Entah kenapa, setelah membaca buku Romo Mangun, tiba2 ada sesuatu yg menggelitik benak saya.
Akhirnya dengan segenap keberanian yg ada saya pun kembali berseteru dgn Nietzschemelacur.
Saya baru saja selesai membaca esai Romo Mangun tentang manusia Indisch (baca: keturunan) di Belanda. Sebuah kisah yg menyentuh berbagai masalah eksistensial yg khas dari kaum Indo atau Indisch yg serba dualistis, manusia-manusia transisi permanen yg menjadi kaum terjepit, bukan belanda bukan Indonesia.
lalu pertanyaannya kemudian, apakah kita yg di sini, di Indonesia ini, benar-benar asli Indonesia, atau jangan-jangan indo atau indisch juga? Lepas dari fakta bahwa nama bangsa dan negara kita terdiri dari dua bagian kata, Indo dan nesia, apakah kita dapat menjamin dan dapat membuktikan tidak tercampuri 1 cc darah Arab, misalnya, atau 10 mg darah India, China, Portugis, Belanda, Jepang, dan lain-lain? Apalagi di kalangan kaum ningrat dan priyayi tinggi, yg istana-istananya berkali-kali di perkaya dgn selir-selir “upeti” atau tanda persahabatan dari Jambi, Brunai, China, Jawa, Batak, Belanda, Jerman?
Di ibukota Mataram zaman Sultan Agung dan Amangkurat, tidak sedikit orang kulit putih berasimilasi, mendahului Haji Ponce Princen dalam penyebrangan , ia bekerja sebagai ahli dalam pabrik senjata atau penasihat Sultan dlm beberapa perkara. Mereka menikah dgn perempuan-perempuan pribumi, dan pasti sangat aneh untuk zaman itu apabila para penyebrang bule-bule itu tdk berprinsip poligami.
Bala tentara Kubilai Khan, 20.000 serdadu dalam 1.000 kapal, yg datang ke Jawa dulu itu untuk menghukum raja Jayakatwang, atau laskar-laskar tionghoa dari Batavia yg dlm long-march perang Pacino berbaris ke Surakarta, memecat seorang susuhunan, dan terus berekspedisi ke Jawa Timur, mosok mereka hanya memandang saleh-alim saja kepada ribuan gadis desa maupun istana yg mereka jumpai selama perjalanan panjang yg tentulah sangat dramatis riwayatnya. Dan orang-orang India, Gujarat atau Jepang, Portugis atau Belanda yg dulu beremigrasi (utk tdk menyebut kata penjajah) ke Nusantara
sebagai pedagang atau tentara sewaan atau kuli kelasi atau petualang bandit?
Ah, ya, mestinya nalarlah bila banyak sekali dari kita, orang yg di sebut asli, toh tdk sangat asli, sebenarnya. Konon penduduk nusantara datang dari benua India selatan (Dravida?) atau Cempaka-Kamboja, atau Madagaskar walaupun para ahli sekarang lebih condong menduga penduduk Madagaskarlah yg berasal dari Nusantara. Mungkin seperti yg di peragakan oleh kapal-kapal pinisi dan homo sapiens yg ditemukan di dlm lumpur Sangiran Solo yg sudah jutaan tahun tuanya itu yg betul-betul asli jawa asli nusantara? Atau sudah Indo atau Indisch juga? Yg jelas dia belum orang Indonesia.
Siapakah kau manusia Indonesia? Apakah wajah bung Karno itukah yg boleh di sebut prototipe khas wajah Indonesia? Atau Agus Salim? Iwan fals? Atau Dewi Yull? Atau H.M Damsyik “Datuk Meringgih”?
Le désire d’ensemble
Namun, alasan berbangsa Indonesia sejak dulu memang tdk di dasarkan pada wajah dan warna kulit. Keputusan untuk mengidentifikasi diri sebagai bangsa Indonesia di dasarkan pada apa yg oleh bung Karno di rumuskan sebagai atas hasrat untuk menyatukan diri, le désire d’ensamble.
Hasrat kaum Indisch dan sekian ribu orang Maluku, Indo, Suriname di sana adalah le désire d’ensamble dgn bangsa dan kebudayaan Belanda. Ponce Haji Prince dan F.M Suseno berhasrat menyatu dgn orang Indonesia yg kaya akan budaya ini. Khususnya kita generasi muda. Ya, generasi muda yg mungkin darah dan kulitnya asli duku atau manggis, tetapi bercelana jeans, suka jazz dan rock, yg bermimpi sekali lulus testing dan mendapat beasiswa belajar di L.A, London, atau Canberra, yg setiap kejapan mata berkata, “Well, right? Impossible, okay!” Dan yg namanya Willy, Pungky, Mikky, Robert, Yance, Christine, dan seterusnya. Yg lebih tahu riwayat hidup Marilyn Monroe atau Kurt Cobain daripada R.A Kartini apalagi Putri Sanggramawijaya. Dan yg mentalnya siap tanpa bingung akan merebahkan diri dalam pelukan seorang Brad Pitt atau Angelina Jolie untuk di nikahi di Dublin atau Bologna. Sebuah generasi yg selain makan nasi tahu tempe, sudah belajar juga makan roti keju dan minum Coca-Cola sambil memperlihatkan sehelai paha lewat lubang blue jeans yg sengaja disobek..
Pesan Moral: “berhentilah mengkotak-kotakkan manusia. Kita semua sedang berevolusi, dan prosesnya bisa di perlancar dengan berhenti mengkotak-kotakkannya.. Selebihnya, mari bangun Indonesia sama-sama.”
-tulisan ini sedikit banyak di kutip dari esai Romo Mangun yg berjudul Indo-Indo dan Indonesia-
Tags: Buku, Indonesia, Nasionalisme


November 17, 2007 pada 5:39 pm
vertamax dulu ah..
tenang, gak bakalan hetrik..
November 17, 2007 pada 5:45 pm
Woiii, bentar.. Masih dalam tahap pengeditan neh..
*lapor bang Edy*
November 17, 2007 pada 5:47 pm
hmm… kita tau lah ya, yang namanya Indonesia ini sebenarnya terbentuk karena solidaritas bangsa2 yang senasib. senasib dijajah belanda 350 tahun. berarti, yang bisa disebut orang Indonesia asli itu adalah orang2 yang dari pertama kali indonesia diproklamirkan, sudah berada di Indonesia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
dan yang gw tau juga, suku2 bangsa di Indonesia ini berasal dari tempat yang berbeda-beda..
ras aslinya aja kan ada yang Mongoloid (bangsa2 bag barat indo) dan Austromelanesoid (bangsa2 bag timur indo)..
~~~~~~~~~~~~~~~~
November 17, 2007 pada 5:49 pm
*ngakak
sori deh, sori..
lain kali kalo sedang ngedit, kasih tanda dong..
November 17, 2007 pada 5:54 pm
::apakah kita manusia asli…
November 17, 2007 pada 5:54 pm
Tadi gue lupa ngurusin tag-nya.. Sekarang udah beres.. Mau hetrixx, quadtrixx, atau berjamaah juga boleh..
Silahkeun, jeung Fuji..
November 17, 2007 pada 6:02 pm
*nimpuk Qzink
*nunjuk2 komen no. 3
bagaimana menurut anda?
November 17, 2007 pada 6:04 pm
kok sehelai paha? mendingan sepotong paha
November 17, 2007 pada 6:26 pm
@morishige
kalau secara kebangsaan mungkin, iya..
Tapi, yg saya maksud di sini, siapa dan seperti apa sih prototipe wajah yg bisa di sebut asli Indonesia?
Sebenarnya ini pengalaman pribadi juga sih. Waktu kecil saya kerap di ledekin kawan2 dgn sebutan; cina loleng, manusia keturunan, berkebangsaan gak jelas dan sebagainya..
Dan sekarang, saya pengen aja, nanya ke mereka2 itu, “Heh, emang situ yakin kalo situ orang Indonesia asli? Buktinya apa?”
@zal
Biarkan alam yg menjawabnya..
@antobilang
Biar lebih puitis, Om..
Tadinya sih mau pake, sebutir paha..
Hwakakak..
November 17, 2007 pada 9:33 pm
super serius mode : on
yang mana sih negara indonesia? ga ada.. yg ada pulau jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, bali, ambon, NTT, NTB, papua, dll
yang mana sih orang indonesia? ga ada.. yg ada orang batak, jawa, sunda, dayak, bugis, padang, plus cina, arab, india, belanda dll
yang mana sih budaya indonesia? waduh pusing nih jelasinnya
tapi emang gitu kondisinya, di indonesia ini ya ga ada orang indonesia, indonesia ya ga punya budaya indonesia. sebenarnya saya sendiri juga heran dari mana datangnya nama Indonesia, karena menurut sejarahnya (dari jaman majapahit sampai Tan Malaka) yang ada itu Nusantara bukan Indonesia. ya tapi apalah artinya sebuah nama..
serius mode : off
November 17, 2007 pada 10:05 pm
Nah, Batak, Jawa, Sunda, Dayak, Bugis dan seterusnya itu pun belum tentu murni kan? Bisa saja, buyut2 mereka pernah apalahitunamanya
diperkosa, melacur, kawin, jinahdgn orang di luar suku bahkan negara mereka. Jadi, saya pikir, bodoh banget kalo ada yg bilang ’saya asli dan kamu keturunan’. Jadi menurut saya, mending ilangin tuh istilah saya batak, saya jawa, saya cina.. Ganti saja dgn istilah ’saya indonesia’. Toh, kita sama-sama palesu ini..November 18, 2007 pada 12:45 am
Indonesia asli? Saya juga bingung dengan kata aslinya itu. Lalu, berkata kepada diri saya sendiri. Saya lahir dan tumbuh dewasa di Bumi Pertiwi ini, tapi sepanjang hayat saya tidak akan pernah diakui sebagai warga negara Indonsia asli, he he he. Cukup mengecewakan bagi saya. Padahal selain kulit dan mata saya yang agak sipit apalah yang membedakan kita. Kita sama-sama menghirup udara yang sama ada baiknya tidak membeda-bedakan.
November 18, 2007 pada 12:51 am
Nah, yang ngaku Indonesia asli malah ada yang konyol.
Sudah jelas-jelas dulu kita dijajah oleh orang-orang yang rambutnya berwarna pirang. Sekarang kita malah mencontohi rambut seperti mereka, wa kak kak. Udah ah, lupakan tentang yang asli atau tidak. Tidak ada yang asli menurut saya. Kalau mau berdebat, yang disebut sebagai warga negara Indonesia asli itu suku apa aja sih? Apakah ia harus berkulit hitam dan bermata blow?
Lalu siapa yang berani menjamin bahwa dulu-dulu nenek moyangnya itu benar-benar asli dari Indonesia, he he he. Okey deh, nice posting. Ayo, kita jauhi yang membeda-bedakan. Kita hidup di planet yang sama kok.
November 18, 2007 pada 1:21 am
saya hanya manusia biasa yg belajar berevolusi sendiri, bantuan alam, teman dan buku buku.
saya tidak mengotak ngotakkan manusia namun cuman garis-garis yg sekarang lagi trends :halah
November 18, 2007 pada 3:04 am
masih pusing.
komenya nanti saja
November 18, 2007 pada 3:46 am
“saya orang Indonesia”
itu jwbn dt kalo ditnyin di YM..
^-^
*abis binun mo jwb apa, berdarah ‘campuran’ sih..*
November 18, 2007 pada 4:15 am
Ironis, brother.
Nggak zaman dulu, nggak sekarang. Masih aja “aseli” itu menjadi polemik. Saya sendiri “like I care about it” aja.
Baidewei, adafakta yang lumayan “bangsat” eh, unik dari pengalaman saya mengikuti SPMB, di blog lama saya >> http://coretangunawan.wordpress.com/2007/06/24/indonesia-asli/
November 18, 2007 pada 4:54 am
kalo kata orang saya ini seperti orang Jerman
November 18, 2007 pada 5:18 am
oo, gitu tho??
jangan terlalu diambil pusing lah, bro..
toh mereka yang menganggap wajah mereka indonesia belum tentu lebih indonesia dari kau..
November 18, 2007 pada 5:20 am
@Hanna
Yup! Stop perbedaan.. Kita hidup di kereta yg sama, meski gerbong kita berbeda..
@baliazura
Garis-garis mulai trend lagi yak, bow?
*buka majalah mode*
@eMina
hallah.. Mbak yg satu ini, mesti pusing kalo mbaca postingan saya..
apa perlu saya posting Nietzsche lagi?
@deethalsya
yupp! Hidup orang Indonesia..
@abu onta al-apalahitunamanya
fakta yg bener-bener bobrok dan busyet, bukan?
@ayahshiva
tapi kok sukanya A C Milan, pak?
November 18, 2007 pada 5:24 am
@morishige
ya.. ya.. dan sebaliknya, saya pun belum tentu lebih ngindonesa dibanding mereka..
November 18, 2007 pada 5:37 am
gw mo bikin postingan bertema sama dengan ini..
tgu aja…
hehe..
November 18, 2007 pada 5:49 am
Jeung mau membonceng keseleban saya, hah??
*dilempar pempek*
November 18, 2007 pada 6:03 am
ralat, dilempar pake wajan. pempek saya suka..

lagi bikin nih..
lagi muter otak..
*muter2 otak..
November 18, 2007 pada 7:13 am
sebenernya ya nggak ada kali ya “indonesia asli” “pribumi.” Fosil manusia tertua di Nusantara (di Flores) itu kerdil. Selanjutnya ada beberapa gelombang migrasi dari daratan Asia. Jadi, boleh dibilang orang Tionghoa, Melayu, Jawa, Padang, Bali, Madura, itu satu nenek moyang. Cuma persoalannya, siapa yang lebih dulu tiba aja. Kalau dengan orang Irian, nah baru deh jelas beda rasnya. Makanya dulu pas mau bikin Indonesia, ada perdebatan, wilayahnya sampai mana? Nggak perlu lagi ada klaim mana yang asli tidak asli kan.
November 18, 2007 pada 7:17 am
[...] ke blognya Qzink sang pengagum Nietzche. Gw sempat nyampah di postingannya yang berjudul Benarkah Kita Orang Indonesia Asli?.Di sana ada sepotong kalimat yang menggelitik gw (geli, ah.) untuk menulis posting ini. Kalimat itu [...]
November 18, 2007 pada 7:17 am
tuh, udah gw post….
November 18, 2007 pada 8:02 am
lagi sok mikir klo kita tetap melestarikan ke-Indonesia-an kita,..
misalnya cw2 pada pake kemben
November 18, 2007 pada 8:04 am
Setahu saya kita memang bukan penduduk asli di Indonesia. Kalo suku saya, malahan asalnya dari India sepertinya.
November 18, 2007 pada 9:02 am
@morishige
*meluncur ke TKP*
@Junarto Imam Prakoso
Paling gak utk yg di Indonesia, kita satu bangsa, satu tanah air.
setu
buhju..@alle
Wah, boljug tuh idenya..
Tapi kalo musim ujan gini, apa gak masuk angin?
@danalingga
sodaraan sama Amitha Batchan dong, bang?
November 18, 2007 pada 9:36 am
ada yg nyebut-nyebut saya nih…
*ngendusngendus*
November 18, 2007 pada 10:34 am
Kalau di-runut runut ber-dasar-kan sejarah yang belum tentu sejarah sih, ndak ada yang asli. Itu yang ngomong asli begitu kan, orang-orang yang masih gamang dengan status-nya sendiri, dan tidak mau menerima ke-beradaan-nya. IMHO.
Btw, kalau suku-nya Dana kata-nya dari India, nah kalau kakek-nya kakek dari kakek-nya moyang-ku sih katanya malah datang dari China Selatan, dan itu sudah ter-bukti-kan secara ilmiah. Meskipun karena proses evolusi, bahasa dan budaya-nya sudah sangat ber-beda, tapi kalau wajah dan postur tubuh, ndak ada beda-nya.
November 18, 2007 pada 11:22 am
mosok sih saya keturunan eropa
November 18, 2007 pada 11:47 am
*keseret urun rembug*
Lho Indonesia itu memang ndak ada kok, IMHO….yang ada Negara Kesatuan Republik Indonesia…wich means…
Indonesia itu bukan asli Indonesia tapi tumpukan beberapa daerah yang sialnya masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia….
Jadi ya ndak masalah juga kalo ada anggapan orang Indonesia ini bukan orang Indonesia asli….
dengan menutup mata dari orang Cina, Eropa dan Arab….liat aja ke bagian tenggara, timur Indonesia….rasnya aja udah beda dengan yang Indonesia utara ataupun Indonesia barat….
November 18, 2007 pada 11:49 am
walah salah nangkep saya…
muka prototyenya orang Indonesia…???
ada tuh di sangiran…tapi udah ndak ada mukanya….
November 18, 2007 pada 11:50 am
karena kesalahan saya….saya urun hetrik aja….
November 18, 2007 pada 12:19 pm
@ qzink666 : Emang fakta yang mengejutkan. Saya ga habis pikir. Ahkirnya di saat-saat terakhir, mau ga mau saya hitamin aja pilihan Indonesia Asli (papa Dayak-Melayu, mama Tionghoa. Tapi ya, tetap aja ga suka dengan kata “asli”). Meski begitu, aku tetap ga “ngeh” sama itu kata “asli”…
Jika ada yang ngaku…
Ente ngaku Endonesa aseli? Nih ane kasih cermin.
November 18, 2007 pada 12:34 pm
@caplang
Tuh.. Jatah vertamax-nya di embak morishige..
@extremusmilitis
jadi dia ngomong begitu sebenarnya cuma buat ngeyakinin diri sendiri ya, bro?
@regsa
Daripada saya bilang kita semua keturunan jin kafir, hayo?
@saya
masuk wilayah Indonesia itu siyal ya? Sinis amat, bro..
mereka belom Indonesia, bro.. Tapi Nusantara..
Kelakuan!!!
November 18, 2007 pada 12:38 pm
@Abu Onta Al-Apalahnamanyaitu
kalian memang pasutri yg kompak.. Selalu sama-sama ditiap kesempatan..
btw, bener tuh, kalo ada yg bilang asli, langsung kasih cermin, bro!!
November 18, 2007 pada 12:50 pm
Yupe. Ke-tidak jelas-an yang seperti-nya lagi butuh penjelasan yang tidak konkrit. Untuk apa di-jelas-kan kan?
Toh manusia di-dunia ini bisa banyak karena ada-nya proses migrasi dari satu tempat ke tempat lain. Kalau tidak seperti itu, mungkin ribuan tahun yang lalu manusia tidak akan se-banyak seperti sekarang ini.
November 18, 2007 pada 2:36 pm
artikel yang menarik. Sebetulnya saya juga sering memikirkan ini. Apakah ada yang namanya “Bangsa Indonesia?” bukankah pada dasarnya orang Indonesia adalah sebuah identitas baru yang dibuat oleh penduduk yang bermukim di hindia belanda?
Tapi sayangnya, mungkin karena kita semua masih muda, dan terdapat kejomplangan kemakmuran antara satu etnis dan etnis lainnya (khususnya di luar pulau jawa), hakikat “bangsa indonesia” ini mulai relevan dibicarakan kembali.
Saya sendiri keturunan China-Jawa-Belanda. Saya berharap sekali saya dianggap orang Indonesia, tapi saya juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika masih ada yang prejudice pada saya sebagai etnis tertentu.
Salam kenal!
November 18, 2007 pada 2:50 pm
hey kita kan berasal dari satu nenek moyang, Adam dan Hawa, sudah jelas itu tertulis dalam kitab suci, masih juga mempertanyakan, tidak ada Indonesia dalam Kitab Suci. Kafir kamu!!!
November 18, 2007 pada 3:05 pm
::jangan confuse, yg hidup di dua alam, haram hukumnya dimakan…, dilaut bernafaslah dengan insang, didarat bernafaslah dengan paru-paru…nanti lepas tutur, lepas halaman, sempat pohon pisang jadi pagar, maka halaman orangpun diakui halaman sendiri…
November 18, 2007 pada 3:27 pm
itu poinnya..
jadi gak ada itu yang namanya indonesia asli..
yang ada orang Indonesia..
khukhukhu!!
November 18, 2007 pada 3:37 pm
jadi, mariana renata kapan kawinnya, nih???

*maaf OOT
November 18, 2007 pada 3:48 pm
oi, si alex mau aksi, tuh..
November 18, 2007 pada 4:27 pm
@extremusmilitis
Iya ya.. Apa kabar peradaban ya, bang, kalo kita cuma mau ngumpul dgn kaum sendiri?
@Calvin Michael Sidjaja
bener, bro.. Saya setuju dgn pendapat anda.
@joyo
itu kitab suci yg mana ya akhi? Bukannya dalam kitab suci kita
(The Origin of Species By Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races In The Struggle For Life, and The Descent of Men)nenek moyang kita bukan mereka?@zal
Wekk.. Kami amfhibi?
Btw, setubuh.. Apapun yg Alam ada-kan pasti sarat hikmah..
Setidaknya, kami lebih lengkap, karena mampu menghayati dua alam sekaligus dan lebih kuat menderita..
@morishige
moris dodool, bilang aja mo nyampah..
*berpikir mendirikan Gerakan Palembang Merdeka*
November 19, 2007 pada 1:07 am
kebetulan waktu sya pulang liburan lebaran kemarin, saya disodorin ’seperangkat’ silsilah keluarga oleh ayah saya.
hm, ternyata, walaupun entah keturunan keberapa, saya masih nyambung ujungnya dengan para ‘ningrat’ di tanah sunda. mereka melabeli nama depannya dengan raden.
tapi ayah saya ga pakai raden, dan mungkin karena udah kehabisan darah birunya
atau karena terlalu jauh.
nah, apakah itu berarti saya indo asli? terus terang saya blm tahu.
saya sebetulnya tak terlalu suka mempermasalahkan apakah orang yang ada di indonesia itu asli atau bukan. saya hidup di ’sini’, ya berarti saya harus bermanfaat di ’sini’ pula. dimana saya tinggal.
btw, saya lebih suka ungkapan “saya sedang belajar dan tumbuh berkembang, menjadi lebih matang dan ingin bermanfaat bagi orang lain” daripada evolusi.
November 19, 2007 pada 6:13 am
Saya suka ini om,menegaskan semangat sumpah pemuda, berbangsa satu-bangsa Indonesia
November 19, 2007 pada 8:39 am
saya pujakesuma dulu
sekarang pujakeja
November 19, 2007 pada 9:28 am
Seharusnya Pluralisme dijunjung tinggi di Indonesia, minimal. Tetapi sepertinya lebih banyak yang suka kalau kelompoknya lebih hebat dari yang lain.
November 19, 2007 pada 9:47 am
@saha we lah
Wadoh.. Mbak mina keturunan priyayi? Jadi pengen posting fenomena priyayi di Jawa nih..
@sigid
ya.. anggap saja ini artikel hari sumpah pemuda yg datang telat, mas..
@dobelden
@Michael “D.B” Ellinsworth
yupp.. Yg muncul di lapangan adalah sukuisme yg cenderung mengarah ke chauvinisme, brothers..
November 19, 2007 pada 9:56 am
….Berpikir….
wah, ada sejarahnya orang2 Sulawesi gak terutama Bugis dan Buton?
Biar tahu, saya ini Aseli ato bukan..hehehe
November 19, 2007 pada 9:57 am
o iya,
yg orang Endonesa aseli itu yg orang Jawa ato bukan???
November 19, 2007 pada 10:07 am
yang penting saya cinta Indonesia
November 19, 2007 pada 10:10 am
Mudah-mudahan, tidak ada lagi perasaan2 sukuisme terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
November 19, 2007 pada 11:24 am
Inih pada membicarakan saya ya?? ko ada homo sapiens yang hidup sezaman dengan saya diungkit-ungkit
____________________________________________
Batas, keaslian kian samar…
yang mengaku asli ternyata lebih palsu
yang mengaku palsu, tidak kalah asli
dalam batas, selalu ada ketidakpuasan
mungkin nama lain dari batas adalah kekerasan
*sok tau-nya lagi muncul lagi*
November 19, 2007 pada 12:06 pm
sepakat sama pesan moralnya
November 19, 2007 pada 1:16 pm
busettt… jarang blogwlaking… gw jadi ketinggalan berita…. o0oh Tidakkkk! Jangan!!!
November 19, 2007 pada 6:44 pm
@layudi 1
Ya pasti ada lah, bro..
Cuma saya gak tau sejarahnya seperti apa..
@layudi 2
saya kira gak ada tuh yg bisa mengklaim dirinya sebagai manusia Indonesia asli, bahkan orang jawa sekalipun..
@ordinary
setuju, mbak..
Dan semoga Indonesia membalas cinta kita semua..
@layudi 3
yupp.. Semoga..
@goop
paman merasa begitu?
btw, puisinya keren, paman.
@grak
syukurlah.. Berarti kita sejalan, bro..
@gimbal
siapa suruh gak pernah blogwalking..
November 19, 2007 pada 7:14 pm
mari kita panggil pakar matika jarak jauh
sedd dagh…matika jarak deket aja udah mustahiluntuk membuktikan apakah muka anda ini asli indonesia atau cuman cap made in indonesia….IMO, masuk wilayah yang dijajah belanda itu siyal sangadh…saya jadi g bisa ketemu cambright…coba kalo dijajah ama inggris…seenggaknya kan darah saya jadi mirip-mirip dikit ama cambright…
*yang g tau cambright masuk aja di blogg ane terus pandangi tuh altar pemujaan di sidebar blogg ane*
November 19, 2007 pada 7:16 pm
duo
November 19, 2007 pada 7:16 pm
kelakuan orang indonesia tuh suka hetrik…
November 19, 2007 pada 7:17 pm
melacur itu pelan-pelan curhat ya…???
kalo saya mah pelan-pelan nyampahNovember 19, 2007 pada 7:18 pm
dan mencetak top skorr itu suatu keharusan
November 19, 2007 pada 7:18 pm
*sedekah komen buat yang mau tidur….atau baru bangun
November 19, 2007 pada 7:36 pm
@Abu Kuda Al-apalahitunamanya
Lho.. Lho.. Datang-datang kok marah-marah..
Gak usah pake pakar-pakaran ya, akhi.. Ana sadar kok kalo muka ana gak endonesa sekali..
coba kalo dijajah Inggris mungkin Indonesia udah makmur kali ya, bro.. (contoh: Brunai, Hongkong)
btw, silahkan hetriks, asal abis ini jgn marah-marah lagi yaa..
November 19, 2007 pada 7:42 pm
Siyal, bukan hetrik lagi itu sih namanya..
Baru bangun.. Lagi beres-beres buat besok ke Kalimantan, bro..
Hadiah top score, mo nitip apa nih, besok gw mo ke pedalaman Kalimantan..
November 19, 2007 pada 7:59 pm
nitip cameron bright bisa nggak…???
bukan masalah makmur nggaknya bro…
IMO kalo kita dijajah inggris…kita bakal sederajat dengan kanada…jadi aku g bakal susah-susah ngurus visa kalo pingin ketemu cameron bright
*totally adicted*
November 19, 2007 pada 8:06 pm
Bener-bener gak nasionalis anda ini..
Sadarlah, akhi.. Kefentingan negara itu di atas segala-galanya..
November 19, 2007 pada 8:14 pm
yeah whatever….
bukannya cinta diatas segala-galanya ya…???
yah meskipun saya nggak cinta cameron bright juga jajahan inggris cewe nya cakep-cakep…
November 19, 2007 pada 8:27 pm
Astaga.. Gara-gara akhi nyamfah di blog ana, komentar blog ana jadi membengkak dan kehilangan wibawanya..
Btw, selama ana pergi, kalo sempet balesin tuh komentar di post terakhir ana ya, akhi..
November 19, 2007 pada 8:53 pm
Lha ya itu susahnya karena pengkotakan seringkali tidak pada tempatnya.
Kalau menurut saya pengkotakan (secara general) itu tidak salah juga, dengan adanya pengkotakan maka sistem “kendali”…pengawasan dkk bisa lebih mudah dilakukan.
Upppsss…tapi ya itu tadi. Masalahnya adalah pengkotakan yg seperti apa … jadi pusing nich
November 19, 2007 pada 9:43 pm
Yg saya maksud dgn pengkotakan di sini adalah, kita menggolong-golongkan manusia berdasar agama, kesukuan, atau ras..
Misalnya, kamu islam, kamu jawa, kamu batak, dll..
Jadi gak ada peleburan kebudayaan..
November 20, 2007 pada 6:08 am
heheheh,,kalo menurut opini saya sendiri,kita disini mugkin secara ‘ras’ emang dah bisa dibilang macam2 campur aduk,bisa dibilang kita bukan endonesa asli. tapi guess what, kita endonesa karena kita memang tinggal di endonesa, kita lair di negara ini dan mendapat penghidupan di negara ini so kita semua orang indonesia..oh i love indonesia!
November 20, 2007 pada 2:30 pm
gue orang indonesia asli…
asli indonesia, bukan malaysia
November 20, 2007 pada 2:49 pm
Kok postingan yang ini rame banget ya padahal kijing sudah posting yang baru lagi. Di postingan yang baru lebih universal menurut saya.
Oyah, saya agak bau ningrat, berarti saya nggak asli dong? Kan dalam tulisan itu, kaum ningrat sering dapat “upeti” dari negeri tetangga.
November 24, 2007 pada 11:08 am
Tulisan yang bagus… memang saatnya kita tidak mempermasalahkan perbedaan isi kotak. Sebab biarkan kotak itu dengan isinya. Saat membicarakan bagaimana kotak itu bisa dikemas dan bisa diisi yang bagus-bagus. SEhingga siapa tahu kotak itu bagus, isinya bagus, maka yang lain akan tertarik dengan isinya…
Kotak= Indonesia.