Indonesia Raya

November 19, 2007

Sebuah Perenungan

Selera dan kecenderungan dominan para pemimpin nasional Indonesia di sepanjang perjalanan sejarah sejak kebangunan nasional sangat digenangi oleh ide, bahkan sering nafsu, Indonesia Raya yg harfiah tertuang eksplisit dalam lagu kebangsaan kita dan dalam hampir semua manisfestasi, baik pidato para pejabat aparat negara maupun komentar serta emosi stadion-stadion olahraga dan layar pentas seni di TV, boleq dikatakan di mana-mana. Ide Indonesia Raya sudah lahir sangat pagi dini dan hanya dapat kita pahami bila kita paham iklim ideologis zaman lampau yg di warnai oleh kejayaan Britania Raya, Jerman Raya, Prancis Raya, Nippon Raya, Asia Timur Raya, dan sebagainya.. Dampak pengaruh mental yg tertanam dalam manusia maupun nasion yg masih remaja memanglah sangat mendalam, tidak dapat begitu saja putar haluan. Demikianlah kegandrungan untuk mendemonstrasikan status mereka dari pengalaman hina dikoloni oleh bangsa asing secara psikologis telah dalam pula menumbuhkan trauma maupun impian-impian agung indonesia raya itu, yg merupakan reaksi langsung terhadap pengalaman kolonial imperial asing. Dapat dipahami betapa seorang jongos/babu lalu memimpikan suatu masa kencana, di mana mereka sendiri menjadi tuan besar dan puan besar seperti mantan tuan puan mereka dulu.

Pertanyaan kita sekarang ialah: Apakah kita sudah dapat melepaskan diri dari paradigma psikologis relasi tuan-jongos/puan-babu itu? Ataukah kita sebagai ahli waris kolonial masih saja berhayat kolonial, terkurung dalam dunia relasi tuan-jongos/puan-babu itu untuk selamanya, khususnya terhadap sesama sebangsa sendiri? Mampukah bangsa kita, atau lebih tepat, para pemimpin bangsa, tiba pada suatu paradigma lain yg tdk berelasi kolonial macam itu dan sadar masuk ke dalam era mental dan kelembagaan-kelembagaan baru dalam hubungan saudara dgn saudara atau mitra dgn mitra? Ataukah kita mengulangi lagi cerita wayang yg sangat terkenal ciptaan jenius rakyat: Petruk Dadi Raja, Kere Munggah Bale? Status dan atribut luar Petruk bahkan harta bendanya sudah raja, tetapi tingkah laku masih saja si proletar? Pejabat tinggi dalam mobil sewaan, lengkap dgn perangkat alat golf ke lapangan, tetapi di situ ternyata hanya maen gaple? Sudahkah menjadi ilmuwan, intelektual, hartawan genuine capitalist, perwira tinggi, negarawan? Atau masih saja tukang pintar, croony ersatz capitalist, serdadu, pokrol bambu? Di jalan lalu lintas umum sudahkah kita bersikap supir ataukah masih kusir gerobak-yang-kebetulan-bermesin?

Kembali ke Indonesia Raya, apakah kita sudah bangsa dan manusia Indonesia yg merdeka atau pada hakikatnya masih saja nasion besar penuh jongos dan babu? Sudah berwibawa karena kualitas jati diri kepribadian ataukah baru tukang cari gengsi karena hanya dapat mengandalkan diri pada kuantitas dan maen pukul? Sebaiknya kita sadar dan belajar dari sejarah, apa implikasi serta berapa biaya sosial yg harus dibayar oleh bangsa-bangsa yg bersangkutan untuk mencapai Britania Raya, Jerman Raya, Nippon Raya, dan lain-lain itu, biaya-biaya sosial yg tdk sepadan dgn hasil-hasil kualitatif karena terlalu sarat dgn segala noda dan dosa serta kesengsaraan yg ditimbulkan oleh ide imperium raya itu. Apa arti sejati dari negara-negara yg besar? Mungkinkah kita sampai pada pertanyaan itu dan kepada pelaksanaan jawabannya?
Anda tahu? Mari urun rembug di sini…

ps: Artikel ini meneruskan postingan kemaren. Semoga anda menemukan keterkaitannya. Kalo gak ketemu, ya kait-kaitin..

40 Tanggapan to “Indonesia Raya”

  1. gimbal Says:

    oh… klimaks gw… nikmatnya hetrik….

  2. gimbal Says:

    hajar terus…. puas2sin and balas dendam…

  3. gimbal Says:

    sikat bozzzz……

  4. gimbal Says:

    gelo… dah lima biji aja nech….
    hauahauahauahau
    sory Zink… gw nyampah…

  5. joyo Says:

    Dasar gimbal, hueueueu
    btw blog ini bisa dianggap tempat sampah juga kok, ya kan Zink?
    Sampah kepenatan pikiran🙂

  6. gimbal Says:

    Good Point Zink.. sebuah postingan yg sangat berbobot.

    Salah satu peninggalan kolonial Belanda adl budaya feodal.. yang setelah 350 tahun kepergiannya dari tanah pertiwi tetap melekat bak noda hitam dikain putih hingga kita harus beli Surf. Maka gak heran kl kita sering menemui pejabat2 yg feodal-nya kayak raja2 ketoprak dan otoriter-nya macam pemimpin2 komunis.

    Budaya feodal tdk hanya berkembang dlm ruang lingkup birokrasi-sbg institusi yg sangat menjaganya. Namun juga dlm kehidupan masy. secara umum.

    Entahlah saya juga kurang begitu tahu definisi negara besar itu apa?? Uraian gw mengenai cita2 negara Indonesia sangatlah simpel – dan sangat normative. Tapi bukankah Visi itu harus bersifat normative??

    Buat gw integrasi kebangsaan dibawah sayap Garuda dan sejuknya Merah Putih adl mutlak. Yg kedua adl terbebasnya Indonesia dr funding institusi yg berarti Indonesia harus punya liquid cash 50 x dr nilai APBN – akan tercipta jika effective dan efficiency tumbuh mesra di semua BUMN, hilangnya KKN disemua birokrasi, penegakan supremasi hukum, stabilitas iklim politik, dan kebijakan ekonomi yg balance antara pro investor dan local protection.

  7. qzink666 Says:

    @gimbal
    kuraaang ajaaaar…(dgn 69 tanda seru)
    btw, konsep bernegaranya boljug tuh..😐
    *masukin Gimbal dalam karung, ikat, seret pake motor bang Edy*

    @joyo
    ini lagi ikut-ikutan jadi provokator..
    Komentarnya mannna?
    *sambil nunjuk-nunjuk postingan*

  8. rozenesia Says:

    rozenesia

    roze nesia

    roze (roze) & nesia (Indonesia)

    rose means love…

    rose for Indonesia = Love for Indonesia😉

  9. joyo Says:

    ah eh…blm baca postingannya je
    sek…sek…tak baca dulu😀

  10. hoek Says:

    ah ya, bangsa Endonesa sendiri sefertina masi dalam tahaf fuber, belum nemuin (kembali) jati diri yang seharusna ada…
    jadi ya…
    indonesia belum dibilang raya, soale bangsana aja masi asal ngikut negara RAYA yang lain…
    eh, fendafad saia nyambung ngga sih?

  11. Toga Says:

    Indonesia Raya lahir dari sebuah proses yang ajaib, jadi ngga heran banyak keajaiban di sini… Misalnya keajaiban hukum, maling ayam dipenjara, pembabat hutan lolos. Semacam itulah.
    Tapi ttp saja Hiduplah Indonesia Raya…

  12. qzink666 Says:

    @rozenesia
    Nama yg bagus, bro..
    Semoga Indonesia membalas cintamu..🙂

    @joyo
    Arrgh.. Gak mau tahu, pokoke mesti baca..😦

    @hoek
    semoga mimpi Indonesia yg menjadi raya bukan sekedar utopi ya, bro..
    Meskipun saya sendiri sangsi, apakah dgn mental pejabat kita yg agraris feodal seperti itu akan mampu memberikan sesuatu yg oleh manusia beradab zaman sekarang di sebut demokrasi, suara rakyat, kedaulatan rakyat, kemakmuran rakyat dan sebagainya..

    @Toga
    setuju, pak..
    Tapi bukan berarti harus terjebak dalam fanatisme buta yg berslogan; right or wrong is my country kan, pak?

  13. qzink666 Says:

    @semuanya
    mau pamit nih, saya yg punya blog ini akan pergi ke Pedalaman Kalimantan dulu untuk sekitar 10 harian.. Jadi untuk komen yg gak saya balas, saya minta maaf..😛
    terimakasih..

  14. Hanna Says:

    Merenung sambil menunggu pemilik rumah ini pulang dari pedalaman. Met ketemu dengan para dayak yang unik namun baik.

  15. sigid Says:

    Apakah kita sudah dapat melepaskan diri dari paradigma psikologis relasi tuan-jongos/puan-babu itu?

    Anu je mas, mungkin masih sedikit-sedikit terpengaruh. Misalnya kadang kalau nyewa konsultan, yang Bule mesti yang dipercaya, seakan jadi jaminan mutu.
    Mungkin memang benar kalau mereka pintar, namun anak bangsa juga ada (kalau tidak boleh saya bilang banyak) yang tidak kalah pintar.
    Tetep saja meski point yang dibicarakan sama, jika yang ngomong Bule, itu yang dipercaya. Secara psikologis, kita memposisikan Bule itu superior.

  16. eMina Says:

    tulisan berat lagi.
    ga bisa sekali baca.

    eh, ke kalimantan ya?
    *nunggu oleh -oleh*

  17. rozenesia Says:

    AMin.

    Eh, Kalimantan mana bung?😛

  18. CallMeKimi Says:

    numpang nyampah… bole kan? bole kan? komennya beso2 aja.. baca dolo di kos2an. hehehe,,

  19. ordinary Says:

    saya tunggu qzink kembali

  20. joyo Says:

    wah lama bener, siapa yang nanti komen di blog ku😦
    hehehe, met berkarya bro🙂

  21. Melly Says:

    lama amir? emang ke kalimantan mo ngapain si?
    *nunggu ada yang nerangin*

  22. zal Says:

    ::untuk kepentingan besar wadah harus raya, dengan itu akan menjadi asli… bah…sudah kalimantan pedalamlan lagi…eh itu masih kurang dalam…kesonoan lagi..terus..terus dikit lagi..qzink666 masuk jurang yg sangat dalam…cuma khabarnya dapat harta karun…😆


  23. ah… blog kafir ini
    kafir kafir kafir.. tidak kaffah titik


  24. boss, baca dulu ya orasinya nanti baru saya komen..

  25. caplang™ Says:

    bulu kuduk saya masih merinding tiap mendengar sekumpulan suara nyanyi Indonesia Raya
    itu artinya apa, bro?

  26. baliazura Says:

    Ataukah kita sebagai ahli waris kolonial masih saja berhayat kolonial, terkurung dalam dunia relasi tuan-jongos/puan-babu itu untuk selamanya, khususnya terhadap sesama sebangsa sendiri?

    sepertinya masih


  27. Plato mode : On

    negara besar adalah negara yang dibesarkan oleh rakyatnya. Rakyat membesarkan negaranya atas dasar kecintaan kebanggaan kenasionalisan kepatriotisan dan ke-an ke-an yang lainnya..
    sekarang di negara ini berapa banyak patriot bangsa? berapa banyak pemimpin yang memang meletakkan jiwa raganya untuk bangsa?
    “jangan tanyakan apa yang bangsa ini berikan untuk kita, tapi katakan apa yang bisa kita berikan untuk bangsa ini!!”

    Plato mode : Off

  28. suandana Says:

    negara besar adalah negara yang orang-orangnya tidak mudah terpengaruh budaya orang luar, tidak merendahkan diri di hadapan warga dari negara lain, dan memiliki kepribadiannya sendiri…

  29. Wadyhook Says:

    Artikel lo bagus, bro, sayang basi tuh..👿

  30. Wadyhook Says:

    Denger sekali lagi.. BASI!!!!

  31. Wadyhook Says:

    BASI, tauk.
    Artikel lo sebasi indonesia.

  32. qzink666 Says:

    Hohohoho… Aem bek.. :))
    masih di Pontianak sih, tapi lagi nunggu penerbangan ke Jakarta.. Abis itu pengen ke Cirebon dulu, nengok kampung halaman dan baru besoknya balik ke Palembang..😀
    makacih ya yg udah komen di blog ini selama saya mengilang 5 hari.. Maaf saya gak bisa bales satu-satu..

  33. brainstorm Says:

    ngapain di pontianak? proyek boss??

  34. qzink666 Says:

    Abis merealisasikan ide gila nih.. Cuma ya itu, dari rencana 10 hari, cm kuat 6 hari..
    Keburu ngebet pengen ngeblog..😛

  35. goop Says:

    “Hiduplah Indonesia Raya”
    Satu dua ….
    Indonesia tanah airku dst… dst…
    Benarkah hanya menjadi sekedar cita-cita dan harapan?? Ah sungguh kau menyadarkan sobat. Meski miris juga bila mengingat untuk menjadi negeri yang raya harus melakukan :

    biaya-biaya sosial yg tdk sepadan dgn hasil-hasil kualitatif karena terlalu sarat dgn segala noda dan dosa serta kesengsaraan yg ditimbulkan oleh ide imperium raya itu

  36. qzink666 Says:

    Jangan miris dong.. Ayo keep fighting!!! Bukankah selalu ada harga untuk segala sesuatu?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: