Seminggu Bersama Nietzsche [3]

Desember 18, 2007

Unyil ucing.. Unyil ucing..

    Lanjuuuut..

Pada tahun 1867 Nietzsche harus menjalani tugas militernya di angkatan darat Prussia. Para atasannya jelas-jelas tertipu oleh kumis militer Nietzsche yang lebar nan lebat yang terletak di bawah bekas luka yang agak mengecewakan itu. Karenanya, Nietzsche ditugaskan di kavaleri. Sebuah keputusan yang keliru. Nietzsche memang memiliki ketetapan hati yang kuat, tapi secara fisik ia sangat lemah dan rentan. Tak ayal lagi, ia mengalami cedera serius dalam sebuah kecelakaan ketika mengendarai kuda, namun ia tetap melanjutkan perjalanannya dengan menaiki kudanya dengan sikap badan yang sesuai tradisi Prussia, seakan-akan tak terjadi apapun.

Ketika prajurit Nietzsche berhasil kembali ke baraknya, ia sepera dilarikan masuk rumah sakit. Nietzsche menginap di rumah sakit selama sebulan. Karena keteguhan hati dan upayanya, Nietzsche dipromosikan menjadi kopral, lalu dikirim pulang..

Sepulangnya Nietzshe dari medan perang, ia kembali ke Universitas Leipzig. Profesornya mengakui bahwa Nietzsche merupakan mahasiswanya yang paling cerdas selama 40 tahun terakhir. Namun, Nietzsche sendiri mulai kehilangan rasa tertariknya atas filologi dengan “seluruh ketidakpedulian ilmu itu akan masalah hidup yang sebenarnya.” Ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.

Di dalam keputus asaannya, Nietzsche berpikir untuk pindah ke jurusan kimia, atau pergi ke Paris selama setahun untuk mencicipi “racun absinthe” (
absinthe adalah sejenis minuman keras yg mengandung 68 % alkohol, minuman ini sekarang sudah banyak dilarang di Eropa).

Dan di Paris inilah ia berkenalan dgn komponis Richard Wagner yg berkunjung ke kota itu dgn menyamar. (Wagner diasingkan karena kegiatan revolusioner yg telah dilakukannya 20 tahun sebelumnya, dan hukumannya tetap berlaku meskipun ia telah beralih dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan.)

Wagner sendiri dilahirkan pada tahun yg sama dgn ayah Nietzsche dan dalam banyak hal ia memiliki banyak kesamaan dgn ayahnya itu. Meskipun sebagian besar tak disadarinya, sebenarnya Nietzsche sangat membutuhkan figur ayah. Sebelumnya, Nietzsche tak pernah bertemu dgn seniman terkenal ataupun seorang yg gagasan-gagasannya jelas-jelas sejalan dgn gagasan-gagasannya sendiri.

Setelah pertemuan pertama mereka yg singkat, Nietzsche pun mengetahui cinta Wagner yg sangat mendalam atas Schopenhauer. Wagner yg begitu tersanjung dgn perhatian yg diberikan sang filsuf muda cemerlang itu tak tahan untuk memamerkan pesonanya seutuhnya. Hal ini tentu saja berdampak begitu mendalam pada diri Nietzsche. Nietzsche sangat kesengsem pada sang komponis hebat yg memang memiliki karakter flamboyan, suatu pesona yg paling tidak setara dgn keflamboyanan opera-operanya..

Dua bulan sesudahnya Nietzsche ditawari jabatan untuk menjadi dosen filologi di Universitas Basel, Swiss. Pada saat itu usianya baru mencapai 24 tahun, bahkan ia belum sempat menjalani tahap doktoratnya.

Meskipun ketertarikannya terhadap filologi telah menyusut, sulit baginya untuk menolak tawaran tersebut. Pada bulan April 1869, Nietzsche menduduki jabatannya di Basel dan mulai memberikan kuliah ekstra dalam bidang filsafat. Ia bercita-cita untuk mengkombinasikan filsafat dgn filologi, studi mengenai estetika dgn karya-karya klasik -menciptakan suatu instrumen untuk menganalisis kesalahan-kesalahan yg terjadi di dalam peradaban manusia. Tidak lebih..

Dengan segera Nietzsche muncul sebagai bintang muda yg baru terbit di Universitas tersebut, dan menjadi akrab dgn Jacob Burckhardt yg merupakan orang pertama yg menguraikan konsep historis mengenai zaman Renaissance, adalah satu-satunya dosen di Universitas itu yg memiliki kecerdasan setara dgn Nietzsche. Karena itu, dialah satu-satunya tokoh yg dikagumi oleh Nietzsche selama hidupnya..

Dalam tahapan yg krusial itu, sungguh sangat mungkin bahwa Burckhardt memberikan pengaruh yg sangat kokoh dan mendasar pada Nietzsche. Tetapi tentu saja Nietzsche menolak pengaruh kuat itu. Di samping itu, peran figur ayahnya telah terisi oleh Wagner (tentu saja dgn pengaruh yg sebetulnya kurang begitu berarti)

    sampai disini dulu kawan-kawan..
    MERDEKA!!

ps. Disarankan bagi siapapun yg bersikeras untuk terus mengikuti artikel-artikel saya sampai 4 hari mendatang, sebaiknya anda minum obat anti-nausea terlebih dahulu.
Terimakasih..

14 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [3]”

  1. qzink666 Says:

    Untuk kali ini, biarkan saya yang pertamax!!

  2. goop Says:

    OOT:
    Unyil ucing apa sih??😀

  3. goop Says:

    Paman Qz…
    Saya bertanya ya, ah bodo sangat saya:mrgreen:
    Filologi itu apa😳
    trus, obat anti-nausea itu obat apa?? saya cuma tau, dextral forte, soalnya kemaren menenggaknya😳
    *dirajam*

  4. brainstorm Says:

    izinkan saya mabuk kembali dengan Zarathustra

  5. qzink666 Says:

    @goop 1

    Unyil ucing itu apa sih??

    ha ha ha.. Sebenernya saya hanya keingetan sama pelm si Unyil di tvri dulu yg pembukaan pelmnya slalu diawali dgn hompimpah dan diakhiri dg “sampai jumpa kawan-kawan, merdeka..” itu, paman..😛

    @goop 2
    Filologi adalah ilmu yg mempelajari naskah-naskah atau manuskrip (kuno), paman.
    Sedang anti-nausea sendiri sebenarnya hanya karangan saya aja yg terinspirasi dari novel filsafatnya Sartre untuk tidak menyebut kata “mual”, he he he..

    @brainstorm 1
    kemenong aje lo?

    @brainstorm 2
    silahken.. silahken..😛


  6. Hmmmm banyak hal yang memang tidak bisa diduga. Seperti pertemuan Nietzsche dengan Richard Wagner yang pada akhirnya memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi Nietzsche

  7. Praditya Says:

    Hmm.. Sepertinya di seri ke-3 ini Nietzsche mulai mendapatkan masa emasnya ya…

    Btw, nausea ntu opo sih?

  8. qzink666 Says:

    @deKing yang biasa2 aja
    yah, terlalu banyak hal yang tak terduga dalam hidup ini..

    @Praditya
    yupp.. Disini Nietzsche mulai merangkak naik, bro..😀
    nausea? Kalo menurut novel filosofisnya Sartre yg juga berjudul sama, nausea artinya (kurang lebih) adalah “kemualan/rasa mual”.

  9. Hoek Soegirang Says:

    “sebaiknya anda minum obat anti-nausea terlebih dahulu.
    Terimakasih..”
    Lha? saia ndak cuma minum itu, tafi sebelum ini biasana saia minum baygon satu kaleng dolo..
    ndak fafa khan?

  10. qzink666 Says:

    Ndak fafa, kawand..
    Tuh, yang part. 4-nya udah nongol lagi..😀
    masih kuat?
    he he he..

  11. tukangkopi Says:

    saya benar2 merasa sedang berada dalam ruang kuliah… :l

  12. bedh Says:

    huhuhu saya mulai baca hari ini biar nggak pake acara nunggu2 kelanjutannya.

    ni f se ini dosen magang yah?
    ato asisten dosen?

    berangkat menuju ke halaman berikutnya.
    eh maap sudah mengotori kelas ini dengan kulit kacang huhuhuu

  13. joyo Says:

    Ooo ternyata Nietzsche ngajar juga to…
    saya juga pernah ditawari ngajar (pd usia 21 tahun) di salah satu lembaga pendidikan di Jogja😀
    hehehe
    lanjut bro…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: