Seminggu Bersama Nietzsche [6]

Desember 20, 2007

Ringkasan episode 5

    Dua tahun kemudian, Nietzsche menerbitkan kumpulan aforismenya, Human, All Too Human yg melengkapi perpecahannya dgn Wagner. Disini Nietzsche memuji-muji kesenian Perancis dan tanpa sekalipun nyebut-nyebut “musik masa depan” Wagner. Dan hal ini tentu saja membuat Wagner jengkel….

sudah inget lagi kan? Ok, kita lanjutin lagi sekarang..πŸ˜€

Barangkali yg juga lebih penting dari karyanya ini ialah bagaimana Nietzsche telah berhasil “menyingkirkan” sejumlah pengagum filsafatnya yg sejati. Kenapa? Karena sedikit sekali hal yg berbau filosofis dalam karyanya ini. Ironisnya, justru karena hal inilah Nietzsche begitu dikagumi sampai saat ini (bahkan oleh orang-orang yg tidak menyukai filsafatnya). Dalam karyanya ini, Nietzsche mulai mengubah gaya penulisannya, dan tanpa ia sadari ia telah menjadi seorang jagoan berbahasa Jerman. (begitu sulitnya bahasa ini, hingga sejumlah penulis jerman yg paling hebat sekalipun sempat menemui kegagalan) Gaya Nietzsche selalu jernih dan menghujam. Gagasan-gagasannya begitu padat namun tetap bisa dipahami. Sekarang ia lebih memilih menulis di dalam bentuk aforisme (aforisme: pernyataan yg singkat dan padat tentang sikap hidup atau kebenaran umum). Ia tak lagi menggunakan argumentasi yg bertele-tele dan ruwet, sebaliknya ia memilih untuk menghadirkan gagasan-gagasannya dalam serangkaian kalimat yg memiliki daya tembus kuat, silih berganti beralih dari satu topik ke topik lain.

Nietzsche menghidupkan filsafat dgn berbagai cara. Ide-ide terbaiknya muncul setiap kali ia berjalan kaki sendirian menyusuri daerah pedesaan di Swiss. Ia seringkali sesumbar bahwa ia sanggup berjalan kaki lebih dari 3 jam, meskipun jelas-jelas kesehatannya bobrok. Ada yg berpendapat bahwa gaya penulisan aforisme Nietzsche dalam karyanya ini banyak dipengaruhi kebiasaanya untuk menuangkan pikirannya dgn cepat sambil berjalan kaki, ke dalam buku catatan yg selalu ia bawa. Apapun sebabnya, kebiasaan menulis dalam bentuk aforisme ini telah menghasilkan suatu gaya yg tak tertandingi disegenap penjuru Eropa pada abad 19. Ini sungguh merupakan pengakuan yg luar biasa.

Abad 19 adalah suatu masa yg dipenuhi oleh para penulis yg memiliki gaya hebat. Namun, dgn pengecualian si bengal Rimbaud, tak ada penulis lain yg merasakan datangnya revolusi bahasa; sebuah revolusi yg tidak semata-mata muncul dalam gagasan saja. Dalam prosa Nietzsche, kita sudah bisa mendengar datangnya suara-suara abad 20; inilah bahasa masa depan.

Tapi, semua ini tidak terjadi dalam sekali gebrak. Ketika Nietzsche menuliskan Human, All Too Human, ia baru saja mulai menemukan suaranya. Lebih dari itu, dalam beberapa bagian, gagasan-gagasannya malahan masih mencari-cari bentuknya.

Karya ini dipenuhi dgn kandungan psikologis yg terentang begitu menakjubkan. Saya kutipkan sebagai contoh;

    “Para penghayal menyangkal realitas pada dirinya sendiri, sedangkan para penipu melakukan hal yang sama pada orang lain.”
    “Asal mula segala yg berlebihan bukanlah sukacita, melainkan tak adanya sukacita.”
    “Semua penulis dan penyair terpikat pada keinginan yg berlebih-lebihan untuk melakukan sesuatu yg melebihi kemampuan mereka sendiri.”

Namun, betapapun hebatnya karya itu, tetap saja menurut saya apa yg diungkapkan Nietzsche dalam aforismenya tersebut sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali dgn filsafat, dan lebih cenderung sebagai sebuah karya psikologi..(koreksi kalo saya salah)

Makanya saya sedikit setuju ketika bang Fertob dalam salah satu tulisan saya, berkomentar bahwa filsafat Nietzsche tidak sistematis, meskipun tentu saja saya tak mengamini sepenuhnya. Karena toh menurut saya bagaimana pun juga, gagasan-gagasan Nietzsche sendiri sangatlah koheren dan memiliki kekuatan argumentasi. Jadi kalo filsafat Nietzsche terkesan tidak sistematik, mungkin karena filsafatnya telah berhasil mengakhiri seluruh sistem filsafat yg ada.*halah, ngeles*

Terlepas dari segala kekurangannya, Human, All Too Human menandai kemunculan Nietzsche sebagai psikolog terbaik di zamannya. Sungguh merupakan satu prestasi besar, apalagi bila mengingat kehidupan Nietzsche yg terbatas. Nietzsche adalah seorang penyendiri, ia hampir tidak mengenal siapa pun. Di sepanjang hidupnya, terdapat sejumlah pengagum di sekitarnya, namun karena terlalu terobsesi dgn dirinya sendiri, Nietzsche tak pernah mampu masuk ke dalam hubungan “take and give”. Pertanyaannya kemudian, dari siapa ia bisa memiliki pengetahuan psikologis yg mendalam seperti itu? Kita cari jawabannya besok..

Bersambung, bro..

15 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [6]”

  1. Praditya Says:

    Jadi kalo filsafat Nietzsche terkesan tidak sistematik, mungkin karena filsafatnya telah berhasil mengakhiri seluruh sistem filsafat yg ada.

    Biar bagaimanapun juga filsafat memerlukan pemikiran yang kuat dari yang membaca atau mempelajarinya…πŸ˜›

    Btw, seri berikutnya yg trakhir yah? Kan judulnya ada kata seminggu…

    Diceritain gak knapa Nietzsche bsa menjadi gila?

    *penasaran

  2. Praditya Says:

    Jadi kalo filsafat Nietzsche terkesan tidak sistematik, mungkin karena filsafatnya telah berhasil mengakhiri seluruh sistem filsafat yg ada.

    Biar bagaimanapun juga filsafat memerlukan pemikiran yg kuat dari pembaca atau yg mempelajarinya…πŸ˜›

    Btw, seri berikutnya yg trakhir yah? Kan ada tuh tulisannya di judul, “seminggu”…

    Diceritain juga gak kenapa Nietzsche jadi gila?
    *penasaran…

  3. qzink666 Says:

    Wekk.. Cepet bener, bro?
    Saya masih belum selesai edit, komennya udah nongol..πŸ˜›

    Btw, seri berikutnya yang terakhir ya?

    masih ada 3 seri lagi, bro.. Kemarin kn gw posting 2, jadi ada waktu 2 hari lagi yg bakal gw pasang 3 postingan.. Itu pun kalo sempet.. he he he..

  4. Praditya Says:

    Loh kok muncul 2 komen? Yg ptama kykna error deh tadi…πŸ˜›

    Lah, tak kirain cuma sampe 7…

  5. qzink666 Says:

    Maksutnya ‘seminggu’ itu, saya bakal posting Nietzsche seminggu penuh. Jadi bukan 7 posting, bro..
    Dan karena ini sangat panjang sengaja saya mutilasi menjadi 9 sampe 10 bagian..
    Soal komen yg dobel, biarin deh, itung-itung nambah perolehan komen gw..πŸ˜†


  6. Qzink lagi nafsu benar. Nanti saya bisa ketinggalan ceritanya, heheheheh. Malam nanti baru saya baca serius. Biasa Qzink, menyolek ilmu dari blog ini, hehehehehe. K

  7. qzink666 Says:

    Iya nih, mbak, lagi kejar setoran..πŸ˜›
    btw, semadi-nya belum kelar juga ya, mbak?


  8. β€œPara penghayal menyangkal realitas pada dirinya sendiri, sedangkan para penipu melakukan hal yang sama pada orang lain.”

    Glek… mantap euy.
    Mengenai ketidaksistematisan filsafat Nietzsche pernah dibahas oleh Will Dudley dalam bukunya yang berjudul “Hegel, Nietzsche and Philosophy: Thinking of Freedom”.
    Tapi dalam buku tsb Dudley hanya menyoroti secara detail konsep freedom dari Hegel dan Nietzsche


  9. Maaf salah ketik … judul bukunya Dudley tidak pakai “of”. Judulnya adalah:
    β€œHegel, Nietzsche and Philosophy: Thinking Freedom”

  10. rozenesia Says:

    Ma-masih kuat ya -___-

  11. qzink666 Says:

    @deKing yang biasa2 saja
    secara pribadi sebenarnya saya sendiri mengakui kalo filsafat Nietzsche memang kurang sistematis, bro..
    Cuma ya itu tadi, karena kadung cinta, penilaian saya kadang jadi subjektif dan enggan mengakui itu, he he he..
    Btw, thanx untuk info bukunya..

    @rozenesia
    tenang, dua hari lagi kelar, bro..πŸ˜›

  12. alief Says:

    bikin Kaleidoskop-Blogβ„’ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/πŸ™‚

  13. hanna Says:

    Pencinta diri sendiri, narsis dong, Qzink. O, ya, Qzink sepertinya Qzink sudah mulai meniru gaya2nya Nietzsche menulis filsafat tapi ngampang dipahami. Saya mulai senang membacanya karena kata-kata asing itu sudah dijelaskan di dalam kurung. Kalau tidak bingung lagi deh, saya, heheheheh. Okey, besok saya baca lagi sambungannya. Belajar psikologi dari siapa…

  14. hanna Says:

    Maaf, ada kesalahan ketik, heheheh. Tapi sudahlah, saya kira Qzink pasti bisa mengerti.

  15. bedh Says:

    huhuhu lucu juga yah, waktu ni_f_she ini dianggap sebagai orang yang menghidupkan filsafat, dirimu malah menganggap aforisme doi sebagai suatu karya psikologi.

    sepertinya kapan2 boleh ni di tunggu penggalan aforisme dari ni_f_she versinya koe zink.πŸ˜‰


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: