Seminggu Bersama Nietzsche [1]

Desember 16, 2007

Mukadimah:

    Artikel yang sebentar lagi akan anda baca ini berisi tentang hidup dan perjalanan Nietzsche.
    Dan karena sangat panjang maka sengaja akan saya buat berseri dan susul menyusul selama seminggu. Bagi yang muak dgn topik ini silahkan pergi dan yang tertarik, selamat mengikuti..

kita mulai saja…
Friedrich Wilhelm Nietzsche dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1844 di Saxony, yang pada saat itu merupakan salah satu provinsi dari kerajaan Prussia yang kekuasaannya semakin lama semakin luas.

Nietzsche adalah keturunan pedagang, salah satu diantara mereka adalah pedagang daging (tukang jagal), namun kakek dan ayahnya sendiri adalah pendeta Kristen Lutheran. Ayah Nietzsche adalah seorang Prussia patriotik yang sangat mengagumi rajanya, Friedrich Wilhelm IV. (karena itu, ketika anak lelaki pertama Ludwig Nietzsche dilahirkan bersamaan dgn hari ulang tahun si raja, tentu saja ia tak mungkin memberikan nama “Otto” bagi anaknya itu.)

Satu hal yang perlu dicatat disini ialah bahwa ketiga lelaki itu (sang kakek, sang ayah, dan sang anak) semuanya meninggal dalam keadaan gila. Yang pertama meninggal adalah Ludwigh, yakni pada tahun 1849. Diagnosa dokter menunjukkan bahwa ia menderita penyakit “melemahnya otak“, dan hasil otopsi jelas mengungkapkan bahwa seperempat bagian otaknya telah rusak akibat “pelemahan” itu. Diagnosis macam ini tentu bukanlah hal yang baru didunia medis, namun banyak penulis biografi Nietzsche yg terkenal begitu yakin kegilaan Ludwig Nietzsche itu tidak turun pada putranya.

Sejak itu Nietzsche diasuh di Naumburg, dalam sebuah rumah yang dipenuhi dgn “perempuan suci”, yakni ibunya, seorang adik perempuannya dan kedua bibinya yang perawan tua. Kondisi ini tampaknya memberikan dampak atas sikap Nietzsche kepada perempuan di kemudian hari. Pada usia 13 tahun, ia pindah ke asrama sekolah di Pforta. Asrama sekolah ini merupakan salah satu yg terbaik di Jerman. Nietzsche yang begitu dimanja dan dikelilingi lingkungan religius, tumbuh sebagai “pendeta kecil“. Ia selalu berhasil mendapatkan hadiah dari orang-orang disekelilingnya.

Namun, Nietzsche begitu cerdas sehingga ia terlalu sering merenungkan dirinya sendiri. Pada usia 18 tahun, ia mulai meragukan imannya. Pemikir berotak jernih ini tak tahan untuk tak memikirkan segala sesuatu yang tak pada tempatnya di dunia sekitarnya. Apabila Nietzsche merenung, ia selalu memastikan dirinya berada dalam keadaan isolasi total. Di sepanjang hidupnya, pemikiran Nietzsche hanya dipengaruhi oleh sedikit sekali pemikir yang pernah hidup (juga tak banyak dipengaruhi oleh pemikir yg sudah mati.)

Pada usia 19 tahun, Nietzsche kuliah di Universitas Bonn untuk mempelajari teologi dan fitologi klasik, dengan tujuannya untuk menjadi seorang pastur. Nasibnya telah ditentukan sebelumnya di tangan “para perempuan suci”, akan tetapi ia pun mulai mengalami suatu dorongan dari alam bawah sadarnya untuk memberontak, sesuatu yang membuat karakternya berubah. Ketika sampai di Bonn, secara tak terduga anak sekolah penyendiri itu justru menjadi seorang mahasiswa yang sangat suka berkumpul dengan teman-temannya. Ia bergabung dalam sebuah kelompok, ikut minum-minum bersama teman-temannya, bahkan juga senang berkelahi (satu kebiasaan yg sangat dibuat-buat dan segera berhenti setelah mengalami cedera-sebuah luka goresan di hidungnya yg kemudian tertutup oleh gagang kacamatanya).

Masa ini adalah sebuah fase penting dalam hidupnya. Pada saat itulah Nietzsche telah mengambil keputusan bahwa “Tuhan sudah mati.” (pernyataan yang saat ini banyak sekali dilekatkan pada diri Nietzsche dan filsafatnya, sebenarnya telah lebih dulu dinyatakan oleh Hegel sekitar 20 tahun sebelum Nietzsche lahir.)

Sejak saat itulah, Nietzsche tak mau lagi menerima komuni dan menyatakan bahwa ia tak mau lagi datang ke gereja. Pada tahun berikutnya, Nietzsche memutuskan untuk pindah ke Universitas Leipzig. Di sini ia tak mau lagi mempelajari teologi dan hanya mempelajari filologi klasik..

Bersambung di episode berikutnya..
Merdeka..

24 Tanggapan to “Seminggu Bersama Nietzsche [1]”

  1. Praditya Says:

    OK.. OK…

    Kali ini saya sangat mengerti…😀

    *menunggu kisah berikut…

  2. qzink666 Says:

    Ruarr biasa..
    Bahkan untuk postingan dini hari pun bro’ Adit masih bisa pertamaxx..
    Jangan-jangan gak pernah tidur ya, bro?
    he he he

  3. rozenesia Says:

    Ngantuk…. *bookmark*

  4. bedh Says:

    walaupun saya sedikit muak dan lemah otak tapi saya merasakan ada bom yang siap2 meledak di sini huhuhuhu
    saya pergi dulu bentar mau ambil kacamata tiga dimensi huhuhuhu

    horeeeeeeeeeeee
    hidup oot.

  5. caplang™ Says:

    pak, ikut kuliahnya boleh sambil ngerokok kan?

  6. Hoek Soegirang Says:

    hoooo….
    bagosss, kalo begini khan jadi mandan enak mbacanya!!!
    *nggelar tikar nunggu kuliah berikudna*

  7. qzink666 Says:

    @rozenesia
    ngantuk? Emang semalam mangkal di pertigaannya sampe pagi ya, jeung?

    @bedh
    *tangkap bedh-blender-kasih merica-garam-buang ke comberan*

    @Hanna
    terimakasih, mbak..

    @caplang
    boleh.. boleh.. sambil bo*er juga boleh kok..😛

    @Hoek Soegirang
    jadi gak enak.. :redface:

  8. Moerz Says:

    nunggu episode selanjutnya…

  9. ordinary Says:

    *semangat mendengarkan kuliah gratis dari zink*
    anw.. episodenya ga sampe tekuel-kuel kaya tersanjung kan zink ?😆


  10. Thanx bro…
    Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” maka dengan memperkenalkan Nietzsche maka rekan2 yang lain akan sayang dan tertarik untuk mempelajari pesan2 Nietzsche.

    BTW saya hanya punya 1 bukunya Nietzsche. Kemarin sebenarnya waktu jalan2 ke toko buku kuno di Groningen saya melihat beberapa buku tentang Nietzsche tetapi sayang berbahasa Belanda dan saya tidak paham sama sekali.

  11. qzink666 Says:

    @Moerz
    awas kalo kamu datang telat lagi..:mrgreen:

    @ordinary
    gak, mbak..
    Paling juga kaya Rosalinda..😛
    eh, sama aja yak?

  12. qzink666 Says:

    @deKing yang biasa2 saja
    maaf kelewat, bro..
    Sebagian dari koleksi buku-buku saya juga hasil hunting dari kios-kios buku bekas disepanjang pasar burung, Palembang lho, bro..
    he he he..

  13. bayu Says:

    much better,..
    yang ini lebih gampang saya cerna,..

    *sruput kopi,..

  14. goop Says:

    Ternyata, untuk mencari atau menemukan kesadaran juga berliku jalan yang harus nietzche tempuh. Wah seperti saya inih *halah, dan kemudian ditendang*
    Terima Kasih untuk tambahan informasi ini bro😀

  15. qzink666 Says:

    @bayu
    *ikut nebeng sesruput duasruput kopi Bayu*

    @goop
    menikmati proses memang lebih enak, paman..
    Karena gak ada jalan pintas untuk hal ini..😀

  16. joyo Says:

    mantaf bro, asik bacanya, jadi sayang saya ah…

  17. joyo Says:

    bagus nya lagi klo di selipin poto ato peta, misalnya poto Prussia, poto Nietzsche, hehehe
    jangan lupa kopi panas nya😀

  18. qzink666 Says:

    Gila lo ya..
    Dikasih hati minta jantung..
    Cari sendiri di Wiki sana..😈

  19. marsitol Says:

    kali ini emang lebih enak. mengenalkan nietzsche dulu sebelum pemikiran2nya kayaknya lebih baik. benar, setelah kenal maka akan lebih mudah untuk menyayangi (setidaknya memahami).

  20. qzink666 Says:

    Sipp..
    Tiap hari selama seminggu blog ini hanya akan membicarakan Nietzsche..
    Siap-siap aja penghuni blogsphere mabok Nietzsche, he he he..

  21. tukangkopi Says:

    ya..awal yang bagus bro. jadi saya kan gak buta2 amat kalo baca blog ini

  22. qzink666 Says:

    Terimakasih, bro..😛

  23. sigid Says:

    Masa ini adalah sebuah fase penting dalam hidupnya. Pada saat itulah Nietzsche telah mengambil keputusan bahwa “Tuhan sudah mati.”

    Adakah kejadian yang memicunya om?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: