Seminggu Bersama Nietzsche [7]

Desember 20, 2007

Lha, kemaren sampe mana yak? Oh iya, dari siapa Nietzsche bisa memiliki pengetahuan psikologi yg mendalam seperti itu?

Dan jawabannya adalah Wagner! Yup, banyak pendapat yg mengatakan bahwa sumber Nietzsche dalam hal ini adalah Wagner. Anggapan ini sangat mungkin benar. Wagner memang merupakan contoh lengkap seorang individu yg dipenuhi keanehan psikologis..

Nietzsche mulai sakit-sakitan
Pada tahun 1879 Nietzsche terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya di Universitas Basel karena terus-menerus sakit. Selama bertahun-tahun kesehatan Nietzsche terganggu, dan pada saat ini keadaannya sudah sangat parah. Ia mendapatkan sedikit pensiun dan dianjurkan untuk tinggal di tempat yg iklimnya lebih bersahabat.

Selama sepuluh tahun berikutnya Nietzsche berkeliling ke Italia, ke sebelah selatan Perancis, juga ke Swiss, untuk menemukan iklim yg lebih rama atas penyakitnya.

Apa yg sebenarnya tidak beres pada dirinya? Semuanya! Penglihatannya semakin parah, hingga ia tak sanggup melihat lagi (dokter menganjurkannya untuk tak membaca lagi. sepertinya dokter itu bahkan menganjurkan untuk tak bernapas lagi.). Ia menderita sakit kepala parah yg betul-betul membuatnya tak berdaya. Karena penyakit ini, ia bisa berhari-hari terbaring di tempat tidurnya. Selain itu, Nietzsche banyak sekali mengeluh atas kondisi fisiknya yg digerogoti banyak penyakit. Ironisnya, inilah orang yg mencanangkan gagasan tentang Manusia Super. Namun demikian, dalam karya Nietzsche, kita tentu harus memisahkan unsur pelarian psikologis, dgn berbagai gagasan Nietzsche yg lebih bisa diterima.

Superman sendiri atau manusia super itu pertama kali muncul dalam karya Nietzsche yg berjudul Thus Spake Zarathustra, sebuah puisi panjang yg berisi syair-syair pujaan yg begitu jujur dan bombastis; dan isinya yg tanpa humor itu semakin diperparah dgn upaya pengarangnya untuk menciptakan “ironi” dan “tetek bengek” basi. Maka gak heran kalau banyak pengamat yg mengatakan bahwa karya Nietzsche ini sukar dimengerti, kecuali bila anda adalah seorang remaja. Tapi jgn salah, pengalaman yg didapat dgn membaca karya ini dalam usia yg begitu muda sanggup “mengubah hidup seseorang.” Eh, berlebihan yak? Ya, setidaknya itulah yg saya rasakan..

Nietzsche jatu cinta pada Lou Salomé
Dalam perjalanan yg tak hentinya ke tempat-tempat sejuk dan pemandian air panas di Swiss, Nietzsche diperkenalkan oleh temannya , Paul Rée, kepada seorang perempuan Rusia berumur 21 tahun bernama Lou Salomé. Rée dan Nietzsche, entah sendiri maupun sama-sama, suka mengajak Lou jalan-jalan dan mencoba mengisi kepala perempuan tersebut dgn gagasan-gagasan mereka tentang filsafat.

Lou, Rée, dan Nietzsche pun terlibat dalam suatu hubungan segi tiga, suatu hubungan yg sulit dibayangkan bisa terjadi diantara orang-orang seusia mereka, dimana sedikit banyak pengalaman seksual yg mereka miliki.

Pada mulanya kedua orang ini mendeklarasikan diri bahwa mereka akan bersama-sama hidup dan mempelajari filsafat dalam sebuah hubungan platonis yg murni spiritual, tanpa hubungan badan. Sesuatu yg rasanya mustahil ya?

Kemudian, Rée dan Nietzsche menyadari (dalam hati mereka masing-masing, tentunya) bahwa mereka sebetulnya mencintai Lou, dan memutuskan untuk melamar Lou. Celakanya, Nietzsche melakukan kesalahan konyol dgn meminta Rée untuk menyampaikan lamarannya kepada Lou. Maka hasil akhirnya pun bisa ditebak. Lamaran Nietzsche maupun Rée ditolak Lou. Pada akhirnya mereka berpisah. Nietzsche begitu putus asanya hingga ia menulis, “Malam ini aku akan menghisap opium sampai mabuk.”

Dan setelah menghabiskan musim dingin di Nice, Turin, Roma, dan Menton, Nietzsche menghabiskan musim panas “1500 meter di atas bumi, dan berdiri lebih tinggi di atas semua umat manusia” di Sils Maria, sebuah dusun kecil di tepi danau di Swiss Engadine. Di tempat inilah Nietzsche menghabiskan sebagian besar hidupnya sendirian dan terasing. Ia menyewa kamar yg murah, bekerja terus menerus, dan makan di restoran murah. Dgn sekuat tenaga ia melawan rasa sakitnya sedapat-dapatnya, sambil merawat sakit kepala yg membutakan matanya. Bukan sesuatu yg tak biasa bila dia menghabiskan malamnya dgn muntah-muntah. Nietzsche pun seringkali berada dalam keadaan tak berdaya selama 3 atau 4 hari dalam sepekan. Namun begitu, setiap tahun ia menghasilkan karya-karya yg mempunyai kualitas mencengangkan. Di antara karya-karyanya, The Dawn, The Joyful Wisdom, dan Beyond Good and Evil, terkandung kritik yg tajam atas peradaban Barat; nilai-nilainya, prinsip psikologisnya, juga semua ketimpangannya.

Gayanya yg jernih dan penuh dgn aforisme, dijejali dgn ide-ide hebat. Ini memang bukan filsafat yg sistematik, tapi jelas merupakan suatu cara berfilsafat dalam tatarannya yg tertinggi, setidaknya menurut saya, he he he..

Disambung besok lagi aja yak, ngantuk nih..

10 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [7]”

  1. Sayap KU Says:

    Pertamax …..

    -Ade-

  2. Sayap KU Says:

    Ditunggu tulisan berikutnya ya mas …

    -Ade-

  3. Sayap KU Says:

    Hetrixxx mumpung sepi …

    -Ade-

  4. Praditya Says:

    Jadi blom nikah neh…

  5. tukangkopi Says:

    Gw nggak sabar pengen tau cuplikan dari salah satu karyanya bro

  6. ordinary Says:

    *mengantuk*
    bener-bener tersanjung dey
    *menunggu kiriman dlm bentuk pdf ajah, jadi lebih kumplet*

  7. qzink666 Says:

    @Sayap KU
    coming soon, sist..😛
    *tendang yg hetrik*

    @Praditya
    belom..😀

    @tukangkopi
    kan udah sering di post-post saya sebelumnya, bro..

    @ordinary
    tinggal satu seri lagi, mbak..
    *bangunin yg ngantuk*

  8. bedh Says:

    huhuhu sekarang baru saya tau latar belakang kenapa dirimu menjadi seorang pekerja keras dan berubah menjadi dinamit ni_f_she
    huhuhuh

    di tunggu yah bro

    *huh…kirain nggak bakal ngalamin fase penasaran, saya tertipu dengan angka 7″

  9. qzink666 Says:

    Akhirnya gw tamatin juga tuh, bro..😛


  10. Ini memang bukan filsafat yg sistematik, tapi jelas merupakan suatu cara berfilsafat dalam tatarannya yg tertinggi, setidaknya menurut saya, he he he..

    Hahahaha jadi ingat tanggapan komentar Bro Qzink di posting sebelumnya…. subyektifitas
    Kalau saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan sistematika dari suatu filsafat.

    Selain itu, Nietzsche banyak sekali mengeluh atas kondisi fisiknya yg digerogoti banyak penyakit. Ironisnya, inilah orang yg mencanangkan gagasan tentang Manusia Super…

    Menurut saya (subyektif lho bro hehehe) hal tsb bukan suatu ironi.
    Ya … secara fisik Nietzsche memang agak lemah tetapi bisa kita saksikan di paragraf (hampir) terakhir dr tulisan ini yang menggambarkan ketangguhan seorang Nietzsche. Bagaimana dia dalam kesendiriannya berjuang menahan segala penderitaan fisik dan menghasilkan karya2 mantap.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: