Aku* Yang (konon) Tak BerTuhan

Januari 15, 2008

“Tuhaaaaan!!”
Entah sejak kapan saya punya kebiasaan meneriakkan kata itu. Dan siapa pulakah Tuhan yang selalu ku teriakkan itu? Entahlah, saya telah lupa.
“Dia kekasihmu tempat dimana dulu kau menggantungkan harapan, memupuk keajaiban, dan akhirnya membuatmu kehilangan segalanya.” Seseorang entah siapa memberitahuku.

Kehilangan?? Bah, apa pula itu?? Saya kehilangan apa? Seseorang yang sejak semula tak punya apa-apa pantaskah disebut kehilangan.
Lalu kekasih? Siapa pula kekasih itu? Entahlah, saya tak terlalu paham dengan kata ini. Sudah sejak lama saya melupakan banyak kata. Tak semuanya memang. Selain kata Tuhan, sering juga berkelebat di otak saya yang sialan ini kata gunung dan pohon. Tapi apa pula artinya saya gak tahu. Mungkin gunung yang diam. Mungkin juga pohon yang diam.

Tapi saya tidak suka dengan sesuatu yang diam. Saya lebih suka dengan sesuatu yang bergerak, bertumbuh dan tidak membatu. Bukankah saya pernah meminjam kapak Ibrahim untuk menghancurkan segenap keakuanku yang membatu?

Dan karena sesuatu yg bergerak pulalah yg akhirnya menyeret saya memasuki ruang asing yg tak ku kenal. Dan saya merasa bahagia berada diruang yang tak ku kenal ini, bersama orang-orang yg juga tak ku kenal. Saya tak pernah tahu kenapa saya merasa bahagia disini. Mungkin karena disini saya merasa bebas, lepas, tak harus bertopeng, ringan dan tanpa beban. Disini saya merasa tak perlu lagi meneriakkan kata Tuhan. Kubiarkan Tuhan beralih rupa menjadi waktu. Waktu yang beranjak, merangkak dan entah menuju apa.

Tapi sebentar, tadi saya mengatakan kalimat “ringan dan tanpa beban”. Bah, apa pula ini? Apa pula yg harus kuringankan? Bukankah selama ini saya tak pernah memikul sesuatu? Bukankah sejak semula saya hanya meyakini bahwa saya adalah kekosongan? Entahlah, lagi-lagi saya tak menemukan jawabannya..

dan diruang tak ku kenal inilah kemudian saya bertemu dengan aku yang tak kukenal. Saya tahu ini pertemuan tak di sengaja dan aneh, tapi tentulah ini peristiwa biasa bagi banyak orang entah dimana. Yang barangkali cukup mengagetkan adalah penampilan fisik dari aku yang tak kukenal itu. Tidak, aku yg tak ku kenal itu tidak berwujud monster hijau dgn kepalanya yg seperti telur dan bermata merah. Meskipun saya yakin, tanpa menghitung penampilan fisik, mahluk seperti itu ada, bahkan mungkin sudah berdiam sebagai tetangga. Penampilan fisik aku yg tak kukenal tidak seekstrim itu. Dia hanya terlihat tua, bongkok, ringkih, dan tak bahagia. Tapi bukankah biasa, seseorang menjadi tua, bongkok, terbata-bata, karena usia?

“Bedebah, dasar bedebah..!!!” Dia memaki-maki.
saya heran bercampur takjub, “Siapa sosok yang kau sebut bedebah itu?”
“Yang selalu kau teriakkan itu.” Aku tua yg tak kukenal menjawab.
“Tuhan?”
“Memangnya ada kata lain yg kau teriakkan selain kata itu? Kau lihatlah aku: jompo, daging buruk, tulang keropos dan tak mati-mati. Kerinduanku padanya telah menjadikanku seorang pengembara yg harusnya tak lagi kemana-mana. Duduk ditaman dgn kitab suci dipangkuan sambil ditemani seorang istri yg merajut dengan keheningan” Aku yang tak kukenal memberondongkan kata-katanya serupa rentetan tembakan serdadu di medan perang.
“Tapi telah lama aku melupakannya.” Jawabku.
“Melupakan siapa?” Bentaknya.
“Tuhan.”
“Tidak. Kau tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Aku kasihan padamu. Kau tertipu. Waktu, ruang, segalanya tak memberikan apa-apa padamu.”

Tapi saya senang tak memperoleh apa-apa. Bukankah karena tak menginginkan apa-apa kubiarkan Tuhan beralih rupa menjadi Waktu? Ingin kuceritakan segenap pemikiranku, tapi aku tua yang tak kukenal itu keburu pergi seraya terus menyumpah-nyumpah; “Bedebah.. Dasar bedebah!!!”

Ingin saya berdebat dgn aku yang tak ku kenal itu, tapi dia keburu berlalu. Dan akhirnya kulupakan aku yg tak kukenal. Toh, karena sosok bedebah itulah dia terus bertahan. Terus hidup. Seperti juga pengakuannya bahwa gara-gara si bedebah itulah dia gak mati-mati.

Dan selepas aku tua tak kukenal itu pergi, entah kenapa aku, seperti kebanyakan orang entah di mana, mulai bertanya apakah saya benar-benar senang telah tak memperoleh apa-apa? Bukankah untuk tetap hidup, agar tetap eksis, seseorang harus membutuhkan apa-apa? Tapi pula, bukankah saya adalah kekosongan??
Aaarrgh.. Embuh lah..

______

Ps. Cerpen kacau ini terinspirasi dari cerpen Serpihan karya Gus tf Sakai. Jadi kalo sangat-sangat mirip, maafken saja ya..

*: Tidak merujuk pada diri sendiri.
intoksikasi ringan a la Qzink, he he he..

31 Tanggapan to “Aku* Yang (konon) Tak BerTuhan”

  1. qzink666 Says:

    Disini tidak menjual pertamax


  2. *: Tidak merujuk pada diri sendiri.

    hmm…

    *ngelusngelusjenggot*

  3. qzink666 Says:

    @caplang[dot]net
    apa perlu saya tambakan kalimat: tapi merujuk pada bro Edy??

  4. tukangkopi Says:

    yo wis..embuh lah..πŸ˜†
    btw, itu cerpen baca dimana bro ?

  5. goop Says:

    seberapa besar keinginan untuk melupakan, namun teringat jua… pada kekosongan, pada kehampaan juga ketiadaan, ada..
    saya sedang suka negasi:mrgreen:

  6. atapsenja Says:

    Siapa pula kekasih? Ah, Qzink baru saja menyebutnya.:mrgreen:

  7. bedh Says:

    Bedebah.. Dasar bedebah..
    kurang ajar…
    kerenni…keren.
    arghhhhhhhhhhhhhhh

    iseng-iseng nyari arti kata intoksisasi di om gugel yang muncul cuma lo doang zink 2 postingan. keren…

    tapi kalo intoksikasi banyak
    huhuhuhu
    tapi jangan di rubah dah keren tuh, cuek aja πŸ˜€

  8. joyo Says:

    Bedebah!! Bedebah!! tuhan2 itu Bedebah!! menjerumuskan manusia2ku pada berhala2 dan hantu2
    Bedebah!! Bedebah!! tuhan2 itu Bedebah!!
    menghalangi manusia2ku dari cahaya suciku
    Bedebah!! Bedebah!! tuhan2 itu Bedebah!!
    membiarkan aku sendiri terbelenggu sepi dan mati

  9. joyo Says:

    lho puisi ku kok keren, wah tak posting ahπŸ˜€
    *gemblung muji2 diri sendiri*πŸ˜€

  10. joyo Says:

    dasar gemblung habis muji2, trs ngolok2 diri sendiri
    *hetriks*πŸ˜€

  11. qzink666 Says:

    @bedh
    thanx koreksinya, bro..
    Udah di edit tuh..πŸ˜›

  12. regsa Says:

    ada apa lagi tho zink..jiaan

  13. Hoek Soegirang Says:

    “Tapi pula, bukankah saya adalah kekosongan??
    Aaarrgh.. Embuh lah..”
    endingnya itu lho………..

  14. brainstrom Says:

    siapa yg kisanak cari? Tuhan? Tuhan yang mana? Tuhan yang tak bertuan kah? Tuhan yang tak butuh jilatan2 ciptaanNya? Tuhan yang tak butuh pembelaan ummatNya yang pingin sorga?
    kalau itu yang kisanak cari.. maka mari kita cari bersama.. πŸ˜€

  15. brainstrom Says:

    @ joyo

    *manggut2 baca cacian (yg katanya puisi) joyo*

    dasar guemblug!!!

  16. danalingga Says:

    *ikutan ah…*

    Tuhan!!!
    Dimana Kau sembunyikan kekasihku?!!!

  17. qzink666 Says:

    @tukangkopi
    cerpen serpihan itu??
    Di koran kompas kalo gak salah. Tapi maaf, tgl terbitnya saya lupa, udah lama bgt soale..πŸ˜›

    @goop
    begitulah inti ceritanya, bro..

    @atapsenja
    kapan, mbak??
    *mendadak amnesia*

    @bedh
    bener2 kurang kerjaan ente ini..πŸ˜€

    @joyo 1
    kamu kenapa??

    @joyo 2
    oh, itu puisi ya??:mrgreen:

    @joyo 3

    dasar gemblung habis muji2, trs ngolok2 diri sendiri

    baru nyadar rupanya..πŸ˜€
    *cemplungin yg hetrik ke penangkaran buaya*

    @qzink666
    dasar sembrono..
    Untung ada orang gila yg mau repot2 ngasih tauk..πŸ˜›

    @regsa
    ndak ada apa-apa kok, bro..
    Hanya sedikit keracunan ringan..πŸ˜›

    @Hoek Soegirang
    endingnya anti klimax yak? Mahap, bro, keburu males..

    @brainstorm 1
    persis, bro..
    Tapi nyarinya kemana?
    Ke pasar jongkok kah?

    @brainstorm 2
    iya, dasar gemblung..
    *dilempar sendal*

    @danalingga
    dikolong ranjang, hambaKu..πŸ˜›

  18. zal Says:

    ::aku yang tak kukenal banyak sekali qzink, dari mulai muda sampai bangkotan, dari mulai guanteng sampai elek putul..koq mereka diam aja yah… mungkin emang kamunya aja… gembul…eh mungkin aku malah yang gembul… aaargh embuh… juga…

  19. stey Says:

    merasa meragukan Tuhan?arghh..terlalu sering..sayang,sesering saya meragukanNya,sesering itu pula saya menemukanNya..

  20. qzink666 Says:

    @zal
    mungkin kita memang sama-sama gembul..πŸ˜›

    @stey
    maka bersyukurlah, karena tidak semua orang seberuntung dirimu..πŸ˜›

  21. daeng limpo Says:

    Tuhan apakah kita mengenalnya ? saya kok ragu ?

  22. FaUZaNeVVa Says:

    God is Good!
    Religions is War!

    Maybe…
    πŸ˜› Peace…

  23. rozenesia Says:

    *ikutan*

    Kekasihku, dimana Tuhan ituuuu!? *siul-siul*

  24. qzink666 Says:

    @daeng limpo
    saya pun ragu, daeng..

    @FaUZaneVVa
    jadi langsung ke Tuhan, gak usah lewat agen agama lagi??πŸ˜›

    @rozenesia
    biarkan celo yang menjawab..πŸ˜›
    *siap2 menghindar dari timpukan*

  25. bacteria Says:

    oh ternyata cerpen toh , aku kira apaan


  26. …tapi merujuk pada bro Edy??

    saya punya kok tapi lupa taro di manaπŸ™„

  27. eMina Says:

    eu….😯

  28. eMina Says:

    waduh, ini cerpen?😯

    apa ini benar, bahwa kamu tak berTuhan?

  29. FaUZaNeVVa Says:

    “Mencoba melupakan Tuhan justru membuat Kita semakin dekat denganNya!”

  30. deKing Says:

    Tuhan?
    Haruskah saya mengabdi pada tuan yang mengabdi pada Tuhan, “hanya” untuk mengenal dan mendekat pada Tuhan?

  31. bayu Says:

    Tidak ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakit yang membunuh dirinya sendiri.

    *angkat sendal*
    *kaburrrrrrrrrr*

    horeeeeee nggaaak keeenaaaaaaa!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: