Untung Rugi Erosi Nasionalisme

Agustus 15, 2009

Setiap menjelang perayaan 17 Agustusan (hari kemerdekaan) sering sekali saya mendengar kalimat baik yang berupa pertanyaan seperti, “Sudahkah kita benar-benar merdeka sebagai bangsa?” maupun kalimat yang berupa pernyataan seperti, “Dewasa ini generasi muda kita mengalami erosi nasionalisme dan cenderung kebarat-baratan” istilah kearab-araban, meskipun jelas-jelas terjadi di sekitar kita tapi hampir tak pernah disinggung. Nah, untuk menanggapi pernyataan terakhir itulah maka saya akan mencoba mengajak teman-teman semua untuk berurun rembug sengaja saya tidak pakai istilah brainstorming supaya tidak terkesan terlalu kebarat-baratan mengenai wacana erosi nasionalisme ini.

Sebelum saya masuk lebih jauh terlebih dahulu saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk menengok ke masa lalu pada masa di mana para pendiri bangsa kita menemukan rumusannya tentang satu nusa satu bangsa satu bahasa kita, Indonesia. Pada masa itu yang sekitar tahun 1920 – 1930-an, orang Jawa, Ambon, Sumatera, Bugis dan sebagainya, dan para muda-mudi terpelajar sebagai garda depan perintisnya menyatakan bahwa sudah saatnya kita keluar dari kungkungan manusia suku dan pulau menjadi manusia nasional yaitu Indonesia. Dan serta merta gagasan nasionalisme pun bergaung kemana-mana di Indonesia yang tak lagi berpikir bahwa Pulauku / sukuku (bisa juga agamaku) yang paling hebat, dan pulau atau suku lain adalah musuh atau sekurang-kurangnya saingan. Jadi dengan kata lain, nasionalisme yang ingin dirintis oleh generasi 28 kala itu adalah nasionalisme universal berdasarkan sila Ketuhanan yang maha esa dan sila keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan bukannya nasionalisme sempit jiplakan Britania Raya yang mempunyai slogan “Right or wrong, my country” atau nasionalisme membuta ala Adipati Karna yang berdasarkan balas budi, tidak juga nasionalisme picik ala Hitler atau Dai Nippon yang perangainya mengorbankan rakyat demi kejayaan palsu negara. Baca entri selengkapnya »


The Prince; Buku Pegangan Para Gangster

Agustus 9, 2009

The Prince adalah sebuah karya filsafat politik yang ditulis antara musim semi sampai musim gugur di tahun 1513 oleh Machiavelli yang disebut-sebut sebagai salah satu traktat filsafat paling bengal yang pernah dihasilkan dunia. Maka sungguh tepat apa yang digambarkan oleh Betrand Russel mengenai the Prince ini yaitu sebagai buku pegangan para gangster, karena memang didalam buku yang ditulis Machiavelli (pada mulanya ditujukan untuk para pangeran) ini terdapat banyak sekali ajaran-ajaran yang kemudian banyak diselewengkan oleh para pebisnis keblinger untuk mempertahankan dan menjalankan roda imperium bisnis mereka maupun keluarga-keluarga mafia demi kelancaran urusan mereka.

Dalam The Prince ini Machiavelli mengkhususkan diri pada cara para pemimpin untuk menjalankan roda kepemimpinannya secara efisien. Dan memang, efesiensi merupakan ilmu politik dari Machiavelli. Filsuf ini mengerti betul bahwa ilmu politik bukanlah sesuatu yang bersifat etis atau yang penuh dengan rasa iba. Ilmu politik hanya mengenal dua hal : apakah ilmu itu bisa diterapkan atau tidak, terlepas dari apakah etis atau tidak, baik atau buruk.

Pada bab pertama dalam buku ini Machiavelli membandingkan dua pemerintahan pada zamannya yaitu Turki dan Perancis sebagai model. Menurut beliau, pemerintahan yang efektif dan efesien adalah pemerintahan Turki yang pada waktu itu dikepalai oleh Ottoman Turks karena yang benar-benar pemegang kekuasaan di negeri itu hanya satu orang dan yang lainnya berperan sebagai pelayan, maka dengan begitu jenis pemerintahan seperti ini akan sangat sulit ditaklukan meski jika berhasil ditaklukan akan sangat sulit direbut kembali. Berbeda dengan jenis pemerintahan ala Perancis yang meski secara administratif dikuasai oleh satu raja (kala itu Perancis masih menggunakan sistem monarki dan revolusi Perancis yang melahirkan sistem Republik belum lagi terjadi) tapi pada kenyataannya dikelilingi pula oleh banyak bangsawan yang masing-masing punya kewibawaan dan dicintai oleh rakyatnya. Pemerintahan jenis ini sangat rentan intrik karena pusat pemerintahan tak bisa dikontrol oleh satu orang mengingat banyaknya orang-orang kuat yang juga dicintai rakyatnya. Oleh karena itu terdapat banyak kepentingan didalamnya terutama dari para bangsawan yang masing-masing mempunyai dukungan kuat itu. Baca entri selengkapnya »


Halimah dan Mbah Surip di Mata Presiden

Agustus 6, 2009

Ketika kemarin Mbah Surip yang terkenal dengan lagunya Tak Gendong dan Bangun tidur meninggal dunia, berbagai media mengulasnya dan menjadikannya sebagai laporan utama. Berbagai kalangan dari mulai rekan mbah Surip sesama seniman, pengamen, artis, pejabat sampai Presiden mengucapkan berbela sungkawa. Dan pidato presiden kita yang buru-buru pidato di depan wartawan itu untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa sekaligus menghimbau beberapa pihak untuk membantu pemakaman Mbah Surip inilah yang kemudian membuat saya sedikit bertanya-tanya.

Apa pasal?? Baca entri selengkapnya »