Teman Lama, Ken Arok dan Nietzsche

Januari 2, 2008

Akhirnya liburan gak jelas saya di Anyer selesai sudah. Hari ini saat jarum jam di tangan saya menuding di angka 10 saya keluar dari hotel laknat tempat dimana saya menabung dosa selama di Anyer untuk kemudian pergi ke halte bis yang akan membawa saya ke Cirebon tempat dimana saya lahir, besar dan terusir..

Yupp.. Sebelum kembali melacur ke Palembang, saya ingin menengok kampung halaman saya di Cirebon dan bertemu dengan teman-teman lama saya barang satu-dua hari.

Seorang teman berpawakan aneh (tubuh ceking penuh tattoo, mata yang selalu berair, rambut gondrong di cat merah, leader band underground bernama Namruz, langganan T.O polisi, tapi begitu mengidolakan Ken Arok).

“Ken Arok itu salah satu cerminan manusia unggul,” Ucapnya suatu kali saat kami masih sering nongkrong bareng, “Meskipun dia datang dari kalangan rakyat jelata, tapi cita-citanya untuk menjadi raja Singosari tak sekalipun luntur. Dan terbukti akhirnya cita-cita itu berhasil ia wujudkan. Bahkan sejarah mencatat, Ken Arok-lah yang kemudian berhasil membawa Singosari mencapai masa keemasannya!”

“Tapi dia itu konon titisan Dewata, bro?” Saya berusaha membantah.

“Omong kosong!” Bentaknya. Saya tak mengkeret karenanya. Kalau orang lain yang melihat cara dia ngomong dan tubuh penuh tattoo sebagai penambah keangkeran, saya malah melihatnya sebagai sesuatu yang lucu.

“Para pujangga keraton yang menggembar-gemborkan Ken Arok sebagai titisan Dewata itu karena mereka gak rela tampuk kerajaan diduduki rakyat jelata. Maka demi melanggengkan hegemoni mereka, Ken Arok yang jelas-jelas rakyat jelata pun dibuatlah cerita sebagai titisan Dewata” Katanya. Begitulah, kalo sudah membicarakan Ken Arok, dia akan menjelma seperti guru sejarah yang menerangkan di muka kelas.

“Tapi cara dia mendapatkan kursi kerajaan itu kotor. Dia bunuh Tunggul Ametung dan merampas kursi kerajaan berikut istrinya, Ken Dedes.” Saya tetap berusaha menyela.

“Kuncinya adalah keyakinan. Kalau memang itu jalan satu-satunya untuk merebut kekuasaan dan menyingkirkan dominasi kalangan atas yang merasa bahwa tampuk kekuasaan hanya diperuntukan bagi mereka, kenapa nggak! F**k of Ningrat! Ken Arok itu begal jalanan, jadi kalo tidak dengan cara seperti itu, dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu seumur hidupnya. Toh setelah itu terbukti, dibawah kepemimpinan Ken Arok, rakyat Singosari lebih makmur dari sebelumnya?”

“…”

“Satu lagi, saya malah sempat berpikir bahwa karya Nietzshe yang termashyur berjudul Will to Power, terinspirasi dari kepahlawanan Ken Arok ini.”

“Ha ha ha.. Kamu terlalu berlebihan, kawan.. Itu tidak mungkin.” kata saya.

“Bisa saja kan?” Katanya lagi.

“Terserah kamu deh..” Saya menyerah.

32 Tanggapan to “Teman Lama, Ken Arok dan Nietzsche”

  1. Sayap KU Says:

    Ah menjadi commentator pertama ditahun 2008..
    Met tahun baru ya mas.

    -Ade-

  2. Praditya Says:

    Selamat kembali…πŸ˜€

    Yg jelas Ken Arok hanya manusia biasa…πŸ˜†

  3. caplangβ„’ Says:

    mampir dong, bro…πŸ˜€

  4. Hanna Says:

    Qzink sudah kembali. Hanna yang pamit, hiks-hiks…
    Ken Arok, Ken Dedes, saya kurang kenal mereka, he he. Terima kasih sudah menulis sedikit dan memperkenalkannya. Tetap semangat ya, Qzink..

  5. tukangkopi Says:

    Ada skrinsyut ken dedes gak?:mrgreen:

    Gw suka kata2 “kuncinya adalah keyakinan”. Tapi kalo soal tahta yang ditukar dengan nyawa itu, hmm…gw sih percaya karma..πŸ˜€

  6. ordinary Says:

    ada afa ini.. ada afa ini
    *menagih oleh2*

  7. verlita Says:

    hidup ken arok!!!! loh kok???
    met tahun baru yah….!!!πŸ™‚

  8. goop Says:

    Ken Arok dan Ken Dedes, juga Ken Umang…
    yang kemudian Ken Arok mati juga karena anaknya atau lebih tepat karena keris buatan mPu Gandring yang telah mendapat kutukan, Wiii kalo saya ko’ ngeri ya, kekuasaan bisa menimbulkan bunuh membunuh macam bgitu…
    Apa tumbal itu memang sebuah kemestian??
    btw, welkom back bro:mrgreen:

  9. deethalsya Says:

    tmn mas itu fans berat Ken Arok yah?!πŸ˜€
    btw, met taon baru yah mas..
    oleh2-a ditunggu..πŸ˜‰

  10. suandana Says:

    Tapi, para ningrat itu, dulunya kan juga rakyat jelata… Pendiri Mataram juga sama kok… rakyat jelata yang hidup dari bertani…

  11. rozenesia Says:

    Anaknya Ken Arok jadsi ningrat ndak?πŸ˜›

    *lirik komen di atas*

  12. celo =3 Says:

    β€œPara pujangga keraton yang menggembar-gemborkan Ken Arok sebagai titisan Dewata itu karena mereka gak rela tampuk kerajaan diduduki rakyat jelata. Maka demi melanggengkan hegemoni mereka, Ken Arok yang jelas-jelas rakyat jelata pun dibuatlah cerita sebagai titisan Dewata”

    tolong sampaikan padanya…. untuk melanjutkan mimpi bahwa rakyat jelata juga bisa menjadi raja maka mereka mati-matian menolak anggapan ken arok adalah titisan dewa dan menuduh para ningrat hanya ingin melanggenggkan hegemoni mereka…

    kalo ada orang ningrat yang tanya… jawab aja kebalikannya… toh orang yang hidup di jaman itu udah mati semua kan…

    *apatis mode off*

  13. danalingga Says:

    Inget ken arok jadi inget darah-darah yang tertumpah. Apakah memang harus begitu ya?πŸ™„

  14. qzink666 Says:

    @Sayap KU
    met taon baru juga, de..

    @praditya
    yup.. Manusia biasa dan bukan titisan dewa. Setidaknya begitulah menurut teman saya..πŸ˜›

    @caplang
    mampir kemana, bro?

    @hanna
    yaaa.. Saya datang, mbak Hanna malah pergi.. Gak seru!πŸ˜₯

    @tukangkopi
    dan Ken Arok pun menerima karma itu..😦

    @ordinary
    gak ada afa-afa, mbak..πŸ˜€
    *menyodorkan oleh2*

    @verlita
    met taon baru juga..πŸ˜›

    @goop
    untuk sebuah cita-cita besar, saya pikir itu harga yg pantas, paman..😳

    @deethalsya
    met taon baru juga, Deet..

    @suandana
    yupp.. Seperti itulah prosesnya, pak..
    Dan kebetulan Ken Arok memilih prosesnya sendiri..πŸ˜›

    @rozenesia
    anggap itu sebagai bonus dari hasil jerih payah ayahnya, bro..

    @celo =3
    segera saya sampaikan, bro..πŸ˜€

  15. qzink666 Says:

    @danalingga
    sepertinya memang mesti begitu, bang..πŸ˜€

  16. stey Says:

    jadi moral of the story adalah untuk menuju ke tampuk kekuasaan kita perlu menghalalkan bnyk cara..apa begitu?


  17. menurut gw, pemimpin itu harus tau bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa..


    sekian..:mrgreen:

  18. celo =3 Says:

    menurut gw pemimpin itu harus tega mengalirkan darah rakyatnya…

    *ganti kewarganegaraan*

  19. Kurt Says:

    Hai mas Nietze yang ku kenal ini asline wong Crebon tah?

    Tapi keyakinan saya tidak seyakin dan senekat Ken Arok atau Nietze untuk memastikan apakah sampean wong Crebon…πŸ™‚
    sebelum menapatkan pengetahuan hakkul yaqieen heheh

  20. goop Says:

    “Harga yang pantas”
    dan
    “sepertinya memang mesti begitu”
    ????
    tetap saja ada kegelisahan itu sobat😦 benarkah kekuasaan harus merampas?? dan apa harga yang pantas itu?? nyawa kah?? jadi sebuah kemestian ya?? haha… maaf malah jadi terus bertanya:mrgreen:

  21. celo =3 Says:

    @goop…
    machiavellis bung… demi kekuasaan bahkan nyawa sendiri masih kurang…

  22. StreetPunk Says:

    Banyak yang mendambakan kekuasaan..

  23. goop Says:

    @celo=3
    makasih info-nya mas
    wheee!!! bahkan nyawa sendiri masih kurang??
    *melihat nyawa manusia seperti nyamuk barangkali ya??*
    berhasilkan mas machiavelli ini?? atau mati juga??

    PS: maaf mas Qz.. sdikit ngobrol disiniπŸ˜€, smoga berkenan

  24. qzink666 Says:

    @stey
    bukan menghalalkan banyak cara, saya kira, tapi mengikuti proses..
    Dan kebetulan Ken Arok memilih proses yg berbeda..πŸ˜€

    @morishige_turun_gunung
    yupp.. Setubuh..πŸ˜›

    @celo =3 [1]
    tapi yg saya maksut disini adalah membunuh raja demi kemakmuran rakyat, bro..

    @kurt
    di Cirebon ada sebuah pesantren bernama buntet..
    Pesantren itu terletak persis di bawah rel kereta..
    Maaf, apakah pak Kurt salah satu pengurus di pesantren itu?

    @goop [1]
    saya percaya bahwa ada harga untuk segala sesuatu, paman..

    Benarkah kekuasaan harus merampas?

    bukan hanya kekuasaan, saya rasa, tapi segala sesuatu..
    Dan ketika satu2nya jalan adalah dgn merampas, apa boleh buat..πŸ˜€

    @celo =3 [2]
    mengutip quote Machiavelli..

    Aku belajar untuk berbuat sesuatu ditengah keadaan yg serba tak ada, sebelum akhirnya aku bisa menikmatinya

    @StreetPunk
    karena kekuasaan itu nikmat..πŸ˜›

    @goop [2]
    kita tunggu Celo yg menjawab ya, bro..
    Tapi sedikit saya kutipkan quote dari beliau..

    Manusia terlalu dibutakan oleh pertimbangan moral dan berbagai peringatan, semua ini membuat manusia tak bisa mencapai apapun.

  25. goop Says:

    Heee…
    pertimbangan moral dan peringatan itu malah membutakan??
    aneh… benar-benar aneh…
    menjungkirbalikkan kemapanan,
    atau saya yang jarang piknik, karena malah baru tau??😦
    ah makasih ya,
    *pulang bawa oleh-oleh*:mrgreen:

  26. sigid Says:

    Ken Arok itu ambisius ya mas.
    Tapi jaman sekarang jika pengin meniru metode pengalihan kekuasaan model Ken Arok ntar bisa ditangkap polisi.
    Kecuali kalau kita juga sakti mandraguna:mrgreen:

  27. bedh Says:

    woi ken arok jadi ke bandung kan?

    kebayang kalo ken arok hidup jaman sekarang, bisa2 nggak berenti mimisan doi liat bahu mulus2 di mall.kalo jaman dulu aja baru ngeliat betis doank doi berani berperang gimana kalo sekarang?
    sapa lagi yang mau dibunuhnya kalo ngeliat ce cantik pake tanktop segitu banyak. huhuhuhuhu

  28. Moerz Says:

    kalo qzink temenan ama sapa…
    beethoven atau mozart…
    hihihih…

  29. brainstorm Says:

    pakabar teman lama???

  30. qzink666 Says:

    @goop
    saya hanya mengutip quote-nya Machiavelli, paman, dan bukan berarti mengamininya lho..:mrgreen:

    @sigid
    itupun kalo gagal, pak..
    Kalo berhasil mungkin lain cerita..
    Seperti Fidel Castro atau Raja Husain mungkin??

    @bedh
    tapi Ken Arok pun hidup pada zaman di mana wanitanya masih memakai kemben lho, bro..πŸ˜›

    @Moerz
    Slamet Gundul atau Kusni Kasdhut, mungkin??πŸ˜€

    @brainstorm
    kemenong aje lo baru nongol lagi??πŸ˜›

  31. celo =3 Says:

    kita tunggu Celo yg menjawab ya, bro..

    jangan-jangan gw salah lagi…. *buka buku pelajaran* ….

  32. celo =3 Says:

    Tapi jaman sekarang jika pengin meniru metode pengalihan kekuasaan model Ken Arok ntar bisa ditangkap polisi.

    Lha bukannya dengan adu domba dan fitnah sana sini kita bisa melangsungkan metodenya ken arok itu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: