Saya sengaja membagi bahasan kitab Sasangka Djati ini dalam dua kali posting. Disamping untuk memberikan efek penasaran halah, kayak sinetron aja juga biar saya punya bahan untuk posting berikutnya..
Baiklah, sebelum anda benar-benar muak dgn opening act yg bertele-tele dan terlalu panjang, bagaimana kalo kita langsung penetrasi saja hingga kita bisa orgasme sama-sama?
-
*************
b.2. Pamudaran
Hidup adalah sebuah lingkaran, “sangkan paraning manungsa”. Dalam hidup ini ada banyak gerak-gerik, tetapi sebetulnya tak terjadi sesuatu pun. Atau apa yg terjadi tidak melibatkan diriku. Berkat pamudaran aku lepas dari semuanya itu, seperti orang mati di tengah-tengah hidup yg bergairah ini, mati sajeroning urip..
Keadaan hidup yg tercapai oleh tapa yg intensif dapat dilukiskan sebagai rasa kebebasan. Kebebasan batin inilah yg disebut pamudaran. Sebuah kebebasan yg membuat manusia tak lagi merasa terikat dgn dunia materil. ‘pamudaran’ sendiri berasal dari kata ‘udar’ atau ‘wudar’, yaitu melepaskan pakaian atau menguraikan seutas tali. Pamudaran berarti, bahwa seseorang dalam batinnya telah terlepas dari dunia indrawi.
Ciri khas dari pamudaran adalah lenyapnya segala gagasan dan pengalaman. Orang yg bersangkutan menghayati kebersatuannya dgn Tuhan.. Manunggaling kawula gusti.
c. Representasi
Apa yg terkandung dalam pengertian ‘representasi’ ini? Representasi disini adalah bahwa setiap orang yg telah mengambil jarak terhadap materi (bukan meninggalkan materi) dan menemukan kekayaan batinnya, sedang dalam perjalanan menuju kebersatuan dgn Tuhan. Bahkan ia menjadi Tuhan. Sebetulnya ia telah mencapai keadaan mati, sekalipun ia masih hidup. Ia ‘mati sajeroning urip’. Ia lepas dari daya hisap materi.
Dan karena menurut lubuk hatinya dia (hampir) bersatu dgn Tuhan, maka mau tidak mau, dalam kehidupan sehari-hari pun dia juga memperlihatkan sifat-sifat Tuhan (ngiribi sifate Allah). Tuhan adalah ketentraman – dia juga menjadi ketentraman, Tuhan adalah terang – dia juga menjadi terang. Ia menjadi semacam duta besar dari sang maha penguasa tertinggi bernama Tuhan.
Dan dalam hubungan ini, representasi dipecah menjadi 2 anak tangga, yaitu; kuwajiban dan memayu ayuning bawana..
c.1. Kuwajiban
Keplasing turu dadi pasemoning badan wadag. Manawa wong pinudju turu, mangka bandjur ngimpi iku dadi pasemon, manawa roh durung iklas ninggal kahanan ing wektu rahina (awan), pasemon jen manungso ora iklas ninggal kadonjan. Wekasan ing tembe bakal katurunake maneh ing kahuripan kuwadagan..
Pakhde Narto percaya, bahwa didunia ini terdapat semacam keindahan. Tetapi keindahan tersebut kabur. Keindahan itu baru menjadi jernih dan sempurna, bila semua orang, masing-masing pada tempatnya sendiri, menjalankan kewajibannya.
Lalu apa saja kewajiban-kewajiban yg menurut kitab ini harus dikerjakan oleh manusia? Secara rinci dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) badan.
Yg dimaksud disini ialah badan manusia. Kita mempunyai kewajiban memelihara badan dan kesehatan jasmani. Badan sendiri tidak berharga, hanya semacam busana. Tetapi kita wajib memeliharanya, karena ia berfungsi sebagai kereta bagi roh.
b) keturunan
Selain badannya sendiri harus dipelihara pula badan yg akan datang, yaitu keturunan. Maka dari itu orang harus mengusahakan keturunan yg baik, agar roh dapat ditampung dalam suatu yg layak dan dgn demikian dapat bekerja terus demi keselamatan dunia.
c) budidharma
Budidharma adalah semacam kesediaan membantu sesama, dan merupakan suatu gladi resik sebelum orang dpt bersatu dgn Tuhan.
d) pekerjaan
memang bagi pakhe Narto, pekerjaan merupakan kewajiban, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih.
Singkatnya, pekerjaan hanya dihargai sebagai sesuatu yg, walaupun tidak luhur, toh harus dijalankan.
e) penguasa
Dalam pandangan kitab ini, memenuhi kewajiban terhadap penguasa dianggap sebagai satu sarana yg dapat membebaskan manusia dari kesengsaraan hidup.
c.2. Memayu Ayuning Bawana
Manusia
Menginjak dunia
Melalui dunia
Dan meninggalkan dunia
Dengan jelas sekali sajak ini menerangkan, apa yg dimaksudkan dgn MAB. Ungkapan ini tidak mengatakan sesuatu pun yg baru, yg mengandung harapan bagi bawana. Sebenarnya satu-satunya yg dipentingkan ialah manusia baru didunia ini, manusia yg diperbaharui dan memperbaharui. Bumi tetap sama, tak dapat dirubah, tak dapat diperbaharui, karena dasarnya hanya materi.
Manusia sendiri laksana bulan purnama. Bulan yg menyinari, memperindah dan menerangi. Tapi meskipun begitu, jika ia tidak berbuat sesuatu pun, maka bumi akan tetap dingin.
KESIMPULAN yang bukan KESIMPULAN
Jadi, kalo boleh saya simpulkan disini, dari ketiga unsur ini (distansi, konsentrasi dan representasi) adalah bahwa manusia harus mengambil ‘distansi’ (jarak) terhadap dunia, “Jagad gedhe” kemudian diadakan ‘konsentrasi’ terhadap dirinya sendiri; inipun semacam distansi terhadap “Jagad cilik” (badan sendiri). Dan hasil dari dua usaha itu ialah ‘representasi’. Lepas dari ikatan dunia materil dgn batin yg dimurnikan, maka orang menjalankan sisa hidupnya sebagai seorang utusan Tuhan dalam dunia..


Januari 9, 2008 pada 7:50 am
Halah, pertamax saya!!
Januari 9, 2008 pada 8:16 am
Keduaxxx gak apa yah…
Btw, baca nanti malem aja, mo kuliah dulu…
Januari 9, 2008 pada 8:32 am
Keren mas….
MAB, keselarasan dengan semesta alam…
meski bingung, kenapa harus berjarak??
apakah karena dengan jarak, menjadi weruh??
Januari 9, 2008 pada 9:00 am
hhmm…
dt suka bagian yg ini:
sesuai ama hsl koreksi diri dt bbrp hari belakangan ini..
Januari 9, 2008 pada 9:08 am
“Manusia sendiri laksana bulan purnama”
nama saia sendiri indra purnama….
*ditendang ke neraka gara-gara OOT*
Januari 9, 2008 pada 11:20 am
dunia adalah jalan menuju keabadian. bila dirusak, rusaklah jalan mencapai tujuan. bagi diri sendiri maupun orang lain dan para keturunan. melihat diri sendiri tentu harus mengambil jarak supaya terlihat jelas wujud aslinya. di dalam gerak ada diam, dan dalam diam pun sebenarnya ada pergerakan.
manunggal maksudnya menyelaraskan kehendak dengan kehendak Tuhan. meniru watak Tuhan, itulah kesejatian. tentunya harus telanjang, menanggalkan sifat badan yang punya kecenderungan bagai binatang.
mati dalam hidup adalah sejatinya kehidupan. kematian sifat kebinatangan, melahirkan sifat ketuhanan. itulah pekerjaan yang mestinya dikehendaki penguasa badan. bila sudah waktunya harus ikhlas meninggalkan keduniawian.
demikian tafsir si jenang. mudah-mudahan membawa tenang…
Januari 9, 2008 pada 12:43 pm
mati sejroning urip
*manggut manggut*
Januari 9, 2008 pada 1:39 pm
tubuh manusia adalah representasi alam raya.. amin..
Januari 9, 2008 pada 1:40 pm
@ joyo
ngomong opo sampeyan??
Januari 9, 2008 pada 3:45 pm
cerahkan saya zink..
Januari 9, 2008 pada 4:10 pm
Dan jagad batin kita adalah palu godam hakim yg selalu mengingatkan ketika jagad kecil melakukan kesalahan…
katanya..
Januari 9, 2008 pada 4:20 pm
ini cerita manusia unggul versi jawa yah, zink?
muter2 keliling lapangan nggak ngerti aku….
bisa langsung liatin barangnya nggak?
huhuhuhu
sepertinya saya jadi kangen ma ni f tse huhuhuhuuhu
Januari 9, 2008 pada 4:53 pm
Dahsyat man!!!
Semoga saya bisa. *menerawang*
Januari 9, 2008 pada 5:14 pm
@brainstorm
itu artinya
matihening dalam menjalani hidupkira2 bgitu
Januari 9, 2008 pada 5:22 pm
@Praditya
silahken..
@goop
inikan karena sasaran tembaknya adalah menjadi ‘manungso ing manunggaling kawulo gusti’. jadi, untuk manusia yg benar2 hanya berorientasi pada Tuhan, logikanya memang harus menjauhi dunia..
Semacam sufi-sufi itulah, bro..
@deethalsya
syukurlah kalo sejalan..
@Hoek Soegirang
lengkapnya, Indra Purnamasari kah??
*tendang yg OOT ke neraka*
@sitijenang
terimakasih sudah memperjelas, bro..
@joyo
inikah komen terseriusmu??
@brainstorm 1
ameeen..
@brainstorm 2
iya, ngomong apa dia??
@regsa
ikutlah melekan dgn mbah, malam satu suro ini, anakku..
*ngelus jenggot*
@evan
itu pun kalo hakimnya gak bisa di suap, he he he..
@ken arok dari hongkong
sudah saya bilang, ini postingan untuk para priyayi.. Jadi, untuk rakyat jelata seperti kamu, sebaiknya minggir..
Januari 9, 2008 pada 5:25 pm
@danalingga
wekk.. Ada empunya kontemplasi..
Jadi minder..
@joyo
tumben gak gemblung..
*balas dendam*
Januari 9, 2008 pada 5:59 pm
Saya pahami dulu ya sam qzink. Bahasannya sepertinya bagus
Saya baru pertama kali main kesini, lam kenal
Januari 9, 2008 pada 8:19 pm
Saya datang lagi..
Duh, ini prakteknya kayak apa yah?
Ra mudeng sayah….
Btw, khusus yg ini apa memang benar bisa ya?
Saya cuma takut klo memang dilaksanakan, nantinya akan timbul suatu imagi ketuhanan yang melekat pada diri seseorang…
Januari 9, 2008 pada 10:33 pm
Sepertinya keindahan yang ada di sekitar kita masih keindahan yang kabur ya …
Betapa (sepertinya) sekarang ini orang lebih mementingkan HAK daripada KEWAJIBAN
Januari 10, 2008 pada 2:23 am
gw print boleh ya..? capek baca di monitor
Januari 10, 2008 pada 5:08 am
Manusia…
ya, diperbaruhi dan memperbaruhi. tapi, ketahuilah hidup ini seperti air yang mengalir. selalu mengalir turun ke bawah dan tak pernah mengalir ke atas.
apa yang kita cari?
ntahlah…
kata orang bijak, pohon berakar, akar bercabang, cabang kembali lagi ke akar.
Qzink tolong email ke Hanna yach… nanti saya balas. ada perlu sedikit. tengkyu…
Januari 10, 2008 pada 2:11 pm
@perempuan
silahkan..
Sering-sering mampir yak..
@Praditya
prakteknya ya kayak sufi-sufi itu kali, bro..
Soal ngiribi sifate Allah, saya kira para sufi pun melakukan itu..
@deKing hiatus matematikakus
yupp.. Bener tuh, bro..
@tukangkopi
silahken..
Masih sakit mata kah, bro??
@Hanna lagi di Singkawang
terimakasih untuk petuah tambahannya, mbak..
Btw, sekarang pindah kerja ke Singkawang atau emang lagi pulang kampung, mbak??
Januari 10, 2008 pada 8:31 pm
kadang2 kewajiban bisa jadi hak yang dirindukan loh…..
Januari 11, 2008 pada 5:24 am
Memayu Ayuning Bawana … bagus banget kalimat itu yah.
-Ade-
Januari 11, 2008 pada 7:54 am
@bedh
apalagi kalo kita lagi nganggur dan gak tau mesti ngapain ya, bro?
Sayap KU
yang bagus kalimatnya apa artinya, de?
Januari 11, 2008 pada 1:17 pm
wah, bacaannya kok kitab kuno macam begini…
Hati-hati lho… Bisa-bisa nanti nemu kitab ilmu kanuragan. Seperti yang di cerita-ceritanya S.H. Mintardja itu lho…
*maaf, OOT*
Januari 12, 2008 pada 10:22 am
Malah syukur, pak, biar sakti mandraguna kayak Brama Kumbara..
Januari 13, 2008 pada 4:37 am
good…good good
salam buat ayah
*om ada buku yang bisa di pinjem ke denpasar ga hikss.*
April 11, 2008 pada 12:09 pm
bagus, namun ini memang bahasa tinggi dan perlu pengeras hati dan dahi kernyit untuk mengertinya