapi teori evolusi itu bukan suatu kebenaran… soalnya kalo teori evolusi itu suatu kebenaran *gaya KRMT* domainnya itu bukan teori lagi tapi hukum…

    kalau nggak percaya sama sesuatu yang belum benar nggak pa pa kan bro…???

  28. qzink666 Says:

    Kebenaran apa pembenaran??
    Kebenaran itu relatif saya rasa *eksistensialis mode*.
    untuk dijadikan patokan hukum, teori evolusi memang belum pantas.. Tapi, secara empiris, teori ini (paling gak sampai saat ini) masih yang paling masuk akal untuk jadi bahan rujukan..
    Entah nanti, entah besok.. Sifat ilmu pengetahuan kan tentatif, bro..
    Lagipula, disini saya hanya bilang; mengakui kebenarannya, dan itu bukan berarti serta merta saya taklid buta kan..πŸ˜€

  29. joyo Says:

    ternyata saya gak jadi komen tapi malah mo tanya, jadi bro…dasar keyakinan itu apa ya? emmm misalnya keyakinan beragama? apakah dasar nya iman? lalu apa dasarnya iman? shg kita mengimani sesuatu spt kitab suci misalnya?

    singkatnya apa dasar keyakinan/iman?

  30. syahbal Says:

    nanya dunks…

    gimana kamu bisa percaya klo nietzsche itu mati dalam keadaan gila…

  31. qzink666 Says:

    @joyo
    itu dia yang sampe sekarang belum saya temukan..
    Karena setiap hipotesa yang dikemukakan orang mengenai keimanan (semeyakinkan apapun) tetap saja selalu mentah di otak saya yang sialan ini..

    @syahbal
    lha, bukannya kasus yg kau tanyakan itu sama kayak kasus teori evolusi tadi??
    Saya percaya karena terlalu banyak bukti empirik yang mengindikasikan keberadaannya, kau bisa datangi rumahnya, kau lihat-lihat peninggalannya, kau pelajari karya orang-orang yang sezaman dengan beliau.. Lewat itulah kau bisa temukan jawaban..
    Jadi kalo pun ada orang yang sengaja membelokkan fakta bahwa Nietzsche mati di umur 18 tahun karena penyakit kolera, misalnya.. Orang gak bakal percaya (seperti juga halnya kasus bom atom di atas) karena terlalu banyak bukti historis yang berteriak kalo Nietzsche meninggal pada tanggal 25 Agustus 1900 dalam keadaan gila..

  32. syahbal Says:

    @qzink666

    pernah dateng ke rumahnya….
    truz pernah liadh kuburannya mas…
    pernah liadh peniggalannya mas…
    pernah mempelajari karya orang yang sezaman dengannya mas…

  33. qzink666 Says:

    Saya rasa pertanyaan anda sudah gak relevan lagi..
    Dan saya tau (meski tidak secara eksplisit anda katakan) kalo anda mengarahkan diskusi ini ke arah religi yg anda yakini..
    Oke begini, saya memang belum pernah kesana. Tapi, kapan pun, bilamana saya punya duit saya bisa kesana dan mengecek kebenarannya lalu kembali ke Indonesia dan ngomong ke orang-orang yang saya temui disini tentang apa yang baru saja saya lihat..
    Atau kalau nggak, saya bisa googling dari sini nyari no telepon sang kuncen atau penjaga museum disana. Terus saya tanya-tanya.. Habis perkara kan??
    Sekarang saya tanya. Anda begitu yakin tentang keberadaan surga-neraka itu dari mana?? Apa ada seseorang yang pernah kesana barang 4-5 hari lalu balik ke Indonesia dan ngomong ke anda tentang apa yg baru saja dia lihat??
    Kalo memang ada, tolong kasih tahu saya..πŸ˜›


  34. kalau nggak percaya sama sesuatu yang belum benar nggak pa pa kan bro…???

  35. stey Says:

    percaya..
    saya mengandalkan insting untuk hal2 tertentu saja..tapi kebanyakan, otak dan logika serta fakta lebih punya peranan dalam percaya tidak percaya..

  36. qzink666 Says:

    @Andrew Anandhika Wijaya
    ya boleh lah.. Wong ini bukan dogma agama yang kalo gak percaya bakal direbus di neraka jahannam kok..:mrgreen:

    @Stey
    setubuh.. Meski insting saya udah jarang dilatih nih..πŸ˜€

  37. joyo Says:

    *kipas kipas*πŸ˜€

  38. syahbal Says:

    @qzink666

    lho…emang saya ya yang ngomong klo untuk percaya sesuatu maka harus dilihat atau dibuktikan…itu kan kamu…
    jadi pertanyaan itu ga bisa buat saya…bner toh???


  39. Maap, ngeblog di komen;

    .
    .
    .
    .
    .

    Is the Tooth Fairy Real?: A Fable

    Harriet told her little brother Dan that there was no Tooth Fairy; it was their parents who put the money under the pillow.

    Dan refused to believe Harriet. He knew there was a Tooth Fairy. Every time he put a tooth under his pillow, there was money there the next morning. And all his friends said the Tooth Fairy brought them money too. And it couldn’t be Mom and Dad because he’d wake up if they came in the room and lifted his pillow. Anyway, Mom and Dad said there was a Tooth Fairy, and they wouldn’t lie.

    Harriet asked him how he thought the Tooth Fairy found out about lost teeth, how she got into the house, where she got the money from, and what she did with the teeth. Dan said he didn’t know, but wasn’t it a wonderful mystery? Harriet pointed out that older kids all eventually stopped believing in the Tooth Fairy. Dan said that only proved that the Tooth Fairy would only bring money to those who still believed in her.

    Harriet got several neighborhood kids to help test whether the Tooth Fairy would appear if the parents didn’t know a tooth had been lost. It turned out that every time the parents knew about the tooth, there would be money under the pillow the next morning, and every time the parents didn’t know about the tooth, there would be no money. Dan said the Tooth Fairy was just refusing to cooperate in those cases, because she wouldn’t bring money if she knew she was being tested.

    Harriet got out her Junior Detective kit and dusted Dan’s Tooth Fairy money for fingerprints. Sure enough, she found their parents’ fingerprints on it. Dan said that didn’t prove anything, because there are lots of ways the Tooth Fairy could get hold of money the parents had previously touched. Or she could have magically put the evidence there to confuse us. And of course, the Tooth Fairy wouldn’t leave any fingerprints of her own because she was magical.

    The next time Dan lost a tooth, Harriet spread flour on the floor, and the next morning, she showed Dan their parents’ footprints between the door and the head of his bed. He said that didn’t prove anything-his parents had probably just checked on him, and the Tooth Fairy had come later. There were no Tooth Fairy footprints, because fairies don’t leave footprints.

    The next time Dan lost a tooth, Harriet set up a video camera in Dan’s room and caught their parents in the act. (For those readers with dirty minds, I mean the act of removing the tooth and putting money under the pillow.) Dan told her that didn’t prove a thing. Maybe the Tooth Fairy wouldn’t appear when a camera was present. Maybe she is a shape-shifter who made herself look like their parents on videotape. Maybe she asked Mom and Dad to do the job for her just this once.

    Harriet led Dan into their parents’ bedroom, opened a dresser drawer, and showed him a box containing all of Harriet’s and Dan’s baby teeth neatly labeled and dated. She said that was proof their parents were taking the teeth and leaving the money. Dan said it was no such thing; the Tooth Fairy probably passed the teeth on to parents for keepsakes, or maybe she sold teeth to parents to raise the money she put under the pillows. Hey, yeah, that would explain the fingerprints!

    Harriet and Dan confronted their parents, who admitted they had been taking the teeth and leaving the money under the pillow. Dan said either they were lying before or they’re lying now, and they’re probably lying now. Why trust what anyone says? He was just going to ignore everything except what he knew: the tooth-under-the-pillow thing worked. The Tooth Fairy was real.

    Harriet screamed in frustration and tore all her hair out. She left it under her pillow. It was still there in the morning.

    .
    .
    .
    .
    .

    Dikutip dari [sini].

  40. joyo Says:

    @syahbal
    iman ato keyakinan beragama, Islam misalnya itu dasarnya apa ya?
    pls advice, thanksπŸ™‚

  41. syahbal Says:

    @joyo….

    waduh..klo iman mah saya ga bisa dijelasin…
    cuman bisa dirasain oleh setiap pribadi(hati)…
    tp klo mau ngerasain iman…ada caranya…
    ini mah kata Allah yah…

    ” qaalati al-a’raabu aamannaa qul lam tu/minuu walaakin quuluu aslamnaa walammaa yadkhuli al-iimaanu fii quluubikum wa-in tuthii’uu allaaha warasuulahu laa yalitkum min a’maalikum syay-an inna allaaha ghafuurun rahiimun”

    [49:14] Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    jadi islam(tunduk) lah terlebih dulu…
    baru akan merasakan iman(yakin)…


  42. […] atau dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri), bukan hasil pengindraan, hasil berlogika, atau hasil berkeyakinan buta pada sesuatu (kitab suci misalnya, ehm untuk yg ini saya sebut buta karena sampai sekarang […]


  43. @kopral geddoe…
    lain kali jangan ngasi certa kek gitu ahh… saya jadi pingin ngerompalin giginya dan pake gada nih sekarang…

    AAAAAARRRRRRRRGGGGHHHHHH….

    *screaming in frustation with Harriet*


  44. @ celo
    People see what they want to see.πŸ˜†

  45. winars Says:

    mungkin cerita berikut bisa jadi bahan pemikiran..

    Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri,
    kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

    Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab
    pertanyaan-pertanya an saya?
    Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan
    menjawab pertanyaan anda.
    Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai
    orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
    Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

    Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
    1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
    2.Apakah yang dinamakan takdir
    3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
    Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi
    dengan keras.
    Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah
    kepada saya?
    Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban
    saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
    Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
    Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
    Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
    Pemuda : Ya!
    Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
    Pemuda : Saya tidak bisa.
    Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua
    merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
    Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar
    oleh saya?
    Pemuda : Tidak.
    Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima
    tamparan dari saya hari ini?
    Pemuda : Tidak.
    Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
    Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
    untuk menampar anda?
    Pemuda : Kulit.
    Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
    Pemuda : Kulit.
    Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Pemuda : Sakit.
    Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka
    juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

    *komentar basi!!! nyambung gak ya ma pembahasan di atas???* *cuek bebek yang penting koment..*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: