“Cantik ya putih,” Begitu kata Tengku Wisnu di iklan pemucat kulit. Dan idiom cantik itu putih sepertinya memang diamini oleh sekian ratus juta orang Indonesia termasuksayatentusaja. Terus, apa idiom ini juga diamini oleh sebagian besar orang Eropa?? Sepertinya tidak ya. Ini terbukti dari produk pemutih yang lebih banyak ditemukan di pasar Asia, termasuk Jepang dan China. Dan sebaliknya, merk yang sama menjual produk yang berlawanan di pasar Eropa dan Amerika.
Pada musim semi, produk kosmetik yang banyak beriklan di media ternyata adalah krim pencoklat kulit alias tanning cream. Juga banyak salon yang menyediakan mesin penyinar yang membikin kulit berwarna matang secara instan. Iklan tentang cantik itu cokelat pun digembor-gemborkan di media Eropa dan Amerika lewat model berbusana kembang-kembang yang menari diantara pohon kelapa, debur ombak, sinar matahari dan selancar. Eksotis memang, untuk negara yang tidak punya banyak sinar matahari.
Lalu kenapa selera warna kulit antara timur dan barat ini bisa begitu bertolak belakang?? Sebenarnya ada persoalan kelas juga disini. Kulit sawo matang menjadi begitu membetot karena ia datang satu paket dengan kemewahan, orang-orang yang memiliki banyak waktu luang untuk pergi ke tempat-tempat eksotis, mandi matahari, goler-goler di pantai. Sedangkan untuk kulit putih dianggap biasa karena memang kulit tersebut milik semua kelas di barat sono, mulai dari pengemis, kuli bangunan, pengamen, presiden, bahkan artis pakai warna kulit itu. Jadi tidak ada kelas tertentu yang terwakili.
Sedangkan di timur sendiri, khususnya Indonesia, warna kulit cokelat sudah beratus tahun diyakini sebagai milik para pekerja kasar, tukang becak, kuli bangunan, dll. Sedangkan untuk kulit putih di Indonesia terwakili oleh kaum priyayi dan orang-orang berpunya yang punya banyak duit untuk pergi ke tempat-tempat perawatan kulit. Ditambah lagi, mental bangsa terjajah belum sepenuhnya terhapus dari ingatan orang Indonesia, hingga apa pun yang kebule-bulean dianggap lebih yahud.
Maka jangan heran, meskipun di Indonesia sempat terungkap bahwa banyak produk pemucat kulit yang mengandung mercury yang berbahaya, toh produk-produk seperti itu tetap saja laris manis. Putih kan lebih yahud, jeung..
Tags: Barat, Bule, Indonesia, Pemutih Kulit, Timur


Desember 19, 2008 pada 9:39 am
Putih memang cantik kok..
Desember 19, 2008 pada 1:32 pm
Sekarang para produsen kosmetik2 itu menghindari kata ‘putih’ atau ‘pucat’ dan berdalih produknya hanya ‘membuat kulit lebih cerah/bersih’
Desember 19, 2008 pada 6:23 pm
Saya bisa memahami kedua standar kecantikan yang disebut.
Desember 20, 2008 pada 10:47 am
Putih di londo sono kasar Zink… udah pernah diraba blom? Nah kalo coklat halus, hehehe…
*maksa*
Desember 21, 2008 pada 2:44 am
putih emang cakep kok, asal jangan kelewatan ntar jadinya keputihan kan jadi nggak asyik.
Tapi yg kulitnya agak gelap juga indah loh mas, gak ngebosenin.
selera dapat mempengaruhi penilaian hitam atau putih.
Desember 21, 2008 pada 7:45 pm
*liat yang komen*
cowo semua..
putih memang cantik, hitam juga cantik, sawo matang juga cantik. meskipun tentu cantik yang sejati ^^
semua wanita itu cantik.
Desember 21, 2008 pada 7:47 pm
ehhhhhhhhhhhhhhh salaaaah
maksudnya
meskipun belum tentu cantik yang sejati
itu harusnya
Desember 21, 2008 pada 10:08 pm
bojomu putih po hitam zink ?
Desember 24, 2008 pada 3:12 pm
saya eksotis
Desember 24, 2008 pada 3:14 pm
saya eksotis
Desember 26, 2008 pada 8:49 am
Tapi katanya, buat orang ble, yang TIDAK berkulit putih lhooo yang menurut mereka adalah seksi
Januari 1, 2009 pada 11:08 pm
::yang komentar cantik itu ya..putih..pasti belum pernah ketemu babi putih…
Januari 2, 2009 pada 9:58 pm
putih cantik…kalau hitam manis ya??he3x….