Korban itu adalah sebuah kaos. Di akhir pertandingan, Ronaldo atau Klose akan mencopotnya dan memberikannya pada pemain lawan. Benda ini identitasku, ia bagian dari narsisme dalam diriku, ia berbau keringatku dan kena sedikit panu di kulitku. Tapi ia kulepas, kuberikan kepadamu.
-Goenawan Mohamad-
GM benar ketika ia mengatakan bahwa dalam sekala kecil, ada satu masa di mana manusia harus melepas egoisitasnya dan membiarkan manusia lain yang ada di luar dirinya menggapai mimpi yang selama ini mengganggu tidur malamnya. Sebuah keputusan yang bisa jadi akan disesalinya seumur hidup karena bisa saja mimpi indah manusia satu tak berarti serta merta menjadi mimpi indah bagi manusia lainnya juga. Tapi persoalan yang kemudian mencuat adalah haruskah sang manusia lain yang mimpinya tak selaras itu menyodorkan tubuhnya sendiri sebagai martir demi kebahagian manusia yang berada di luar dirinya?
Tapi di saat lain, kadang manusia itu sendirilah yang memposisikan dirinya untuk berada pada posisi itu. Siapa menanam, dia yang menuai. Siapa bermain api, dia yang terbakar, agaknya masih tetap relevan di zaman di mana tekhnologi menguasai akal dan kesadaran manusia ini. Sebuah posisi tawar yang mengorbankan “kini” untuk menggapai “kemungkinan”. Spontanitas, terseret suasana, untung-untungan, dan lain sebagainya memang sifat manusiawi yang kadang tanpa sadar akhirnya membuat sang manusia berada pada posisi yang kurang menguntungkan itu. Ada sebuah entitas kesadaran yang ikut di korbankan di sini. Tapi ya sudahlah, toh ini cuma kaos dengan wujud yang berbeda.
Lagi pula, benar kata slogan sim card sejuta umat itu, bahwa “mulutmu adalah harimaumu”. Sang berucap harus mempertanggung jawabkan apa yang kadung terlontar dari mulutnya, seburuk apa pun yang akan ditemukannya nanti. Apalagi ini sudah menyangkut mimpi satu manusia yang tak mungkin direnggut dengan semena-mena. Ini menyangkut hajat hidup dua keluarga. Itu pun kalau kau masih manusia, kata Siwi
Ya, kuncinya adalah kalau kau masih merasa menjadi manusia. Dan sebagai manusia, siapa pun punya titik berangkat yang sama untuk landasan ontologis dalam mencandra kehidupan. Terlebih bagi para pemuja eksistensialis (amatir, berat maupun ringan) yang memang punya kesamaan flatform berpikir dan berkreasi yang memiliki sifat-sifat dasar sebagai manusia yang berkesadaran, yaitu bahwa:
- Hidup bertolak dari pengalaman.
- Manusia sebagai subjektivitas murni, dan bukan sebagai manifestasi dari proses kehidupan kosmik.
- Subjektifitas di pahami dalam arti kreatif; manusia menciptakan dirinya sendiri dan di dalamnya kebebasan terafirmasi.
- Manusia tidak lengkap atau indefinitif; realitas terbuka, dan terikat pada dunia dan kepentingan manusia lain.
- Manusia harus menghadapi situasi deterministik, namun juga menghadapi situasinya sendiri.
Dan yang lebih penting dari semuanya adalah bahwa dunia bukanlah tempat dimana segala keinginan terjewantahkan ke dalam kenyataan. Ada sebagian mimpi yang memang harus tetap dibiarkan sebagai mimpi, karena bisa jadi bila semua mimpi mewujud kenyataan, kita akan terlalu banyak menyesali mimpi kita yang ternyata begitu teraih tak seindah yang terbayangkan.
Hidup memang selalu saja tak selesai..
.
.
.
PS.
Buat Siwi dan Goop yang tau simpul dari postingan ini, harap diam. Biarkan tulisan ini tetap menjadi seperti bidak-bidak catur yang terberai tanpa nama. Biarlah postingan ini tetap menjadi puzzle yang tak lengkap, karena dua bagian yang tersisa ada di tangan kalian..
*sumpal mulut Siwi dan Goop pake karung bekas wadah pupuk kandang*
Tags: Eksistensialis, Humanisme, Mimpi

Maret 22, 2008 pada 10:14 am
@Siwi | Goop
Gw berani juga kan posting masalah ini??
Maret 22, 2008 pada 10:43 am
mati lah, mati lah dalam hidup mu, maka hidup senantiasa selesai
(joyo 13:13)
Maret 22, 2008 pada 2:01 pm
oh cuma mimpi.. bkn kenyataan..
mimpi itu y cm mimpi..
Maret 22, 2008 pada 5:50 pm
Sepertinya gw tau ini soal apa..
*berpikir*
Mimpi yang jadi kenyataan itu cuma pengurangan nilai kenikmatan dari mimpi itu sendiri, Bro. Apa yang kau impikan seringkali bukan yang terbaik untukmu.
Maret 22, 2008 pada 6:10 pm
wah fansnya goenawan mohammad…. hehehe hidup komunitas utan kayu
ah mumedh….
hoo… bos goop tau cluenya toh?
hehehe pupuk kandang? mau yang bokashi atau fine compost, sir?
Maret 22, 2008 pada 8:26 pm
ya sepakat impian dunia tak semuanya bisa di wujudkan..
Maret 22, 2008 pada 11:15 pm
gw pernah denger kata-kata ini;
kalau kau punya cita-cita atau keinginan yang sekiranya tidak bisa kaucapai dalam hidup, wariskanlah pada anak cucumu………
*kabur*
Maret 23, 2008 pada 12:42 am
Saya setuju dan sangat setuju dengan 5 point itu. Itulah manusia sebagai eksistensi. Tapi, btw, itu diolah dari mana, Zink ?
Manusia adalah ruang yang terbuka dan menganga. Terbuka untuk segala kemungkinan-kemungkinan dan tidak membiarkan dirinya beku dalam dunianya.
Ah, bukan cuma hidup. Manusiapun selalu saja tak selesai.
Maret 23, 2008 pada 1:38 am
@Joyo
bikin kitab suci juga, bang??
@Syahbal
tapi mimpi adalah awal dari kenyataan, bro..
@Hana
wuih, keren.. keren bgt, sumpah..
*mencatat*
@Shinobi
ya.. Goop memang tokoh kunci postingan ini. Makanya saya semacam punya kewajiban moral untuk menculik dan mengamankan beliaunya ini buat sementara waktu..
@kw
akoor, bro..
@Morish
mimpi saya terlalu sinting untuk di wariskan ke anak cucu, bro..
@Pyrrho
dari beberapa buku yang saya baca, bang..
Salah satunya adalah dari buku yg berjudul: Marx, Dostoievsky, Nietzsche; Menggugat Teodisi dan Merekonstruksi Antropodisi..
yupe, bahkan Tuhan pun tak pernah selesai. Setidaknya begitulah kata GM..
Maret 23, 2008 pada 3:13 am
lagi-lagi saya ndak tau zink …
Maret 23, 2008 pada 12:40 pm
ah, adik menjadi lebih bijak. lima point di atas sangat mengagumkan.
“Selalu ada yang tak selesai”
Aku suka kalimat ini. Begitulah hidup ini. Selalu ada saja.
Kata orang tua “Ketika menanam padi akan tumbuh rumput di sana. Tapi, ketika kita menanam rumput jangan harap padi tumbuh di sana.”
Maret 23, 2008 pada 9:58 pm
*berencana menyebarkan inti postingan dengan harapan mendapat imbalan uwang ratusan juta*
*ingat Qzink bukan siapa siapa*
aaah… buat apa juga gw sebarin… ndak ada sutradara yang berminat mbeli…
*berlalu*
Maret 23, 2008 pada 10:02 pm
inget percakapan kita tempo hari ki?
“…Mau mati lagi…”
*ngakak*
eh, ini komen hubungannya apa ya?
Maret 24, 2008 pada 4:29 am
‘Tapi persoalan yang kemudian mencuat adalah haruskah sang manusia lain yang mimpinya tak selaras itu menyodorkan tubuhnya sendiri sebagai martir demi kebahagian manusia yang berada di luar dirinya?’
Kok kalau menurutku pernyataan dia atas sepertina kebalik coy…!
Agar bisa bebas sang manusia yang mimpinya tak selaras harus rela menyodorkan tubuhnya sendiri sebagai bayaran yang sangat mahal demi kebahagiaan orang lain terlebih bagi kebahagiaan , ketenangan serta kebebasan dirinya sendiri. Intina mah kudu rela dan nrimo dengan lapang dada kalau perlu seluas semesta raya..
“mulutmu adalah harimaumu”. Sang berucap harus mempertanggung jawabkan apa yang kadung terlontar dari mulutnya, seburuk apa pun yang akan ditemukannya nanti.
setujuuuuuuuh bro…..! itulah ciri utama seorang eksistensialis. Diri adalah sebagai taruhan atas segala ucapan. itu harga mati yang ndak bisa ditawar lagi…!
‘Dan yang lebih penting dari semuanya adalah bahwa dunia bukanlah tempat dimana segala keinginan terjewantahkan ke dalam kenyataan’
Eh lupa ya…, setiap keinginan itu katanya kutukan yang melekat pada diri yang hanya membuahkan kebosanan, kekecewaan dan penderitaan. Penangkalnya tiada lain kesadaran. Jadi sadarilah setiap keinginanmu….!
) untuk yang kedua kalinya apalagi yang ketiga.
jangan melakukan ‘kegoblokan’ ( soir
Belajar dari pengalaman
*sowwiey komengnya kependekan bro…
*
Maret 24, 2008 pada 3:11 pm
manusia tidak harus mengorbankan dirinya untuk membantu orang lain. seprtinya alam dan jagad semesta akan membantu tiap orang yang memiliki keinginan.
to be continue…
Maret 24, 2008 pada 4:44 pm
saat separuh, sisanya akan memanggilmu kembali (may 03:08)
ada y pernah bilang keterasingan..kesendirian.. jauh lebih mematikan dari patah hati (tanpa maksud menyindir)
tapi menjadikan “oase” barumu ini sebagai penyembuh tak menjadikan dirimu berbeda dari sebelumnya.
berhentilah bertukar itu takkan pernah cukup ki
*mode error off*
laen kali ga usah pasang disclaimer lagi ki
Maret 24, 2008 pada 6:59 pm
makanya hati2 klo bicara
Maret 24, 2008 pada 10:40 pm
kaga bosen apa mati melulu…
enaknya punya nyawa banyak….
Maret 25, 2008 pada 3:47 am
::koq seperti krangka ya qzink, kapan rencana pembangunannya…
Maret 25, 2008 pada 10:31 am
@regsa
saya pun ndak tahu kok, Ger..
@Hanna
terima kasih udah melengkapi space yang dulu kosong, kak..
@chiw
*pengen makan kepala orang hari ini*
saya gag mau mati dulu sebelum berhasil memakan kepalamu, Wi..
@Arwa
untuk ‘rancang’ sesaat sebelum ‘bangun’ keknya bener dew..
btw, keinginan, seperti halnya kebebasan, memang kutukan, bro..
@baliazura
sayangnya, ini alur polanya udah kadung terbentuk. Jadi udah gag bisa diapa-apain lagi selain membangunnya, kecuali kalau kau ingin mengubur mimpi orang yang sudah mempercayaimu..
@hantu gilo
seperti biasa, saya gag tau anda sedang menampar atau membelai saya..
@joyo
ah, anggap saja ini dedaunan karma yang harus saya buat menjadi pakaian yang kemudian saya pakai, bang..
@Moerz
lha, sapa yang mati, Moerz??
@zal
hebadh, kyai memang selalu bisa menemukan simpul dari apa yang saya maksud, meski udah saya cerai-berai sedemikian rupa sekalipun..
Maret 25, 2008 pada 12:42 pm
ada yang akan melindungiku sampek mati Zink… hati hati…
Maret 25, 2008 pada 5:14 pm
itulah kenapa kalo ngajuin proposal ke mana mana banyak ditolak
*nginget jaman jadi osis*
Maret 26, 2008 pada 11:46 am
*baca Sang PEmimpi nya andrea hirata*
hal -hal besar dan luar biasa itu, berawal dari mimpi. Sekerat mimpi. Sungguh bahaya jika manusia berhenti bermimpi.
Maret 26, 2008 pada 8:03 pm
hohohoho…
jadi mimpinya apa, dong??
“main” sama miyabi??
*kabur
Maret 26, 2008 pada 8:13 pm
@siwi
gag takut…
@jumawa
sama… proposal saya juga gak pernah diterima tuh…
@eMina
semua yang sekarang ada di dunia memang awalnya dari mimpi..
@moris
)
main sama Sandra Dewi lebih ajip keknya, bro…
Maret 27, 2008 pada 10:15 am
Selama manusia hidup, dia akan selalu merasa kurang.. Jadi jika Anda merasa sudah cukup dan tidak mau kekurangan lagi, matilah seperti Cobain..
*maaf saya ndak ngerti asal-usulnya, jadi agak ndak nyambung…
Maret 27, 2008 pada 5:27 pm
::qzink, hah… kyai
apa engga ada yg lebih rendah lagi… misalnya maha guru gitu… ,
Maret 27, 2008 pada 8:54 pm
ini tentang apa sih bro?
ente membuat fitnah, kalo ane suka mimpi basah apa?
udah jarang tuch…
oya, kuncinya ilang, apa lagi simpul ane ngga ngerti…
Maret 27, 2008 pada 9:04 pm
@Najieb
kapan-kapan saya mati deh…
@zal
bijimane kalo ane fanggil antum kapir???
@goop
ah, kura-kura dalam perahu enthe….
tanya Siwi aja, bro..
*seriyus*
Maret 27, 2008 pada 9:09 pm
udah nanya, disuruh nanya sama ente…
wah jangan2 kalian saling memimpikan yak?
*tuang bensin, sulut kompor*
Maret 27, 2008 pada 9:15 pm
yah, kami memang hampir saja terperangkap dalam cinta segi tiga
pengamansebelum akhirnya di kacaukan oleh kehadiran pihak ke 4….Maret 27, 2008 pada 9:15 pm
#goop
maaf Zink…
tadi Goop nanyanya gini siiih…
makanya, aku suruh nanya ke kamu aja… biar jawabannya obyektif…
*skor sementara 1-1*
Maret 27, 2008 pada 9:43 pm
sumpah gw gak cemburu, Wi…. dan ga akan pernah cemburu….

gw kan bentar lagi mau…
hampir aja….
*siyul-siyul*
Maret 28, 2008 pada 4:57 am
Maret 28, 2008 pada 10:36 pm
bukan gue yang bilang lo Zink…
*siyul siyul*
eh, emang ada cewek yang mau sama kamu Zink?
ato jangan2… sama cowok?
lagian, yang nuduh kamu cemburu sapa sih? sotoy!!!
Maret 31, 2008 pada 3:03 am
some dreams better be just dreams..hemm..suka saya sama quote ini, sayang..lagi ga punya mimpi..
April 12, 2008 pada 9:46 pm
Selamat jalan buat Rela.
April 12, 2008 pada 9:48 pm
Selamat jalan buat Rela.