Hey, kenapa kau tempelkan hidungmu di kaca jendela itu?
Nanti hidungmu membeku.
Habiskan cokelat hangat itu sebelum ia ikut membeku bersama hidungmu.Hey, kau mengotori sofa kesayangan nenekmu,
bersihkan sebelum nenekmu melihatnya dari surga sana.
Ah, itu omelan dari bunda ketika saya sedang melaksanakan ritual rutin nan suci di kala hujan, duduk di pegangan sofa sambil menempelkan hidung saya dalam-dalam ke kaca jendela. Sebuah ritual yang begitu menyenangkan, karena setiap saya melakukannya saya seperti bisa mengintip rumah Ninurta, sang Budha milik bunda, laut, matahari terbit dan tenggelam, juga badai dan kecelakaan pesawat terbang. Sebuah perpaduan antara rasa sepi dan rasa sakit.
Sebuah sensasi yang sama seperti ketika saya bermain sepak bola sambil hujan-hujanan, dan bunda tidak menyukai itu. Lagi pula saya tidak peduli.
Ah, kali ini pun hujan, dan saya kembali melakukan ritual itu di rumah paman di cirebon. Tapi entah kenapa, saya tidak lagi merasakan sensasi itu. Saya kehilangan apa yang biasa saya rasakan ketika saya melakukannya di rumah. Aneh, padahal di sini saya lebih bebas melakukannya, tanpa omelan bunda, tanpa tatapan heran dari ayah. Tapi seperti ada yang tak lengkap. Seperti ada pasthice yang saya lewatkan. Satu bagian puzzle jigsaw duotone itu hilang entah kemana. Saya tak lagi bisa mengintip rumah Ninurta dan sang Budha dari kaca jendela paman.
Ah, ternyata ada begitu banyak hal yang saya lewatkan. Betapa segala sesuatu baru terasa begitu berarti setelah sesuatu itu telah hilang dari hidup kita. Betapa segala sesuatu memang terasa begitu manis pada masanya. Omelan bunda yang kemarin-kemarin begitu menyebalkan, betapa terasa sangat merdu hari ini. Menjadi sesuatu yang begitu saya rindukan. Menjadi alasan bagi sebuah kepulangan.
Ah, memang sepertinya saya harus pulang. Mengambil jatah omelan bunda yang merdu, menjemput Ninurta dan sang Budha, sekaligus menggenapkan puzzle jigsaw duotone yang sempat tercecer beberapa bagiannya..
.
.
.
.
*stel lagu Bunda-nya Melly Goeslaw sambil membayangkan Ayumi Hamasaki bugil*
gambar di ambil dari sini


Maret 5, 2008 pada 9:01 pm
Mudik.. Mudik..
Maret 5, 2008 pada 9:07 pm
*jewer telinga qzink*
Maret 5, 2008 pada 9:27 pm
jadi mudik…??? nggak bawa laptop…??? ntar nenekmu yang nggak tau lagi di surga atau neraka atau bahkan nggak ada dimana-mana itu sedih lho…
*diinjek mampus*
duh… kamar saiyah nggak pernah ada jendelanya selama 16 tahun saiyah hidup ini….
Maret 5, 2008 pada 9:32 pm
@ gun dan celo
kalian berdua bener-bener pasangan romantis..
Maret 5, 2008 pada 9:33 pm
wooo dasar bocah gemblung!!!
tapi bnar juga kata Buddha,
Maret 5, 2008 pada 9:41 pm
kan abang yang ngajarin..
Maret 5, 2008 pada 9:58 pm
katanya kalo hujan onani…??? maksudnya onani sambil nempelin hidung di jendela gitu…???
Maret 5, 2008 pada 11:11 pm
yang di atas homok semua..
*berlalu
Maret 6, 2008 pada 12:17 am
@celo
kamu bener, nak..
@moris
di atas gw, ji??
Berarti lo juga dunks..
Maret 6, 2008 pada 8:07 am
Bunda dan ayumi hamazaki? Wuuuu..kualat kau Qzink..hhahahaaha..
Maret 6, 2008 pada 8:15 am
kangennya kok kangen diomelin. dasar anak durhaka!
Maret 6, 2008 pada 9:26 am
mas qzink butuh omelan sang bunda.. tp butuh “yg lain” juga.. hahai..
prasaan onani mulu yax??
Maret 6, 2008 pada 9:58 am
nah…
bisa kan bro dirasakan?
tanpa perlu dipikirkan?
Maret 6, 2008 pada 10:03 am
nyambi ngupil zink?
Maret 6, 2008 pada 10:04 am
*stel lagu Bunda-nya Melly Goeslaw sambil membayangkan Ayumi Hamasaki bugil*
korelasinyah dimanah zink?
*sok ilmiah*
Maret 6, 2008 pada 1:57 pm
kata kata terakhirnay itu lho
huh! merusak isi ceritanya yang lain!
[-(
——————————————————-
betewe, meskipun saya selalu diomelin dan diusir usir dari rumah gara gara kerjaanya cuma tidur, makan dan nonton tipi, entah mengapa…saya juga selalu pingin pulang…
betewe, alasan pulangnya ini bukan karena ndak ada yang mau dijuwal lagi kan?
*ditombak*
Maret 6, 2008 pada 4:10 pm
Hmm
*Mikir bentar*
Si Ayumi teh siapa? Tetangga-nya kang Cecep? Ato kenalannya Bunda-nya qzink? Punya no Hp teh Ayumi ngga?
*dilempar lemper*
Maret 6, 2008 pada 7:33 pm
::jadi biar diomelin qzink, padahal yang kau rindu itu kayaknya coklatnya…
itu…kayaknya sebabnya…
gara-gara udah eneg sama cokelat..idung ditempelin ke jendela…maaak..kayak…
Maret 6, 2008 pada 10:50 pm
jadi teringat bunda ku yang jauh di kampung…
kapan aku pulang?
Maret 7, 2008 pada 12:13 am
argghh!!!!
*menarik picu revolver
*DOR!!
…
..
qzink tepar
Maret 7, 2008 pada 3:17 am
huhuhu
ternyata seorang bunda yang menggoda dirimu mengerti kebijaksanaan sang Budha yah sat?
kewl …..
huhuhuhu kemaren sempet ngisi batre lagi pulang ke rumah ngisi hati ngeliat mak. baliknya seneng banget.
mudah2an dirimu juga seberuntung diriku
Maret 7, 2008 pada 3:58 am
wah ada yang sudah berbagi pengalaman dengan pasangan baru….
*lirik salah satu komen*
beuh… hari ini saiyah pulang karena uang saiyah habis….
Maret 7, 2008 pada 4:35 pm
bbrpa hari ini emang hujan teruss..
*lapor ttg keadaan di sini*
gak penting bgt deh dt..
met pulkam mas.. ^-^
*nunggu oleh2*
Maret 7, 2008 pada 7:26 pm
Nitip salam buat Buddha y, Zink..
Maret 7, 2008 pada 9:07 pm
ya pulang lah, hati2 di jalan nak, sesampainya disana kabari keadaanmu? bunda dan ayahmu? juga kabar ayam jago semata wayangmu?
Maret 8, 2008 pada 1:55 am
*baca komeng yang masuk dari bis*
Maret 8, 2008 pada 2:26 am
icut dunk bro………,
salam sejahtera buat keluargamu bro…
* Lo masih mending nak. lha aku ayah dan bunda ku dah pulang untuk selama-lamanya. *
Maret 8, 2008 pada 8:26 am
@Arwa
sorry ya, bro, kalo postingan ini membuatmu sedih karenanya..
Maret 16, 2008 pada 8:09 am
pulang mudik bawa ole2 yang bisa disumbangin yach…!!!