Bertanya

Desember 23, 2007

Baru-baru ini saya dapat satu e-mail dari seorang kawan lama yang menurut saya membingungkan luar biasa. E-mail itu berisi beberapa pertanyaan yang harus saya jawab.
Dan inilah bunyi pertanyaan itu;

  1. Apa itu kebenaran dan kenyataan?
  2. Apa itu kenyataan yang benar dan kenyataan yang salah?
  3. Bagaimana hubungan antara yang benar dan yang baik?
  4. Apakah tujuan dari pengetahuan tentang baik dan buruk itu?
  5. Apakah kebahagiaan itu terutama tergantung kepada kepuasan jasmani ataukah kepada kepuasan rohani?
  6. Apakah kebahagiaan seseorang itu merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kebahagiaan orang lain, sehingga tidak mungkin seseorang berbahagia seorang diri?
  7. Apakah setiap peristiwa di dunia ini berjalan secara kebetulan atau memang ada yang mengatur?
  8. Bagaimana hubungan antara Tuhan, manusia, kelanggengan dan kebebasan moral?
  9. Dapatkah kita mencapai tujuan kita hanya dengan mengandalkan kekuatan kita sebagai manusia, dan tanpa mengharapkan campur tangan Tuhan sama sekali?
  10. Apakah masih ada bagian dari dirimu yang patut di hormati?

Jujur, untuk beberapa pertanyaan terutama yang terakhir saya begitu kesulitan untuk menjawabnya. Apakah ada teman-teman yang mau membantu?

29 Tanggapan to “Bertanya”

  1. Praditya Says:

    Wah, semua pertanyaan itu (selain yg trakhir) biasa ditanyakan kepada para filsuf yang mengagung-agungkan filsafat.

    Mereka menanyakan tentang nilai kebenaran dari pemikiran filsafat tentang mutlak tidaknya kebenaran tersebut…

    Klo pertanyaan terakhir sih itu pertanyaan orang iseng ajah… Tiap orang kan punya kehormatan…😀

  2. qzink666 Says:

    Pertanyaan terakhir mungkin memang cuma iseng, tapi itulah pertanyaan yg membuat saya termenung seharian, bro..
    Btw, pertamax forevah nih..😛

  3. bachtiar Says:

    mau njawab nomor 3 aja
    yang baik belum tentu benar

    baik itu subyektif
    benar itu obyektif


  4. Untuk men-jawab pertanyaan-pertanyaan di-atas menurut-ku sangat relatif ter-gantung siapa yang men-jawab-nya bro, dan aku yakin akan menimbul-kan perdebatan panjang😉

    Untuk pertanyaan terakhir, aku mungkin bisa sedikit ber-bagi apa yang aku percayai:

    Hargai-lah Sesamamu Manusia Sama Seperti Engkau Menghargai Dirimu Sendiri
    Bagaimana Kita Bisa Menghargai Orang Lain Kalau Kita Tidak Menghargai Diri Kita Sendiri

    Hormat aku sinonim-kan dengan Hargai, Aku yakin bro pasti mengerti maksud-ku😛

  5. goop Says:

    Saya mau membantu sobat
    *serius*
    tapi karena keterbatasan saya, untuk saat ini saya belum bisa😀
    ntar klo sudah ktemu smua jawaban, diposting yak, saya tunggu :))

  6. caplang™ Says:

    manusia tak akan sempurna hingga mati
    sambil menunggu, mari bersama terus berusaha mendapatkan jawabannya🙂

  7. rozenesia Says:

    Jawab saja, menurut sudut pandangmu. Dan bilang kamu menjawab dari sudut pandangmu, dan itu kebenaran relatif.😉

  8. dodot Says:

    jawaban dari saya:

    dengar cvc (saya hanya pendengar dan tidak iklan) di http://cvc.tv/go/indo/

    anda akan menemukan jawaban, ha ha ha hacin….

  9. qzink666 Says:

    @bachtiar

    baik itu subyektif
    benar itu obyektif

    dgn kata lain, sebuah ‘benar’ menurut kita belum tentu ‘baik’ menurut umum ya, bro..
    Tapi, sebuah ‘baik’ (meskipun belum tentu benar) akan tetap bisa diterima (hanya) karena berjuta-juta orang mengamininya..

    @extremusmilitis

    Hargailah Sesamamu Manusia Sama Seperti Engkau Menghargai Dirimu Sendiri

    hukum kasih, bukan begitu, bro?

    @goop
    kalo saya sampai memposting jawaban nomor 10 bukankah itu sama artinya dgn menelanjangi diri sendiri, paman?

    @caplang
    terus mencari sampai dapat yg sejati ya, bro..😛

    @rozenesia
    yupp, setubuh..
    Kebenaran memang relatif, bro..

    @dodot
    terimakasih info-nya, bro..😛

  10. Pyrrho Says:

    belum tentu yang nanya itu bisa jawab kan ?😉

    kebenaran itu banyak yang mengatakan relatif, tapi pada suatu titik tertentu, kebenaran itu pasti mempunyai kepastian. masalahnya, apakah kita akan sampai pada titik itu ?

    @ Praditya :

    Wah, semua pertanyaan itu (selain yg trakhir) biasa ditanyakan kepada para filsuf yang mengagung-agungkan filsafat.

    Mereka menanyakan tentang nilai kebenaran dari pemikiran filsafat tentang mutlak tidaknya kebenaran tersebut…

    Filsafat itu hanyalah ilmu. Filsafat mengajari kita supaya berpikir secara logis dan sistematis, dan juga radikal.

    Kalau kita menegaskan suatu kebenaran, maka dlm filsafat mengajarkan kita untuk “berpikir” tentang kebenaran itu, dan bukan hanya menerimanya begitu saja. Inti dari filsafat adalah berpikir, itu saja. Dan tidak ada pengagung-agungan disitu.

    Filsafat sering “ditakuti” karena “cara berpikir” di dalam filsafat itu yang bisa saja radikal dan menihilkan kepercayaan. Tapi itulah dinamika dlm filsafat. Bahkan yang kita percayai pun bisa dipikirkan.

    Saya kok jadi ingat salah satu quote “Saya berpikir maka saya percaya”. Apakah kepercayaan tidak perlu proses dan cara berpikir lagi ?

    Sebagai ilmu, filsafat itu netral.

  11. Pyrrho Says:

    lagi blogwalking nih…😉

    *sial, liburan kok malah internetan…*:mrgreen:

  12. bedh Says:

    ya..ya…ya….
    saya setuju sekali pertanyaan di atas memiliki jawaban yang berbeda pada masing2 orang.

    tapi percayalah setiap perbedaan itu ada persamaannya, dan setiap persamaan itu ada perbedaannya. Disana belum tentu memiliki kebenaran tapi belum tentu juga salah. Adalah tidak salah jika kita mencoba mencari kebenaran, yang salah adalah mencari-cari kebenaran dengan kebenaran dari diri kita saja. jadi jangan menyalahkan yang salah tapi cobalah membenarkan yang salah, tunjukkan bahwa itu benar2 salah dan cobalah untuk bersama-sama membenarkannya. yang benar belum lagi benar kalau belum dilakukan, tapi yang salah jika dilakukan sudah pasti salah, jadi tak baik suka menyalahkan orang, karna kebenaran yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain.tak baik kalau kita terlalu sering mencari-cari perbedaan namun tak baik juga cuma mencari dukungan dengan hanya menjual persamaan. Mungkin, ada baiknya masalah ini kita tanyakan pada bang diman.
    bagaimana bang diman?

    wkakakakakakakakakakakkakakakak
    gw bacanya aja pusing apa lagi jawabnya.
    nice post bro. tapi belum tentu benar loh.
    huhuhuhuhuhuu

    eh tumben yang terhormat (“ter” dalam artian tidak sengaja, seperti “tersandung” dkk) belum ngasih comment.
    sepertinya doi sedang “ter”putar-putar di baling2 kicir angin huhuhuhuhu

  13. bedh Says:

    panjang juga yah ternyata.

    segannnnnnnnnnnnnnnnn.

    segan itu artinya saya masih menghormati dirimu loh qzink. huhuhhu

  14. bedh Says:

    hatrix nggak yah?
    ah nggak ah, nggak enak.
    segan.

  15. tukangkopi Says:

    Apakah masih ada bagian dari dirimu yang patut di hormati?

    Gw jawab dengan tegas, MASIH!
    Gimana kita ngerasa jadi manusia kalo gak ngerasa masih ada bagian dari diri kita yang pantas dihormati???
    Maaf, gw esmosi😀

  16. Sayap KU Says:

    Gak tahu musti jawab apa, ada dalam hati tapi gak tahu musti ngomonginnya gimana…

    -Ade-

  17. ordinary Says:

    *mikir*
    pertanyaannya terlalu simpel
    tapi masalahnya otak manusia itu kompleks😉
    😆

    well, zink.. dialektika itu mirip pasir hisap zink. Karena ente udah memasukinya, sediakan obat sakit migren.
    Selamat menikmati “perenungan”nya
    ==========
    bener2 koment OOT

  18. abee Says:

    jawaban untuk nomor 10 dengan tegas: MASIH

  19. qzink666 Says:

    @pyrrho

    kebenaran itu banyak yang mengatakan relatif, tapi pada suatu titik tertentu, kebenaran itu pasti mempunyai kepastian. masalahnya apakah kita akan sampai pada titik itu?

    berarti kebenaran mirip kesempurnaan ya, bang?

    @bedh
    sumpah, komen lo kali ini bikin gw ngahuleng seharian, bro..
    Gw heran, ternyata lo bisa serumit itu yak?

    @tukangkopi
    saya rasa sebenarnya bukan pertanyaan menuding kok, bro, tapi lebih sebagai perenungan untuk diri sendiri.. Jadi semacam, “masih ada gak yah?”

    @sayap KU
    gimana kalo jawabannya dikirim lewat telephaty aja, de?:mrgreen:

    @ordinary
    malah saya sudah ‘menyetubuhi’-nya, mbak.. he he he..

    @abee
    sabar, bro, sabar..
    minum dulu, minum dulu..😛

  20. hanna Says:

    Saya belum bisa menjawab, he he.
    Setiap kita mempunyai jawaban dan alasan tersendiri.

  21. qzink666 Says:

    Akur, mbak..
    Setiap kita punya satu peranan yg harus kita mainkan memang punya jawaban sendiri-sendiri, mbak..😛

  22. bedh Says:

    huhuhu
    itumah jawaban ngaco qzink…
    sengaja dirumit2in biar seperti benar😆

    yang nanya itu biasanya lebih lebih mengerti😉
    pertanyaannya kan udah, sekarang tinggal nuggu jawabannya nih. huhuhuhu

  23. qzink666 Says:

    Jawabannya adalah..
    “Tak harus ada jawaban untuk setiap pertanyaan, bro..”
    *ngles mode: ON*

  24. arch222 Says:

    Aku Kelana
    sang pelipur lara
    duniaku dunia cerita
    aku, ada dan tiada

    aku kelana
    bagai awan di angkasa
    datang dan pergi begitu saja
    yang tak tetap rupa

    mengapa memberatkan diri dengan sejuta
    tanya yang tak berguna
    aku adalah aku
    jadilah yang terbaik ketika kamu sebagai yang terbaik
    lalu – ketika tanyamu tak terjawab
    kalutmu menggunung
    bunuh dirilah – tak selesai juga
    matahari masih tetap terbit di Timur
    walau masalah tak selesai
    walau kau mati juga

  25. bedh Says:

    @arch222
    hell yeah….
    comment yang keren.
    sayang gak ada link wat berkunjung.
    sayang banget.


  26. Yupe kurang lebih seperti itu bro. Hukum Kasih😉

  27. deethalsya Says:

    nambah 1 pertanyaan nih mas..
    pas bgt.. semalam, ada tmn yg nanya gini:
    bedanya egois dgn ambisius apa yah??

    *pertanyaan-a sederhana, tp dt binun jwb-a*
    bs bantuin dt gak..:mrgreen:

  28. Suluh Says:

    wah gue dulu nanya kayak gitu malah jadi bikin heboh milis ft99… sampai gak jelas juntrungannya… tanya aja mas joyo kalau gak percaya…

    jadi ingat masa lalu…. hwekekekekekkeke

  29. zal Says:

    katanya begini :
    1. kebenaran adalah kemutlakan, yang sebenarnya harus dilakukan, kenyataan bisa jadi adalah dilakukan mesti tidak benar.
    2.kenyataan benar dan kenyatan salah adalah satu bagian, seperti coin silahkan pilih yg mana
    3.kata orang jawa good is not enough, namun merupakan pintu gerbang benar
    4. tujuan dari pengetahuan tentang baik dan buruk itu?, suapaya kau terperosok kesalah satu lubangnya
    5.kebahagiaan itu terutama tergantung kepada kepuasan jasmani ataukah kepada kepuasan rohani? keduanya, kepuasan jasmani tok, akan mendatangkan kegelisahan, kepuasan rohani tok mendatangkan kemasgulan.
    6.tergantung, seberapa besar kepedulian dan kemampuan, dan seberapa besar berterimanya lingkungan
    7.tidak ada yang kebetulan, jika tampak kebetulan itu dinamakan sebab untuk memudahkan fikiran menyambanginya.
    8.given
    9.imposible, kalau terasa usaha, hanya pesan menggembirakan.
    10.kalau kau mencapainya, tentu sisi itu amat sangat terhormat.

    10 jawaban ngasal…serius amat…😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: