Seminggu Bersama Nietzsche [5]

Desember 19, 2007

Masih kuat, bro?

    bagi yang merasa mual-mual silahkan keluar dari barisan, dan yang masih penasaran, ikuti saya..

Dalam The Birth of Tragedy inilah untuk pertama kalinya unsur gelap dari kebudayaan Yunani digali begitu mendalam, dan karakterisasi Nietzsche yg memperlakukannya sebagai sesuatu yang pundamental terbukti sangat kontroversial. Pada abad ke-19 saat itu, dunia klasik kebudayaan Yunani masih dianggap sangat suci. Segala macam idealisme yg ditawarkannya dalam bidang keadilan, kebudayaan, dan demokrasi adalah gambaran khas kelompok menengah yg baru berkembang di daratan Eropa.

Tak ada seorang pun yg mau mendengar bahwa semua itu sebenarnya merupakan sebuah kesalahan besar. Dan yg lebih kontroversial lagi, Nietzsche seringkali menggunakan Wagner dan “musik masa depan”-nya untuk memberikan ilustrasi bagi argumen-argumen filosofisnya.

Sebenarnya, Nietzsche memang menulis kepada penerbitnya,

Tujuan utama buku ini adalah untuk menjelaskan hubungan Richard Wagner, yg merupakan teka-teki besar di zaman kita ini, dan hubungannya dgn tragedi Yunani.”

Jadi, bagi Nietzsche, hanya Wagner-lah yg sanggup menggabungkan unsur-unsur Apollonian dgn Dionysian dgn cara yg serupa dgn tragedi Yunani. Penekanan Nietzsche atas kekuatan unsur Dionysian ini terbukti menjadi bagian yg esensial dari filsafat Nietzsche di kemudian hari. Kini ia tak dapat lagi menyetujui gagasan Schopenhauer tentang “Penyangkalan Budhisme atas Kehendak.” Dengan lebih garang lagi, ia menggunakan unsur Dionysian ini untuk menentang unsur Kristiani yg dianggapnya telah melemahkan peradaban. Ia paham benar bahwa kebanyakan impuls kita memiliki sisi ganda. Bahkan apa yg kita sebut sebagai impuls-impuls baik pun memiliki sisi gelap atau sisi yg melemahkan:

Segala sesuatu yg ideal mengandung cinta dan benci, kekaguman dan kemuakan, impuls yg esensial dapat saja muncul dari sisi positif maupun sisi negatif.”

Menurut anggapannya, ajaran Kristiani dimulai dari sisi negatif. Agama ini mengukuhkan kedudukannya di dalam Kekaisaran Romawi sebagai agama dari kalangan tertindas dan para budak. Hal ini tampak jelas terlihat dalam sikap dan perilaku yg dianutnya dalam kehidupan. Secara konstan ajaran Kristiani berupaya untuk meredam naluri-naluri positif kita yg lebih berkuasa. Negasi yg terjadi ini bisa saja disadari (dalam bentuk penyangkalan diri dan hidup kudus) atau tidak disadari (melalui sikap patuh, yg Nietzsche anggap sebagai suatu ekspresi kemuakan yg tak disadari, suatu pengalihan agresi yg dilakukan oleh orang-orang yg lemah).

Dengan cara yg serupa, Nietzsche menyerang kewelasasian (compassion), dan memandangnya sebagai suatu bentuk represi terhadap perasaan yg sebenarnya, juga sebagai satu pengalihan nafsu yg terdapat dalam ajaran Kristiani. Untuk itu, Nietzsche berpihak pada suatu etika yg lebih kuat dan lebih dekat dgn perasaan-perasaan kita yg sejati. “Tuhan telah mati, era Kristiani sudah tamat”, demikian kata Nietzsche.

Kembali ke Wagner, dia memang merupakan seorang seniman terkemuka, tapi jelas bahwa dia sama sekali tak berkeinginan untuk mengikuti pemikiran filsafat macam itu. Dengan pelan-pelan Nietzsche mulai mencium kebencian Wagner atas berbagai pemikiran filsafatnya. Wagner adalah ego besar yg berjalan dgn kekuatan intuitif yg hebat. Cintanya kepada Schopenhauer hanyalah sambil lalu saja, dan apa yg diserapnya dari karya-karya Schopenhauer ternyata tidak banyak membantu proses kreatifnya sebagai seorang seniman.

Awalnya Nietzsche tidak mempedulikan sikap dan perilaku Wagner yg buruk; seperti sikap anti-semitnya, sikap angkuhnya yg begitu mencolok, serta sikap tidak mau mengakui kemampuan atau kebutuhan orang lain selain dirinya sendiri. Tapi, bahkan kesabaran seorang Nietzsche pun ada batasnya..

Wagner kemudian pindah ke Bayreuth. Di sana Raja Ludwig dari Bavaria telah membangun sebuah teater khusus bagi Wagner, dimana ia bisa menampilkan opera-operanya (sebuah proyek yg menyebabkan bangkrutnya keuangan Bavaria dan memaksa Ludwig harus turun tahta).

Saat itu tahun 1876, Nietzsche datang ke Bayreuth untuk ikut menyaksikan pembukaan rangkaian pergelaran Wagner. Tapi disana Nietzsche malah jatuh sakit. Hampir bisa dipastikan bahwa sebab psikosomatiklah yg menyebabkan ia jatuh sakit (psikosomatik: kegagalan fisis yg diakibatkan oleh gangguan mental). Akhirnya, dekadensi seni kelas tinggi dan sikap megalomaniak Wagner membuat Nietzsche menjadi sangat muak dan tak tahan lagi. Ia pun harus meninggalkan Wagner.

Dua tahun kemudian (1878), Nietzsche menerbitkan kumpulan aforismenya, Human, All Too Human yg melengkapi perpecahannya dgn Wagner. Di sini Nietzsche memuji-muji kesenian Perancis. Dalam karya ini tampak kecerdasan psikologisnya, juga berkurangnya pretensi romantiknya. Semua ini membuat jengkel Wagner. Apalagi, dalam karyanya kali ini, Nietzsche tak lagi mencantumkan iklan tentang “musik masa depan” Wagner..

Bersambung dulu ah, capek..

18 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [5]”

  1. Praditya Says:

    Hmm.. Rupanya kata-kata terkenal “Tuhan telah mati” itu sejarahnya seperti itu…

    *udah mulai rada berat nih..šŸ˜‰

  2. qzink666 Says:

    Hah, pertamax lagi?
    hebat.. hebat..
    Yup, mulai sedikit menanjak karena sebentar lagi klimax, bro..šŸ˜‰


  3. hubungannya sama wagner mulai retak…šŸ˜€
    tarik maaaaaang

  4. Pyrrho Says:

    Human, All Too Human

    Inilah salah satu yg kusuka dari Nietzsche.šŸ™‚ dari keseluruhan karya2-nya, dia bicara ttg manusia dan manusia. Manusia adalah segalanya dan segalanya untuk manusia.

    Untuk itu, Nietzsche berpihak pada suatu etika yg lebih kuat dan lebih dekat dgn perasaan-perasaan kita yg sejati

    Nietzsche memperkenalkan moralitas subyektif dengan manusia sebagai ukurannya. Dia menolak ukuran-ukuran agama dlm hal etika. Dan ini dipertegas lagi di Beyond Good & Evil, masterpiece lainnya yg “membongkar” konsep etika.

    Zink, saya punya tulisan pendek lain ttg analisis tulisan Nietzsche, hasil dr bongkar-bongkar file jaman dulu. Ntar diedit dulu. Masih bisa nyumbang tulisan kan ?šŸ™‚

    tapi nanti aja setelah riwayat hidup Nietzsche….

  5. qzink666 Says:

    Boleh, sangat boleh..
    taroh aja dulu di draft saya, bang..
    Nanti, setelah riwayat Nietzsche selesai, pasti saya pasang..
    Terimakasih.. Terimakasih..šŸ˜›


  6. …sikap dan perilaku Wagner yg buruk;…sikap angkuhnya yg begitu mencolok, serta sikap tidak mau mengakui kemampuan atau kebutuhan orang lain selain dirinya sendiri.

    Lho? Sepertinya sekarang pun masih banyak sekali Wagner-Wagner sejenis. Lalu dimanakah para Nietzsche sekarang?


  7. Qzink, lo males bangat cih. Masa cuma satu halaman. Btw… saya lebih malas lagi belum sempat update tulisan, heheheeh


  8. Saya tertarik dengan isi tulisan ini. Karena saya menyukai filsafat dan sastra. Tapi, ya, gito deh, masih OOT dan perlu belajar lebih banyak. Isinya saya tidak mau koment karena sedikit membahas agama. Cukup saya menikmati sajianmu ini saja. Terasa lebih enak di nikmati, gampang dicerna, dan membuat otakku lebih bergizi.

    Kerja kerasmu bagus, Qzink, salut…


  9. @deKing yang biasa2 saja

    Lalu dimanakah para Nietzsche sekarang?

    Lagi pada “melacur” kali, bro..
    he he he..

    @Hanna yang lagi semedi
    sehari posting 2 biji itu buat saya termasuk males, mbak..
    he he he..
    *serius mode:ON*
    lagi ngebut nih, mbak, soale bang Fertob mo nyumbangin tulisannya ke blog saya. Jadi ya riwayat Nietzsche-nya harus segera saya tuntasin dulu..šŸ™‚
    *serius mode: OFF*

    kok saya gak dapat hadiah buku-nya, mbak?
    Ayo dong nobatkan saya sebagai komentator ter-gila juga gak apa2, asal dapat hadiah, hehehe

  10. ulan Says:

    beraaaaaaaaaaattt…..
    *panggil tukang pikul*
    kapan sambungan nya??


  11. Okey deh, Qzink, akan ku pertimbangakan ide qzink.

  12. Moerz Says:

    makjang ketinggalan episode nih…
    tau2 dah episode 5…
    hei ngikutin tersanjung yah….
    *ditabokqzink,kabur…*

  13. rozenesia Says:

    Aahhhh… Belum klimaks juga ya… *pingsan*


  14. @ulan
    sini tak pijitin, bro..šŸ˜›

    @Hanna yang lagi bersemadi
    senengnya.. :))

    @Moerz
    ngikutin Rosalinda, bro..šŸ˜Ž

    @rozenesia
    ini bakal anti-klimax, tauk..šŸ˜€
    *banjur yg pingsan*

  15. Hoek Soegirang Says:

    hooo…
    bagosss!!! saia selalu mengikuti ko’, walofun harus minum antimo dolo
    tafi ini masi sejarahna ya? femikiran-femikiranna masi sekilas-sekilas doank?
    *menunggu dengan sabar*

  16. qzink666 Says:

    Tuh udah nongol lagi, bro..šŸ˜›

  17. bedh Says:

    huhuhu dari sini doi sudah mulai menunjukkan taringnya yah?
    huhuhhu
    seru…seru….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: