Seperti biasa, kegamanganku kembali merongrong. Ketika tidur tak lagi ternikmati, ketika tak lagi kutemukan mimpi dalam tidur-tidur dogmatisku (Saya bahkan lupa, kapan terakhir saya bermimpi), ketika tidur panjangku hanya berisi sekumpulan hamparan putih yang mempercepat laju detik.. Siyal!!
Tapi tunggu.. Meskipun begitu, sebenarnya saya tak sepenuhnya menyesali tidur-tidur saya. Karena bagi saya terjaga malah menyiksa; kehampaan yang sama. Berondongan pertanyaan yang sama.
Ah ya, otak saya ini memang sialan. Ia hanya mampu memproduksi pertanyaan tanpa pernah menyediakan jawaban. Atau, mungkinkah sebenarnya ia pun memproduksi jawabannya, hanya saja masih tersimpan rapat di sebuah gudang berdebu yang anak kuncinya terselip entah dimana?
Sambil mencari anak kunci yang terselip entah dimana itu, mungkin ada baiknya saya paparkan saja di sini bunyi pertanyaan-pertanyaan itu, sambil berharap ada jawaban dari rekan-rekan hingga saya tak perlu lagi mencari anak kunci itu..
Inilah bunyi pertanyaan itu;
- Saya pernah mendengar orang bijak berkata, “Balaslah sebuah luka dengan kebaikan.”
pertanyaan saya kemudian, “Jika saya harus membalas luka dengan kebaikan, lantas dengan apa saya akan membalas kebaikan?” - Nietzsche pernah bersabda, “Tuhan adalah sebuah dugaan: tetapi aku ingin dugaan kalian dibatasi oleh kenalaran.”
Pertanyaan saya kemudian adalah, “Bagaimanakah caranya saya bisa menalarkan Tuhan?” - Kenapa tubuh kita berkelamin? Mengapa harus berkelamin? Mungkin nggak pada mulanya Tuhan hanya basa-basi membuatnya, supaya agak jorok sedikit sehingga manusia mencaci tubuhnya sendiri?
selamat ikut mencari anak kunci itu, semoga segera kau temukan hingga mimpi kembali hinggap dalam tidurku..
Tags: Kehidupan, Pertanyaan, Tuhan

Februari 7, 2008 pada 3:56 pm
Siyal!!!
Februari 7, 2008 pada 4:05 pm
siyal tak jadi fertamax…, padahal baru aja kosong…
::apa engga ada ya, segepok 100 an dollar amerika…
kalau pertanyaan…sudah banyak…, tapi lebih baik asal jawab saja, soale sudah terlanjur…
::bagai mana memisahkan kebaikan, dengan yg bukan kebaikan, jika semua aslinya kebaikan…
::bagaimana menalar jika bentuk tak pernah tampak…
::tentang kelamin,mengapa..??? tak terlihatkah dia sebagai sang guru…mengajarimu dengan jelas …
Februari 7, 2008 pada 4:12 pm
Dooh, malah dijawab pake bahasa zen..
*tepar*
Februari 7, 2008 pada 4:57 pm
1. dengan kebaikan
2. ya, dengan nalar dunk
3. sepertinya emang salah cipta
*mabok lagi ah… *
Februari 7, 2008 pada 6:05 pm
hahah kamu sudah menjawab semua pertanyaan kamu sendiri
jadi maksudnya ini ngasih tau yahhhh
yup saya rasa kamu benar.
anak kunci itu mang selalu benar, dia tak punya kelamin dia sama yang ada di perempuan dan laki-laki. dan dia lah seharusnya yang berpikir di otak.
guru yang baik…
Februari 7, 2008 pada 6:07 pm
mudah2an kunci kamu nggak karatan seperti kunci saya
huhuhuhu
Februari 7, 2008 pada 6:11 pm
otak anda itu luwar biyasa bung berarti..
1. kebaikan di balas dgn …
2. menalarkan tuhan itu…
3. kita berkelamin karena ..
sy juga ga tau mas
Februari 7, 2008 pada 6:33 pm
nanti coba kita cari jawabanya sama2 bung…
Februari 8, 2008 pada 12:13 am
1. kebaikan ya harus dibalas dengan kebaikan juga, jangan lantas harus dibalas dengan luka.
2. gw bukan pengikut Mr. N. Tuhan adalah sebuah peng-iman-an
3. kenapa harus berkelamin? pertanyaan ini mo dijawab dari sudut pandang apa? jawabannya bisa luas. meskipun gw belum tentu bisa jawab…
Februari 8, 2008 pada 12:56 am
lha? aya-aya wae…segepok enyakan khan duit…ini mah malah pertanyaan…
@ lha khan pada dasarnyah semua baik, ya berarti dibalas kebaikan jugax, ya, tho?
@ lha wong tuhan ituh harus pakek hati kok, kalok pakek nalar ya nggak akan sampe, malahan bisa atheis
@ hah? si Nietzsche nggak ngasih tauk? orang awan semua tauk kalok nggak ada kelamin ya…manusia nggak akan berkembang, nggak akan berbuat kebaikan untuk menuju tuhannya,
hah? jawabanku ngaco yaks?
*log out*
Februari 8, 2008 pada 1:09 am
saya nunggu jawabannya aja
Februari 8, 2008 pada 1:39 am
… Ah ya, otak saya ini memang sialan. Ia hanya mampu memproduksi pertanyaan tanpa pernah menyediakan jawaban …
>>>Pertanyaan adalah hasil interaksi respon otak atas fenomena atau situmula … jawaban adaah ‘bagaimana’ kita mengoperasikan otak. Tidak datang dengan sendirinya. Sebab, jawaban bukan informasi yang perlu diingat. Jawaban, adalah ‘kita’.
Februari 8, 2008 pada 11:06 am
anak kunci itu perlu mas qzink sendiri yang mencari dan menemukannya, sehingga mampu membuka “kotak pandora” yang di dalamnya akan terbuka banyak jawaban. mas qzink pasti mampu menemukan anak kunci itu. semangat dan selamat melakukan proses pencarian hingga mas qzink bisa menemukan jawaban itu.
Februari 8, 2008 pada 11:37 am
saya kehilangan anak kunci saya…
ada yang lihatt???
Februari 8, 2008 pada 12:19 pm
*lg males mikir
kl dah nemu jawabannya..kasih tau saya yach.
Februari 8, 2008 pada 1:46 pm
tambah mumet aku zink..
Februari 8, 2008 pada 3:43 pm
Wadaaooouh…lage sakit gigi mau mampir minta Obat malah dikasih Tebakan..piye toh Zink..??.
Dasar ora sopan kowe…..sik tak ndheprok dulu yah….sambil ngomel :
1. Bales KEBAIKAN dengan cara MERENGES hi..hi…( meringis )
2. Pingin Njelasin tentang Tuhan..?? BUANG NALARMU
3. Huuuuzzzz…Tuhan kok pake BASA-BASI…SAMPOERNA kale…
Tuhan pengen tahu kalau NIKMAT tuh RASANYA yah ada
disebagian KELAMIN nah…loh…
Gak percaya…?? Ye liat tuh ada Kakek 65 tahon masih nekad mo NGADHU Kelaminnya sama Cucunya gara-gara pingin mengulangi RASA NIKMAT yang dah lama gak didapet.
Kabuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr…..keburu disawat Serandhal sama Zink………Deziiiiink….Wuuuuzzzzz….Serandhal lewat samping…
Februari 8, 2008 pada 4:48 pm
@danalingga
1. Kalo begitu luka pun harus di balas dengan luka.
2. Dooh.. Ga boleh copas..
3. Benul, he he he..
*tuangin minuman ke gelas bro Dana*
@bedh
kamu ngomongin apa, dodol??
Minta di gampar??
@fauzansigma
jaah.. sama2 gak tau..
@tukangkopi
1. Kok iso??
2. Kamu kan pengikut sekte mana dunks??
3. Dari sudut pelacur juga boleh kok..
@abeeayang
kalok gituw saya atheis aja deh..
@edy
gak boleh.. mesti usaha sendiri, tauk..
@Ersis W. Abbas
*tercerahken*
@Sawali Tuhusetya
tapi boleh dunks saya minta peta n’ kompas-nya dari pak Sawali biar pencarian ini gak makan waktu terlalu lama??
@verlita
jaah, ada yang ilang anak kunci jugax..
@ina
gak mau! mesti cari ndiri..
@regsa
sukurin..
@SANTRI GUNDHUL
gak bisa.. Saya pengen ngejelasinnya pake nalar..
*ambil sepatu lars kopral Kardiman dan satpam Lukman buat nimpuk pala santri gundhul*
Februari 8, 2008 pada 4:53 pm
sarat filsafat. anggap saja kepalamu gudang barang rongsokan. hehehe
Februari 8, 2008 pada 4:55 pm
kata socrates (suroto, djawa):
hidup yg tidak dipertanyakan tidak layak dijalani
bro kok ente jarang ol skr?
kengan euy
Februari 8, 2008 pada 5:33 pm
@Mual
iya nih, pala saya emang lebih mirip truk sampah sarat muatan..
@joyo
tapi terus-terusan dihantui pertanyaan juga lama-lama capek juga, bro??
Tadi OL situnya malah keburu OF, hayoh..
Februari 8, 2008 pada 7:55 pm
*Dari pada pusenk lebih baek menyanyi aja broo…*
Februari 8, 2008 pada 8:11 pm
@Arwa
bubuuuy bulan.. bubuy bulaaan sangrai bentang.. Panon poe.. Panon poe disasate..
*dengan iringan musik punk*
Februari 8, 2008 pada 8:20 pm
jawaban saya:
1. kalau mau membalas kebaikan cari lah kebaikan sebenarnya dan jangan lukai dia.
2. jika ingin menalarkan Tuhan carilah usul nalar mu bermula, karna dialah ilmu (tahu)
3. laki2 dan perempuan bukankah hanya alat. jadi ada yang gak laki dan gak perempuan di sana. yang merupakan benda yang ditanyakan ketiga pertanyaan tersebut. jika ada benda yang mewakili itu semua apa lagi kalau nggak fungsinya sebagai kunci?
bersisik bukannya ikan, berpayung bukannya raja, nenas apakah itu?
Februari 9, 2008 pada 2:59 am
Lho, katanya Tuhan Maha Tahu segala tindakannya, lho.
Bercanda. Saya juga nggak akan jawab dengan gampangan seperti itu. Tapi, ya…Opini saya saja.
Mungkin perasaan kita antara dengan sesama kelamin itu biasa. Nggak jauh beda “antara pedang dengan pedang”. Keduanya tidak akan pernah bersatu, mungkin malah akan saling tebas.
Tetapi dengan jenis kelamin yang berbeda, tentu getaran atmosfirnya akan berbeda. Sekecil apapun itu. Bisa saja mereka akan bersatu, layaknya pedang dengan sarung pedangnya. Yang membatasi mereka hanyalah kemungkinan pedang tersebut berada dalam sarung pedang yang salah.
Keunikan tersebut mungkin hendak Tuhan cipatakan.
Tunggu, pedang ? Sarung pedang ? Err..
Februari 9, 2008 pada 7:13 am
*baca komen debe*
nak, kamu bicara apa tho?
hm..
saya coba jawab:
1. Balas kebaikan degnan kebaikan lagi
2. Tuhan itu, tak hanya bisa ditemukan dengan nalar, tapi dengan perasaan.
3. Alloh menciptakan manusia dengan jenis kelamin itu agar tercipta keseimbangan yang harmonis.
Februari 9, 2008 pada 11:19 am
weess..
mending segepok doit mas eh salah kang (pan urang sunda nya??),
1.luka diblz kbaikan.. truz kbaikan diblz ama doit aja, biar baik truuzz..
2.tuhan koq pake nalar toh..moal kasampean.. nu aya bisa gelo engkena..
3.klamin wat apa yah?? yg saya tau seh wat dijaga..truzz jg wat nambah populasi human didunia..klo g pake klamin masa smua manusia diciptain kaya adam..kan g mungkin tiba” jatoh dr langit..bisa” smua manusia percaya ama Allah..eh berimbas pada kosong nya neraka dong..
ngaco nya??
Februari 9, 2008 pada 11:24 am
1. balas dengan kebaikan…???
2. dengan mempelajari semua yang telah diberikanNya….
kalau memang Dia benar ada3. karena nggak lucu aja gitu kalo harus reproduksi pake kepala…
#De-Be…
Tuhan memang maha tahu… makanya qzink tanya ke kita… bukan ke Tuhan….
Februari 9, 2008 pada 11:27 am
ralat….
Tuhan memang maha tahu… makanya qzink tanya pendapat kita…
#qzink…
tanya Tuhan aja gih… kan Tuhan maha tahu
Februari 9, 2008 pada 11:54 am
@ Andrew Anandhika Wijaya
Kagak baca lengkap, ya ?
Februari 9, 2008 pada 12:21 pm
baca kok… bukannya biasanya situ yang nggak baca lengkap
Februari 10, 2008 pada 6:08 pm
1. Apa itu kebaikan dan keburukan? Apakah keduanya wujud atau hanya interpretasi kita saja?
2. Dengan bukti empiris. Hipotesis mesti ditangguhkan sampai buktinya ditemukan.
3. Untuk melanjutkan kelangsungan hidup gen? *Darwinian mode*
Februari 10, 2008 pada 10:01 pm
Hm.. ini pertanyaan retoris atau bener2 pertanyaan?
saya nangkepnya ini retorika…
jadi, gak perlu dijawab..
nah, di buku karya saya yang berjudul La Politica, saya pernah bilang : seseorang yang mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan perkembagan awal dan asal-usul, misalnya negara atau yang lain, akan memperoleh kejelasan yang diinginkan..
jadi, balik aja ke hal-hal fundamental yang ada di kepala anda..
Februari 10, 2008 pada 10:03 pm
@mihael
anda, setelah saya observasi selama beberapa waktu, terlihat seperti seorang yang menganggap diri sendiri pintar. jangan seperti itu lah, bung. pandai-pandai menilik apakah sesuatu itu guyonan atau serius.
jangan lupa. ini hanya dunia maya. kehidupan yang sebenarnya itu ya di Bumi.
Februari 11, 2008 pada 1:27 am
@soktaud3h ih,
wah, thanks ya bro, udah ikutan nyari anak kunci yg ilang itu..
@Michael “D.B” Ellinsworth
terimakasih.. terimakasih..
*tercerahken*
@eMina
ini dia jawaban dari sudut pandang wanita yg saya kagumi selama ini, suejuk tenan rek..
terimakasih, mbak..
@syahbal
saya bukan urang sunda, bro, tapi urang aring, he he he..
Thanks buat jawabannya, gak ngaco kok..
@Andrew Anandhika Wijaya
Tuhan malah nyuruh gw tanya ke lo, bro..
@Kopral Geddoe
*mengamini*
akhirnya ada juga jawaban yg bener-bener sreg di hati saya..
@ariestoteles
hwaduh, blog saya dikunjungi salahsatu master filsafat Yunani, euy..
sekalian jelasin soal POETICS dunks.. saya belum paham nih soal yang satu itu..
*menjura*
Februari 12, 2008 pada 7:31 pm
kapan-kapan, ya, wahai muridku. aku sedang sibuk memikirkan konstitusi apa yang tepat bagi negaramu, Indonesia.
Februari 12, 2008 pada 7:33 pm
oh ya, muridku. si DB itu kok agak-agak nggak nyambung ya? sok-sokan berfilsafat..
Februari 12, 2008 pada 8:26 pm
Hush.. Jangan ngomongin orang, guru.. Itu tidak baik..
Ah, kau komentarilah postingan terbaruku yg ‘percaya’ itu, sebelum dua hari lagi saya bedah karya Emanuel Kant yang ‘Critique of Pure Reason’..