MENGGUGAT SANG MAHA

Oktober 15, 2007

Hantam lebih dalam!
Hantam sekali lagi!
Sengat dan sengat, hancurkan hati ini!
Apa arti dari siksaan
Dengan panah2 tumpul ini?
Kenapa Engkau melihat ke bawah,
Tidak bosan akan kepedihan manusia,
Dengan mata Ilahiah berkilat kejam?
Tidak maukah Engkau membunuh, hanya menyiksa, menyiksa?
Kenapa Kau siksa diriku,
Engkau, Tuhan kejam yang tak kukenal?

31 Tanggapan to “MENGGUGAT SANG MAHA”

  1. danalingga Says:

    Sekali-kali memang perlu digugat, mana tahu Dia berkenan menjawab.😉

  2. qzink666 Says:

    Hehehe.. 😀 semoga..

  3. aRuL Says:

    yang anda gugat itu seharusnya diri anda bukan Tuhan…
    coba resapi aja.. siapa yang salah….

  4. fertob Says:

    Membaca Nietzsche itu seperti membaca diri sendiri. Rasa kasihan, pemberontakan, dan pengagungannya terhadap manusia itu memang luar biasa. Semua tolak ukurnya adalah manusia, sama seperti dia melihat dirinya yang “inferior” tetapi mempunyai otak yang “superior”.

    Tetapi sering konsepnya tentang Tuhan berawal dari kebenciannya terhadap agama, sehingga dia meletakkan konsep Tuhan itu sejajar dengan kebenciannya itu. Tuhan tidak lagi obyektif di mata Nietzsche tetapi menjadi subyektif dengan tolak ukur kemanusiaannya [yang membenci agama]

  5. rozenesia Says:

    Kalo awalnya Dia nggak digugat, nggak akan ada larangan-larangan ahli agama buat menggugat Tuhan.😆

  6. qzink666 Says:

    @aRuL:
    Yah, mungkin kami sama2 salah.. *justifikasi*

    @fertob:
    Bener banget, Bang.. Kenapa saya suka dengan karya2 Nietzsche adalah karena setiap kali membaca karya beliau, saya merasa sedang membaca diary.. Apalagi karya monumentalnya, si Manusia Super Zarathustra.. Hohoho.. Puitis abis.. 😀

    @rozenesia:
    bener banget, bro.. Kalo dulu gak ada umat yg menggugat Tuhan, mungkin ustat2 sekarang yg berani melarang umatnya menggugat Tuhan, bakal di anggap bid’ah.. 😀

  7. agorsiloku Says:

    Kadang… apakah kematian bayi karena peperangan dan sakit, sama dengan ketika kita makan daging kambing yang kita sembelih dan bakar. Lalu dimana posisi hati nurani terhadap kebiasaan dan pembiasaan. Dimana moral berada?

  8. Bachtiar Says:

    setuju sama mas arul.
    siapa yang membuat kesalahan ? anda atau tuhan ?
    jawabnya : anda.

  9. fertob Says:

    @ Bachtiar :

    hohoho… jangan langsung tembak pemeran utamanya dong….😉 ini cuma pandangan Nietzsche tentang Tuhan. Boleh setuju dan boleh tidak, dan kalau mau lebih jelas, silakan baca buku-buku Nietzsche, tapi yang pertama siapkan diri sebelum membaca, jangan nanti sampai pingsan…:mrgreen:

    *kok makin ramai lagi adhominem ya ?*😛

  10. qzink666 Says:

    @agorsiloku
    perumpamaannya sadis amat, Bang? :peace:

    @Bachtiar
    Saya? Salah? Yah, mungkin saya salah, karena copy paste karya Nietzsche dengan tanpa izin.😛

    @fertob
    mungkin dia belum baca postingan Bang Fertob yg ‘Komentar : 1001 Macam,’ kali, Bang.. *kalo gak salah itu termasuk jenis komentar PARA-CONTEXT ya, bang?*

  11. caplang™ Says:

    maap pemahaman saya masih terlalu dangkal
    baik tentang tuhan maupun nietzsche
    waktu pelajaran filsafat kebanyakan maen basket😛
    saya merasa sbg manusia yg banyak kekurangan
    ga pernah merasa bahwa tuhan ga adil ato jahat sama saya
    semua semata kekurangan saya sbg manusia
    jadi belom berani mengajukan gugatan

    btw, mungkin karena belom kenal tuhan
    kan katanya tak kenal maka tak sayang
    jadi menilai bahwa tuhan itu kejam?
    tapi, apa benar tuhan itu ada dan bisa dikenal?

  12. ordinary Says:

    Kenapa Kau siksa diriku,
    Engkau, Tuhan kejam yang tak kukenal

    itu bukan Tuhanku
    *ngeloyor pergi dengan santai*
    hehehe.. lam kenal yah

  13. qzink666 Says:

    @caplang
    yah, anggap saja ini semacam gugatan class action untuk orang2 seperti saya, yang gak begitu puas dengan pelayanan Tuhan selama ini.. 🙂
    tak kenal maka tak sayang? Bisa jadi.. 😛 😛

    @ordinary
    syukurlah.. 😛

  14. Hanna Says:

    Tuhan yang menghantam ialah nuranimu yang berontak. Bukan Tuhan yang di atas sana.

  15. qzink666 Says:

    Di satu sisi, sebenarnya saya gak begitu percaya dengan adanya Tuhan.. 👿 tapi di sisi lain, saya membutuhkan satu sosok yg bisa saya salahkan ketika kesialan2 menimpa hidup saya.. Dan satu2nya sosok yg menurut saya paling tepat sebagai pelampiasan adalah Tuhan itu sendiri.
    Kenapa saya memilih menumpahkannya pada Tuhan, dan bukan pada orang tua yg melahirkan saya, misalnya.. Itu karena saya pikir hanya Tuhanlah satu2nya sosok yg tidak akan ngeles ketika saya persalahkan.. Toh, saya sendiri tidak mempercayai adanya sosok Tuhan tersebut.
    Jadi, ketika saya melemparkan semua kesalahan itu kepada Tuhan, akan sama artinya seperti bila saya melemparkan kesalahan itu pada sosok mahluk berwarna hijau, dengan kepalanya yg seperti telur dan sepasang mata berwarna hitam (yg sama2 tidak saya percayai keberadaannya)

  16. caplang™ Says:

    kalo anda melampiaskan hanya kepada tuhan
    brati deep inside anda percaya dng keberadaannya kan?

  17. qzink666 Says:

    Saya butuh media untuk mengekspresikan kekesalan saya.. Tapi, saya tidak mau melampiaskannya pada sesuatu yg nyata (orang, binatang, tembok, dll) karena saya gak mau ada yg tersakiti gara2 saya.. Maka dari itu, saya cenderung menumpahkannya pada sesuatu yg abstrak, sesuatu yg tidak saya percayai betul keberadaannya. Jadi, kalopun saat ini saya menyalahkan Tuhan, bisa saja kali lain, saya menyalahkan Alien, Gondoruwo, Anaconda, atau apapun yg menurut konsepsi umum diakui keberadaannya.. (meskipun saya sendiri tidak mempercayai keberadaanya)

  18. Siu Elha Says:

    kadang kekejamanNya adalah sebentuk cinta dalam bungkus yang memang buruk dan mengerikan… tinggal kedalaman cinta kita apakah mampu menerjemahkan dalam sebuah kenikamatan abadi… salam kenal Mas or mbak kita bisa diskusi nih lain waktu….

  19. qzink666 Says:

    Menyikapi sebuah kekejaman yg buruk dan mengerikan sebagai cinta kasih dan kenikmatan abadi? Tidakkah itu masochist, mbak?
    Btw, saya laki2, mbak..😛
    terimakasih sudah berkunjung dan salam kenal..

  20. Lily :-) Says:

    #qzink

    ….Maka dari itu, saya cenderung menumpahkannya pada sesuatu yg abstrak, sesuatu yg tidak saya percayai betul keberadaannya…

    kamu nggak atheis khan??

  21. qzink666 Says:

    Jawabannya ada pada kalimat; “tidak saya percayai betul keberadaannya..”
    silahkan mbak Lili menginterpretasikannya sendiri..😛
    btw, yang jelas saya tidak buruk rupa.. *narsis mode: ON*

  22. celo bukan celoteh tolol Says:

    kalo ditempat saya…

    justru saya memandang manusia dalam sudut pandang tuhan…

    dan hasilnya kalo dari sudut pandang tuhan…manusia emang merepotkan….

    *beidewei eniwei basbang, saya bukan tuhan lho😆 *

  23. qzink666 Says:

    Berarti manusia dan Tuhan (kalo memang ada) adalah dua entitas yg sama2 dan saling merepotkan ya?😆

  24. eMina Ga Bisa Login Says:

    Kalau belum mengenal Tuhan, bagaimana bisa menyebutkan bahwa Dia kejam?
    Misalnya dalam hal apa kekejamannya itu?
    Jika qz belum mengenal Tuhan tapi menyebutkan Dia kejam, apakah qz mempelajarinya dari konsep agama –agama ?

    Kalau qz belum mengenal –Nya, klo gitu, kenalilah Dia. Dengan begitu, qz akan merasakan bahwa banyak hal yang di dunia ini yang merupakan bukti kasih-sayang Nya

  25. qzink666 Says:

    Bukti kekejamannya buat saya adalah ketika Tuhan (yg nenek saya percayai betul keberadaannya) tidak ada upaya sama sekali untuk menolong nenek dari serbuan massa yg menjarah tokonya (15 Desember 1998).
    Dan akhirnya nenek saya shok. Kemudian kami sekeluarga pindah ke pedalaman Palembang, demi memulihkan mental nenek yg terganggu.
    Itu sebabnya ada bait dalam puisi itu yg berbunyi:
    “apa arti siksaan dengan panah2 tumpul ini?”

  26. eMina Ga Bisa Login Says:

    Baiklah, saya bisa sedikit mengerti. Karena cobaan –cobaan itulah kemudian qz menjudge bahwa Tuhan (mu) telah begitu kejam membiarkan (atau memposisikan) nenekmu berada dalam kondisi seperti itu. Tapi, mengapa hanya satu sisi itu saja yang qz lihat? apakah qz tidak bisa melihat (atau merasakan) kebaikan Tuhan?

    Apakah qz percaya dengan “ada hal baik/hikmah dalam setiap kejadian”? Kejadian seburuk apapun, saya percaya bahwa ada hikmah di balik itu semua. Meskipun kita tidak bisa merasakannya secara langsung saat itu juga.

    Nah, sekarang, menurut qz siapa yang membuat qz dan nenek qz bisa menikmati hidup sampai sekarang ? masih bisa makan kan? Bukankah itu berarti bahwa Tuhan begitu sayang pada manusia? Jika tidak, tentu qz tak akan bisa hidup lagi.

    Saya percaya, meskipun segala kehidupan ini Tuhanlah yang menentukan, tapi manusia lah yang harus berusaha dan berjuang untuk kehidupannya. Kondisi manusia akan berubah jika dia berusaha/berikhtiar. Bukan dengan cara menanti keajaiban turun dari langit untuk segala kesuksesan dan kebaikan kita. Semua itu harus diperjuangkan oleh kita. Barulah jika kita sudah berusaha, apapun hasilnya nanti, itulah yang ditentukan oleh Tuhan.

    keep semangat ya!!😀
    find the way..🙂

  27. qzink666 Says:

    Lebih tepat, Tuhan-nya nenek saya, mbak.. Sebab saya sendiri sejak dulu tidak terlalu percaya betul dengan keberadaan-Nya.

    mengapa hanya satu sisi saja yang qz lihat? Apakah qz tidak bisa melihat (atau merasakan) kebaikan Tuhan?

    menurut saya, kalo Tuhan berbuat baik kepada manusia itu adalah konsekwensi dari kemaha kasih dan penyayangnya..
    Tapi kalo menyiksa nenek saya dengan trauma berkepanjangan seperti itu (nenek saya selalu histeris ketika melihat lebih dari 10 orang yg dia tidak kenal bergerombol) apalagi artinya kalo bukan bahwa di samping kemaha penyayangnya Tuhan punya sisi lain, yaitu maha buruk?

    kejadian seburuk apapun, saya percaya ada hikmah dibalik itu semua

    hikmah yg langsung kami rasakan adalah bahwa kami harus memulai semuanya dari nol. Mencoba bertanam karet dan sawit dengan tanpa keahlian dan bakat sama sekali..
    Thanks 4 your suport..😛

  28. eMina Ga Bisa Login Says:

    Karena qz sudah dewasa, sya yakin anda sudah tahu seluruh konsekwensi dari apa yang kita lakukan.
    Masalah faith dan religi itu memang sangat privasi dan merupakan hak asasi sseorang. Orang lain tak pernah bisa memaksa.

    Yah, kita hanya manusia. Dan kita –saya yakin –butuh santapan jiwa yang bisa menentramkan hidup kita. Sebab tanpa itu, manusia akan merasa gersang.

    TAPI JIKA ITU BISA MEMBUAT ANDA MERASA LEBIH BAIK, THAT’S YOUR CHOICE. Are you feel better?

    Tapi saran saya, carilah terus jalan itu, dan terus belajar. Saya juga dan kita semua terus belajar. Hanya ketika matilah kita berhenti belajar dan mencari.

  29. shinobigatakutmati Says:

    bagus ^ ^

  30. danalingga Says:

    Jadi gimana hasil gugatannya nih? Dah ada tanggapan belon?

  31. qzink666 Says:

    @eMina

    TAPI JIKA ITU BISA MEMBUAT ANDA MERASA LEBIH BAIK, THAT’S YOUR CHOICE. Are you feel better?

    yah, saya merasa lebih baik, setidaknya untuk saat ini.. Semoga ini bukan pilihan buruk ya, mbak..😛

    @shinobigatakutmati
    baguskah?

    @danalingga
    belum, mas.. Sepertinya gugatan saya di abaikan tuh..😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: