Sekilas Tentang Taoisme

Desember 10, 2007

Taoisme berasal dari kata Cina tao yang berarti “jalan”. Semua filsuf China memiliki pandangannya masing-masing mengenai tao, sedangkan taoisme sendiri berasal dari ajaran yg diberikan oleh orang bijak Lao-tzu dan pengikutnya, Chuang-tzu. Lao-tzu hidup sekitar abad keenam sebelum Masehi, tapi hanya sedikit sekali yang diketahui tentang hidupnya.

Terkisahkan bahwa ia adalah seorang sejarawan dan penasehat religius di istana kaisar Chou. menurut legenda, ia pernah bertemu dgn Confucius dan sama sekali tak tertarik atas ajarannya. Diceritakan betapa belakangan hari ia melakukan perjalanan ke Barat. Di Terusan Hsien-ku, penjaga terusan itu tak mengijinkannya lewat kalau ia tak mau menuliskan ajaran-ajarannya tentang Tao. Tulisannya itu menjadi sebuah buku berjudul Tao te Ching dan menjadi kitab suci dalam taoisme.

Setelah itu konon Lao-tzu melanjutkan perjalanan ke Barat dan menurut laporan kontemporer, “tidak ada yg tahu apa yg kemudian terjadi padanya.”

Banyak filsuf China saat itu yg menganggap Lao-tzu sebagai seorang guru bijak, utusan khayangan, atau bahkan dewa. Bahkan para Confucian kontemporer memperlakukannya sebagai seorang filsuf besar. Hal yg sulit untuk dimengerti, karena ajaran Lou-tzu hanyalah pelengkap ajaran Confucius. Dalam pandangan sejumlah orang, kedua filsuf ini membicarakan perjuangan manusia dari dua sudut pandang yg berbeda; sementara yg lainnya menganggap bahwa keduanya benar-benar saling bertentangan dalam semua hal yg mereka bicarakan.

Manakala Confucius mengajarkan tentang “Jalan Manusia”, Lao-tzu mengajarkan “Jalan Alam”. Bagi Lou-tzu, “jalan” itu secara umum merupakan konsepsi yg bersifat mistik, metafisik. “jalan” itu merupakan satu daya kekuatan abadi dan mutlak yang mengendalikan alam, tapi tetap saja tak berada di dalam ruang dan waktu. Konsepsi seperti ini sebenarnya sulit untuk ditangkap dgn pola konseptual logis yg normalnya digunakan dalam wacana filosofis yg dicanangkan oleh pemikir barat. Namun demikian, komentar ini tidak sepenuhnya benar. Stoicisme, juga filsafat yg dicanangkan oleh kaum Cynic, pun memiliki sikap pundamental yang serupa.

Menurut Lao-tzu, kita seharusnya menyesuaikan diri terhadap tao dgn berusaha untuk menyamai atau bahkan untuk melebihinya. Kita seharusnya mengosongkan diri kita dari segala hal remeh-temeh, mengabdikan hidup kita pada kesederhanaan serta spontanitas, dan pada saat yang sama juga bisa bersikap tenang.

Karena ajaran ini diberikan oleh guru yang penuh keteladanan seperti Lao-tzu sendiri, maka tak diragukan lagi bahwa taoisme memiliki pengaruh yang sangat dashyat. Tetapi toh masih saja diperlukan penjelasan yg lebih dalam meskipun taoisme hanya merupakan suatu filsafat metafisika. Dan pendalaman itu dilakukan oleh Chuang-tzu, yg dilahirkan beberapa abad setelah Lao-tzu. Lagi-lagi, hanya sedikit sekali yg diketahui tentang kehidupan Chuang-tzu. Yg diketahui hanyalah bahwa ia menulis sebuah buku yg sekarang diberi judul sesuai dgn namanya, Chuang-tzu, dan dia pun dgn berapi-api menentang Confucianisme. Dalam masa-masa akhir hidupnya, dikatakan bahwa Chuang-tzu merupakan orang tua yg sangat eksentrik dan mengenakan pakaian compang-camping dengan alas kaki amburadul yg diikat dgn tali. Ketika istri Chuang-tzu meninggal, salah seorang muridnya mengunjunginya. Ia menjadi sangat terkejut karena melihat gurunya itu sedang bernyanyi-nyanyi sendiri sambil terus menerus makan. Chuang-tzu membela diri atas perilakunya tersebut dengan mengatakan bahwa menangis dan berduka hanya menunjukkan “ketidaktahuan terhadap takdir”.
Bagi Chuang-tzu, tao mentransformasikan alam yg amburadul dan saling bertentangan itu menjadi suatu kesatuan harmonis berupa Jalan Alam. Hal ini hanya bisa terjadi kalau alam mengikuti Alam, dan hanya bisa kita capai manakala kita mengikuti Jalan Alam, bukannya Jalan Manusia seperti yg di rekomendasikan oleh Confucius. Tao (atau Jalan Alam) merupakan suatu keadaan transenden dimana tak ada lagi kebaikan maupun kejahatan, dan segala sesuatunya pun hidup dalam suatu kesetaraan yg harmonis. Chuang-tzu jupa bersikukuh bahwa tao itu terdapat dimana-mana, dalam segala hal, bahkan pada semut dan kotoran.

Terakhir dan membuat saya merinding sekaligus takjub adalah ketika terbaring diranjang kematiannya, Chuang-tzu berpesan agar mereka tidak memakamkan jenazahnya secara formal. Menurutnya, ia lebih memilih dan merasa terhormat bila jasadnya di makan burung buas daripada harus dipendam dan dimakan cacing.

31 Tanggapan to “Sekilas Tentang Taoisme”

  1. Praditya Says:

    Waduh, itu beneran akhirnya dimakan gtu jenazahnya?

  2. bedh Says:

    kue yang bapak tawarkan tidak enak, terlalu kering. tidak menantang
    kuenya masih kurang lengkap…. tidak ada air.
    saya nggak mau jadi robot, karna terlalu membosankan…. tidak ada gairah.

    di salahsatu serial supernatural ada dialog
    banyak cara untuk mati, tapi kita harus mencari jalan untuk hidup di dalam kehidupan ini. film itu mendebarkan.

    kalau bapak memilih untuk menguap lalu siapa yang harus saya kuburkan?
    sial….kalah gw.

    *pulang sambil membawa pacul dan sekop*

  3. bangbadi Says:

    Wah rumit nih artikelnya, agak gak ngarti. Hehe, biasa bego soalnya.


  4. Menarik…
    BTW mengenai jalan manusia itu …
    Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “jalan” disitu?
    Apakah “jalan” sebagai suatu alat atau cara untuk mencapai suatu tujuan? Atau “jalan” itu sendiri-lah yang menjadi tujuan manusia?

    Seandainya “jalan” hanya merupakan alat atau cara untuk mencapai tujuan maka tujuan seperti apakah? Dan masihkah perbedaan “jalan” yang dipilih antar manusia itu menjadi masalah jika “tujuan” yang ingin dicapai sama?

    *hehehe maaf Oom, saya bukannya komentar tetapi malahan bertanya”

  5. eMina Says:

    *teriak2 pake toa*
    ga ngertiii !!!๐Ÿ˜•

    *pergi jalan-jalan*

  6. alief Says:

    wah menambah pengetahuan nih… trims ya๐Ÿ™‚

  7. ordinary Says:

    Bagi Lou-tzu, โ€œjalanโ€ itu secara umum merupakan konsepsi yg bersifat mistik, metafisik. โ€œjalanโ€ itu merupakan satu daya kekuatan abadi dan mutlak yang mengendalikan alam, tapi tetap saja tak berada di dalam ruang dan waktu. Konsepsi seperti ini sebenarnya sulit untuk ditangkap dgn pola konseptual logis yg normalnya digunakan dalam wacana filosofis yg dicanangkan oleh pemikir barat

    zink… pernah baca buku tasawuf??
    coba deh -karangan Ibnu Mahalli A Umar mungkin pas, konsepsi yang ditawarkan Lou Tzu, seperti memiliki api tambahan dalam konsep-konsep yang ditawarkan para sufi๐Ÿ˜‰
    selamat memasuki dunia kontemplasi
    ini pasir hisap kawan
    bersiaplah๐Ÿ˜†

  8. sigid Says:

    Menurutnya, ia lebih memilih dan merasa terhormat bila jasadnya di makan burung buas daripada harus dipendam dan dimakan cacing.

    Ini benar-benar membuat merinding om๐Ÿ˜

  9. goop Says:

    OOT sebentar:

    Dalam masa-masa akhir hidupnya, dikatakan bahwa Chuang-tzu merupakan orang tua yg sangat eksentrik dan mengenakan pakaian compang-camping dengan alas kaki amburadul yg diikat dgn tali

    wah, beliau anggota kaypang ya??:mrgreen:
    __________________________________________
    saya suka dengan konsep jalan ini, bila @ordinary berkata mengenai tasawuf, memang benar, disana ada jalan-jalan, yang melewati tempat peristirahatan bernama maqam-maqam, memerlukan guru dan lainnya (klo tidak salah saya baca di buku tentang Jalalluddin Rumi atau Syeh Siti Jenar saya agak lupa)
    Benar ini pasir hisap, dan menimbulkan ketertarikan seperti pertanyaan paman deKing,
    selamat mencari saja-lah untuk semua
    -salam-

  10. rozenesia Says:

    Duh, saya belum punya Tao te Ching di kamar kost…
    *hobi koleksi kitab-kitab suci*

  11. Sayap KU Says:

    Kalimat terakhir menakutkan mas … masak gak dimakamkan?

    -Ade-

  12. bedh Says:

    saya pernah baca katanya tasawuf itu adalah kondisi dimana hati dan jiwa benar2 bersih. jadi kondisi dimana akal dan pikiran tidak dapat membantah apa yang dikatakan hati dan jiwa. jadi ilmu (bhs indonesianya tahu) tasawuf berarti tahu tentang hal yang tidak dapat dibantah oleh akal dan pikiran tapi dibenarkan oleh hati.
    nah lo…………………..
    sekarang bagaimana tanggapan seorang Nietzsche
    ataupun Lao-tzu mengenai hal tersebut….
    silahkan di jawab.
    .
    .
    .
    iblis mode:on

    kalo menurut gw buku tentang itu tak pernah ada zink, suatu pengetahuan yang di dapat dari pengalaman tidak mungkin dijelaskan dan di mengerti dengan tulisan. huhuhuhu
    marilah kita kembali bergentayangan. saling menghantui satu sama lain sapa tau kita tidak sengaja menemukan tasawuf:mrgreen:

    iblis mode : off

    buat yang tidak setuju silahkan protes sama iblis jangan sama saya. karna saya sudah jadi manusia lagi. huhuhuhu

  13. danalingga Says:

    Setahu saya Confucius hanya mengajarkan masalah moralitas, sedangkan Lao-tzu mengajarkan esensi kebenaran.:mrgreen:


  14. Menurut-ku kedua-nya sama baik-nya. Bukan-kah “Jalan Manusia” dan “Jalan Alam” kalau ber-iring akan semakin bagus? Jadi kenapa kita tidak meng-kombinasi-kan terapan-nya saja๐Ÿ˜‰

  15. joyo Says:

    dasar kafir!saya ini tentara harus nurut sama atasan, dan atasan saya adalah…adalah…adalah kata2 pada sebuah kitab, saya tentara!

    *lagi dc*

  16. Hanna Says:

    Meski beda keduanya sama-sama mengajarkan tentang kehidupan. Bila kita ke vihara akan melihat tiga patung yang berjejer. Mereka di sebut tiga nabi. Konfusius, Lao-zhu, dan nabi Budha Sidharta Gotama. Lao-zhu mengenal adanya dewa-dewi di kayangan yang kehidupannya abadi. Konfusius mengenal adanya dewa2 dalam dunia ini. Sedangkan Budha mengajarkan kita untuk selalu berbuat kebajikan dan menyebarkan kasih sayang agar tidak terlahir dalam dunia ini lagi. Tiga-tiganya percaya adanya hukum sebab-akibat dalam dunia ini. Aduh, kok jadi panjang lebar begini yach.

  17. qzink666 Says:

    @Praditya
    Saya gak tau pasti, bro.. Kebetulan waktu beliau wafat saya lagi keluar kota..๐Ÿ™‚

    @bedh
    *berpikir untuk mengubur bedh hidup-hidup*

    @bangbadi
    ah, abang ini terlalu merendah..๐Ÿ˜€

    @deKing yang biasa2 aja

    sebenarnya apa yang dimaksud dengan “jalan” disitu?
    Seandainya “jalan” hanya merupakan alat atau cara untuk mencapai tujuan maka tujuan seperti apakah?

    saya kira “jalan” yang dimaksud taoisme adalah sebuah sarana untuk menjadi selaras dengan hukum alam. Dan dengan demikian, dari penyelarasan ini diharapkan akan lahir pribadi-pribadi yg tercerahkan, tak melulu mementingkan duniawi dan dapat bersinergi dgn alam karena sadar bahwa dirinya adalah bagian dari alam itu sendiri. Dalam filsafat jawa konsep ini dikenal dgn “Memayu Ayuning Bawana”.
    Kalau saya salah, mohon dikoreksi, bang.. Maklum, saya baru belajar soal beginian..๐Ÿ˜‰

    @eMina
    *mempersilahkan jalan-jalan*

    @alief
    terimakasih juga sudah menyempatkan mampir..๐Ÿ˜€

    @ordinary

    zink… pernah baca buku tasawuf?

    saya punya buku tentang Rabi’ah al-Adawiyyah Attar dan Jalalludin Rummi. Tapi buku yg mbak May rekomendasikan itu sepertinya menarik juga. Akan saya coba cari, mbak..๐Ÿ˜›

    ini pasir hisap kawan
    bersiaplah๐Ÿ˜†

    pasang kuda-kuda..


  18. Dalam filsafat jawa konsep ini dikenal dgn โ€œMemayu Ayuning Bawanaโ€.

    Hohohohoho akur bro … ternyata ada rekan blogger yang mengenal kalimat itu.
    Yupe sejak dulu saya suka dengan “Hamemayu Hayuning Buwana” (red: setahu saya sama artinya)

  19. qzink666 Says:

    @sigid
    yupp.. Bikin merinding seputar udel memang..๐Ÿ˜€

    @goop
    wah, sampeyan ikut nakut-nakutin saya, paman…๐Ÿ˜†

    @rozenesia

    *hobi koleksi kitab-kitab suci*

    hobi yg seaneh orangnya..๐Ÿ˜ฏ

    @sayap Ku
    *memeluk Ade biar gak takut lagi, sambil curi-curi kesempatan*

    @bedh

    tasawuf berarti tahu tentang hal yang tidak dapat dibantah oleh akal dan pikiran tapi dibenarkan oleh hati.

    menurut saya tasawuf adalah sebuah dorongan seksual yg tak tak membutuhkan orgasme..

    @danalingga

    setahu saya Confucius hanya mengajarkan masalah moralitas, sedangkan Lao-tzu mengajarkan esensi kebenaran.

    itulah sebabnya saya berpendapat bahwa taoisme adalah penyempurnaan dari ajaran Confucius, bang..

    @extremusmilitis
    setubuh, bro…

    @joyo
    dan saya adalah kata2 dari kitab suci itu sendiri..๐Ÿ˜›
    *menyodorkan udeng-udeng, jubah putih dan sekarung TNT*

    @Hanna
    terimakasih untuk tambahan ilmunya, mbak..

  20. qzink666 Says:

    @deKing
    lega rasanya, sang ahli matematika itu akhirnya akur dgn pendapat saya..
    *menghela nafas*

  21. qzink666 Says:

    Tanggung…
    Sekalian hetrik deh..๐Ÿ˜€

  22. bedh Says:

    lah kok gw mikirnya kebalik yah?
    tadinya gw pikir tasawuf itu
    orgasme yang tak membutuhkan dorongan seksual
    sepertinya saya salah baca buku ni….

    *colek-colek may…..may pinjem dunk bukunya
    yah?…yah?*

    *mudah2an nggak kliatan ngalah gara2 takut dikubur hidup2*

  23. celo =3 Says:

    kalo tao ming se itu apa ya…???

    *digetok*

    gimana kabarnya malam minggu…???

  24. gimbal Says:

    blog ini konsisten dgn ilmu pilsapat nech…
    salut…
    oh ya… absen….

  25. oRiDo Says:

    cuma ngerti baca bagian blakang nya doang.. hehehe.. *daripada nanti ikutan gak ngerti :D*

    knapa gak di bakar aja tuh jenazah.. daripada sibuk jangan dimakan ini.. yg boleh makan cuma itu.. mo gmn juga tuh cacing bakalan kebagian..
    cape deeee….

  26. goop Says:

    wah, sampeyan ikut nakut-nakutin saya, pamanโ€ฆ

    nakut-Nakutin, ko bisa??
    oiya, memayu hayuning bawana itu seperti konsep yg paling tinggi atau paling akhir atau mungkin lebih pas paripurna ya?? dalam buku gusti ora sare yg pernah saya baca (buku itu isinya petuah2 jawa)
    Btw, judul buku rabi’ah-nya apa sobat?? nyarinya dimana?? saya nyari dari dulu ko blum dapat juga
    Terima kasih ya

  27. qzink666 Says:

    @bedh
    begitu juga boleh, bro.
    Suka-suka kau lah..๐Ÿ˜€

    @celo =3
    Tao ming se adalah pacar lo..๐Ÿ˜€

    gimana kabarnya malam minggu?

    gatot subroto! Ini kan Indonesia, bro..

    @gimbal
    ah, gak konsisten-konsisten amat kok, bro..
    Masih suka melacur juga..๐Ÿ˜›

    @oRiDo๐Ÿ˜†

    @goop
    saya sendiri nemu konsep itu dari “Sasangka Djati” karangan Pakdhe Soenarto, sang pendiri kelompok kebatinan jawa “Pangestu”

    judul buku rabi’ah-nya apa sobat?

    Cinta Sejati Wanita Sufi, karangan Widad El Sakkakini.

  28. celo =3 Says:

    gatot subroto! Ini kan Indonesia, bro..

    semoga cepet dapet gatot yang lain bro~~~๐Ÿ˜ฆ

    *OOT karena nggak paham*

  29. mbelgedez Says:

    ia lebih memilih dan merasa terhormat bila jasadnya di makan burung buas daripada harus dipendam dan dimakan cacing.

    Sebenernya segh dia takut sama siksa kubur.

    ***kabourrr….***

  30. qzink666 Says:

    @celo =3
    he?

    @mbelgedez
    bisa jadi, mbah..๐Ÿ˜›

  31. bayu Says:

    Taoisme menarik juga,…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: