Sari Filsafat Nietzsche

Desember 7, 2007

Sebagai contoh dari kualitas Nietzsche di dalam upayanya berfilsafat tanpa kenal lelah, ia membagi-bagi pengertian kita tentang kebenaran dan arti yg dikandungnya (dengan menggunakan “true argument” secara sempurna didalam prosesnya). Ia sampai pada sejumlah wawasan orisinil dalam upayanya ini. Dalam kerangka waktu, beberapa diantaranya sangatlah sesuai dengan apa yg kita lakukan, dan yg akan terus menerus kita lakukan, pada diri kita sendiri maupun pada planet ini atas nama ilmu pengetahuan. Implikasi dari argumennya masih tetap saja luar biasa bagi kita di masa ini juga di masa mendatang.
Apakah arti dari ‘kehendak untuk mendapatkan kebenaran’ (will to truth) yg tanpa syarat ini? Apakah yg mampu kita ketahui sejak awalnya dari luar keberadaan, yg sanggup memampukan kita untuk membedakan mana yg terbaik bagi kita? Memampukan kita untuk memilih berdiri pada ‘sisi yg tak bisa di percayai tanpa syarat’? Lalu, bila keduanya di perlukan, yaitu percaya (trust) dan tidak percaya (mistrust): dari manakah ilmu pengetahuan bisa memperoleh keyakinannya (faith) yg tanpa syarat itu, (keyakinan yg merupakan kepastian tempat beradanya ilmu pengetahuan) dan bahwa kebenaran itu lebih penting ketimbang apapun juga, ketimbang kepastian2 lainnya? Jika kebenaran dan ketidak benaran sama2 menunjukkan dirinya masing2 sebagai sesuatu yg berguna, maka tak ada sesuatu yg dinamakan sebagai kepastian. Dengan demikian, meskipun tak bisa di sangkal lagi akan adanya suatu keyakinan atas ilmu pengetahuan, kepastian tak dapat bermula dari suatu perhitungan yg utilitarian, melainkan harus berasal dari ‘kehendak untuk mendapatkan kebenaran’ (will to truth) dan ‘kebenaran, berapapun harganya’ (truth at any price), meskipun fakta yg ada membuktikan bahwa keduanya (will to truth and truth at any price) itu tidak berguna dan sangat berbahaya…
Karena itu, ‘kehendak untuk mendapatkan kebenaran’ bukanlah berarti “Aku tak akan membiarkan diriku tertipu”, melainkan tak ada alternatif lain kecuali “Aku tak akan menipu, bahkan pada diriku sendiri”: dan dalam hal ini kita sudah berada di wilaya moralitas. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Mengapa kita tidak mau menipu?” terutama bila tampaknya hidup ini semata-mata hanyalah penampakan semata: penampakan dari kekeliruan, kesalahan, penipuan, penyangkalan diri sendiri; dan bahwa hidup sebenarnya selalu berpihak pada keragaman yg paling jahat.
Apabila ditafsirkan dengan bermurah hati, sikap “tak mau menipu” ini mungkin akan dianggap sebagai sebuah tindakan ksatria, padahal ini tidak lebih dari sebuah kelancangan yg terlalu antusias dan berlebihan; bahkan bisa juga menjadi lebih buruk lagi, katakanlah menjadi suatu prinsip yg destruktif, memusuhi hidup. Pada akhirnya, ‘kehendak untuk mendapatkan kebenaran’ itu tidak ada bedanya dengan ‘kehendak untuk mati.’
Karena itulah pertanyaan “Mengapa ilmu pengetahuan perlu?” selalu kembali pada masalah moral. “Mengapa mesti ada moralitas?” jika hidup, alam, dan sejarah “bukanlah moral”?
Tentu sekarang engkau mengerti apa yg sebetulnya hendak kumaksudkan, yaitu bahwa keyakinan kita atas ilmu pengetahuan selalu merupakan keyakinan yg metafisis, yg bahkan kita para cendikiawan modern; kita orang2 yg tak memiliki Tuhan, kita yg anti metafisika ini, masih saja menyalakan lilin pengetahuannya dari sumber api yg sama dengan yg dipergunakan oleh leluhur kita untuk menyalakan lilin pengetahuan mereka ribuan tahun yg lampau: yaitu seperti yg diimani kaum agamawan, demikian juga yg di yakini Plato, bahwa Tuhan adalah kebenaran, bahwa kebenaran bersifat ilahiah..

-Di olah dari: Gay Science, Buku V, Bagian 344-

23 Tanggapan to “Sari Filsafat Nietzsche”

  1. caplang™ Says:

    hmm…

    *mencoba mencerna*

  2. bayu Says:

    *pijit kepala*
    aih,.. berat,.. berat,..

    yang bener belum tentu baik,..
    yang baik sudah pasti benar,..

    pheewwh,..

    *ngaso,..

  3. suandana Says:

    @_@
    bingung mau komen apa…
    Intinya, percayalah pada Tuhan… begitu?

  4. bacteria Says:

    yakin , saya gak paham. sumpah!

  5. kurtubi Says:

    Hello Nietze salam kenal … saya tertaarik pada ungkapan ini:

    “Mengapa kita tidak mau menipu?”

    filsafat *halah* melahirkan ilmu pengethauan dan selanjutnya merangkai moralitas dan moralitas menuju kebenaran dan kebenaran adalah metafisik itu sendiri dan metafisik itulah uluhiyah…

    jadi boleh kah disimpulkan bahwa mengapa kita tidak mau menipu, karena akan berhadapan dengan metafisis itu sendiri… sebuah kekuatan yang akan merontokan si penipu…

    Agaknya para koruptor belajar dari artikel ini heheh🙂

    maaf bos aku OOT


  6. penilaian objektif terhadap suatu kajian mutlak diperlukan jika kita ingin mengungkap kebenarannya..
    *muntah2 setelah bikin komen ini*
    PS: btw, buku Zarathusthra lagi diskon 30% lho di togamas.


  7. Eh komentar saya tidak sampai to … tadi pagi saya komentar pakai HP
    Komentar lagi dech…
    ********
    “will to truth”
    Which truth bro?
    Even absolute truth of God is spread out by relative truth of human

  8. Hanna Says:

    Qzink, ini terlalu dalam untuk saya koment. Baca-baca dulu yach.

  9. regsa Says:

    saya harus baca berulang-ulang untuk mengerti dan untuk kesekian kalinya belon juga mangerti..

  10. qzink666 Says:

    @semua
    saya sedang sangat sibuknya akhir-akhir ini..
    Untuk yg udah komen di rumah saya, terimakasih.. terimakasih..
    Maaf saya gak bisa balas satu-satu atau melakukan kunjungan balik di rumah teman-teman semua.. Mungkin lain kali..😀
    *sok jadi seleblog*

  11. goop Says:

    Mau komen apa ya tadi??
    lha, sampai lupa:mrgreen:
    *padahal ga ngerti*

  12. goop Says:

    Setelah agak mengerti :

    ‘kehendak untuk mendapatkan kebenaran’

    berarti :

    “Aku tak akan menipu, bahkan pada diriku sendiri”

    Sebentar, saya catet ini saja dulu…😀
    Jadi teringat, percakapan tukang cukur dan pelanggan :
    “Berarti Tuhan tidak ada ya, karena kejahatan masih ada…”
    dan Kemudian dijawab oleh tukang cukur bla.. bla… bla…😦 ada yang masih ingat cerita ini??
    ___________________________
    maaf sepertinya OOT

  13. ordinary Says:

    setuju..
    kebenaran selalu mencari jalan pulang, dengan atau tanpa kesediaan kita

    *pulang.. minum obat migren*

  14. Moerz Says:

    ah..
    pertanyaan2 yang mbikin nggeleng2…

  15. bedh Says:

    gile ribet banget…..
    kenapa nggak mencari tolak ukurnya dari nurani zink? nurani kan nggak pernah bohong.

    spk tau mode : on

  16. bedh Says:

    huhuhu kesalahan pada ketikan berakibat fatal.

    ralat:
    seharusnya ada tand ——–
    diantara kalimat pertama dan yang kedua

    spk <— maksudnya “sok”

    itu pertanyaan bukan pernyataan.
    jadi kalo pertanyaan tidak di jawab namanya sombong. huhuhuhu

  17. bedh Says:

    sok tau mode on maksudnya saya yang sok tau bukan dirimu

    oups …nggak sengaja hetrix

  18. qzink666 Says:

    @bedh
    Lha, dari dulu saya memang sepolos sekaligus sesombong Nietszche, kawan..😀

    kenapa nggak mencari tolak ukurnya dari nurani zink?

    adakalanya saya memakai nurani sendiri, dan adakalanya pula saya memakai pemikiran Nietzsche sebagai tolak ukur. Dan untuk postingan ini saya sengaja memakai beliau sebagai tolak ukur karena memang konteks yg saya angkat disini adalah filsafatnya Nietzsche.

    nurani kan nggak pernah bohong.

    mungkin, tapi kerap menipu, kawan..😛

  19. eMina Says:

    😕
    ga ngerti😕

    *ngeloyor pergi nyari bacaan ringan*

  20. rizoa Says:

    pake kacamata kuda iah…🙂😛 yang penting…idup kuk bwat ku hweee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: