Seminggu Bersama Nietzsche [4]

Desember 18, 2007
    test.. test.. 1.. 2.. 3.. lanjuuuutt..

Tempat tinggal Nietzsche di Basel hanya berjarak 40 mil dari Tribschen. Di kota inilah Wagner tinggal bersama Cosima, anak perempuan Liszt (yang saat itu masih menikah dgn von Bülow, seorang konduktor teman Liszt dan Wagner. Dengan segera Nietzsche menjadi tamu tetap setiap akhir pekan di vila Wagner yang mewah, yang terletak di tepi Danau Lucerne. Hidup Wagner memang seperti opera, bukan hanya dalam artian yang musikal, emosional, dan politis, namun demikianlah kenyataannya.

Wagner adalah orang yang percaya bahwa khayalan-khayalannya dapat dijalani sepenuhnya di dalam hidup ini. Tribschen sendiri sebetulnya adalah sebuah opera dgn Wagner sebagai pemeran utama. Berpakaian dgn gaya “Flemish”(suatu campuran gaya berakaian pesta topeng Ruben dgn Flying Dutchman), begitulah Wagner dalam keseharian di rumahnya yg beratapkan kerub yg berkilauan dgn dinding-dinding satin , dilengkapi perabotan serba mewah dan antik, plus lukisan-lukisan wajahnya yg berukuran besar, serta berbagai mangkok perak yang menjadi kenang-kenangan atas penampilan opera-operanya. Asap kemenyan memenuhi udara, dan hanya musik ciptaan sang maestrolah yg boleh berkumandang di sana. Sementara itu, Cosima melayani teman-teman pemain dramanya dan memastikan bahwa mereka tak mencuri berbagai barang serta hewan kesayangannya.

Sungguh sulit dimengerti bagaimana Nietzsche bisa kerasan dgn suasana seperti ini. Sesungguhnya tidak akan pernah bisa dimengerti bila ada orang yg sanggup bertahan dgn suasana dan keadaan dirumah Wagner. (kehidupan Wagner yg berlebihan itu membuatnya bangkrut, dan ia pun harus mengandalkan bantuan dari sejumlah dermawan kaya, termasuk raja Ludwig dari Bavaria yg memberikan sumbangan sangat banyak dari kas negara.) Tapi cobalah dengarkan karya musik Wagner. Dgn cepat kita dapat merasakan kekuatan persuasi dan daya tarik karakternya yang liar itu. Pribadi sang komponis ini memang terbukti memiliki pesona yg luar biasa, sama memikatnya dgn komposisi musiknya.

Jiwa Nietzsche yg masih labil kala itu dgn segera terpikat oleh suasana yg menghanyutkan itu; suasana yg mampu menciptakan bait-bait lagu yg penuh dgn fantasi ketidaksadaran, hingga naik melewati atap kerub rumah sang komponis, berusaha menggapai surga. Mungkin benar bahwa Wagner adalah seorang ayah bagi Nietzsche. Tapi Cosima? Nietzsche segera menyadari bahwa ia mengidap Oedipus Complex pada Cosima. Tanpa berani mengungkapkan perasaannya, ia telah jatuh cinta kepada perempuan yg lebih tua darinya ini.

Perang Prancis-Prussia
Pada bulan Juli 1870, pecahlah perang Prancis-Prussia. Inilah kesempatan bagi Prussia untuk membalas kekalahannya dari Napoleon. Sebuah kesempatan untuk menaklukkan Prancis dan menjadikan Jerman menjadi kekuatan besar di Eropa. Dipenuhi oleh semangat patriotik, Nietzsche mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan di bagian medis. Ketika ia melewati Frankfurt dalam perjalanan menuju ke medan pertempuran, dia menyaksikan barisan pasukan kavaleri yg memenuhi jalanan dgn berbagai atribut kerajaan yg ada di pundak mereka. Keharuan memenuhi dada Nietzsche dan sebuah cahaya melintas di dalam pikirannya.

Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa kehendak untuk hidup (Will to Life), yg terbesar dan terkuat didak terdapat di dalam perjuangan untuk tetap berada (exist), melainkan didalam suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power), suatu kehendak untuk berperang dan mendominasi.”

Konsepnya yang terkenal tentang Will to Power itu pun lahirlah. Walaupun dalam perkembangannya gagasan ini merembes dalam konteks kehidupan individu dan sosial, tak dapat dipungkiri bila asal muasal gagasan terkenal ini terinspirasi dari kehidupan militer.

Ketika Bismarck, pemimpin Jerman (1871-1890), berhasil meluluh lantakan Perancis, Nietzsche lalu menyadari bahwa perang tidak sepenuhnya merupakan hal yg mulia. Tatkala berada di medan perang Wörth, ia mendapatkan dirinya sedang bekerja di tengah-tengah suatu pemandangan yg mengerikan. Sepanjang matanya memandang, dimana-mana berserakan bagian-bagian tubuh manusia dan jenazah-jenazah tak utuh yg membusuk, menebarkan bau menusuk hidung. Belakangan hari ia pun harus berada di sebuah truk untuk merawat enam lelaki yg terluka parah, dalam sebuah perjalanan yg memakan waktu lebih dari dua hari. Terkunci di tempat tertutup, diantara tulang-tulang yg menonjol keluar dari tubuh, daging yg tercabik-cabik, dan para serdadu yg sekarat, dgn tabah Nietzsche mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Ketika akhirnya mereka sampai di Karlsruhe, si tabah Nietzsche tak kuat lagi berdiri di atas tanah. Sekali lagi ia diangkut ke rumah sakit akibat serangan disentri dan dipteri.

Walau masih menanggung trauma dari pengalaman mengerikan ini, dua bulan kemudian Nietzsche telah kembali mengajar di Basel. Id melanjutkan kerja kerasnya dgn memberikan kuliah filsafat dan filologi. Ia pun mulai menulis The Birth of Tragedy. Analisis terhadap kebudayaan Yunani yg cemerlang dan sangat orisinil ini mengkontraskan unsur Apollonian yg penuh dgn aturan-aturan klasik, dgn kekuatan Dionysian yg penuh dgn kegelapan dan spontanitas. Menurut Nietzsche, kesenian tragedi Yunani yg hebat itu adalah kombinasi dari kedua unsur ini. Kesenian inilah yg menurut Nietzsche dihancurkan oleh rasionalisme dangkal Sokrates…

Masih bersambung, bro…

16 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [4]”

  1. Praditya Says:

    Eh, sebentar-sebentar…

    Klo ga salah di seri sebelumnya Nietzsche udah dipulangkan dari tugas militer dgn sblmna diangkat jadi kopral…

    Trus beberapa tahun sesudahnya (seri ini), dia ngikut perang lagi, tapi sebagai medis…

    Gak kapok? Kan dia udah luka parah d seri sblmna…

  2. qzink666 Says:

    Lha, yg di seri sebelumnya kan emang wajib militer, bro..
    Kalo yg di seri ini murni jiwa patriotik karena pengen membalas kekalahan dari Napoleon..
    Btw, pertamaxx teyus nih..😀

  3. bangbadi Says:

    bingung mau ngomong apaan.

  4. deking Says:

    Nietzsche lalu menyadari bahwa perang tidak sepenuhnya merupakan hal yg mulia.

    Weits … sepakat. Semua bergantung alasan (yang mungkin berupa niat dan/atau tujuan)

    @deKing:
    Komentarnya pendek sekali bro?
    *nyamar jadi Qzink*

  5. tukangkopi Says:

    No komen…lanjuuutt…

  6. goop Says:

    Mengembara dalam rumah Wagner, menari bersama musiknya, ikut ngeri melihat tulang dan daging tercerabik, hingga pada akhirnya terbuai di Yunani…
    Sip, seperti sebuah perjalanan…
    Semoga nantinya bisa dibuatkan ulasan untuk semua hal menarik yang telah ditulis, mulai dari Will Power, Birth of Tragedy, jg apolonia, dionisiyan, sokrates de el el (maaf klo salah nulisnya)
    *berdendang sambil pulang*😀

  7. caplang™ Says:

    jatuh cinta kepada perempuan yg lebih tua darinya
    lebih dewasa, matang dan berpengalaman?😆
    lanjut bos!

  8. qzink666 Says:

    @bangbedi
    itu udah ngomong..😀

    @deKing
    Komentarnya pendek sekali bro?

    deKing
    iya nih, komen pake hp..:mrgreen:
    *nyamar jadi deKing*

    @tukangkopi
    oke, bro..

    @Praditya
    hooo juga..😛

    @goop
    kayak di pelm-pelm ya, bro?

    @caplang
    persis pengalaman pribadi dirimu kah?:mrgreen:

  9. bacteria Says:

    hadoh…kagak mudeng mas. namanya aneh2 lagi

  10. qzink666 Says:

    Baca dari seri awalnya dulu dong, biar mudeng.
    *tepuk-tepuk pundak*

  11. ordinary Says:

    koq blum juga sampe bagian makan2 nya siy???
    *menunggu penuh harap*

  12. qzink666 Says:

    ha ha ha.. Masih 4 hari lagi, mbak..
    Tuh, yg seri 5-nya udah nongol lagi..😛

  13. bedh Says:

    huhuhu saya jadi sedikit menduga2 simata beda itu umurnya sedikit lebih tua huhuhuhuhu

    ternyata ni_f_se ini multi talent banget yah,
    dari tukang main perempuan, penggemar musik, tentara lemah, berbakat pula di bidang kedokteran, dosen, apalagi yah?

    ah lihat edisi selanjutnya aja ah…..

  14. joyo Says:

    hmmm jadi mudeng konteks will to powernya🙂
    lanjut..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: