Nietzsche mengalami dua kematian. Pikirannya tewas pada th 1889, sedangkan tubuhnya mati pada th 1900. Selama masa itulah, karyanya mencuatkan si filsuf yg nyaris tak pernah dikenal siapa pun ini menjadi intelektual termashyur kelas dunia. Tentu saja Nietzsche sendiri tak mengharapkan lebih dari apa yg menjadi haknya. Namun, ketenaran ini justru jauh melampaui khayalan megalomaniaknya sendiri. Ketenarannya telah keluar melampaui bidang filsafat, dan hal ini karena pengaruh Nietzsche yg sangat besar pada para penulis sesudahnya. Sejumlah penulis di abad ke 20 bisa dimasukkan dalam daftar sebagai pengikut Nietzsche, di antaranya.. Yeats, Strindberg, O’Neil, Shaw, Rilke, Conrad, Freud, Albert Camus, Sartre, dan sejumlah lagi tokoh yg kurang terkenal lainnya yg begitu terpesona dg idenya.
Filsafatnya merupakan filsafat yg unik: filsafat yg memiliki gaya dan kejernihan yg khas. Inilah sebuah filsafat bisa dapat anda mengerti dg mudah. Dg disajikan sebagai sebuah kumpulan aforisme, semua orang mempunyai waktu untuk membaca seluruh atau sebagian isinya. Sialnya, inilah yg justru menimbulkan masalah. Sekarang ini banyak sekali orang yg hanya membaca sepotong2 karya Nietzsche seperti ‘Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power) dan Manusia Super (Zarathustra), banyak sekali yg disalah gunakan. Konsep manusia super dg segera dibajak oleh kalangan rasis. Kalangan anti-Semit, dan kemudian juga kaum fasis, banyak yg mengutip karya2 Nietzsche tanpa mempedulikan konteksnya. Ketimpangan yg terdapat dalam filsafat Nietzsche telah menjadi penyebab kehancurannya.
Sebagai akibat dari penyalahgunaannya yg fantastis pada paruh pertama abad ke 20, filsafat Nietzsche telah menjadi begitu tercemar. Karena itu, hampir tidak mungkin untuk membicarakan banyak gagasan Nietzsche apa adanya. Ketimpangan puitik dalam banyak tulisannya membuatnya menjadi sangat terbuka atas berbagai hinaan. Untunglah bahwa karyanya dalam soal2 yg berbahaya ini juga tetap terbuka untuk dijadikan bahan guyonan.
Namun, harus selalu di ingat bahwa Nietzsche memiliki pandangan yg sangat jujur tentang rasisme, anti-Smitisme, dan segala hal yg serupa itu. Sikapnya dalam hal ini jelas sekali, seperti yg dinyatakannya, “Homogenisasi orang eropa merupakan suatu proses terbesar yg tak dapat dihalangi lagi: sesuatu yg seharusnya malah kita percepat.”
Ketika kaum NAZI mencoba menjadikan Nietzsche sebagai filsuf resmi mereka, hingga Hitler pun mencium Elizabeth Föster-Nietzsche di sebelah peninggalan Nietzsche di Weimar, maka hal ini tidak lebih dari tindakan gila2an dari pihak NAZI yg berusaha menjangkau Nietzsche, dan tak ada hubungannya dg filsafat Nietzsche!


November 8, 2007 pada 10:10 am
Artikel diatas saya kutip dari buku: Nietzsche in 90 minutes, karya Paul Strathern, untuk memuaskan keingintahuan para pembaca pada Nietzsche..
November 8, 2007 pada 4:18 pm
oh, jadi freud pengikut nietzsche ya??
hmm…
November 9, 2007 pada 3:39 am
Memahami Nietzsche: “FATAL” bila hanya sepotong-sepotong, namun ada kecenderungan orang hanya mengambil sepotong-sepotong saja, comot sana sini biar kelihatan intelek. Padahal itu berbahaya. Senang saya ada blog tentang Nietzsche.
thanks atas kunjungan Anda juga.
November 9, 2007 pada 4:47 am
Nietzsche = filsafat nihilisme
November 9, 2007 pada 5:22 am
pusyeeeng bacanya…
beurat dan saya juga emang ga terlalu suka pilsapat.
blm kuat kayaknya, khawatir malah salah kaprah
November 9, 2007 pada 6:39 am
kalo dalam budaya Indonesia
siapa tokoh yg mirip dng dia?
November 9, 2007 pada 7:33 am
anjrittt… telat gw… gak bisa vertamaxxx.. hmmm
November 9, 2007 pada 7:40 am
Apakah pandangannya Nietzsche – Will to Power sama dgn teori kekuasaannya Machiavelli?
Kekuasaan… kekuasaan… ya-ya-ya
jadi inget mendiang DN Aidit: “kekuasaan lahir dari ujung bedil” (baca: Senapan)
November 9, 2007 pada 8:23 am
Blocked hettrixx gimbal dulu.. Hwakakak
November 9, 2007 pada 8:45 am
top!!
buwat seorang yang awam soal pilsapat, ini post yang cukup menggugah
November 9, 2007 pada 9:39 am
Meskipun Nietzsche itu gagal dalam mewujudkan sosok manusia super dengan nilai etikanya, dan menjadi gila begitu, tetap saja lho karyanya masih menjadi sumbangan yang pantas bagi peradaban warga bumi
November 9, 2007 pada 10:21 am
@morishige
mungkin lebih tepatnya, bahwa Nietzsche salah satu filsuf yg ikut menginspirasi pemikiran Freud.
@martinsusilo
tindakan memutilasi memang selamanya berbahaya..
@anti filsafat
URL-nya mana, bro?
@eMina
Pusing? Minum obat dong..
Berat? Turunin dulu, mbak..
Hwakakakak..
*liatin keriput di wajah mbak Mina gara2 filsafat*
@caplang
Siapa ya kira2?
Gus Muh, mungkin..
@gimbal
Will to Power sama kaya The Prince? Saya rasa beda ya..
@may
begitukah?
Terimakasih.. Terimakasih..
@alex
Ya.. Ya.. Meskipun sering disalah mengerti dan digambarkan dengan keliru..
November 9, 2007 pada 3:46 pm
makasih bro telah mengenalkan “makanan” baru untukku . Dan semoga ngak menambah semakin menjadi-jadinya gila saya.. hahah
November 10, 2007 pada 4:09 am
hmmm walaupun nazi ingin merangkul nietzsche, tentu saja bukan berarti nazisme identik dengan nietzesche, ini sama dengan komunisme yang juga ingin merangkul sosialimse, bukan berarti komunisme identik dengan sosialisme!
November 10, 2007 pada 1:24 pm
nah, kalo saya menyelewengkan manusia super itu sebagai manusia sempurna alias insan kamil alias manusia yang sudah mengenal Tuhan.
November 10, 2007 pada 3:24 pm
Jadi tambah ilmu, nih. Tadinya ga tahu tentang nietzsche.
November 10, 2007 pada 3:55 pm
@regsa
Ya.. Semoga makanan yg bernama Nietzsche ini membuat Regsa menjadi
sedikitwaras..@Yari NK
@danalingga
semoga itu bukan termasuk penyelewengan ya, bang..
Soalnya, saya pun berpendapat seperti itu..
@Hanna
)
ini pujian kan, mbak?
Makasih.. Makasih..
November 10, 2007 pada 6:58 pm
Wah, entri menarik. Mungkin yang sering disalah artikan dari Nietzsche adalah kutipan “God is Dead”?
Btw, salam kenal, mas.
November 10, 2007 pada 7:18 pm
Permisi,
saya tertarik…tapi tak pernah bisa menemukan.
Masalah persepsi juga tampaknya bermain dalam miskonsepsi yang terjadi di kalangan-kalangan di atas, menurut saya.
November 10, 2007 pada 10:00 pm
Aku juga menganggap demikian. Cukup masuk akal tindakan Hitler saat itu untuk mendukung propaganda Naziismenya.
Tak beda dengan zaman sekarang, ketika tokoh besar dikultuskan lalu ‘di-atas-nama-kan’ utk pembelaan tindakan, sebusuk apapun tindakan tersebut
November 11, 2007 pada 1:40 am
Elizabeth Föster-Nietzsche itu siapanya Nietzsche, bang? Kuncen makamnya Nietzsche kah?
November 11, 2007 pada 2:45 am
@Xaliber van Reginhild
ya, quote Nietzsche yg paling sering di salah mengerti memang ungkapan ‘Tuhan sudah mati’ tersebut.
@Lemon S. Sile
*bantu nyariin*
@alex
diperparah lagi dengan persepsi awam mengenai sang tokoh yg dikultuskan tersebut sebagai yg memang di nilai seperti itu..
@melly gak login
hahaha.. Bukan, mbak. Dia adik perempuannya Nietzsche..
Btw, URL-nya kok gak bisa dibuka, mbak?
November 11, 2007 pada 12:59 pm
waduh makin penasaran ma ni tokoh
maklu kuper
November 12, 2007 pada 6:38 am
Selamat
matipenasaran..He He He..
November 12, 2007 pada 7:59 am
Mas, saya dulu cuma sekilas mbaca tentang Nietzsche.
Boleh dijelaskan perihal pernyataan “God is Dead” itu gimana mas?
Terus itu berhubungan dengan Ubermensch-nya ndak mas?
November 12, 2007 pada 10:17 am
Ungkapan Nietzsche tentang ‘God is dead’ pada intinya adalah bahwa gagasan2 tentang ketuhanan tidak lagi relefan untuk digunakan sebagai sumber dari semua aturan moral zaman sekarang. Dan Nietzsche percaya bahwa dengan melepaskan diri dari aturan Tuhan itu akan membuka jalan bagi potensi2 terpendam manusia untuk berkembang sepenuhnya..
Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini
November 13, 2007 pada 9:08 am
Saya pikir, beberapa pihak yang mengambil ide-ide Nietzsche juga nggak terlalu bisa disalahkan. Nietzsche, kalau kita jujur melihat pada beberapa pemikirannya, cenderung untuk rasis, anti semit, dan melegalkan kekuasaan melalui segala cara. Dan sangat wajar jika pihak2 spt Nazi, Fasisme, dan gerakan2 ekstrim kanan chauvinis selalu menggunakan Nietzsche sebagai salah satu patokan dan pedoman pemikiran mereka. Tentunya dengan penambahan yg lebih ekstrim lagi.
Tapi kalau murni dilihat sebagai filsafat, pemikiran Nietzsche adalah pendobrak [atau penggebrak] cara berpikir filsafat yang kurang berpusat pada manusia. Nietzsche mengangkat derajat manusia pada tempat yang “Maha Tinggi”. Nietzsche juga filsuf pertama yg mendobrak tatanan berpikir dlm ranah filsafat ttg manusia (eksistensialisme).
Dalam soal IDE, Nietzsche itu melampaui semua filsuf2 eksistensialis lainnya. Dia bisa disamakan dgn Kant di jamannya atau dgn Marx yg menyatukan filsafat dgn gerakan politik-ideologis. Parameternya adalah dlm hal pengaruh thd suatu aliran/arah pemikiran dlm filsafat.
Bagi saya, Nietzsche itu radikal, fundamental, eksistensial ekstrim (meninggikan manusia dan menurunkan konsep lain diluar manusia spt Tuhan yg membedakannya dgn beberapa filsuf eksistensial lain spt Kierkegaard atau Berdayev), dan juga “pemberontak”.
Kekurangannya menurut saya adalah pemikirannya tidak terstruktur, kuran sistematis, emosional, meledak-ledak. Kita bisa kesulitan merunut cara berpikir Nietzsche. Dan bagi beberapa kritikus filsafat maka gaya Nietzsche itu dikatakan “kurang intelek’ dan lebih bergaya “preman”
Kontribusi Nietzsche bagi filsafat eksistensialis sangat luar biasa. Tapi dari segi sistematisasi (filsafat haruslah sistematis selain radikal dan logis), maka Nietzsche masih kalah dgn filsuf2 lain spt Sartre, Heidegger, dan Binswanger, yang dengan cara yg tepat mampu merumuskan apa itu eksistensialisme sbg suatu aliran dlm filsafat.
Tapi tetap saja, Nietzsche itu FENOMENAL dan LUAR BIASA. Hampir tak ada yg menandinginya dlm hal ide dan pengeksplorasian ide-idenya dlm sisi yg lebih luas.
November 13, 2007 pada 9:10 am
sorry kalau jadi ngeblog….
dan sorry juga kalau belum bisa memberikan tulisan, maklum seminggu ini nggak online sama sekali. ada urusan penting yg harus dikerjakan….
November 13, 2007 pada 11:21 am
@Pyrrho
Dari segi pemikiran, Nietzsche mungkin sedikit rasis. Tapi paling tidak, secara pribadi dia sendiri gak terlalu rasis. Hal ini terbukti ketika adik perempuannya menikah dgn seorang anti-Semit bernama Bernard Föster. Nietzsche memandang rendah iparnya itu, baik sebagai manusia maupun karena gagasan2nya.
Dan seperti halnya semua teori konspirasi, doktrin Nietzsche tentang kekuasaan memang mengandung unsur paranoia yg keterlaluan. Tapi kalo di cermati lebih dalam, menurut saya, Nietzsche menggunakan Will to Power semata-mata sebagai alat analistis untuk menemukan unsur2 utama yg tersembunyi di dlm berbagai motivasi manusia yg sedikit sekali diduga sebelumnya.
Biarpun Nietzsche seringkali dikecam karena omong kosongnya yg menakutkan, namun harus diakui bila segala bentuk kecaman itu hanyalah sebuah cermin dari apa yg sebetulnya ia tuliskan. Ia tdk memiliki apapun selain kemuakan atas gerakan awal fasisme yg terdapat di zamannya. Gerakan anti semit membuatnya begitu jijik.
Label ini tak pernah bisa dilepaskan dari Nietzsche, suatu hal yg menurut saya sebenarnya tidak adil. Karena gayanya itu, barangkali Nietzsche bisa dikatakan tdk sistematik, namun, gagasannya sendiri sangatlah koheren dan memiliki kekuatan argumentasi, seperti halnya yg terdapat dlm sistem filsafat besar yg pernah ada. Bila dikatakan filsafat Nietzsche tdk sistematik, itu karena filsafatnya telah berhasil mengahiri seluruh sistem filsafat yg ada. Ato paling tdk, ia telah mencoba mengahirinya. Bukankah harus selalu ada orang pertama yg memulai?
Akuur, bang..
Oktober 15, 2009 pada 10:25 am
Kakak……
Kenal cenayang yang bisa panggil arwah Nietzsche gak?
Biar kaga salah kaprah aku mau ngobrol langsung…