Malam ini aku kembali di datangi Zarathustra. Dia menyambangiku dgn raut yg seperti biasanya: pucat, rambut yg disisir ke atas, tongkat yg sewarna dgn jubah dan mata yg selalu berkilat tajam.
“Bagaimana harimu?” Sapanya dgn roman yg tak berubah.
“Menyedihkan,” Jawabku tanpa menoleh.
“Jgn katakan kau kembali bertengkar dgn keyakinanmu.”
“Lebih buruk dari itu.”
“Wanita?”
“Apalagi..”
“Sudah kukatakan, jika mendekati perempuan, jgn lupa membawa cambuk!”
“Dia menghianatiku.”
“Sudah kukatakan, jika mendekati wanita, jgn lupa membawa cambuk.”
“Kau bukan pemberi solusi yg baik.”
“Oke.. Kamu ingat apa yg dulu pernah kukatakan pada wanita tua tentang perempuan?”
Aku hanya diam. Zarathustra pun melanjutkan khotbahnya,”Segala sesuatu tentang perempuan adalah teka-teki, dan segala sesuatu tentang perempuan mengandung satu pemecahan: ia dinamai kehamilan.
Bagi perempuan, lelaki adalah sarana: tujuan selalu si anak. Tapi apakah perempuan bagi lelaki?
Lelaki sejati ingin dua hal: bahaya dan permainan. Untuk alasan itu ia menginginkan perempuan, sebagai permainan yg paling berbahaya.
Lelaki harus dilatih untuk berperang dan perempuan dilatih untuk rekreasi sang prajurit: segala hal lain cuma kesintingan.
Sang prajurit tak suka buah yg terlalu manis. Sebab itu ia suka perempuan; bahkan perempuan yg paling manis pun masih tetap pahit.
Perempuan mengerti anak-anak lebih baik daripada lelaki, tetapi lelaki lebih kekanak-kanakan daripada perempuan.
Ada anak kecil yg sembunyi dalam diri lelaki sejati: ia ingin bermain. Mari, perempuan, temukan si anak dalam diri lelaki!”
“Kamu ngelantur,” Potongku, “Saya butuh solusi, bukan sekedar khotbah tak berguna!”
Dia tak menghiraukan, dan terus saja nyerocos memberondongkan khotbahnya, “Biar perempuan menjadi mainan, murni dan bagus layaknya batu berharga berkilau oleh kebajikan-kebajikan suatu dunia yg belum lagi ada.
Biar kejap bintang, berkilauan dalam cintamu! Biar keberanian ada dalam cintamu! Dgn cintamu engkau harus menyerang dia yg mengilhami dirimu dgn ketakutan.
Biar kehormatan hadir dalam cintamu! Perempuan cuma tahu sedikit tentang kehormatan. Tapi biar ini menjadi kehormatanmu: selalu mencintai lebih dari dicintai dan jgn pernah nomor dua dalam hal ini.
Biar lelaki takut perempuan ketika perempuan mencintai. Maka perempuan menanggung setiap pengorbanan dan segala hal lain yg ia pandang tak berharga..”
“Sudah, hentikan!!” Bentakku, “Aku butuh saran, bukan ocehan!”
“Saran? Baiklah, selimuti ia rapat-rapat dan tutup mulutnya: kalo tidak ia akan berteriak-teriak terlalu kencang, kebenaran kecil ini!”
“Apa yg kau maksud dgn kebenaran kecil?” Tanyaku.
“Engkau mengunjungi perempuan? Jgn lupa bawa cambukmu!”
“Dasar sinting, hentikan ocehanmu!!”
Tags: Cinta, Perempuan, Zarathustra


November 27, 2007 pada 5:04 pm
hem.. cambuk dan perempuan *membayangkan*
November 27, 2007 pada 5:53 pm
hahahahhah benar….benar…..kamu memang benar
cambuk yang sakti
November 27, 2007 pada 7:53 pm
dan yah biar-kan cinta-mu yang mem-beri-kan kehormatan bagi-mu dari perempuan-mu…
antara ya dan tidak.
November 27, 2007 pada 9:40 pm
aagghhh..
tau apa Zarathustra tentang perempuan
Ia tak bisa memberikan baju pada perempuan yang sudah ia telanjangi
apalagi menyelimutinya?
November 27, 2007 pada 10:31 pm
@danalingga
*ikut membayangkan*
@bedh
Saya? Cambuk sakti?
@extremusmilitis
Abstein?
@brainstorm
hal itulah yang membuat kami kerap berseteru..
November 28, 2007 pada 1:10 am
weeh.. poto gue mana??
November 28, 2007 pada 1:18 am
memang bermain cambuk bersama perempuan itu berbahaya…
November 28, 2007 pada 1:24 am
@brainstorm
Iya ya kemana tuh? Di makan tikus kali, bro…
@caplang
nenek bilang itu berbahaya..
*nyanyi-nyanyi*
November 28, 2007 pada 1:27 am
datangi wanita dengan cambuk
wahh..hard core nich
*sudah baca tapi masih blom paham di bagian ini*
November 28, 2007 pada 1:47 am
Lagi –lagi filosofis…
Kapan –kapan, buatlah tulisan yang agak ringan dong..
Kalau zarathustra mengatakan “bawalah cambuk untuk menghadapi perempuan”, saya pikir engga sesadis itu kok. Jadinya saya merasa ga berharga klo membaca kata –kata zarathustra itu Kejam.
Perempuan itu lembut, meski kadang harus di”luruskan” dengan tegas. Para perempuan itu berharga, makanya Jagalah kaum perempuan, sebab dia adalah salah satu sumber stabilitas sebuah peradaban. Jagalah kaum perempuan. Seperti kata Rasululloh dalam wasiatnya, “jagalah kaum perempuan”. Yah, itu baru indah dan penuh perhatian ‘>_<
Klo saya sih lebih suka ungkapan tentang perempuan menurut Anis Matta. Klo kata Anis Matta itu, perempuan lah yang membuat dunia lebih berwarna dan ramai seperti sekarang ini. Bukan melulu perempuan itu mesin produksi anak, dan atau membutuhkan laki –laki hanya untuk anak.
Lebih jauh mengenai ungkapan2 anis matta tentang wanita bisa di liat di tulisan saya yang judulnya “Karena Aku Perempuan”. Saya merasa tersanjung karenanya.
November 28, 2007 pada 2:37 am
cambuk????? violence against women nih
November 28, 2007 pada 4:03 am
@baliazura | eMina | itikkecil
saya kira kalimat ‘jangan lupa membawa cambuk’ merupakan kalimat bersayap (aforisme). Mungkin saja yg dimaksud Nietzsche pada kata ‘cambuk’ adalah ‘ketegasan’. Mengapa demikian? Bukankah dalam bertindak kaum wanita lebih dominan menggunakan perasaannya, ketimbang laki-laki (konon laki2 lebih sering menggunakan rasio daripada perasaan).
Jadi, kalo tidak ingin dihianati, dikecewakan dan sejenisnya, gunakan ketegasan dalam memperlakukan perempuan.
Lagipula dlm kalimat lain, ‘biar ini menjadi kehormatan bagimu: selalu mencintai lebih dari dicintai. Jangan pernah jadi nomor dua dlm hal ini’. Bukankah itu mengindikasikan bahwa sebenarnya Nietzsche juga menaruh hormat pada makhluk yg bernama perempuan ini.
Satu hal lagi; sebenarnya kalimat ‘Engkau mengunjungi perempuan? Jangan lupa bawa cambukmu!’ bukanlah kalimat yg terlontar dari mulut Zarathustra, melainkan ucapan dari seorang wanita tua yg ia temui.. (Also Sprach Zarathustra, hal. 102)
Untuk jelasnya, saya kutipkan sedikit..
Kemudian perempuan tua yg kecil itu menjawab: “Zarathustra telah mengatakan banyak hal yg manis-manis, terutama bagi mereka yg cukup muda utk menerimanya. Dan sebagai terimakasihku terimalah kini satu kebenaran kecil!”
“Berikan padaku kebenaran kecilmu, perempuan!” kata Zarathustra. Dan demikianlah ujar sang perempuan tua kecil:
“Engkau mengunjungi perempuan? Jangan lupa bawa cambukmu!”
November 28, 2007 pada 5:31 am
hohohoho….
Zarathustra apa ya? hehehe
Hansteru WebBlog
November 28, 2007 pada 6:57 am
Kayaknya Zarathustra anti kesetaraan gender ya, Bung? Wah, jadi ingin juga ketemu si Zarathustra nih, kayak apa dia sekarang, hehehehe
November 28, 2007 pada 9:44 am
Bermain perempuan saja sudah berbahaya, apalagi pakai cambuk.
November 28, 2007 pada 12:43 pm
perempuan, cambuk dan Zarathustra, sepertinya perlu bawa tameng juga bro, apalagi jaman sekarang
November 28, 2007 pada 1:54 pm
Hmmm… saya malah selalu bawa cambuk kemana-mana, 1×24 nonstop
*tersenyum sambil melirik kebawah*
November 28, 2007 pada 6:58 pm
@ Guh
ITU NAMANYA ‘PENTUNGAN’ BOSS
November 30, 2007 pada 2:30 pm
@brainstrom
ah sok tau, eh apa tau beneran ya klo yg dibawa2 Guh tiap hari pentungan instead of cambuk
wah jaman sudah bener2 hampir berakhir
Desember 3, 2007 pada 8:09 am
mHehehe

Hentikan kekerasan kepada perempuan
dipeluk aja boz!!!