Kitab Sasangka Djati

Januari 8, 2008

Berdasarkan hasil ngobrol dgn seorang saleblog berinitial d.e.K.i.n.g dan ditambah dgn mengobok-obok koleksi buku Ayah, akhirnya saya mencoba untuk menulis satu topik yang sebenarnya tidak begitu saya pahami secara saya tidak begitu fasih dgn budaya Jowo, tapi ya sutralah, namanya juga proyek nekat, kalopun melenceng ya lurusin dunks..

Sasangka Djati adalah sebuah buku bertahun 1932 karya R. Soenarto Mertowardojo yg bertalian erat dgn pandangannya terhadap dunia materil. Dalam sikap hidup ini pakhde Narto membagi pandangannya dalam 3 unsur, yaitu distansi, konsentrasi dan representasi.

a. Distansi
Menurut pakhde, pengertian distansi disini adalah manusia mengambil jarak terhadap dunia sekitarnya, baik dalam aspek materil maupun spirituil. Meskipun begitu, distansi disini tidak dicari untuk distansi itu sendiri, melainkan sebagai jembatan penghubung bagi manusia agar dapat menemukan dirinya sendiri. Semacam tolak ukur kesadaran bagi manusia. Karena segala sesuatu dalam dunia (suka, duka, bahagia, sengsara) ini mengeruhkan kesadaran. Oleh karena itu manusia harus mengambil jarak terhadap dunia dan segala hal ihwalnya. Lebih mudahnya, jika manusia ingin mempunyai arti dalam dunia, maka terlebih dahulu dia harus merenungkan tentang dunia itu.

Distansi sendiri punya anak sikap yg tak bisa dipisahkan, yaitu; rila, narima dan sabar.

a.1. Rila

Sesungguhnya hal yg disebut ‘rila’ itu adalah keikhlasan hati dgn rasa bahagia dlm hal menyerahkan segala miliknya, hak-haknya dalam semua buah pekerjaannya kepada Tuhan, dgn tulus ikhlas, karena mengingat semuanya itu ada didalam kekuasaan Tuhan. Maka dari itu harus tiada suatu pun yg membekas didalam hati..[1]

Berulang kali saya menemukan kata ‘rila’ dalam ajaran ini. ‘rila’ yg bersinonim dgn kata ‘penyerahan’. Sebuah penyerahan yg tidak hanya berwujud dalam perbuatan-perbuatan yg insidentil dan spontan, melainkan harus merupakan sikap hidup yg tetap. Rila selalu menuntut suatu tekad yg dapat kita adakan karena mengharapkan sesuatu yg lebih baik sebagai penggantinya. Tetapi ada faktor-faktor lain juga dalam hidup sehari-hari yg dapat mendorong manusia untuk dapat bersikap ‘rila’ yg antara lain kekecewaan, perubahan, keterikatan dan berbagai penderitaan yg datang silih berganti dan lain sebagainya..

a.2. Narima

Sikap ‘narima’ itu adalah sesuatu harta yg tak habis-habisnya, oleh karena itu barang siapa yg berhasrat mendapat kekayaan, carilah didalam sifat narima. Bahagialah orang yg memiliki watak narima itu dalam hidupnya, karena ia unggul terhadap keadaan tidak kekal..[2]

Distansi juga nampak dalam pengertian narima. Artinya; merasa puas dgn takdirnya (bukan nasib), tidak berontak, menerima dgn rasa terimakasih.
Jika sikap ‘rila’ mengarahkan perhatian terhadap segala sesuatu yg telah kita capai dgn upaya sendiri, maka sikap ‘narima’ lebih menekankan pada apa yg ada, faktualitas hidup kita, menerima segala sesuatu yg masuk dlm hidup kita, baik sesuatu yg bersifat materil, maupun suatu kewajiban atau beban yg diletakkan diatas bahu kita oleh sesama manusia.

Narima tidak menyelamatkan seseorang dari mara bahaya, melainkan merupakan satu perisai terhadap penderitaan (penghayatan subyektif) yg diakibatkan oleh malapetaka. Yg menjadi pusat perhatian disini adalah ‘pikiran’ atau lebih tepat ‘rasa’ akibat malapetaka itu..

a.3. Sabar

Gegambaranipun tijang sabar punika kados dene seganten, ingkang boten bade ambaludag, senaosa toja saking pinten-pinten katahing lepen, manungsa iku sabisa-bisa kudu apengawak segara..[3]

Kata ‘sabar’ sering kita jumpai bersama-sama dgn 2 istilah tadi, dan memang merupakan akibatnya. Hanya orang yg menjalankan rila dan narima akan menjadi sabar. Seorang yg dgn rela hati menyerahkan diri dan yg menerima dgn senang hati sudah dianggap sabar dgn sendirinya. Ia akan maju dgn sikap hati-hati, karena sudah menjadi bijaksana berdasar pengalaman.

Kesabaran merupakan “broadmindedness”, kelapangan dada, yg dapat merangkul segala pertentangan, betapapun besarnya perbedaan itu. Kesabaran laksana samudera yg tidak bertumpah, tetap sama, sekalipun banyak sungai yg bermuara padanya..

b. Konsentrasi
Dalam kitab ini, konsentrasi pun di bagi menjadi 2 bagian, yaitu; ‘Tapa’ dan ‘Pamudaran’.

b.1. Tapa

Aja wareg, nanging aja luwe, aja kakehan melek, nanging iya aja kakehen turu; mangkono sapiturute, kaangkaha dewe kang sarwa sedeng, aja kongsi kaladuk utawa mung umbar-umbaran bae. Mungbae anggone ngurang-ngurangi kaangkaha saperlu, lan aja nganti diprusa kang ndadekake karusakaning raga, nanging dikuliknakna cecegah saka satitik manut kakuwatane..[4]

Setiap konsentrasi dapat dikacaukan oleh aktifitas nafsu. Nafsu tersebut erat hubungannya dgn fungsi-fungsi jasmani. Kalo seseorang masih muda dan kuat, maka nafsu-nafsu masih bergelora di dalam badannya, terutama nafsu egosentris.

Maka dari itu diperlukan salah satu bentuk tapa. Lewat tapa kekuatan badan diperlemah, hingga sikap dan perasaan terhadap sesama manusia manusia berubah. Orang menjadi sadar dgn relatifitas eksistensinya.

Dgn demikian, maka tapa, asal dipergunakan dgn seksama, dapat mengembalikan seseorang pada pusat hidupnya.

Udah dolo ah, capek.. Bersambung kapan-kapan ya..

47 Tanggapan to “Kitab Sasangka Djati

  1. goop Says:

    Wah syip bro๐Ÿ˜€
    ditunggu lanjutannya yak…
    *langsung nanya-nanya bapak mengenai kitab ini*:mrgreen:

  2. ordinary Says:

    waaaaa
    berat dude

  3. goop Says:

    Btw.. ko tidak diartikan semua-nya??
    ada yang saya nda’ ngerti kaangkaha itu apa ya?? “lakukanlah” ya??๐Ÿ˜†


  4. @ordinary
    ya iyalah berat
    namanya aja djati…

  5. ordinary Says:

    bagian konsentrasi.. ada tapa
    apa tuh sama dengan kontemplasi
    (ya kali aja sama.. cuman biar kedengaran keren dibuat begituh)

  6. ordinary Says:

    ngapain si om nanggepin koment ku
    *ndak terima*

    *tonjok om caplang*

  7. qzink666 Says:

    @goop [1]
    terimakasih, bro..

    @ordinary [1]
    ini kan bagian dari kontemplasi juga, mbak..
    *pecat mbak May jadi ahli kontemplasi*

    @goop [2]
    itu dia, bro..
    Bapak saya orang Cirebon, dan kitab ini berbahasa jawa solo.
    Meskipun sama-sama jawa, tapi bahasa kami berbeda..
    Makanya saya hati-hati sekali nulis ini, takut salah tangkep..
    Waktu tanya bapak juga, dia kaya kebingungan gitu..
    Nanti-nanti deh saya tanya bro deKing dolo..๐Ÿ˜€

    @caplang[dot]net
    ha ha ha ha..

    ordinary [2]
    yup.. Itu tau..:mrgreen:
    Kontemplasi, heneng-hening, meditasi, yoga..

    @ordinary [3]
    sekalian bunuh aja, mbak..๐Ÿ˜›
    *menyodorkan golok*

  8. celo =3 Says:

    hrusny saiyah lempar trekbeknya kesini ya๐Ÿ˜• maaf membuang waktu anda๐Ÿ˜† sorry nggak sempet baca… mu off… ada kepentingan mendesak dengan meja billing dan dompet saiyah๐Ÿ˜†

  9. celo =3 Says:

    Pertamax habis!!

    plagiat๐Ÿ‘ฟ *disambet kitab*๐Ÿ˜†

  10. sigid Says:

    Narima njih mas, tampak seperti sebuah langkah awal untuk bisa bersyukur๐Ÿ˜€

  11. qzink666 Says:

    @celo =3 [1]
    ha ha ha.. Celo bisa mellow juga ternyata..
    Baru di cerai jeung Roze?

    @celo =3 [2]
    apa perlu saya edit??
    *timpuk pake kitab*

    @sigid
    injih, pak..

  12. bedh Says:

    arghhhhhhhhhhhhhh

    *jedut2kan pala ke dinding*

    nggak ngerti om, maap.
    nanti malam saya baca lagi.

  13. Hoek Soegirang Says:

    “Narima tidak menyelamatkan seseorang dari mara bahaya, melainkan merupakan satu perisai terhadap penderitaan (penghayatan subyektif) yg diakibatkan oleh malapetaka. Yg menjadi pusat perhatian disini adalah โ€˜pikiranโ€™ atau lebih tepat โ€˜rasaโ€™ akibat malapetaka itu..”
    kalo yang ini, benul-benul kerasa cuma ada di orang jawa๐Ÿ˜‰

  14. joyo Says:

    ssshhhhhhhhh ahhhhhhhhhh
    *nikmat*

  15. qzink999 Says:

    @bedh
    kenafa dgn kefalanya, bro?

    hoek soegirang
    jawa-nya yg priyayi po abangan, bro?๐Ÿ˜›

    @joyo
    joyo gemblung, kenapa kamu masturbasi di blog saya?:mrgreen:

  16. sitijenang Says:

    Sasangka = prasangka
    Djati = kayu yang kuat?

    rila = rela / pasrah
    narima = menerima / ihklas

    sabar:
    “Gambaran orang sabar itu seperti lautan, yang tidak bakal membludak, meskipun air dari mana pun masuk, manusia itu sebisa mungkin meniru watak lautan…

    demikian sekilas terjemahan.

  17. sitijenang Says:

    Jangan kenyang, tapi jangan lapar, jangan kebanyakan melek, tapi juga jangan tidur melulu; begitu seterusnya, semua serba sedang, jangat pelit atau umbar-umbar. Hanya saja kurangi seperlunya, dan jangan sampai dipaksa hingga merusak raga, tapi biasakan mengurangi dari sedikit sesuai kemampuan..

    sekian terjemahan lanjutan.

  18. qzink666 Says:

    @sitijenang
    terimakasih terjemahannya, bro..
    Sekalian numpang tanya, kalo kaangkaha itu artinya apa, bro?
    *serius gak tau*

  19. qzink666 Says:

    Wekk.. Udah dijawab.. Makasih, bro..๐Ÿ˜›

  20. joyo Says:

    @qzink
    pas nulis komen tadi aku lagi nyeruput kopi, eh yg ketelen kata2 lilo, nrimo, sabar dan topo, jadi tambah nikmat๐Ÿ˜€


  21. […] Pengalaman sitijenang 11:32 pm Mohon maaf buat non-Jawa. Dipastikan tidak paham. Ini sebetulnya hanya buat catatan pribadi, tapi siapa tahu bermanfaat buat sesama. Beberapa do’a warisan ayah saya. Tidak disertai terjemahan dan saya tidak bersedia menerjemahkan. Tidak dianjurkan untuk mencobanya. Terlebih bila tidak tahu arti dan paham soal maknanya. Teringat lagi karena tulisan soal kitab Sasangka Djati. […]

  22. celo =3 Says:

    kok saya berasa lagi baca bloggnya mas sigid ya…???

  23. bedh Says:

    nyerah qzink, gak ngerti gw.

    untung ada mister jenang yang mau berbaik hati sedikit menyederhanakan.

    @sitijenang
    thx dah buat saya sedikit tidak penasaran, karna saya sedikit jadi lebih mengerti.

  24. qzink666 Says:

    @joyo
    he he he.. Tak kirain kamu masturbasi di blog saya..๐Ÿ˜›

    @sitijenang
    nice post, bro..

    @celo =3
    saya anggap ini sebagai pujian..๐Ÿ˜€

    @bedh
    wong saya yg keturunan priyayi nulisnya aja gak ngerti, apalagi kamu yang nyata-nyata rakyat jelata ngebacanya.. he he he..
    Maka bersyukurlah karena masih ada orang yg mau repot2 menerjemahkan..๐Ÿ˜›

  25. Praditya Says:

    Lho ‘pamudaran’ nya mana??

  26. qzink666 Says:

    Besok sore lagi, bro..
    Tadi keburu capek, jadi saya hentikan!:mrgreen:

  27. stey Says:

    rela,sabar,narimo,aduuuh

  28. stey Says:

    rela,sabar,narimo,aduuuh kok ga saya banget ya..

  29. stey Says:

    yg no 28 tu bisa dihapus g zink?salah pencet soalnya.,hehe.

  30. antarpulau Says:

    Permisi…
    Saya nyasar kesini melalui URL’nya Pak Siti… (sitijenang)…
    Ternyata lagi musim ilmu tua terungkap yaa….

    *sambil diem-diem nendang kakinya Pak Siti agar menerjemahkan artinya..*

  31. qzink666 Says:

    @stey

    rela,sabar,narimo,aduuuh kok ga saya banget ya..

    sama.. Ini pun gak saya banget sebenarnya..
    Cuma buat gaya-gayaan doang, sist..:mrgreen:

    yg no 28 tu bisa dihapus g zink?

    gak usah lah, sis..
    Biar tampak alami..๐Ÿ˜›

    @antarpulau
    nyasar?? Hati-hati lho jgn sampe lupa jalan pulang..๐Ÿ˜›

    Ternyata lagi musim ilmu tua terungkap yaa..

    kami sepakat jadi garda depan budaya asli, bro..:mrgreen:
    *lirik bro’ deKing dan bro’ Jenang*

  32. antarpulau Says:

    kami sepakat jadi garda depan budaya asli, bro.. :mrgreen:

    —————-
    waahh… keren tuh…. *jempol*
    jangan seperti Pulau sebelah Indonesia yaa….
    Masa kebudayaan sendiri bisa kecolongan sama tetangga sebelah rumah….:mrgreen:

  33. mulut Says:

    welgedewelbeh
    Nguri-uri pusaka bangsa memang harus terus digalakkan ditengah hembusan angin topan budaya global. Njejeg bumi, ngarti kawitan memang sudah selayaknya diangkat menjadi isu besar perjalanan pencarian jati diri bangsa kita. Kita adalah bangsa besar, dan catatlah dalam pikiran kita bahwa kebesaran itu harus kita perbesar lagi.

    โ€ Segemilang apapun sejarah bangsamu di masa lalu, tak boleh mencegahmu untuk meraih kegemilangan di masa depanโ€. (Anand Krishna – Indonesia Jaya)

    http://jepits.wordpress.com/2007/11/09/indonesia-jaya/

  34. tukangkopi Says:

    *bookmark dulu, mata gw lagi pedih*

  35. verlita Says:

    hmmmmm
    *mengernyitkan kening…*


  36. hee… pusing…..
    itu kitab kejawen kah? klo ia.. wah memang pancen buat pusing hehehe…
    ajaran sendiri aja blum begitu faham benar euy๐Ÿ˜›

  37. brainstorm Says:

    kitab kafir apalagi ini?? :twistwed:

    rila? gue pejuang sejati bro..
    narima? enak aje lo!!
    sabar? udah abis dimakan waktu

    ngga ada sisa lagi kaya’nya bro

  38. Irwan Says:

    Simbah lg ngelmu ya?
    Ntar bisa terbang ga?

  39. qzink666 Says:

    @antarpulau
    he he he..

    @mulut
    terimakasih..
    quote Anand Krishna-nya mencerahkan, bro..

    @tukangkopi
    begadang ya, bro??

    @verlita
    waspadalah dgn tanda2 penuaan dini..:mrgreen:

    @shinobigatakutmati
    iya.. Tepatnya, kitab aliran Pangestu, Solo..

    @brainstorm๐Ÿ‘ฟ

    @irwan
    ha ha ha..


  40. MANTAPZX!!!
    Wah rila dan narima … keindahan dan kedamaian yang akan tercapai seandainya kita bisa memadukannya.
    rila yang bersifat keluar (memberikan) dan narima yang bersifat masuk ke dalam (menerima) merupakan suatu konsep keseimbangan.

    Ada satu hal yang kadang “menarik” dari konsep narima itu.
    Narima kalau dalam konteks agama Islam disebut qonaah…bagaimana kita bisa merasa cukup.
    Tapi …
    Yang lumayan sulit adalah tetap memadukan narima dan semangat. Bagaimana perasaan “cukup” tidak mematikan semangat berusaha kita …

  41. edratna Says:

    Doa yang diajarkan orang tua sering memberikan falsafah yang penuh nilai-nilai keluhuran budi. Dan kalau kita bisa mengaplikasikan, akan membuat kita sabar, selalu bersyukur dan berpikir positif.


  42. Rilo, Narimo lan Sabar..??
    Lah…ini sejatinya ” Karakter paling FUNDAMENTAL dari ALAM SEMESTA ini “.
    Jika ada manusia yang mencoba keluar dari Karakter tersebut sesungguhnya Dia telah keluar ORBIT dari Alam itu sendiri…

    Halah..halah…Tepangaken Mas,
    kulo cah Jowo saking Kalimantan

  43. Wan manis Says:

    Mungkin tidak manusia modern, yang tidak kuat lapar, bisa sempurna spiritualnya ?

  44. oca Says:

    wah mas bisa bisa sampean kalau tidak fasih mengupas buku kebatinan ,apalagi Serat Sasongkojati ,sampean bakal tidak pernah minum air sampai selesai , cuma seteguk-seteguk. ok salam kenal

  45. Edi Says:

    bila baik,,why not….budi pekerti yg luhur selalu baik,apapun bahasanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: