Awal Mula Saya Suka Literer Jerman

Februari 9, 2008

Disclamer:
ini tentang saya 7 tahun yang lalu.

Tiap kali saya merasa jenuh dengan apa yang saya kerjakan, tiap itu pula saya merasa tak lagi nyaman dengan hidup saya, tak nyaman dengan tubuh saya, tak nyaman dengan cara saya memandangi wajah orang-orang yang memandang saya keheranan.. Saya muak!!
Dan kalo sudah begitu, entah kenapa saya merasa semacam memiliki kebutuhan untuk mencuci otak saya, otak saya yang sialan. Saya menghindar dari pergaulan teman-teman, tidak lagi mau melihat atau berhubungan sama sekali dengan mereka. Saya mendadak jadi begitu sensitif. Sensitif bertemu dengan orang-orang, sensitif terhadap pemaknaan benda-benda di sekitar saya, sensitif terhadap dunia yang bergerak di luar kamar saya..

Saya terus mengamati segala perkembangan yang bergulir di luar kamar saya itu (dari hal-hal besar seperti kematian seorang pemuka adat, tetangga yang menang lotre puluhan juta hingga hal-hal sepele seperti matinya kucing tetangga atau anak tetangga yang tersedak permen karet) tanpa pernah tahu untungnya apa buat saya. Saya mengikuti, dan hanya itu.

saya bener-benar tak mengerti tujuan apa yang melatari saya mengamati ini semua, sebelum akhirnya saya menemukan satu simpul bahwa segalanya berubah-ubah sekehendak waktu. Bahwa di sini, di titik ini tak ada yang lebih berkuasa daripada waktu. Bahwa keberadaan saya di sini tak lebih dari sekedar untuk melengkapi seluruh pastiche yang hanya seolah-olah. Bahwa hidup saya hanyalah sebuah ketidak sengajaan yang seolah-olah merujuk pada sesuatu yang penting dan berarti. Sesuatu yang terus-menerus didengung-dengungkan orang dengan hormat sebagai hidup di tengah peradaban manusia.

Jujur saja, kesadaran inilah yang kemudian membuat saya sangat-sangat frustrasi. Selama ini saya ternyata tidak mampu bertahan. Saya membiarkan dunia saya terlantar tanpa tujuan jelas.
Saya merasa berada dalam kesunyian yang mencekik. Dunia (citra diri) yang saya bangun selama ini ternyata saya dirikan diatas lumpur. Tidak wajar, tidak punya jaminan. Saya kembali seperti hidup diluar peradaban. Dunia disekitar saya seperti kehilangan harga dan nilainya. Bahkan lebih parah, saya dapati bahwa diri saya pun ternyata tidak memiliki harga. Saya bergidik atas apa yang saya temukan di atas..

Saya tidak mau menjalani hidup seperti itu. Saya harus segera merekonstruksi ulang hidup saya, kesadaran saya. Saya harus memiliki komitmen rasional atas apa yang saya jalani. Bahwa setiap apa yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya. Saya tidak punya bakat menjadi seorang mistikus, tapi saya juga tidak boleh membiarkan hidup saya terombang-ambing. Saya harus segera membuat perhitungan logis. Saya tidak mau hidup saya seperti berada dalam puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Tangan Waktu”, di mana tiba-tiba tangan waktu mencengkeram leher saya dari belakang.

Tapi persoalan yang kemudian saya dapati adalah dari mana saya harus memulainya? Saya sama sekali tak punya akses apapun untuk sepenuhnya merasionalisasikan kehidupan saya (perlu di ingat, saya berada di lingkungan yang begitu mengagungkan budaya yang tak sepenuhnya rasional seperti ritual, klenik, feng shui, dll).

Dan, Eureka.. Seorang teman menghadiahi saya satu bundel buku yang sebagian besar berisi pemikiran para filsuf Jerman..
Dari sinilah kemudian saya berkenalan dengan para para pemikir brilliant ini.
Ketika saya mulai menyelami pemikiran-pemikiran mereka, saya merasakan daun-daun mulai berteriak, poster-poster juga mulai berteriak, kehidupan juga mulai berteriak. Lewat buku itu saya seperti bisa mengintip rumah tuhan, kapal yang terbakar, siphilis yang menakutkan, dan mimpi-mimpi tentang kebebasan. Saya mulai memahami cogito ergo sum dari Descartes yang menegakkan eksistensi manusia dari otoritas pikirannya, etre-en-soi dan etre-pour-soi Sartre yang membawanya pada pandangan muram bahwa orang lain adalah neraka; manusia Uebermensch dari Nietzsche yang hidup di atas kematian Tuhan, materialisme sejarah Karl Marx, atau strukturalisme yang sangat resmi seperti pintu tertutup dalam drama Sartre, konsep id, ego, dan super ego dari Freud, Critique of Pure Reason-nya Immanuel Kant yang disebut-sebut orang sebagai peristiwa paling besar dalam keseluruhan sejarah filsafat metafisika Jerman, atau teriakan Hegel bahwa segala yang rasional adalah sesuatu yang nyata dan segala yang nyata adalah sesuatu yang rasional, lewat karyanya ‘The Philosophy of Right’ semuanya seperti representasi lonceng dari filsafat kematian. Lonceng dari filsafat kematian yang juga berdentang keras lewat prinsip survivalitas teori evolusi Darwin; atau berdentangnya mesin kekuasaan manusia sejak Francis Bacon memutuskan pemahaman klasik yang melihat alam sebagai ibu, dengan mengubahnya sebagai objek eksploitasi. Dunia harus dilihat sebagai mesin. Sesuatu yang dikukuhkan diatas kematian yang lain..

Sejak saat itulah hidup saya berubah, meski entah ke arah lebih baik atau malah lebih buruk. Yang jelas hidup saya berubah. Paradigma saya berubah..
Demikianlah

26 Tanggapan to “Awal Mula Saya Suka Literer Jerman”

  1. qzink666 Says:

    TANGAN WAKTU

    selalu terulur ia lewat jendela
    yang panjang dan menakutkan
    selagi engkau bekerja, atau mimpi pun
    tanpa berkata suatu apa

    bila saja kau tanya: mau apa
    berarti terlalu jauh kau sudah terbawa
    belum sungguh menjadi sadar
    bahwa sudah terlanjur terlantar

    belum pernah ia minta izin
    memutar jarum-jarum jam tua
    yang segera tergesa-gesa sejak berdetak
    tanpa menoleh walau kau seru
    selalu terulur ia lewat jendela
    yang makin keras dalam pengalaman
    mengarah padamu tambah tak tahu
    memegang leher bajumu

    -Sapardi Djoko Damono-

  2. zal Says:

    ::saya muak…kenapa kau harus mengisi fertamax itu hah…👿

    ::jadi sejak 7 tahun lalu kamu sudah berubah…, aku kagum dengan buku-buku itu, kamu sudah sangat memahami kaedah hidup…, sedangkan aku keledai pemikul buku…buku tak mampu menembusi pikiran dangkalku ini…😦

  3. qzink666 Says:

    @zal
    Mbok ya kagum sama saya-nya toh, biar saya seneng..😀
    ini malah kagum sama buku-buku saya..
    *nggloso*

  4. joyo Says:

    woi bro, kapan2 pinjam tu buku ye, ato bacain buat saya😀 , soale saya terlalu malas baca buku2 orang2 pintar dari jerman itu, bahasa mereka terlalu canggih, mumet saya.😀

  5. qzink666 Says:

    @tukangkopi😕

    @joyo
    emang buku kau tentang identifikasi persoalan peradaban karya Fritjof Capra lewat Toynbee itu gak rumit??


  6. 7 tahun lalu qzink umur berapa…??? 48…???

    senangnya punya tyeman yang mau menghadiahi buku….😦

    ini bisa dibilang turning piont nggak sih…???

  7. Pyrrho Says:

    Coba tambahin dengan tokoh-tokoh Mazhab Frakfurt, seperti Adorno, Habermas, Fromm, Neumann, dll. Biar tambah puzink666..🙂

    Jerman memang gudangnya pemikir-pemikir kritis, sama seperti Perancis. Tapi kok kalau di sepakbola saya malah nggak suka Jerman dan Perancis, ya ?

  8. almascatie Says:

    cucune hitler
    *kaburrrrrrrrr*

  9. tobadreams Says:

    Untuk urusan literatur dan khususnya filsafat, bolehlah kita berteman. Apalagi kalau mengenai Nietzsche, aku dengan bangga menyapamu saudara hehehe…

    Tapi kalau urusan bola, sorry pren. Aku hanya tau satu slogan dan akan kuteriakkan keras-keras : Viva PSMS Medan, Mampuslah Sriwijaya FC.

    Trims sudah berkunjung ke blogku dan meninggalkan komentar yang menunjukkan sikap jantan Wong Kito Galo.

  10. zal Says:

    ::bah…, ternyata tanda baca, bisa merubah maksud… ya…
    kalau kita hanya mendengar berarti semakin payah lagi ya…😆
    sorrylah yang aku kagum itu buku dan kau juga qzink88, sebab engga semua buku dapat memahamkan kita, dan engga semua orang suka membaca…

  11. Ina Says:

    kl buku filsuf itu bisa dipinjam nga??? sapa tau bisa mencerahkan hidup saya juga.😆

  12. qzink666 Says:

    @Andrew Anandhika Wijaya

    7 tahun lalu qzink umur berapa…???
    48 tahun…???

    19 tahun, bro..😀

    ini bisa di bilang turning point nggak sih…??

    ya, sebuah titik balik bagi kehidupan saya..😛

    @Pyrrho
    yang saya sebut di atas aja udah sukses bikin saya susah tidur, bang..😀

    @almascatie😯

    @tobadreams
    kita liat hasilnya nanti sore, lae..

    @zal
    eh, itu sembarangan aja ganti nama orang..:mrgreen:

    @ina
    boleh.. boleh..
    silahkan hubungi perpus terdekat, he he he..


  13. wah beda umur kita tujuh 10 taun lho bozz… turning point saya kapan yak…??? saya keknya nggak mau berubah degh… konservatif itu enak…

  14. zal Says:

    ::he..he…salah lagi…mungkin kalau pake 666, bacaannya six..six..six.., kedengarannya sebagai sek…sek…sek, (bahasa jawa…tunggu..), kalau 88 dibacanya eight…eight…kedengarannya eit..eit… he..he…ngeles…,😆

  15. Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ Says:

    begidu rupanya…
    tapi ngikutin hitler gak…

    hehehe….

    jangan bunuh diri kaya hitler yah…

  16. qzink666 Says:

    Cihuuuyyy.. Sriwijaya Fc, berhasil menggondol gelar juara liga Indonesia setelah menyingkirkan PSMS Medan di babak grand final dgn skor 3-1.
    Akhirnya double winner itu bersanding manis di bumi Sriwijaya..

    bagi yg ingin mengucapkan selamat atas kemenangan Sriwijaya fc, silahkan ke ruang keluarga yang barusan saya buat.
    Terimakasih..
    *lirik bro’ Danalingga, bang Fertob, mbak May dan Tobadreams*

  17. supertramp Says:

    saya, sejujurnya, lebih suka berada dalam utopia sendiri. jauh dari racun-racun yang ditebarkan cecunguk2 brengsek yang banyak berkeliaran di luar sana.

  18. Pyrrho Says:

    Hehehehe… selamat untuk Sriwijaya FC.

    Walaupun orang Batak, tapi berhubung lahir dan besar di Papua, sebenarnya saya pendukung berat Persipura. Sayang kemarin kalah, trus penontonnya rusuh sama JakMania.
    😕

  19. qzink666 Says:

    @Andrew Anandhika Wijaya
    yah, kalo memang udah ngerasa settle dgn kehidupan sekarang kenapa mesti berubah..

    @zal😯

    @Moerz anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ
    bunuh diri??
    Kapan-kapan aja deh..😀

    @qzink666
    selamat.. selamat..
    Sriwijaya fc emang pantas jadi juara..😀

    @supertramp
    menjadi konservatif kadang memang lebih enak.. tapi masalahnya, apa benar kita bisa selamanya imun terhadap pengaruh dari luar lingkungan kita??

    @Pyrrho
    oh, bang Fertob pendukung Persipura toh??
    Duh, sangat disesalkan atas kerusuhan yg sampe menelan korban jiwa itu ya, bang..😦

  20. alfaroby Says:

    hari hari ini mesti lebih baik daripada hari kemarin

    keep spirit and be your self


  21. jah… tapi mau nggak mau turning point itu bukan sesuatu yang bisa kita tolak kan…??? cuman kapan datengnya saiyah nggak tau… moga-moga turning point yang positif…🙄

  22. :::: Says:

    turning point at 19 years old
    ;;;;;;;;;ck..ck..ck..
    koment OOT asli mbundet
    ===============
    masih sedih PSMS kalah
    *duh markus… tega benar dikaw*

  23. regsa Says:

    mbok aku di ciprati ilmune tooh zink

  24. Arwa Says:

    ‘segala yang rasional adalah sesuatu yang nyata dan segala yang nyata adalah sesuatu yang rasional’

    tul itu bro…,
    rasa itujauh dibawah logika walaupun sebenarnya rasalah yang berada di dalam inti logika.

    saran saya silahken ente sepuasnya bermain-main dengan nalar dan logika sampai satu saat mentok di satu titik temu antara rasa dan logika.

    yooo kita bersenang-senang yooo…,
    explorasi terus sisi tergelap dalam diri kita sebab mana mungkin orang tau yang terang kalaw ndak tau yang gelap.

    wakaakkkakakkkakakkkk……..

    *ngakak raja binatang*

  25. tobadreams Says:

    From zero to HERO…

    dengan jantan kuakui, Sriwijaya FC bermain bagus dan layak jadi juara.

    Tapi anda tetap mengakui dengan jujur dong, bahwa kalian nggak nyangka harus perpanjangan waktu, bahwa kemudian PSMS Medan masih mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1, padahal PSMS tinggal 10 pemain, iya kan ?

    Dengan tetap bangga pada penampilan PSMS Medan yang benar-benar DIE HARD, aku ucapkan selamat sukses buat Sriwijaya FC dan semua pendukungnya. Ini tahun yang luar biasa buat kalian, double-winner Piala Copa Dji Sam Soe dan Piala Presdien. Hebat. Congrat!

    Aku dukung kalian di Liga Champion Asia. Ayo tunjukkan pada seluruh Asia, bahwa ketika tim Sumatera yang mewakili Indonesia, maka jangan anggap enteng lagi seperti tahun-tahun lalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: