Disepanjang tahun 1880-an, Nietzsche terus menghasilkan karya-karyanya sendirian, tanpa pernah diketahui dan dibaca oleh orang lain. Perlahan-lahan Nietzsche sadar akan keadaannya yg betul-betul sendirian dan tak dikenali orang. Keadaan ini membuatnya merasa semakin tak tertahankan. Kemudian pada tahun 1888 seorang cendikiawan Yahudi yg berasal dari Denmark, Geng Brandes mulai memberikan kuliah mengenai filsafat Nietzsche di Universitas Copenhagen.
Tapi celakanya, berita baik itu sudah terlambat. Pada tahun 1888 itu, ketika Nietzsche telah menuliskan tidak kurang dari 4 buku, kejatuhan Nietzsche pun mulai terlihat. Tepatnya pada bulan Januari 1889, akhir sang Nietzsche tibalah. Ketika sedang berjalan-jalan di Turin, Nietzsche tersungkur dari kuda yg ditungganginya.
Pada saat itu, secara klinis Nietzsche sudah tak waras dan tak pernah sembuh kembali. Semua itu akibat dari kerja yg terlampau keras, kesepian dan penderitaan, tapi penyebab yg paling utama adalah Siphilis. Penyakit ini telah mencapai stadium akut, hingga berakibat ‘kelumpuhan mental’ pada dirinya. Setelah beberapa saat dirawat di RSJ, akhirnya Nietzsche diizinkan pulang untuk dirawat ibunya. Sekarang ia betul-betul tak bisa berbuat apa-apa, dan hampir sepanjang waktu berada dalam keadaan mengambang.
Sayang, pada tahun 1897 sang ibu yg merawatnya meninggal dunia. Kemudian Nietzsche dirawat oleh adik perempuannya, Elisabeth Föster-Nietzsche. Inilah satu-satunya anggota keluarga terakhir yg dipunyai Nietzsche. (adik perempuan Nietzsche ini pernah menikah dgn Bernard Foster, seorang guru yg gagal dan akhirnya menjadi terkenal sebagai seorang Anti-Semit. Nietzsche memandang rendah iparnya itu, baik sebagai manusia maupun karena gagasan-gagasan konyol Föster untuk mendirikan suatu koloni khusus ras Aria yg dia sebut Nueva Germania di Paraguay, dgn memanfaatkan para petani malang yg berasal dari Saxony.)
Ketika Elisabeth kembali ke Jerman dan merawat kakaknya yg tidak waras itu, muncul sebuah tekad. Ia ingin membuat kakaknya menjadi orang besar. Ia memindahkan Nietzsche ke Weimar karena nama besar kota itu yg dikaitkan dgn Goethe dan Schiller. Disanalah Elisabeth berencana membuat karya-karya Nietzsche menjadi legenda. Maka, ia mulai mengumpulkan catatan-catatan Nietzsche yg tak diterbitkan dgn memasukkan gagasan-gagasan anti-Semit sambil mencantumkan pujian-pujian atas dirinya sendiri. Buku-buku catatan itu diterbitkan sebagai The Will to Power yg kemudian diedit oleh seorang peneliti Nietzsche, Walter Kaufmann. Setelah Kaufmann menyingkirkan segala omong kosong yg mengotori karya itu, buku Nietzsche ini dianggap sebagai karyanya yg terbaik.
Akhirnya Nietzsche berhasil bertahan untuk memasuki awal abad ke-20, sebuah abad yg keadaanya sudah diramalkannya dgn tepat. Tokoh berbadan kecil dgn muka pucat dan selalu didera penyakit, serta berkumis militer tebal, yg tak tahu siapa dirinya dan dimana dia berada, akhirnya meninggal pada tanggal 25 Agustus 1900.
- -TAMAT-
ps. Artikel ini (1-tamat) bersumber dari buku karya Paul Strathern yg berjudul; Nietzsche in 90 Minute.
Semoga anda puas. Tapi kalo belum puas juga, silahkan anda cari kepuasan di tempat lain..


Desember 21, 2007 pada 8:45 am
Lah, ternyata tamat juga…
Katanya masih ada beberapa lagi..
Hoo… Jadi gilanya gara2 jatuh ya..
Eh, tapi Siphilis yg disini ntu yg penyakit kelamin ntu bukan sih?
Ternyata Nietzsche gak nikah ya..
Desember 21, 2007 pada 8:56 am
Yupp.. Emang siphilis yg raja singa itu..
Penyakit itu pada zaman Nietzsche memang sangat berbahaya karena pada waktu itu pinisilin belum ditemukan..
Jadi, siphilis zaman Nietzsche mungkin sama kayak aids di zaman ini..
Makanya pake kondom jangan cuma pake kon**l, bro..
Btw, emang sengaja gw tamatin untuk menghindari gangguan migraen berkepanjangan kepada para pengunjung yg mengikuti riwayat Nietzsche dari awal, bro..
Desember 21, 2007 pada 11:08 am
yak bagus…
ga jadi migren
Desember 21, 2007 pada 1:50 pm
Maka berbahagialah..
Desember 21, 2007 pada 2:49 pm
Saya tidak puas Qzink. Masa cuma sampai di situ. Mana karya terbaiknya?
Desember 21, 2007 pada 2:58 pm
Untuk membahas karya-karyanya nanti saya posting terpisah aja ya, mbak..
Kalo kepanjangan kasian sama orang-orang yg gak terlalu suka filsafat..
Desember 21, 2007 pada 3:40 pm
yah..kuliahnya dah beres. tinggal ujiannya..
Desember 21, 2007 pada 4:02 pm
Menurut saya, posting panjang ini (seri 1-tamat) bukan menitikberatkan pada sisi filsfat Nietzsche melainkan lebih ke sisi historisnya. Mungkin saya yang salah …
*jadi ingin membahas freedom versi Nietzsche vs Hegel, tapi sepertinya tidak saja ach
*
Desember 21, 2007 pada 5:01 pm
@tukangkopi
yup.. Besok2 ujiannya, bro..
@deKing yang biasa-biasa saja
saya yang salah.. saya yang salah..
*sambil getok-getok pala a la Eko*
sumbangin ke sini aja, bro..
Saya serius, bang Fertob pun katanya mau nyumbangin tulisannya ke sini. Jadi, kalo memang beneran mau nyumbangin ke sini juga, saya akan sangat berbangga sekali.
Sebagai tanda pastinya, saya bakal kirim email ke alamat sampeyan, bro..
Desember 21, 2007 pada 7:00 pm
Saya juga senang dan bangga jika bisa menyumbang tulisan kacau saya di sini, tetapi kok sepertinya saat ini benar2 belum bisa.
BTW email bro Qzink yang nongol di komentar2 kan?
Desember 21, 2007 pada 7:04 pm
YESSSS… Tamat…
Ah, ente ga kena Sifilis juga kan akhirnya…?
Desember 22, 2007 pada 1:00 am
nggak seru ih….
saya mau lihat filmnya aja. ini tentang samurai kan?
huhuhuu
tulisan ini bisa menjadi langkah awal bagi saya dan orang2 seperti saya yang gak tau tentang filsafat dan beranggapan filsafat itu terlalu berat untuk di konsumsi otak dan dibacabaca.
thx
Desember 22, 2007 pada 4:06 am
@deKing yang biasa-biasa saja
bukan, bro..
Saya mengirim email secara pribadi tapi alamatnya memang ke alamat yg itu..
@rozenesia
ya gak lah, emangnya saya Celo apa?
@bedh
terimakasih.. terimakasih..
Saya anggap itu sebagai pujian..
Desember 22, 2007 pada 6:45 am
walah saya ketinggalan beberapa gerbong nich
koq tau -tau udah the end
*baca part yang lain ngebut*
Desember 22, 2007 pada 6:49 am
udah selesai yah
pyiuhhh
akhirnya
Desember 22, 2007 pada 12:03 pm
episode selanjutnya setahun bersama nietzsche…
yuk….
Desember 23, 2007 pada 3:56 am
Wew…



Benar apa kata Goenawan Muhammad
…Filsafat dimulai dengan pusing…
____________________________________
Nah, skarang masih pusing memang…
namun sepertinya kalimat2 yang ada masih terjaga sehingga pusing tidak menjadi kian parah
Dan, bukankah ketidak seimbangan Nietsche bukan karena filsafat??
Tapi karena siphilis
____________________________________
Sip bro, smua dibaca, meski hanya komen disini
– maafkanlah –
Desember 23, 2007 pada 4:36 am
@baliazura
Emang kemana aja, bro?
@ordinary
..maka berbahagialah..
@Moerz
yyuuu..
@goop
terimakasih, uncle..
Desember 25, 2007 pada 2:37 am
bikin buku – bikin buku, cetak2!!
Desember 25, 2007 pada 6:43 am
Gak mau.. Gak mau..
Juli 1, 2009 pada 11:52 pm
wuaaa….gak keren klo cpt habis…hihihiik