Menggugat Sang Maha part. 2

Desember 5, 2007

Bapak yg saya kasihi,

Empat minggu sudah berlalu sejak saya menerima surat bapak. Maaf pak, jangan dulu menyiapkan khotbah untuk upacara pemberkatan nikah itu. Entah berapa tahun lagi kami baru dapat melangsungkannya, saya tidak tahu, artinya harapan tipis sekali.

Saya bingung sekali.

Baiklah saya ceritakan perkenalan kami. Nama gadis itu Cecile. Kami bertemu dalam bis. Ia menggendong seorang anak. Kemudian saya ketahui, anak itu adalah putra kakaknya yg perempuan. Kakaknya itu sedang sakit. Saya menyangka ia sudah bersuami. Ia membawa dua koper dan sejumlah panci. Kami tidak punya tempat duduk. Setiap melewati tikungan, kami harus saling bersandar agar jangan saling jatuh. Kami mengobrol tentang kehidupan sehari-hari. Kesan saya yg pertama ialah: ‘ia gadis yg lain dari yg lain’. Sulit rasanya untuk menjelaskan. Sikapnya lebih terbuka dari gadis-gadis yg lain, namun lebih berhati-hati.

Ketika kami sampai ditempat dimana ia harus turun, ia minta tolong kepada saya untuk membantunya menurunkan kedua koper dan barang-barangnya. Naas bagi saya, sebelum saya sempat naik kembali, sang supir menjalankan mobilnya dan meninggalkan saya bersama wanita itu.

Kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan hari itu tidak ada lagi. Karena itu ia mengajak saya untuk bermalam dirumahnya, dikampung yg letaknya beberapa kilometer dari jalan besar.

Suatu keadaan yg aneh. Kami berjalan dan sampai di rumahnya bagaikan satu keluarga. Ia menggendong si anak sambil menjunjung panci-pancinya. Dan saya menjinjing dua koper tadi. Setiap orang di kampung itu memandang kami dgn mata terbelalak. Di rumahnya saya disambut orang tua si gadis dgn begitu dingin.

Berulang kali saya mengajukan pada diri saya pertanyaan-pertanyaan. Dan jawaban atas semua pertanyaan itu adalah ‘ya’. Saya tidak dapat membayangkan wanita lain yg dapat menjadi ibu yg lebih baik dari anak-anak saya, kecuali dia! Ia sedikit lebih muda dari saya. Lagipula saya tahu, ia menaruh perhatian terhadap saya. Biarpun ia tidak mengatakan apa-apa, namun sinar matanya mengandung arti yg dalam.

Esoknya saya mohon diri kepadanya. Orang tuanya melepas saya dgn muka yg sedingin tadi malam.

Kemudian suratnya susul-menyusul datang. Dari surat itu saya dapat mengetahui, bahwa ia benar-benar wanita yg serius. Saya tenggelam dalam buaian bahagia dan punya banyak rencana…

Tapi kemudian datanglah ‘rekeningnya’.

Maaf saya tidak menemukan kata-kata lain untuk itu. Ayahnya ingin menjualnya kepada penawar tertinggi seperti dalam lelang. Ayahnya menyebut nominal angka sebagai mas kawin, karena menurut si ayah sudah ada penawaran-penawaran lain. Saya menangis memikirkan bidadariku-jantung hatiku-satu2nya orang yg paling kucinta-diperdagangkan!

Tentu saja takkan ada orang yg dapat menghentikan kami saling mencintai. Tapi, menikah hanya berdasarkan cinta sejati dan tanpa mas kawin tidak boleh dan tidak dibenarkan oleh adat istiadat daerah kami. Dgn sistem masyarakat ini, si wanita bukannya istri dari si suami, melainkan istri dari mas kawinnya.

Bapak yang baik,
Benar, saya tak tahu diri dan tak tahu berterimakasih. Bapak tidak berbuat apa-apa, padahal saya menyerang bapak dgn kata-kata yg keras. Tapi apa boleh buat, saya tidak mengetahui jalan lain untuk melampiaskan keputusasaan saya.

Saya lebih suka mati daripada hidup tanpa sungguh-sungguh hidup. Maksud saya tentu bapak terka, yakni hidup tanpa dia. Saya ingin sendiri menangis meraung-raung, menangis atas nama ribuan pemuda yg terpaksa hidup tanpa cinta, yg dgn kejam terpaksa mencari pelarian ke dalam pelukan wanita-wanita pelacur. Saya ingin menangis atas nama ribuan wanita yg dipaksa kawin dgn orang2 yg sudah tua tapi kaya, meskipun telah beristri lebih dari seorang.

Tapi siapakah yg akan mau mendengar raungan saya ini?

Saya mendakwa semua pemimpin masyarakat kami yg menindas si miskin, yg tidak mau bertindak menghancurkan monopoli orang2 kaya atas wanita, tidak mau bertindak melenyapkan kebiadaban yg tidak kenal perikemanusiaan itu.

Saya mendakwa masyarakat totaliter kami, mendakwa kediktatoran keluarga yg memperalat wanita untuk mengatasi masalah ekonominya, memenuhi keinginan orang tuanya akan keuntungan material.

Saya mendakwa gadis-gadis yg menjadi korban mas kawin, tetapi membungkam seribu basa. Tidak menentang orang tuanya yg memperlakukannya sebagai barang dagangan dan menjebloskannya ke dalam pelukan bandot tua bangka.

Saya mendakwa Tuhan, yg disebut pelindung dari perkawinan sejati, menunjukkan jalanNya kepada saya
tanpa memungkinkan saya berjalan dijalan itu? Sekiranya perkawinan berdasar cinta melulu merupakan hak istimewa orang2 kaya saja, mengapa Ia tidak mengirimkan sejumlah uang yg saya perlukan? Dimanakah letak kekuasaanNya? Apakah kekuasaannya tdk melebihi kekuasaan dewa2 kecil yg palsu ini? Tuhan apakah itu?

Saya tidak mengharapkan jawaban, karena memang tidak ada jawaban.

Salam
F

40 Tanggapan to “Menggugat Sang Maha part. 2”

  1. qzink666 Says:

    Tulisan diatas saya comot dgn semena-mena dari buku I LOVE A GIRL, I LOVE A YOUNG MAN, karangan Walter Trobish.


  2. bused hetrik sendiri๐Ÿ˜ฏ

  3. qzink666 Says:

    Kenafa, bang?? Keberatan?๐Ÿ˜€
    *siyul-siyul gak jelas*

  4. goop Says:

    Eh jadi itu bukan cerita beneran??
    saya pikir itu, apa yang terjadi malam minggu kemaren…
    argh, hampir saja saya berlinang air mata, dan sudah berniat menyusut peluh๐Ÿ˜€
    _____________________________________
    OOT Bentar ah :
    terkadang memang ada yang tidak bisa kita paksakan bukan?? meski sudah kita perjuangkan, tapi ada yang bilang bahwa tujuan adalah utama, tentu melalui prinsip-prinsip yang benar *halah* sok tau:mrgreen:

    eh itu OOT atau bukan sih??

  5. qzink666 Says:

    Untuk menyampaikan maksudnya, Nietzsche kerap meminjam mulut Zarathustra..
    Begitu pun saya kali ini..๐Ÿ˜ฆ
    abis postingan ini saya gak mau lagi menelanjangi kehidupan pribadi saya disini..
    Untuk terakhir kalinya, saya nyataken, bahwa orang tua si gadis rela menyerahkan anaknya asal saya ngasih mahar sebesar 20 juta. Saya bisa saja mengusahakan duit sebesar itu tapi saya gak mau, ini pemerasan..
    Lagi pula, saya cuma ingin menikahinya dan bukan membelinya..

  6. goop Says:

    oOo, jadi begitu, sedikit mengerti saya…
    tapi saya setuju sama dikau sobat, bukan untuk membelinya, tapi untuk menikahinya…
    akhirnya, hanya doa saya, semoga nanti diberikan yang terbaik untuk kau… dan apa yang telah terjadi, tentu menjadi pelajaran, pengingat dan bukannya tidak berguna bukan??๐Ÿ˜€
    -salam-
    oya, maaf sok tau-nya sedang kumat

  7. Hanster Says:

    Misi numpangLewat…

    => Hansteru WebBlog <=


  8. Sebenar-nya proses jual men-jual dalam korelasi-nya dengan adat per-nikahan (hampir mirip dengan adat kami juga) itu lebih ke nilai dari adat itu sendiri. karena, biasa-nya si orangtua bahkan tidak menerima sepeser-pun, habis untuk di-beri-kan kepada keluarga lain-nya yang juga dulu urun sumbang ketika si orangtua menikah, jadi seperti proses timbal balik

    Di-satu sisi, ini baik karena akan sangat memudah-kan ter-utama mempelai laki-laki dalam melaksana-kan pernikahan, karena biaya-nya di-tanggulangi ber-sama
    meskipun, di sisi lain, budaya ini juga salah, karena kesan buruk yang di-tinggal-kan ketika perempuan hanya di-hargai seharga dia di-beli dulu-nya, dan bahkan lebih parah lagi, menyebab-kan banyak-nya gadis-gadis yang tidak ter-sentuh sama sekali karena harga-nya yang mahal๐Ÿ˜

  9. danalingga Says:

    Walah, gila ini.

    *menyiapkan demo kepada Tuhan*

  10. Hanna Says:

    Ai ya… Kawin mah urusan ngampang, nikahnya yang susah, ya ga?

    Aduh, jadi ingat kata orang tua. “Mertua cerdas menilai menantunya. Mertua bodoh menilai rumah menantunya.”

  11. Praditya Says:

    Saya kira ini pengalaman pribadi…
    Trus itu ada kelanjutannya gak?

  12. joyo Says:

    terkadang eh sering kli realitas bertolak belakang dengan ajaran

    *terinspirasi tulisan tito ‘realita vs ajaran๐Ÿ˜€ *

    OOT
    bro pa kabar euy, dah lama gak timpuk2an sandal๐Ÿ˜€

  13. regsa Says:

    *geleng-geleng*
    perempuan, bendakah dia ?
    Bukan pertanyaan juga zink..๐Ÿ™‚

  14. Pyrrho Says:

    kayaknya saya tahu latar belakang cerita ini.๐Ÿ™‚ kalau nggak salah dengan latar belakang adat dan tradisi di sebuah negara Afrika (Afsel atau Nigeria, cmiiw).

    Kalau nggak salah juga, itu surat seorang pemuda kepada seorang pendeta Kristen. Di surat itu dia menyatakan “gugatannya” kepada kultur masyarakat, orangtua yg menjual anaknya, gereja yg tidak berbuat apa-apa, sampai dia juga menggugat Tuhan.

    Endingnya, cmiiw, mereka akhirnya kawin lari, tapi ada salah satu yg meninggal akhirnya.

    Cinta memang selalu menemui jalan berat. Terkadang tradisi/adat itu yang memberatkan manusia-manusia yg saling mencintai. Apalagi kalau orangtua menganggap anak hanya sebagai “barang” yang punya harga tertentu. Itu jg masih banyak terjadi di negeri kita.


  15. Setuju dengan Mus-mus, “jual beli” gadis ada di beberapa masyarakat tradisional kita (maaf penyebutan kata tradisional tidak bermaksud merendahkan, melainkan hanya untuk membedakan dengan jaman skrg). Bentuk2 perdagangan yang dikemas dengan rapi oleh nilai2 adat dan budaya.

  16. cK Says:

    kesian…๐Ÿ˜ฅ

  17. brainstorm Says:

    OOT dulu..

    *timpuk joyo pake sepatu*

  18. brainstorm Says:

    secara matematika begini..

    cinta =(2xbaju pengantin)+biaya gedung +
    (2x500porsi undangan)+ mas kawin
    suka2 bapaknya perempuan + (~embel2)

    cinta ternyata cukup mahal..
    tapi santai bro, NO WOMAN NO CRY ๐Ÿ˜†

  19. brainstorm Says:

    bro.. sebenernya gue ga tega mao nyampah
    tapi apa daya..

    *angkat sarung.. kabur*

  20. keplek Says:

    iyo, zink. no women no cry, no money nodong, he, he, he,
    ngapain juga ngurusin wong tuo gilo cak itu. masih banyak janda-janda kembang yg menunggu jamahan tanganmu.

  21. bayu Says:

    njisss gue banget!!
    orang2 udah berlomba2 ke bulan, tapi kita masih di penjara oleh adat2,..

  22. qzink666 Says:

    @goop
    Yupp.. Saya cuma ingin menikahinya dan bukan membelinya..
    Sebenarnya uang bukan masalah buat saya, tapi ketika sang bapak nyebutin nominal, itu yg saya tdk suka..

    @Hanster
    monggo..

    @extremusmilitis
    itulah, bro, kenapa kebanyakan lelaki di desa saya kerjaanya cuma nongkrong di warung kopi dan agak pemalas buat nyari penghidupan. Karena mereka merasa telah membeli dan bukan menikahi. Dan dampak negatif dari budaya seperti itu ya menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua.

    @danalingga
    sekalian ajak Alex, bang..
    Kira-kira dia mau gak ya kita ajak demo ke Tuhan?๐Ÿ˜€

    @Hanna
    emang beda ya, mbak, antara nikah sama kawin itu?๐Ÿ˜›
    *sok lugu*

    @Praditya
    korelasi dari postingan saya dgn kehidupan pribadi saya ada pada komentar #8

    @joyo
    karena teori kadang hanya mampu membawa kita ke Paris tapi tidak bisa menunjukkan sebaiknya kita ngapain sesampainya disana..๐Ÿ˜›
    *timpuk joyo pake sendal jepit sekarung*

    @regsa
    jangan tanya joyo, karena dia pasti bakal jawab alam..๐Ÿ˜€
    *ditimpuk*

    @Pyrrho
    yupp, itu udah saya cantumin sumbernya di kolom komentar #1.

    @deKing
    dan begitu pulo di tempat saya tinggal..๐Ÿ˜ฆ

    @cK
    iya, kesian..๐Ÿ˜ฅ

    @brainstorm
    soal uang gak masalah, bro, wong saya orang kaya kok.. Masalahnya tuh bapak ngasih bandrol buat anaknya. Emangnya saya mau beli apa? Saya kan mau menikahinya..
    *stel kaset Bob Marley*

    @Keplek
    iyo, wong tuo gilo..๐Ÿ˜›
    eh, mana?? Mana?? Mana janda kembangnya??
    *mata jelalatan*

    @bayu
    inilah Indonesiamu, kawan..๐Ÿ˜ฆ

  23. bedh Says:

    lo sedang nertawain kemiskinan moral calon mertua mu atau sedang menangisi kemiskinan mu zink?

    gw benci dengan kemiskinan tapi lebih benci lagi sama orang yang gila kekayaan. tapi kebencian itu seringkali menempatkan saya berada ditengah2nya.

  24. bedh Says:

    njist lagi2 bahasanya campur aduk….sowwi sedikit terbawa emosi soalna huhuhuhu

  25. bedh Says:

    saya nggak ikut2 demo ke Tuhan ah…’
    tapi ntar kalo ada acara wat rame2 ngebujuk Tuhan wat berikan sedikit kebahagian wat dibagi2in gw ikutan yah…..

    yes hetrix


  26. udah ada 3 orang yg hetrik…

    *keep counting*

  27. qzink666 Says:

    @bedh
    gw gak miskin!! Camkan itu!!
    *timpuk yg hetrix pake botol kratingdaeng sekarung*

    @caplang
    berminat juga, bang?๐Ÿ˜‰


  28. itulah, bro, kenapa kebanyakan lelaki di desa saya kerjaanya cuma nongkrong di warung kopi dan agak pemalas buat nyari penghidupan. Karena mereka merasa telah membeli dan bukan menikahi.

    Ooo bener tuch bro? Mengenai hal tsb (maaf) saya terpaksa berkomentar dengan satu kata, “parah” …
    Tapi kalau dipikir2 memang ada “benarnya” juga ya?

  29. Sarah Says:

    Perlakuan yg gk adil buat perempuan.
    I hate that!!

  30. bedh Says:

    kalo lo nggak terbawa arus permainan orang yang gila kekayaan lo bukan termasuk orang miskin yang gw maksud.

    *lumayan nih krating daeng
    dodol isinya mana? …botol ne doank

  31. qzink666 Says:

    @deKing
    emang gak semuanya si, bang.. Tapi sebagian emang gitu..
    Disini yg kerap banting tulang (jadi buruh penyadap karet) adalah istrinya. Dan sang suami ya gituw deh..
    Trus kenapa si perempuan nerima keadaan seperti itu? Ya karena, jadi janda di kampung saya merupakan aib terbesar, dan kalaupun bisa menikah lagi biasanya hanya akan di jadikan istri ke2, 3, bahkan 4 dari bandot tua bangka. Dan dampak langsung dari budaya seperti ini adalah menjamurnya tempat prostitusi (isinya janda2) judi togel dan miras.
    Kalo ada yg gak percaya silahkan datang ke tempat saya di desa Airitam, kec. Penukal, kab. Muara Enim, Sum-Sel.

    @sarah
    meski laki2, saya pun membenci budaya fucking idiot itu, mbak..๐Ÿ‘ฟ

    @bedh
    pokoke saya orang kaya.. He He He..
    *guyur Bedh pake aer kratingdaeng segentong*

  32. ika Says:

    yaelah,,kirain crita beneran ni,,hihi tapi bagus critanya,,๐Ÿ™‚
    btw,hetrik di blog sendiri? kekekekek

  33. qzink666 Says:

    Emang cerita nyata, mbak.. Itu di komentar #8…๐Ÿ˜€
    hetrix di blog sendiri memang lebih nikmat, mbak.. He He He.

  34. suandana Says:

    Sabar… Sabar… Semua yang dialami itu pastilah yang terbaik…๐Ÿ™‚

  35. eMina Says:

    Tapi Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia sebelum manusia itu berusaha mengubah dirinya sendiri.
    Itu semua adalah pembelajaran

  36. ordinary Says:

    zink…
    *padahal tadi uda ngarep hepi ending*
    sigh..
    ini bagian dari permainan pembelajaran
    tanpamu.. tanpanya, hidup terus bergulir, jadi nikmati ajalah..
    sebuah komitmen akan perjuangan

    anw.. mang dah akdirnya cinta untuk mati koq๐Ÿ˜‰
    cari lagi yang baru zink
    ato pindah lokasi (kaya paan coba)

  37. CallMeKimi Says:

    Haiah… tak kira ini kisah pribadi..ternyata… aku tertipuh. huh.. *melengos*


  38. ah, kirain beneran…..
    qzink penipu..
    jadi gimana, nih??
    *siyul2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: