Budaya Muludan Di Kasepuhan, Cirebon

Maret 20, 2008

Adakah memang benar kita mencintai para nabi dan pewarisnya atau tidak?

Ketika saya menyaksikan para pengunjung perayaan muludan di keraton Kesepuhan dan Kanoman, Cirebon, tiba-tiba saja saya jadi teringat dengan puisi mistiknya Sheftar, sang penyair urdu yang berbunyi:

    Sejak hari perjanjian primordial
    aku menjadi pecinta Muhammad yang bingung

Untuk lebih jelasnya, lihatlah sendiri kesana bagaimana tingkah laku para pengunjung peringatan maulid nabi itu..

Tags: ,

13 Tanggapan ke “Budaya Muludan Di Kasepuhan, Cirebon”


  1. apakah karena kecintaan tidak selalu diwujudkan dengan mauludan?

  2. qzink666 Berkata

    Kau lihatlah sendiri kesana..

  3. syahbal Berkata

    assalamualaikum..
    mang mereka pd ngapain seh??

    bedanya kasepuhan ama kanoman apaan? maaf OOT

  4. Ina Berkata

    disuruh liat kesana, berarti dibayarkan onkos pesawat dong.
    :D mau kl gitu.

    Salam kenal *dah kenalan blom yach*

  5. joyo Berkata

    :D
    saya pernah liad, tapi yg di jogja entah yg di cirebon,
    pa kabr bro? dimana ente skr?


  6. Males ke cirebon. Kasih atau aja lah mereka ngapain..


  7. [...] http://br4inst0rming.wordpress.com/2008/03/14/52/ <a href=”-“>-Siwi -Nazieb -Qzink -Daeng Limpo -Um Mble -Ridu -Almas -Mihael [...]

  8. tukangkopi Berkata

    ini orang seenaknya sendiri bikin orang lain penasaran :evil:

  9. zal Berkata

    ::wah.koq engga berasa apa-apa ya…, waduh badan saya kebas semua… diamput… :lol:

  10. esensi Berkata

    Saya sampai harus membaca dua kali tulisan Anda untuk bisa mencerna dan mendapatkan poin sentral yang Anda kemukakan. Taruhlah saya anggap saja Anda seorang gnostik tulen (atau memang iya?) :-) Jika memang Anda adalah termasuk pihak yang netral terhadap agama, maka simpel saja, dalam dunia agama yang kami anut-pun (Islam), ini menjadi polemik yang tak berkesudahan (lihat saja perseteruan para muslim liberal dengan kaum fundamentalis—catatan: entah kalau dalam ajaran Kristen kontemporer yang nampaknya jika melihat “statement Nietzsche” di atas).
    .
    Kedua, tulisan Anda–dalam perspektif saya–nyaris bagaikan sebuah argumen suci, sebab tidak bisa dipahami dan di-”tafsir” secara literer semata. Membaca sekilas tulisan Anda ini bisa saja membuat orang memvonis Anda bahwa Anda sudah main pukul-rata seenaknya dalam konteks apa jihad terdefinisikan (meskipun secara eksplisit Anda mengatakannya berkali-kali–dalam komen2 Anda).
    .
    Ketiga, parokialisme umat beragama yang terejawantah tahun-tahun belakangan ini, mohon dimaklumi sebagai bentuk regresi yang kronis. Ironi memang, pemeluk a-gama malah melakukan kekacauan hingga nyaris menyaingi katastrofi masa-masa Lenin, Stalin, Mao, Hitler, dll. Sebab, hati kecil saya-pun mengatakan sepakat dengan “kegelisahan” Anda.
    .
    Terakhir, saya hanya bisa terbengong ketika menelusuri kata-kata ini, …Selingkuh yang saya maksud disini tentu bukan perselingkuhan yang melibatkan hati, melainkan perselingkuhan yang Cuma memakai penis dan bukan perasaan. Sex after lunch. Tak ada yang tertunduk dan menunduk…. Well, nampaknya untuk yang satu ini, saya pahami secara tekstual saja, dan saya keberatan dengan statemen Anda ini, terlalu melampaui batas kewajaran norma spiritual yang saya anut.
    .
    [maaf kalau terlalu panjang dan terkesan out of topic, sebab saya pun bingung dengan apa yang saya komentarkan ini ;-P]
    .
    Salam,.


  11. [...] kemiskinan! MbakHanna, Rumahkayubekas, Arul, Gun2, Danalingga, Mihael DB, Abeayang, almascatie, QZink, Daeng Limpo, dan seluruh kawanblogger yang tidakbisa disebutkan satu persatu.. Anda semua [...]

  12. daeng fattah Berkata

    Apa yang bisa kita simpulkan dari ini?


Tinggalkan Balasan